Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Dini menunggu ojek di pangkalan, tapi sudah hampir 10 menit tempat itu sangat sepi. Bisa saja pulang berjalan kaki, tapi lumayan jauh.
"Lagi nunggu ojek to, Dek?" Tanya pria yang tengah memanggul rumput untuk umpan kambing berhenti di depan Dini.
"Iya Pak, tapi kok lama ya?" Dini memang selama sekolah baru sekali naik ojek, karena biasanya naik sepeda.
"Kalau sedang musim bercocok tanam memang jarang ada ojek Dek" pria paruh baya itu menceritakan. Ojek di desa ini hanya sampingan jika sedang tidak ada pekerjaan di sawah.
"Oh, terima kasih Pak..." Dini mengangguk sopan lalu memutuskan untuk berjalan. Namun, baru beberapa langkah motor berhenti di sebelahnya.
"Kamu tidak membawa sepeda Dini? Aku antar yuk" Handoko senang sekali jika ada kesempatan mengantar Dini. Ia sikut pelan agar pria yang sedang membonceng di belakangnya turun.
"Kamu tega amat sih Han, masa giliran ada Dini aku disuruh turun sih" Bejo ngomel-ngomel.
Seettt... "Jangan berisik nanti Dini mendengar" lirih Handoko.
Dini hanya memperhatikan dua orang itu, walaupun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan tapi tahu maksudnya.
"Dini, ayo naik" Handoko menarik bokongnya maju agar Dini duduk dengan leluasa.
"Tidak usah saya jalan kaki saja" Dini tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan Bejo yang disuruh turun. Ia berjalan meninggalkan mereka.
Melihat hal itu Bejo berlari mengejar. "Dini, sebaiknya kamu naik" Bejo tidak mungkin tega membiarkan Dini berjalan kaki.
"Benar kata Bejo Dini, ayo" Handoko menjalankan motornya pelan dan berhenti di samping Dini.
Melihat ketulusan dua temannya, Dini pun akhirnya naik ke atas motor. Handoko menjalankan motornya pelan, pria itu rupanya sengaja ingin berlama-lama bersama Dini. Handoko anak orang paling kaya di desa itu. Dia memang lahir di tempat itu tapi ayahnya bukan penduduk asli. Pekerjaannya pun bukan petani seperti yang lain, tapi tengkulak dan menjual dagangannya ke kota.
Di tempat lain, setelah mengantar Lusi, Aksa putar balik ingin menepati janjinya mengantar Dini. Namun, dalam perjalanan melihat Dini sudah berboncengan dengan Handoko, Aksa memutuskan kembali ke sekolah.
Dalam perjalanan melihat Bejo sedang berjalan kaki Aksa menghentikan motornya. "Kamu mau bareng Jo?"
"Mau Pak, mau sekali. Ya Allah... anak shaleh mah di mana-mana rezekinya baik" Bejo senang sekali, lalu berlari mendekati Aksa.
"Dini tadi bicara apa sama kamu?" Tanya Aksa ketika Bejo sudah naik ke motornya.
"Tidak bicara apa-apa Pak, tapi tadi Dia nunggu ojek lama sekali" papar Bejo. "Memangnya ada apa Pak?" Bejo ingin tahu karena gurunya itu sepertinya perhatian kepada Dini.
"Tidak apa-apa" Aksa menjalankan motornya ke sekolah ambil buku. Lebih tepatnya Bejo yang mengambil.
Sementara itu Dini sudah tiba di halaman rumah nenek. "Terima kasih ya Han..." ucapnya tapi tidak menyuruh Handoko masuk.
"Aku nggak di suruh masuk?" Kelakar Handoko.
"Maaf ya Han, Mbah Putriii sepertinya tidak ada di rumah" Dini tidak mau memasukkan laki-laki karena neneknya belum pulang.
"Kalau gitu aku pulang" Handoko mengalah tapi berharap suatu saat nanti dibolehkan main ke tempat ini lagi.
Dini hanya mengacungkan jempol lalu masuk ke rumah. Sepi, di dalam rumah itu, biasanya mbah Ambar sedang mengaji. Hari-hari mbah putri memang diisi dengan pengajian. Sebenarnya sawah dan tanahnya banyak, tapi mbah sudah tidak kuat tani seperti dulu. Tanah dan sawah miliknya digarap oleh warga yang tidak mempunyai lahan sendiri, bagi hasil tentunya.
Dini kasihan kepada Mbah putri, sebenarnya anaknya ada tiga, tapi semuanya merantau. Ratna ibu Dini itulah anak pertama, anak kedua tinggal di Jakarta dan anak bungsu tinggal di Semarang.
Dini masuk ke dalam kamar, setelah ganti pakaian hendak tidur, tapi mendengar ucapan salam dari luar. "Mbah Putri" Dini tersenyum lalu bergegas keluar membuka pintu.
"Pak Min..." seru Dini karena yang datang pekerja di toko kelontong ibunya. Bukan mbah Ambar seperti yang ia pikirkan.
"Dini..." pria yang bernama pakde Minto yang biasanya dipanggil pak Min tengok kanan kiri khawatir ada orang yang mengikuti.
"Masuk Pak Min, Ibu baik-baik saja bukan?" Dini khawatir terjadi sesuatu dengan ibunya karena ulah Ringgo.
"Ibu kamu baik-baik saja, saya datang kemari hanya mengantar motor kamu."
Dini melongok keluar rumah, motor yang biasanya ia pakai sudah diparkir di halaman.
"Motor kamu sebenarnya sudah Ringgo tawarkan ke orang hendak dia jual, tapi Ibu Ratna menyuruh saya mengantar ke rumah ini," papar pak Min.
"Alhamdulillah... terima kasih Pak..." Dini tentu senang, jika ada motor ia tidak akan kesulitan lagi ketika ke sekolah.
Keesokan harinya Dini berangkat ke sekolah membawa motor sendiri. Ia cium tangan mbah putri sebelum berangkat.
"Hati-hati, jangan ngebut" pesan mbah Ambar.
"Tidak Mbah, assalamualaikum..." ucap Dini. Motor wanita yang dibelikan Ratna 6 bulan yang lalu itu melaju sedang menuju sekolah.
"Alhamdulillah... motor baru..." seru Lestari menyambut kedatangan sahabatnya.
"Motor lama Tari, kita ke kelas yuk" Dini mengait tangan Tari bergandengan sambil ngobrol membicarakan motornya.
"Kalau gitu boleh dong, sekali-kali aku pulang nebeng" jujur Lestari.
"Beres... setiap hari pun kamu boleh bareng aku Ri" Dini sungguh-sungguh. Waktu masih masih 15 menit lagi, mereka hanya meletakkan ransel lalu kembali ke luar.
"Ri, Pak Aksa itu sebenarnya sudah punya pacar belum?" Lirih Dini ketika mereka duduk di taman.
"Kenapa? Kamu naksir?" Tari tertawa lebar.
"Bukan begitu Tari, aku hanya ingin tahu saja."
"Ingin tahu, berarti ada sesuatu Dini..." Lestari lagi-lagi tertawa.
"Ya sudahlah, lupakan" Dini tidak mau membahas Aksa lagi, bukan informasi yang ia dapat tapi justru ditertawakan.
"Kalau di rumahnya sih aku belum pernah melihat Pak Aksa membawa wanita Ni, tapi kalau di rumah orang tuanya aku tidak tahu" Lestari pun akhirnya berkata apa adanya.
"Memang Pak Aksa tidak tinggal bersama orang tuanya?" Dini meyakinkan. Sebab ketika menginap di rumahnya Aksa hanya tinggal sendiri.
"Tidak" Lestari menceritakan bahwa Aksa adalah pria idaman. Pria cerdas tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya. Ketika kuliah di universitas negeri, Aksa mendapat beasiswa. Aksa pemuda yang tidak neko-neko, rajin dan ulet. Belum berumah tangga sudah membangun rumah sendiri. Banyak wanita di desa yang antri dipinang Aksa. Tentu saja para gadis desa itu hanya menyimpan perasaan mereka di dalam hati.
"Setahu aku hanya satu wanita yang sering dekat dengan Pak Aksa."
"Siapa?" Dini menggebu-gebu.
"Ibu Lusi" Tari mengatakan jika Lusi bukan penduduk desa. Guru matematika itu sebenarnya berasal dari kota tapi ditugaskan oleh Diknas untuk mengajar di daerah.
Kriiing... Kriiing... Kriiing...
Belum selesai cerita bel pun berbunyi, Dini pun ke kelas diikuti Tari. Dini sadar, ternyata dirinya harus bersaing dengan bu Lusi, wanita cantik dan sudah seharusnya menikah.
Semenjak tahu cerita itu, Dini sengaja menjauhi Aksa, ia sering melihat Aksa mengantar bu Lusi pulang. Hingga suatu ketika Dini duduk sendiri di depan pintu kelas, menunggu Lestari yang sedang di ruang TU.
"Dini..." Suara bariton mengejutkan dirinya.
"Saya Pak..." Dini segera berdiri salim tangan Aksa seperti tidak ada masalah.
"Katanya kamu mau ikut saya ke sawah, bagaimana kalau besok..."
Dini diam berpikir, jika ia menerima tawaran Aksa, maka akan semakin sulit melupakan gurunya itu.
"Dini..."
"Eh, iya Pak. Saya mau," gugup Dini.
"Mas, besok aku mau pulang ke Yogyakarta, kamu bisa mengantar aku kan?"
Daarrrr...
Lagi-lagi Lusi mengacaukan acara mereka.
...~Bersambung~...