NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Teror Hantu Dengki

Suara desisan parau itu bergema menembus setiap sudut auditorium, menutupi sisa lengkingan suara Nadia yang terputus di tengah jalan. Nyala pendar merah muda yang menyelimuti wujud Nadia mendadak meredup, tergantikan oleh gemetar hebat yang menjalar di sekujur tubuh gaibnya.

Dari balkon atas teater, sosok-sosok hitam berwujud tak karuan merayap turun melintasi dinding semen yang retak. Wujud mereka menyerupai bayangan manusia yang terdistorsi, dengan jemari hitam memanjang berkuku runcing dan mata menyala merah semerah darah.

Mereka adalah Hantu Dengki—jiwa-jiwa lokal penunggu teater tua yang mati dalam kepahitan dan iri hati atas kesuksesan para seniman yang pernah berlaga di panggung tersebut.

"Kyaaa!" Nadia menjerit histeris, melayang mundur hingga menabrak dinding latar panggung. "A-Apa-apaan mereka itu?! Kenapa mukanya jelek-jelek banget, sih?!"

"Mbak Nadia, mundur!" jerit Damar panik dari bawah panggung. Matanya melotot lebar saat melihat lima hingga enam hantu dengki mulai melayang melompati barisan kursi tribune penonton.

Rombongan hantu penumpang bus nomor 666 langsung panik setengah mati.

"Waduh! Ada serangga raksasa gaib!" jerit hantu kakek-kakek yang refleks mencopot kepalanya sendiri lalu memasukkannya ke dalam kemeja agar aman dari serangan.

"Jangan makan gaun saya! Ini sutra mahal sewaktu hidup, tau!" racau hantu wanita paruh baya sambil memukul-mukul hantu dengki yang mencoba meraih bajunya memakai kipas kertas hadiah dari Damar.

"Mas Tour Guide! Tolongin saya!" teriak hantu es yang badannya mendadak meleleh cepat gara-gara hawa panas anyir yang dipancarkan oleh hantu-hantu lokal tersebut. "Kita diserang begal gaib!"

Suasana auditorium teater tua yang semula penuh haru berubah total menjadi medan kekacauan.

Damar membeku di tempatnya, memeluk clipboard kayu murahnya rapat-rapat di dada. Kakinya gemetaran hebat. Ketakutan naluriahnya sebagai manusia biasa bangkit kembali menghantam kesadarannya.

Gila! Gue manusia sendirian di ruangan ini! Kalau hantu-hantu hitam dekil itu nyerang gue, gue bisa mati konyol sebelum sempet bayar tagihan kos!

Sesosok Hantu Dengki berukuran paling besar—wujudnya menyerupai wanita berambut panjang gimbal dengan wajah hancur mengerikan—melayang kencang melintasi udara panggung. Matanya yang menyala merah mengunci sosok Nadia yang tak berdaya di pojok tirai.

"Bintang muda ... yang cantik dan terkenal ...." raung Hantu Dengki itu dengan suara mendesis tajam. "Kamu tidak berhak dipuja! Kamu tidak berhak bernyanyi! Mari ... jadilah busuk dan terbengkalai bersama kami di sini!"

Cakar-cakar hitamnya yang tajam terangkat, siap merobek keberadaan gaib Nadia hingga hancur berkeping-keping.

"N-Nggak mau! Pergi! Jauh-jauh sana!" jerit Nadia sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, memejamkan mata erat-erat siap menerima kehancurannya.

"Nadia!" bentak Damar refleks. Entah dari mana datangnya impuls tersebut, rasa empati dan naluri tanggung jawabnya sebagai pemandu tur mendadak melompati rasa takutnya.

Damar menerjang naik ke atas tangga panggung, meraih sebuah tiang mikrofon besi tua yang tergeletak di dekatnya, dan mengayunkannya sekuat tenaga!

Zzzzt ... BRAK!

Ujung tiang besi itu menghantam aura hitam Hantu Dengki tersebut. Walau tiang besi biasa tidak bisa melukai arwah sepenuhnya, kejutan kontak fisik dari manusia hidup yang menyalurkan rasa keberanian berhasil melempar sosok hantu jahat itu mundur beberapa meter melayang di udara.

Hantu Dengki itu menggeram marah, memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat menatap Damar dengan sorot murka.

"Manusia lemah ... berani-beraninya kamu campur tangan ...!"

Damar berdiri mengangkang di depan Nadia yang terduduk lemas di papan kayu panggung. Nafas Damar memburu, tangannya yang memegang tiang mikrofon gemetaran kencang, tetapi matanya menatap lurus makhluk mengerikan di hadapannya.

"D-Denger ya, Hantu Jelek, dekil, dan bau!" teriak Damar dengan suara yang agak pecah. "Ini tur resmi dari Last Trip Express! Mbak Nadia ini penumpang priority saya! Kalau kamu mau merusak konsernya ... kamu harus hadapi saya dulu!"

Nadia membuka matanya perlahan, menatap punggung Damar yang berdebu dari bawah. Bibirnya ternganga heran. Pemuda penakut yang dari kemarin terus gemetaran ini ... kini berdiri melindungi dirinya di hadapan monster gaib yang mengerikan.

"Hahaha! Dasar manusia bodoh, idiot! Kalau begitu, jiwamu saja yang akan kami mangsa!" raung Hantu Dengki besar itu, diikuti oleh tiga Hantu Dengki lainnya yang melayang mengepung panggung dari kanan dan kiri.

Mereka melayang menerjang secara bersamaan menuju Damar dan Nadia!

"M-Mati dah gue ... padahal tadi cuma gertak sambel!" jerit Damar dalam hati, menutup matanya rapat-rapat seraya pasrah mengangkat tiang mikrofonnya ke udara.

Namun, sebelum jemari berkarat Hantu Dengki menyentuh kulit Damar, sebuah pendar cahaya keemasan yang sangat menyilaukan meledak di tengah panggung.

WUUUSHHH!

Gelombang tekanan energi gaib yang teramat dahsyat berhembus kencang, melempar keempat Hantu Dengki itu menghantam dinding auditorium hingga semen tebalnya retak bercabang-cabang! Mereka mengerang kesakitan saat aura hitam mereka terbakar oleh pendar cahaya murni tersebut.

Suara sepatu hak tinggi mengetuk papan kayu panggung dengan penuh wibawa.

Klak. Klak. Klak.

Madam Helga melangkah keluar dari balik kabut emas, melintasi Damar yang masih terpejam. Syal bulu hitam miliknya mengembang anggun, sementara di tangan kanannya, wanita itu memegang sebuah kipas lipat sutra berwarna merah marun yang memancarkan ukiran mantra gaib bernyala keemasan.

Madam Helga melirik Damar dari sudut matanya dengan tatapan tajam nan sarkastik.

"Tindakan yang cukup berani untuk seorang tour guide kelas teri, Damar," kata Madam Helga dingin, walau nada bicaranya menyimpan sedikit kejutan. "Tapi memukul arwah kelas tinggi dengan tiang mikrofon biasa hanya akan membuatmu jadi hidangan penutup mereka."

"M-Madam Helga!" desah Damar lega, sampai-sampai rasanya dia ingin bersujud syukur di depan sepatu hak wanita itu.

Madam Helga memutar kipas sutranya dengan gerakan tangan yang sangat gemulai. Pandangan matanya mengunci belasan Hantu Dengki yang kini merayap di langit-langit dan dinding teater, meraung-raung ketakutan melihat kehadiran sang pembuat kontrak gaib.

"Kalian makhluk-makhluk kotor tidak beradab," ujar Madam Helga dengan suara tenang namun berdaya ledak yang membuat seluruh ruangan bergetar hebat. "Berani-beraninya kalian mengganggu kenyamanan perjalanan tur agen Last Trip Express dan mengancam keselamatan stafku."

Hantu Dengki terbesar mencoba bangkit, meraung histeris.

"Ini tempat kami! Dan kami tidak sudi melihat ada arwah lain yang bahagia di sini!"

Madam Helga mengibaskan kipas sutranya pelan ke udara.

Cklek!

"Kembalilah ke dasar tanah tempat kalian membusuk," bisik Madam Helga tajam.

Seketika, lingkaran segilima emas raksasa merekah di udara auditorium, siap menggulung habis seluruh kegelapan yang mengepung teater tua tersebut.

"Tidak! Kalian tidak bisa mengusir kami!" raung para Hantu Dengki di atas sana.

Madam Helga mulai kesal, ia menarik napas siap memuntahkan suara tingginya hingga menggetarkan seluruh auditorium.

"KEMBALILAH!"

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!