NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pukul 2 siang waktu setempat.

Sudah terhitung 4 jam sejak Ara dibawa oleh Biyan ke Rumah Sakit tempat saudara kembarnya tengah berbaring.

Setelah Biyan menceritakan semuanya yang terjadi, Ara semakin merasa bersalah karena tidak dapat menolong Abhinara. Beberapa kali ia menangis, apalagi saat mendengar mental Abhi terganggu dan dia mengamuk hebat kemarin.

Andaikan dia bisa mengulang waktu, Ara berjanji tidak akan pernah membiarkan Abhi sendirian. Tapi hal itu tak mungkin terjadi.

Kini ia sedang duduk dikursi samping ranjang Abhi sambil terus menatap wajah pucat itu. Beberapa kali ia mesti menarik nafas panjang, entahlah..dadanya terasa sesak.

“Kau baik-baik saja?” tanya Biyan yang masih setia berdiri disamping Ara. Gadis itu menoleh dan tersenyum tipis.

“Ya, aku hanya merasa bersalah.”

“Sudah kubilang itu bukan salahmu,” ucap Biyan sambil mengelus puncak kepala Ara dan hanya dibalas senyuman tipis darinya.

“Oh iya, kau belum memberitahuku namamu. Aku harus memanggilmu apa?” tanya Ara sambil memiringkan kepalanya menatap Biyan. Tanpa sadar membuatnya terlihat menggemaskan dimata Biyan.

“Arbiyan.”

“Hm?” Ara mengerjap-ngerjapkan matanya lucu.

“Namaku Arbiyan Xavier Bramatsya. Panggil aku Biyan atau sesukamu saja,” jawab Biyan lagi.

Ara tertawa pelan. “Bahkan nama kalian mirip. Arbiyan dan Abhinara.”

“Kau benar,” ujar Biyan sambil terkekeh pelan.

Hening.

“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Ara pelan. Diwajah mulusnya kini tergambar guratan-guratan cemas yang cukup mendominasi.

“Untuk saat ini—ya. Untuk kedepannya—entahlah.”

“Tidurnya sangat nyenyak.”

“Humm...setidaknya dia tidak bermimpi buruk.”

Setelah itu hening kembali.

Keduanya lebih memilih diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga pintu kamar itu terbuka menampakkan seorang wanita dengan gaya anggun dan mempesona. Kerutan-kerutan yang tidak terlihat membuatnya seperti masih berumur diawal 30-an. Siapa sangka jika umurnya sudah menginjak 40-an lebih.

Ara yang menolehkan kepalanya lebih dulu sempat terpesona, berfikir siapa kah gerangan wanita cantik ini?

“Ibu."

Mata Ara terbelalak saat mendengar suara husky itu menyebut si wanita dengan kata ‘Ibu’. Jadi dia Ibu-nya Arbiyan dan Abhinara?

Woah! Pantas saja kedua puteranya tampan. Ibu-nya saja terlihat seperti jelmaan bidadari.

“Dasar anak nakal!” desis Wanita itu yang langsung berjalan cepat kearah Biyan dan menarik telinganya tanpa ampun.

“Aduh! Aduh! Ibu! Sakit! Kenapa menarik telingaku?Ibu?!” pekik Biyan kesakitan saat tanpa aba-aba tiba-tiba saja telinganya ditarik dengan tidak elit. Hingga membuatnya harus menunduk.

“Kenapa kau tidak mengatakan pada Ibu soal kejadian kemarin, hm?” tanya Laras dengan masih setia menarik telinga Biyan. Membuat Ara yang melihat kejadian itu meringis ditempat.

“Maaf Bu. Akan Biyan jelaskan tapi lepaskan dulu telinga Biyan! Aduh!” lirih Biyan memelas dengan wajah memohon.

Wow! Bahkan Ara tak dapat mempercayai matanya saat melihat remaja arogan itu bertekuk lutut begini.

Bisa saja Ara tertawa sambil terguling-guling dilantai sekarang juga, tapi mengingat situasinya yang sangat tidak mendukung ia hanya bisa mengulum senyum geli.

Bukankah ini akan bagus dijadikan bahan ejekan?

Setelah telinganya terbebas Biyan hanya bisa mengusap-usap daun telinganya yang memerah dengan pelan.

“Jelaskan!” tuntut Laras dengan tatapan tajamnya.

Baiklah, sekarang Ara tahu darimana tatapan tajam Biyan berasal.

“Bu, kemarin Ibu sangat kelelahan dan aku tidak ingin mengganggumu. Lagipula bukankah semuanya baik-baik saja?”

“Tapi setidaknya kau beritahu Ibu! Untung saja Dean sudah menceritakan semuanya secara detail pada Ibu. Dan apa maksudmu semua baik-baik saja? Beberapa luka jahitan dilengan, tangan serta perutmu itu kau sebut baik-baik saja?!” bentak sang Ibu dan hampir saja membuat Ara terjungkal kebelakang.

Untung saja tangannya dengan sigap memegang dinding, jika tidak mungkin saja ia akan terjatuh dengan tidak elitnya.

Laras yang tadinya hendak melanjutkan omelannya terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja tertangkap sudut matanya. Tadi ia terlalu kesal dengan puteranya ini hingga tidak menyadari kehadiran orang lain.

Ara yang merasa ditatap pun jadi gelagapan sendiri. Ia berusaha terlihat normal, meskipun sebenarnya kedua lututnya sedang bergetar hebat.

“Ha-halo, Bi,” sapa Ara gugup dengan bibir yang gemetaran.

Laras hanya menatap simanis dari ujung kaki hingga kepala, matanya meneliti dengan pasti. Ara bahkan merasa seperti ditelanjangi sekarang.

“Ibu..dia—”

“Diam, Biyan,” perintah Ibu-nya seketika dan membuat Biyan bungkam jadinya ia hanya dapat menghela nafas pasrah.

Saking takutnya Ara sampai memejamkan matanya. Ia benar-benar pasrah jika Laras akan mendampratnya habis-habisan, memukulnya bahkan memakinya.

Hening.

“Biyan, dia—CANTIIIK SEKALIIIIII!” pekik Laras dengan wajah berbunga-bunga dan langsung mendekati Ara lalu mencubit gemas pipi gadis itu.

Ara sweetdrop seketika.

Rasanya ia ingin lompat keluar jendela sekarang juga. Masa bodoh jika ini lantai 7! Padahal ia sudah menyiapkan mentalnya tapi yang didapatnya malah jauh dari ekspetasinya.

Sedang Biyan hanya bisa menahan mulutnya agar tidak tertawa terbahak-bahak sekarang, bahkan kedua pundaknya sudah bergetar hebat.

“Pfft! Ibu hentikan. Kau akan membuat pipinya membengkak nanti.”

“Oopss! Maaf sayang. Apa itu sakit?” tanya Laras dengan raut wajah bersalah.

“Ti-tidak Bi. aku baik-baik saja," dusta Ara, padahal pipinya serasa akan copot sekarang.

“Eyy..jangan panggil Bibi. Panggil Ibu saja. Bagaimana?”

“Ah, I-iya Bu,” jawab Ara kikuk.

“Siapa namamu cantik?"

“Aracell Bu, panggil saja saya Ara,” jawab Ara hati-hati.

“Lalu apa kalian berpacaran?” tanya Laras lagi.

"Tidak/Iya!"

Ara dan Biyan menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Membuat Laras jadi mengerjap bingung sembari menatap kedua anak remaja di hadapannya.

"Jadi, iya atau tidak?"

"Tid—" Ara melotot saat mulutnya di tutup oleh Biyan dengan senyuman lebar.

"Iya, bu. Ara hanya malu mengakui hubungan kami padahal aku tampan. Bagaimana? Serasi tidak?" ujar Biyan bangga yang entah sejak kapan sudah  melingkarkan tangannya di pinggang ramping simanis.

“Serasi sekali! Astaga! Ibu berharap adikmu dapat melihat ini! Jadi kapan kalian akan menikah? Apa menunggu kalian lulus dulu?”

Pertanyaan tak terduga itu membuat Ara tersedak salivanya sendiri.

Menikah?! Hell!

Bahkan Ara tidak mengakui hubungan mereka dan sudah di tanya kapan menikah?! Bukan hanya itu, usia mereka berdua pun masih 17 tahun.

Agak lain ibunya Biyan.

“Segera Bu. Setelah kami lulus aku akan langsung melamarnya," jawab Biyan santai sembari melirik Ara yang sudah memelototinya geram.

“Ya, Ampun. Manisnya~”

“Baiklah, Bu. Biyan pergi dulu. Tak apa kan?”

“iya, tapi kau mau kemana?”

“Ibu ingin segera punya cucukan?” tanya Biyan lagi dengan nada menggoda.

“Tentu saja," jawab Laras yang sepertinya masih belum sadar apa maksud dari puteranya itu. Biyan hanya terkekeh pelan lalu menarik Ara pergi hingga—

“Apa?! Hey! Arbiyan! Ibu akan membunuhmu kalau kau sampai menghamili anak orang sebelum resmi!” pekik Laras dari dalam kamar setelah ia sadar beberapa saat kemudian.

***

(Didepan sebuah rumah mewah)

Mobil yang mereka naiki sudah berhenti beberapa menit yang lalu didepan sebuah rumah yang besar serta terlihat megah ini. Tapi Ara masih meringkuk dijok mobil, menolak keluar. Masih kesal dengan kelakuan Biyan yang seenaknya begitu.

Pacaran? Menikah?!

Hah! Yang benar saja!

Baiklah, harus ia akui Biyan itu tampan. Bahkan ia sempat terpesona pada wajahnya juga. Tapi tidakkah remaja itu terlalu narsis?! Menyukai wajah tampannya bukan berarti ia langsung setuju menjalin hubungan. Biyan bahkan tidak menyatakan perasaan atau apapun lah itu untuk menegaskan hubungan mereka.

Lalu saat di depan ibunya, Biyan langsung mendeklarasikan dirinya sebagai kekasih. Apa dia gila?!

“Hei, kita sudah sampai. Kau tidak ingin turun?” tanya Biyan yang sedari tadi hanya memperhatikan Ara dengan raut wajahnya yang menekuk sebal. Lucu dan menggemaskan sebenarnya, tapi Biyan tak ingin membuat gadis itu semakin kesal.

Ara hanya mendengus jengkel dan memalingkan wajahnya marah. Tangannya bersedekap didada dengan raut wajah yang ia tekuk dalam-dalam.

“Kau sebenci itu menjadi kekasihku?"

"Hah?!"

Biyan mengerjap sejenak lalu berdehem. "Oh, atau kau sebenarnya menyukai Abhi? Maafkan aku. Aku akan—"

"Bukan begitu! Aku tidak pernah memikirkan Abhi lebih dari sahabat! Jangan mengambil kesimpulan sendiri!" cerocos Ara kesal.

"Okey, lalu kenapa kau kesal?"

"Karena kau!"

Sebelah alis Biyan terangkat naik sembari menunjuk dirinya sendiri. Hal itu malah membuat Ara semakin jengkel pada Biyan. Maka ia mulai memukul gemas lengan remaja itu tanpa ampun.

"Kau menyebalkan! Kenapa kau senang sekali menggodaku?! Memangnya kenapa kalau wajahmu tampan?! Kau pikir bisa seenaknya begitu padaku?!"

"Aduh! Ara, berhenti memukulku."

"Tidak! Kau menjengkelkan! Aku bisa gila karena selalu berdebar-debar saat bersamamu!" teriak Ara frustasi tanpa sadar. Kemudian gerakannya terhenti tiba-tiba dan suasana menjadi hening dan canggung bagi Ara. Detik berikutnya bisa ia rasakan seluruh wajahnya memerah saat menyadari ia telah mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam.

Mampus!

Dengan ragu, matanya naik menatap Biyan yang ternyata sudah menatapnya juga dengan tatapan jahil serta senyuman lebar.

"Hoo, kau suka padaku?"

"ARBIYAN!"

Rasanya Ara ingin mengubur dirinya karena malu berlapis-lapis. Berakhir ia hanya bisa memukul lengan Biyan untuk melampiaskan rasa malunya.

Biyan hanya terkekeh pelan lalu menangkap kedua tangan Ara dan menariknya hingga kedua bibir mereka bertemu. Hanya kecupan singkat, tapi membuat jantung gadis itu berpindah tempat entah dimana.

“Ayo turun. Aku harus mengganti perban lukaku dulu lalu akan ku antar kau pulang,” kata Biyan kemudian keluar dari mobilnya diikuti Ara kaku dari belakang. Saat masuk, ia terperangah melihat betapa megahnya rumah ini.

Anak orang biasa?!

Konglomerat sih iya!

Langkah kakinya hanya mengikuti Biyan yang menaiki tangga. Sepertinya akan menuju kamar remaja itu.

Ketika hendak masuk kesebuah kamar, seorang maid baru saja keluar dan menunduk hormat. “Sudah saya siapkan Tuan Muda. Ada lagi yang anda butuhkan?”

“Kau ingin sesuatu, Ara?” tanya Biyan.

“Tidak,” jawab Ara pelan. Ia masih merasa canggung akibat ciuman mendadak tadi.

Biyan mengangguk lalu menatap sang pelayan. "Aku akan memanggilmu jika butuh sesuatu.”

“Baik, Tuan,” ucap pelayan itu kemudian melangkah pergi.

Biyan membuka pintu kamarnya dan menyuruh Ara untuk masuk. Sekali lagi Ara berdecak kagum dengan kemewahan kamar Biyan. Ara bukan dari kalangan bawah dan ia sudah biasa melihat segala macam kemewahan, tapi entah kenapa kamar Biyan seperti memancarkan aura megah dan elegannya tersendiri.

Kamar ini benar-benar luas, bahkan ada ruangan khusus untuk membaca, seperti sebuah perpustakaan. Bagaimana ia bisa tahu? Karena antara ruang tidur dan ruang baca hanya dibatasi oleh tembok kaca, jadi Ara bisa melihat seluruh dalam ruangan tanpa harus memasukinya.

“Sudah puas melihat-lihat?”

Ara tersentak kaget dan tersenyum kaku. "Um, iya."

“Kalau begitu bantu aku mengganti perbanku,” kata Biyan yang langsung menarik Ara mendekat.

Ara hanya bisa menelan salivanya gugup, perlahan tangannya mulai membuka kancing seragam Biyan satu persatu. Wajahnya kembali memerah tatkala melihat dada bidang Biyan yang terekspose kini.

Hingga akhirnya seluruh kancing terbuka.

Gadis itu membantu Biyan melepas kemejanya perlahan, dan sekarang Ara harus menahan debaran jantungnya yang entah untuk keberapa kalinya saat melihat Biyan yang benar-benar topless sekarang. Hanya terdapat perban putih yang melilit perut serta lengannya. Padahal Biyan terlihat nampak kurus tapi nyatanya remaja itu memiliki otot yang terbentuk cukup menawan untuk dipandang mata.

“Sayang, aku tahu tubuhku sexy, jadi berhentilah memandanginya terus menerus. Kau terlihat seperti gadis mesum,” bisik Biyan dan membuyarkan segala fantasi yang telah dibayangakan otak kecil Ara.

Ara hanya mencibir kemudian perlahan membuka perban tersebut. Keningnya mengernyit ngeri saat melihat luka jahitan yang sepenuhnya belum mengering. Perlahan tangannya terangkat untuk meraba.

“Apa masih sakit?”

“Tidak terlalu.”

“Apa ini karena Abhi?”

“Hmm.”

Ara menghela nafas pelan, setelah membersihkan luka tersebut dan memberinya antiseptik ia kemudian mulai mengambil kasa serta perban yang baru dan mulai melilitkannya disekitar pinggang Biyan.

Begini-begini dulu ia pernah ikut PMR, jadi sedikit banyak ia tahu cara mengobati luka-luka ringan.

“Nah, sudah,” gumam Ara bangga melihat hasil karyanya yang ternyata terlihat lumayan.

Biyan hanya tersenyum kemudian duduk dipinggir ranjang, ia menarik pinggang Ara hingga kini gadis itu terapit diantara 2 kaki panjang Biyan.

“Biyan?”

“Sebentar saja,” ucapnya kemudian mulai meletakkan kepalanya di perut Ara memeluknya possesive.

“Biyan, kenapa kau menyamar menjadi Abhi?” tanya Ara pelan sembari tangannya mengelus surai hitam Biyan lembut.

“Aku harus mencari tahu apa yang terjadi padanya. Abhi anak yang ceria, ia tak mungkin menyakiti orang lain. Jadi, aku ingin tahu kenapa mereka menyakitinya hingga seperti itu," jawab Biyan pelan. masih terlihat nyaman dengan posisinya, menghirup aroma strawberry dari tubuh simanis yang entah sejak kapan seperti candu baginya.

"Maaf karena aku tak bisa melindunginya, Biyan. Padahal aku sahabatnya," lirih Ara pelan.

Biyan tersenyum tipis. "Bukan salahmu. Kau sudah berusaha semampumu. Ini salah mereka."

Hening sejenak.

“Ohh, terus selama ini kau sekolah dimana? Kenapa Abhi tak pernah cerita apapun tentangmu padaku? Well, sebenarnya Abhi tak pernah cerita tentang hal-hal yang menyangkut privasinya, sih. Aku bahkan baru tahu tempat tinggalnya hari ini.”

Wow! Abhi sekali.

"Anak itu memang tidak suka membicarakan hal-hal pribadi kepada siapapun meski itu sahabatnya sekalipun. Bukan karena Abhi tidak percaya padamu, Ara. Tapi karena Abhi tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur atau masuk ke ranah privasinya. Ia bahkan tak ingin satu sekolah denganku bukan karena membenciku tapi karena ia takut aku akan lebih memberi perhatian kepada orang lain ketimbang dirinya."

Ara membelalak tak percaya. "Woah! Jangan tersinggung tapi apa Abhi mengidap Brother complex?"

"Bisa dibilang begitu," jawab Biyan sambil terkekeh.

"Tapi ia tak terlihat begitu."

"Jika ia melihatku memelukmu seperti ini, mungkin ia akan memusuhimu, Ara~"

"Ka-kau bercanda, kan?"

Biyan mendongak dengan senyuman lebar. "Tidak. Abhinara terlalu menyayangiku hingga ia tak rela aku menyayangi orang lain."

Remaja itu melepas rengkuhannya dan menggenggam jemari Ara. "Tapi ia bukan orang jahat, Ara. Ia akan mengerti perlahan-lahan karena Abhi adalah adikku."

Hening.

"Selama setahun ini aku sekolah di Amerika, aku tinggal dengan kakekku di sana. Dan aku belum bertemu dengan Abhi lagi semenjak aku meninggalkan Negara ini. Aku pulang karena aku mendapat kabar tentang kondisi Abhi yang buruk."

"Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Ini salahku," sambung Biyan lagi.

Ara menangkup wajah Biyan pelan. "Hey, ini bukan salahmu. Seperti katamu, ini salah mereka yang menyakitinya."

"Kau benar."

Hening lagi.

“Lalu dimana ayahmu?”

Tubuh Biyan menegang seketika dan membuat Ara terkejut, pasalnya Biyan tadi kembali memeluknya jadi ia bisa merasakan perubahan gestur apapun dari remaja itu. Cukup membuat Ara sadar, seharusnya dia tak bertanya soal itu.

“Biyan, maaf..aku—”

“Lupakan,” ucap Biyan dingin tapi tetap tak merubah posisinya.

Suasana jadi sedikit canggung jujur saja tapi Biyan tidak bergerak dari posisinya. Membuat Ara bingung harus melakukan apa atau mengatakan apa. Takut salah bicara dan menyinggung Biyan lagi.

“Ekhem,” Sebuah suara terdengar tiba-tiba diujung pintu kamar Biyan dan membuat sang pemilik kamar menggeram jengkel karena mengganggu aktivitasnya.

“Sepertinya aku datang disaat yang tak tepat lagi, eh?”

“Kak, aku tahu kau kasar dan seenaknya tapi setidaknya punya sedikit Attitude! Kedua tanganmu patah sampai tak bisa mengetuk?!" desis Biyan.

Bukannya tersinggung tapi Dean malah tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang tahu apa yang akan kau perbuat pada gadis manis itu. Kau kan mesum~"

“Cerewet. Ada urusan apa?!” sungut Biyan masih kesal.

“Neo dan Kak Eve mengajak kita makan malam.”

“Ya, sudah. Kalian tentukan tempatnya saja. Nanti tinggal hubungi aku.”

“Baiklah."

Biyan menatap Ara yang sedari tadi hanya diam. "Kau mau ikut?"

“Eh, aku boleh ikut?”

“Tentu saja! Aku juga berencana untuk mengajak kekasihku! Akan ku perkenalkan kalian pada saudara-saudaraku!” jawab Dean semangat.

Sebelah alis Biyan terangkat naik. "Kekasih? Siapa?"

"Alvaro."

"Hah?! Kak Alvaro?! Serius?!" Kali ini Ara yang memekik syok.

Dean tersenyum lebar dengan bangga.

"Dia setuju jadian denganmu atau ini hanya sepihak saja?" tanya Biyan.

Senyuman Dean langsung luntur dan digantikan tawa meledek Biyan.

"Sudah kuduga!"

"Diam, Biyan!" bentak Dean kesal tapi remaja itu terus tertawa saja.

“Baiklah kalau begitu. Aku ikut,” jawab Ara sambil tersenyum.

“Ya, sudah. Biyan, cepat ganti bajumu dan antar Ara pulang agar ia bersiap untuk nanti malam,” kata Dean yang langsung pergi entah kemana.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!