NovelToon NovelToon
NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Konglomerat berpura-pura miskin / Crazy Rich/Konglomerat / Angst / Cinta Seiring Waktu / Miliarder Timur Tengah
Popularitas:191.6k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Suara Anindya tercekat saat melihat pemandangan menyakitkan di depannya. Dada Anindya bergemuruh dengan cepat saat melihat bagaimana Yoga menggeram kenikmatan di atas tubuh polos seorang wanita.

"Apa-apaan ini? "ucap Anindya mengigit bibirnya miris.

Dikala ia menanti Yoga untuk mengucapkan ijab kabul. Anindya justru harus menyaksikan adegan ranjang antara calon suaminya dan wanita lain dan lebih menyedihkannya itu di dalam kamar yang ia dekor untuk malam pertamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

"Hari ini mau ngapain ya? Libur gabut banget,"celetuk Anindya.

Hari ini adalah hari libur kerja, Anindya yang telah membersihkan rumahnya tampak dalam mode gabut.

Gadis itu berjalan menuju dapur, membongkar isi lemari mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghilangkan ke gabutan nya.

Sampai akhirnya, ia menemukan sisa bahan-bahan kue yang bisa diolah. Langsung saja, dengan cekatan Anindya mengolahnya menjadi sejenis kue basah yang bisa ia buat dengan cara mengukusnya.

Sesekali Anindya menyanyi lagu secara random. Ya, random karena hanya bagian-bagian tertentu dari sebuah lagu yang ia nyanyikan lalu ia sambung dengan bagian lagu lainnya.

Keasikan Anindya ini terus mengalir, sampai dia tidak menyadari jika di depan rumahnya telah berdiri Yuri, Prita, dengan beberapa pria bertubuh kekar dan berwajah sangar.

Tok...tok...tok.

"Anin! Anind!"

Yuri berteriak memanggil nama Anindya dengan gedoran yang cukup keras. Dan hal itu, tidak hanya sekali Yuri lakukan. Tetapi berulang kali serta dibantu Prita yang mengetuk jendela kayu rumah kecil Anindya.

"Siapa sih teriak-teriak? Lagunya sih kayak suara mak lampir,"gumam Anindya teriakan Yuri dan Prita mulai mengusiknya.

Segera, ia putar tombol kompor itu untuk mematikan kompornya dan mengangkat kue-kue itu. Baru setelahnya, Anindya berjalan menuju pintu karena tidak tahan dengan gedoran keras.

Jika saja tidak segera gadis itu ke arah pintu, bisa dipastikan pintu rumah Anindya akan hancur.

"Iya sebentar! Sabar dikit kenapa sih,"gerutu Anindya.

Anindya memutar kunci lalu handle pintu dan membukanya. Saat Anindya membuka pintunya lebar.

Tiba-tiba gadis itu langsung di tarik oleh pria bertubuh kekar sampai gadis itu terjerembab di atas tanah.

"Ya! Apa-apaan ini,"teriak Anindya tak terima.

Anindya bangkit dari posisinya lalu menatap tajam Yuri dan para antek-anteknya itu. Sepertinya Yuri masih dendam perihal kejadian tempo hari di kantor.

"Kenapa? Nggak terima? Sekarang rumah dan tanah ini milik Saya, jadi Saya hanya ingin mengambil hak Saya,"ucap Yuri sinis.

Pernyataan yang sulit dimengerti. Anindya yang tidak terima akan rumah peninggalan kedua orang tuanya yang tiba-tiba dicap milik Yuri itupun memprotesnya.

Anindya maju ke depan Yuri hendak masuk, namun tubuh Anindya harus kembali mental karena dorongan antek-antek Yuri.

"Shht, ini rumah Saya. Jadi jangan ngaku-ngaku deh bu,"desis Anindya sembari menahan sakit pada telapak tangannya yang terluka akibat terkena batu.

Mendengar ucapan Anindya, suara tawa Yuri terdenger menggelegar. Bahkan tubuh wanita itu turut bergetar karena tawanya. Tidak hanya itu, Prita dan antek-antek juga turut tertawa karena mengikuti Yuri.

"Prita Sayang, kasih tahu gadis pembawa sial ini,"titah Yuri pada calon menantunya.

Memang mertua dan calon menantu satu ini benar-benar klop. Sama-sama berwatak jahat.

Prita melangkah maju mendekati Anindya, lalu dari tangan Prita memperlihatkan surat kepemilikan tanah yang dibangun rumah Anindya.

Anindya yang tidak percaya hendak meraih secarik surat tanah tersebut namun segera Prita menariknya kembali.

"Eits, ini surat penting! Jadi, kamu hanya bisa lihat tidak bisa memegangnya. Takutnya disobek gimana,"ujar Prita dengan seringainya.

"Nggak mungkin, jelas-jelas ini tanah milik Nenek dan rumah ini dibangun oleh keringat ibu,"ujar Anindya tak percaya.

"Terserah, percaya atau tidak. Yang jelas tanah ini adalah milik Saya saat ini. Jadi lebih baik kamu segera bereskan barang-barang kamu dan pergi dari sini,"usir Yuri.

Anindya masih terdiam dengan netra terus mengamati surat yang terus Prita bentangkan di depannya. Sulit dipercaya, surat tanah di tangan Prita itu benar-benar asli, bukan palsu.

"Tapi, tanah ini jelas-jelas milik Nenek,"balas Anindya.

"Apa kamu punya surat tanahnya?"tanya Prita sinis.

Anindya menundukkan kepalanya, dia memang tidak memegang surat tanah tersebut. Karena berdasarkan pengakuan Neneknya, surat tanah tersebut hilang.

Sadar akan situasi dirinya yang telah kalah telak, membuat Anindya yang tadi begitu gencar melawan Prita dan Yuri kini terdiam.

Jadi, jika diperkarakan pada pihak berwajib saja. Anindya akan tetap kalah karena tidak ada bukti fisik. Walaupun dia bersikukuh jika tanah dan rumah itu milik neneknya.

"Tidak ada kan? Jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sekarang juga,"usir Yuri lagi.

Anindya beranjak dari posisinya. Dia berjalan gontai memasuki rumah dan menuju kamarnya.

Rumah ini memang tidak besar, namun di dalam sini banyak sekali kenangan dirinya dan sang nenek. Tangan Anindya terkepal, di tahu jika Yuri dan Prita pasti telah bermain licik.

Tetapi saat ini, dia yang lemah tidak bisa melawan Yuri yang memiliki kuasa karena bakingan suaminya sebagai kepala desa. Anindya hanya bisa membereskan pakaiannya ke dalam tas, serta beberapa barang yang menurutnya perlu ia bawa.

Satu lagi, kue kukus buatannya juga tak luput Anindya bawa. Sekarang dia akan mengalah namun dalam diri Anindya telah meyakinkan jika kelak ia akan merebut kembali tanah dan rumah kecilnya ini.

"Ini surat dari Budi, sebaiknya Aku bawa saja,"gumam Anindya.

Setelah dirasa barangnya sudah cukup. Anindya berjalan keluar kamarnya.

"Nah, gini. Sadar diri itu perlu, jadi kami tidak perlu repot-repot berbuat kasar kan,"ujar Yuri.

Anindya membalik badannya lalu menatap kedua wanita licik itu dengan tatapan tajam.

"Eyyu, tatut ah,"ledek Prita berpura-pura takut.

"Aku pasti akan kembali merebut rumah nenek,"ucap Anindya penuh penekanan.

Dengan diiringi tawa Yuri dan Prita. Anindya berjalan meninggalkan rumah kecilnya. Tidak ada air mata yang keluar dari sudut mata Anindya.

Gadis itu pergi dengan segala amarahnya pada dua wanita yang telah berbuat dzolim padanya itu.

"Kemana sekarang aku pergi? Ke rumah Monic, sepertinya satu-satunya pilihan yang ada,"ujar Anindya setelah memikirkan arah tujuannya.

Sementara itu, tidak lama setelah kepergian Anindya. Terlihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Anindya.

Lalu keluarlah dua pria berpakaian serba hitam. salah satu pria itu mengetuk pintu rumah Anindya.

"Permisi, Nona Anindya,"seru salah satu pria itu.

Keduanya saling berpandangan karena tidak juga kunjung ada jawaban. Pria lainya mencoba menggantikan rekannya untuk mengetuk pintu rumah kecil Anindya.

Tok...tok...tok

"Permisi, Nona Anin,"serunya.

Kegiatan dua pria bertubuh kekar itu membuat Ratna, tetangga julidnya Anindya yang sedari tadi mengintip itupun memberanikan dirinya keluar untuk menanyakan tujuan dua pria itu.

"Mas-mas ini cari Anindya ya?"tanya Ratna.

"Iya, apa Anda tahu dimana Nona Anin berada?"balas salah satu dari pria itu.

"Nggak tahu, dia baru saja diusir sama pemilik baru tanah ini. Mungkin saja lagi gelandangan di jalanan,"saut Ratna dengan bibir julidnya.

Kedua pria itu saling memandang, lalu tanpa memberi tanggapan jawaban dari Ratna. Keduanya berjalan cepat menuju mobil mereka dan meninggalkan rumah kecil itu.

"Loh, main pergi saja. Nggak tahu terima kasih,"gerutu Ratna kesal.

***

1
Kasandra Kasandra
novelnya jd pecentak rekor.. 2023 skg 2026😄
Kasandra Kasandra
lama banget ndak up
Kasandra Kasandra
lama ndak up
Kasandra Kasandra
up nya jgn lama2
Kasandra Kasandra
lanjut double up
Kasandra Kasandra
blom up
Ibu Darseh
penasaran
Rochman Syah
kok GK up up thor... msh penasaran q loh in...
cpet upny donk thor ..
arraya
itu mereka seharian ga sholat? di kantor di borgol bgtu smp rumah tidur ky mati smp tubuh dibersihkan & diganti baju sm suaminya aja ga kebangun sm sekali
arraya
prita atau anes sih nama ceweknya?? kok membingungkan
Rosmina Sumang
anin ingat ya penjjual makan yg nolong kamu
Nur Adam
ljjut
Danny Muliawati
kira In sdh tamat tau nya blm yah thor
Ani Basiati: lanjut thor
total 1 replies
Danny Muliawati
semangat Anin lawan yg nindas km jangan takut selama itu benar
Danny Muliawati
haha luar biasa yah Anin 👍👍
Danny Muliawati
cari penyakit Wanda ini yah .... biar perang x yah 😝😝
Danny Muliawati
minta cerai. ... truz km mo kemana Anin rumah di desa sdh ga ada
Danny Muliawati
syukur ktm Wiliam anin
Danny Muliawati
smga segera dpt pertolongan yah Thor kasian anin
Danny Muliawati
smga ktm yah Anin sebelum km nyusul ke alamat yg di tulis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!