Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 20.
Permintaan maaf itu tidak datang dalam satu kalimat, ia datang dalam tindakan.
Rangga meminta waktu Milea, mengajaknya duduk di ruang tamu. Tidak ada bercanda, tidak ada pengalihan.
“Aku perlu bilang ini, dan aku tahu… ini telat karena aku baru mengingatnya.”
Milea diam.
“Aku dingin sama kamu selama empat tahun,” lanjut Rangga. “Bukan karena kamu kurang, tapi karena aku pengecut.”
Napas Milea sedikit bergetar.
“Aku takut melihat mata Radit di wajah perempuan yang aku cintai. Jadi aku memilih menyakitimu… daripada jujur pada diriku sendiri, jika aku telah jatuh cinta padamu.”
Rangga menarik tangan Milea, menggenggamnya. “Aku minta maaf, supaya kamu tahu… sejak awal kamu tidak pernah bersalah dalam pernikahan kita.”
Air mata Milea jatuh tanpa suara, Ia lalu memeluk Rangga.
Malam itu, mereka tidak terburu-buru. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada rasa bersalah. Hanya dua orang yang memilih satu sama lain dengan sadar.
Rangga memeluk Milea di ranjang, wajah Milea bersandar di dadanya. Detak jantung itu, yang dulu membuatnya merasa bersalah, kini terasa seperti rumah.
“Kamu tahu?” ucap Rangga pelan. “Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda sekarang.”
“Bagaimana?”
“Lebih terbuka, dan lebih dalam.”
Milea tersenyum. “Itu cinta dewasa.”
Rangga mencium rambut Milea. “Dan sesuai janjiku, aku akan mencintaimu ugal-ugalan… setiap hari.”
Milea tertawa kecil. “Jangan berlebihan.”
Rangga mengencangkan pelukannya. “Nggak bisa, aku telat empat tahun.”
Milea tidak takut kehilangan lagi, karena cinta ini tidak dibangun dari rasa bersalah, melainkan dari pilihan yang matang. Ia bukan tipe yang menangis sambil mengadu. Selama ini, ia bertahan dengan diam. Cara paling sunyi untuk mencintai seseorang yang tidak tahu caranya dicintai.
Malam itu, mereka duduk di balkon rumah. Lampu kota terlihat samar, angin malam bertiup pelan. Rangga duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding, sementara Milea memeluk lutut di sampingnya.
“Rangga,” panggil Milea pelan.
“Hmm?”
“Aku mau cerita... tapi kamu jangan memotong, ya.”
Rangga langsung menoleh. “Aku janji.”
Milea menarik napas panjang. “Waktu aku kehilangan penglihatan… aku nggak langsung takut gelap.”
Rangga terdiam.
“Aku takut… dilupakan.”
Suaranya tetap tenang, tapi ada getar halus yang sulit disembunyikan.
“Orang-orang bilang aku kuat. Tapi sebenarnya, aku cuma nggak punya pilihan. Aku belajar berjalan lagi, belajar percaya lagi... sendirian.”
Ia tersenyum kecil, pahit.
“Dan waktu aku tahu mataku berasal dari adikmu… aku merasa hidupku ini menjadi sebuah hutang dan beban, sama sepertimu.”
Rangga mengeluvs lengan Milea menenangkan.
“Aku menikah denganmu tanpa tahu mataku milik adikmu, dan aku sering mempertanyakan sikap dinginmu….”
Rangga bangkit, lalu menarik tubuh Milea ke dalam pelukan.
“Tiap kamu bersikap begitu, aku bilang ke diri sendiri... nggak apa-apa. Saat aku buta, aku juga berada dalam kegelapan. Yang penting aku bisa melihat dunia, meski pernikahanku akhirnya akan hancur.”
“Sekali lagi, aku minta maaf,” ucapnya Rangga serak. “Karena membuatmu kesepian selama ini...”
Milea menggeleng di dadanya. “Sekarang semua itu sudah tak ada artinya, kita akan bahagia.”
Rangga menunduk, keningnya menempel di rambut Milea. “Selamanya.“
Sejak hari itu, rumah mereka berubah lebih hangat.
Pagi-pagi, Milea menemukan catatan ditempel di kulkas dengan stiker berbentuk hati.
[Sarapan di meja, aku ada meeting pagi. Jangan lupa pakai jaket, kalau pergi kerja. Aku jemput sore, dari suamimu yang paling ganteng.]
Milea membaca sambil mendengus. “Pede banget.”
Tapi dia tetap tersenyum.
Rangga juga sering ikut ke supermarket, dan tersesat di lorong bumbu.
“Lea, ini ketumbar bubuk sama jinten beda, ya?”
“Beda.”
“Yang mana buat ayam?”
“Dua-duanya.”
Rangga menatap dua bungkus itu lama. “Aku merasa ditipu oleh dunia.”
Milea tertawa sampai bahunya bergetar.
Di rumah, Rangga juga belajar menyesuaikan diri.
“Kenapa kamu selalu taruh kunci di tempat yang sama?” tanya Rangga heran.
“Supaya aku nggak nyari-nyari lagi.”
Rangga mengangguk serius. “Masuk akal. Mulai sekarang aku juga harus konsisten… demi keselamatan bersama.”
Kadang Rangga terlalu protektif.
“Kamu nggak dingin?”
“Nggak.”
“Minum air?”
“Belum haus.”
“Lea—”
“Rangga,” Milea menoleh. “Aku istrimu, bukan pasienmu.”
Rangga hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Mereka menjalani kehidupan sederhana. Masak bareng, setiap ada kesempatan akan saling ejek, lalu tertidur berpelukan. Tidak sempurna, tapi tanpa sekat di dalamnya.
Radit tidak mati sia-sia.
Karena dari kehilangan itu, lahir cinta yang tidak lagi menyakiti.
Suatu hari, bel pintu rumah mereka tiba-tiba berbunyi nyaring. Saat pintu dibuka, Jenny berdiri di sana dengan wajah kesal dan napas sedikit tersengal.
“Pokoknya kalian harus nolong aku. Sembunyikan aku!” katanya tanpa basa-basi. “Keluargaku mau menjodohkan aku, dan aku baru saja kabur dari rumah.”
Milea dan Rangga saling berpandangan, keduanya menghela napas hampir bersamaan.
Rangga mendengus pelan, menguvsap wajahnya sendiri. Benar-benar… ada saja ulah mantan kekasihnya itu.
Milea melangkah mundur memberi jalan, meski ekspresinya jelas tak sepenuhnya ikhlas. “Masuk dulu, kita bicara di dalam.”
Jenny langsung nyelonong masuk, menjatuhkan tasnya ke sofa seperti rumah sendiri. “Aku cuma butuh waktu beberapa hari, sumpah.”
Rangga menyandarkan tubuh di kusen pintu, menatap Jenny dengan alis terangkat. “Beberapa hari versi kamu biasanya berubah jadi beberapa minggu.”
Jenny mendelik. “Aku serius kali ini.”
Milea menghela napas lagi, lalu menoleh ke suaminya. “Kita bantu dia, tapi ada syarat.”
Jenny tersenyum lebar, terlalu lebar. Dan entah kenapa, Rangga punya firasat. Jika kedatangan Jenny kali ini, tidak akan sesederhana itu.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌