NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Acara syukuran khataman di pondok berlangsung dengan sangat khidmat.

Lantunan ayat suci menggema di udara, namun di sudut serambi suasana hati Rani justru sedang tidak tenang.

Ia duduk di samping Lilis dengan tangannya yang diperban tersembunyi di balik kain jilbab yang disampirkan longgar.

Sesekali Rani menangkap basah Laila sedang mencuri pandang ke arah Yudiz yang duduk di barisan depan bersama para ulama.

Tatapan Laila bukan sekadar kagum, melainkan penuh pemujaan.

Setelah acara doa bersama selesai, suasana berubah menjadi lebih santai.

Saat itulah, Kyai Mansyur, ayah Laila yang baru saja kembali dari Yaman, menghampiri Kyai Abdullah. Mereka bersalaman erat sebagai sesama sahabat lama.

"Kyai Abdullah," buka Kyai Mansyur dengan nada bicara yang berwibawa namun penuh harap.

"Kedatangan kami ke sini bukan sekadar silaturahmi. Kami melihat Yudiz sudah tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa. Jika Kyai berkenan, saya ingin menyempurnakan ikatan persaudaraan kita dengan menjodohkan putri saya, Laila, dengan Yudiz."

Kyai Abdullah langsung terkejut ketika mendengar perkataan dari Kyai Mansyur.

Ia menghentikan gerakan tangannya yang baru saja hendak meraih cangkir teh.

Beliau melirik ke arah Yudiz yang juga tampak membeku, lalu beralih ke arah Rani yang duduk tak jauh dari sana.

Rupanya, Kyai Mansyur dan keluarganya benar-benar tidak tahu bahwa Yudiz sudah menikah beberapa hari yang lalu, mengingat pernikahan itu dilakukan secara mendadak dan terbatas.

"Kyai Mansyur, mari kita duduk sebentar..." ucap Kyai Abdullah mencoba menenangkan suasana.

Beliau mengajak Kyai Mansyur ke tempat yang sedikit lebih privat agar pembicaraan tidak menjadi konsumsi publik.

Laila yang berdiri tak jauh di belakang ayahnya, menunduk dengan wajah merona merah. Namun, keceriaannya memudar saat ia melihat arah pandang Kyai Abdullah yang terus tertuju pada seorang gadis dengan tangan diperban yang duduk di sudut.

"Afwan, Kyai Mansyur. Niat panjenengan sangat mulia. Namun, takdir Allah berkata lain. Sebenarnya Yudiz baru saja melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu."

Bagai disambar petir di siang bolong, wajah Laila seketika pucat.

Senyum di bibirnya hilang, digantikan oleh guncangan rasa kecewa yang nyata.

"Sudah menikah?" gumam Laila lirih.

Matanya mulai berkaca-kaca, ia melirik Rani dengan tatapan yang sulit diartikan.

Suasana menjadi sangat canggung dan Lilis yang duduk di samping Rani langsung menggenggam tangan kiri kakak iparnya, seolah memberi kekuatan.

Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.

Laila menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya.

Ia menatap Kyai Abdullah dan Yudiz dengan keberanian yang nekat.

"Kyai, Saya sangat menghormati Gus Yudiz. Jika memang beliau sudah memiliki istri, dan jika diperbolehkan menurut syariat, saya ikhlas menjadi istri kedua demi bisa mengabdi pada keluarga ini."

DUARR!

Rani yang tadinya hanya diam menyimak, langsung membelalakkan matanya sempurna.

Kepalanya mendongak cepat, menatap Laila dengan ekspresi yang campur aduk antara kaget, marah, dan tidak percaya.

"Istri kedua?!" batin Rani berteriak.

Tangan Rani yang diperban mendadak terasa berdenyut kencang seiring dengan detak jantungnya yang memacu cepat.

Ia melirik Yudiz, menunggu reaksi suaminya dan Pikirannya yang tadi hanya fokus pada luka bakar, kini mendadak dipenuhi bayangan sirkuit.

Rani ingin menyalakan motor trail-nya sekarang juga dan menabrak siapa pun yang mencoba masuk ke "lintasan" rumah tangganya.

Nyai Salmah yang selama ini sangat mendambakan sosok menantu yang Hafidzah dan anggun seperti Laila, mendadak kehilangan akal sehatnya karena terpesona oleh tawaran tersebut.

"Kyai, jika Laila sudah sampai seikhlas itu, bukankah dalam agama diperbolehkan? Apalagi Laila bisa membimbing dalam hal agama," ucap Nyai Salmah pelan, namun kata-katanya terdengar seperti palu godam di telinga Rani.

Rani tidak sanggup lagi mendengar satu kata pun.

Hatinya hancur berkeping-keping dan tanpa memperdulikan dengan tata krama pondok, ia langsung bangkit berdiri.

Matanya yang merah menatap Nyai Salmah dan Laila bergantian dengan kilatan amarah yang menyala.

"Istri kedua? Mengabdi?" Rani tertawa sinis dengan suara bergetar.

"Kalian kira aku ini apa?! Pajangan?!"

Rani berbalik dan langsung berlari keluar dari serambi.

Sambil berlari, ia merenggut hijabnya hingga terlepas, membiarkan rambutnya terurai liar tertiup angin.

"Persetan dengan aturan pondok!"

Ia memanggil salah satu santri yang sedang berada di parkiran motor.

"Antar aku pulang ke rumah sekarang! Cepat!" bentaknya dengan nada yang tak terbantahkan.

Yudiz yang melihat kejadian itu langsung panik dan mengejar istrinya.

"Rani! Tunggu!" teriak Yudiz sambil mencoba mengejar, namun Rani sudah melesat pergi dengan motor ojek santri tersebut.

Tanpa membuang waktu, Yudiz menyambar kunci mobil sport-nya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Ia tidak peduli dengan tatapan bingung tamu-tamu Kyai Mansyur.

Sesampainya di rumah Rani langsung mengganti pakaiannya.

Tak berselang lama Yudiz berlari masuk dan menuju kamar mereka.

Di dalam kamarnya, ia mendapati Rani sedang menarik paksa hoodie hitamnya, menggantinya dengan jaket kulit kesayangannya yang penuh stiker balap.

"Rani, dengarkan aku dulu! Itu hanya pembicaraan sepihak, aku tidak pernah setuju!" Yudiz mencoba memegang bahu Rani.

"Nggak usah bicara lagi, Yudiz! Umi kamu saja lebih pilih dia daripada aku! Pergi sana sama perempuan Arab suci itu! Aku bukan level kalian!"

Rani menyambar helm full-face dan kunci motor trail merahnya yang tergeletak di atas meja.

Sebelum Yudiz sempat menghalangi pintu, Rani sudah menerobos keluar.

Di halaman rumah, mesin motor trail itu meraung sangat keras, seolah mewakili teriakan hati Rani.

Dengan satu hentakan gas, Rani melesat keluar dari halaman, meninggalkan kepulan debu yang menyelimuti Yudiz yang berdiri mematung di ambang pintu.

"Rani!!!" Yudiz berteriak putus asa.

Rani tidak menoleh dan memacu motornya menuju sirkuit dengan kecepatan gila.

Luka di tangannya yang diperban mulai terasa basah oleh darah yang merembes karena tekanan pada stang motor, tapi ia tidak peduli.

Rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di dadanya saat melihat suaminya "ditawarkan" pada wanita lain di depan matanya sendiri.

Malam itu, sirkuit menjadi saksi bisu kemarahan seorang Rani yang sedang memacu nyawanya di atas lintasan maut.

Deru mesin motor di sirkuit malam itu terasa lebih mencekam.

Lampu-lampu sorot sirkuit memantul di atas helm Rani yang gelap, menyembunyikan mata yang bengkak karena tangis dan amarah.

Rani turun dari motornya sejenak, napasnya memburu di balik masker balapnya.

Galang yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya di paddock segera menoleh saat mendengar raungan mesin yang sangat ia kenali.

"Ran! Akhirnya muncul juga! Gue kira lu beneran jadi asisten rumah tangga sepupu lu itu!" Galang tertawa, namun tawanya mendadak terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang aneh.

Kasa putih yang membungkus tangan kanan Rani tidak lagi putih bersih.

Cairan merah segar merembes keluar, membasahi perban dan bahkan mulai menetes ke stang motor merahnya.

"Astaga, Rani! Tangan lu kenapa?!" Galang mencoba meraih tangan Rani.

"Itu darah, Ran! Lu luka parah? Jangan gila, lu nggak bisa balapan dengan kondisi tangan kayak gitu. Rem depan lu nggak bakal dapet!"

Rani menyentak tangannya dengan kasar dan menatap Galang dengan tatapan yang sangat dingin.

"Jangan cegah aku, Lang! Biarkan aku merasa sakit di sini, daripada harus merasakan sakit di sini!" Rani menepuk dadanya dengan keras.

"Tapi Ran, ini bahaya—"

"Minggir!"

Rani memakai helmnya kembali dengan sekali sentakan.

Tanpa mempedulikan teriakan Galang, ia menarik tuas gas sedalam-dalamnya.

Suara knalpot motor trail-nya menjerit membelah malam.

Ia langsung melesat menuju garis start di mana beberapa pembalap lain sudah bersiap untuk sesi latihan bebas berhadiah.

Darah mulai menetes lebih banyak, membasahi sarung tangan kulitnya, namun Rani justru semakin kencang menarik gas. Baginya, setiap denyut nyeri di tangannya adalah pengalih perhatian yang sempurna dari bayangan wajah Laila dan kalimat Nyai Salmah.

Di sisi lain, mobil sport hitam Yudiz berhenti mendadak di parkiran sirkuit.

Ia keluar dengan wajah pucat pasi dan segera mencari keberadaan istrinya.

Ia mendengar suara raungan motor yang sangat ia kenal sedang dipacu secara ekstrem di lintasan.

Yudiz segera berlari menghampiri Galang yang masih kebingungan.

"Mana Rani?!"

Galang menunjuk ke arah lintasan dengan wajah ngeri.

"Dia nekat, Mas! Tangannya berdarah-darah tapi dia tetap tancap gas. Dia kayak orang yang mau bunuh diri di sana!"

Yudiz melihat ke arah lintasan dan di sana, motor trail merah Rani sedang melompat tinggi di gundukan double jump.

Pendaratannya tidak stabil karena tangan kanannya tidak bisa menahan beban dengan sempurna.

Motor itu goyang hebat, hampir saja melempar Rani ke tanah.

"Rani! Ya Allah..." gumam Yudiz.

Ia tidak punya waktu untuk berpikir lagi dan langsung berlari menuju pembatas sirkuit, berteriak sekencang mungkin di antara kebisingan mesin.

"RANI! BERHENTI!!"

Ia terus melaju, menyalip pembalap lain dengan cara yang sangat berisiko, seolah-olah ia sedang menantang maut untuk menjemputnya malam itu juga.

1
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!