NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: tamat
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:729.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Malam pun kian merayap tenang menyelimuti kediaman keluarga Lee. Menjelang larut, Shanum sudah lebih dulu merebahkan diri di atas ranjang tempat tidur setelah memastikan Baby Ziva menyusu hingga tertidur pulas di boks bayinya. Tubuhnya meringkuk menghadap dinding, bersembunyi di balik keheningan malam untuk meredam gemuruh di dadanya.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Daniel melangkah masuk setelah menyelesaikan beberapa persiapan terakhir untuk esok hari. Namun, begitu mendekati ranjang tempat tidur, langkah kakinya mendadak terhenti. Sepasang mata elangnya terbelalak menatap pemandangan di atas kasur.

Di sana, tepat di tengah-tengah kasur, telah berjejer rapi jajaran bantal dan guling yang disusun memanjang. Shanum seolah-olah telah membangun sebuah benteng pertahanan atau perisai kokoh yang sengaja ia buat agar tidak bisa lagi ditembus oleh sang suami.

Daniel terpaku di sisi tempat tidur. Ia menghembuskan napas panjang, sebuah senyuman getir terukir di bibirnya. Ia sadar diri bahwa sikap kaku Shanum di taman tadi siang dan perisai bantal malam ini adalah pertanda jelas bahwa Shanum terganggu dengan kelancangannya dan tidak suka disentuh olehnya.

'Benar... aku harus tahu batasan. Pernikahan ini dari awal hanyalah pernikahan kontrak di atas kertas. Tujuannya semata-mata untuk melindungi nama baiknya dari fitnah dari Klara dan membantuku memenangkan hak asuh Ziva,' batin Daniel mengingatkan dirinya sendiri dengan dada yang terasa sedikit sesak.

Ia pun berjanji di dalam hati tidak akan pernah lagi melanggar batas atau menyentuh wanita itu tanpa izin.

Daniel kemudian memposisikan tubuhnya di sisi tempat tidur yang kosong. Ia merebahkan dirinya secara perlahan agar tidak menimbulkan guncangan yang bisa mengusik Shanum. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia menoleh ke arah samping. Pandangannya membentur barisan bantal guling dan punggung Shanum yang membelakanginya.

Insting tajam seorang dokter dan laki-laki mengatakan bahwa wanita di balik benteng itu belum sepenuhnya terlelap. Deru napasnya tidak seirama dengan orang yang sudah tertidur pulas. Merasa ada hal penting yang harus disampaikan, Daniel akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara, memecah keheningan malam demi membahas agenda penting esok pagi.

"Shanum... kalau kau belum tidur, aku hanya ingin mengatakan sesuatu," ujar Daniel dengan suara baritonnya yang pelan dan berat. "Besok... perang yang sesungguhnya di persidangan akan segera dimulai. Kuharap kau sudah mempersiapkan segala mental yang kuat dan kokoh."

Daniel menjeda kalimatnya sejenak, menatap punggung tegang itu dengan tatapan sendu. "Pastinya di sana nanti, Klara dan pengacaranya akan habis-habisan menyerang mu dengan kata-kata mereka. Mereka akan mencari celah untuk menjatuhkan kita."

Suasana kamar pengantin itu mendadak menjadi sangat hening setelah Daniel menyelesaikan kalimatnya. Hanya terdengar deru halus dari pendingin ruangan yang memecah sepi.

Shanum, di balik pembatas bantal, sebenarnya masih memejamkan matanya rapat-rapat. Namun, masih mendengar ucapan Daniel, dadanya kembali berdenyut nyeri. Di tengah kegelapan yang temaram, tanpa bisa ia bendung lagi, beberapa tetes air mata perlahan lolos dari sudut matanya, membasahi pipi dan bantal yang ia peluk.

Sembari menelan ludah untuk menstabilkan suaranya yang bergetar karena menahan tangis, Shanum akhirnya menjawab tanpa mengubah posisinya sama sekali.

"Anda tenang saja, Pak Dokter... saya sudah menyiapkan diri. Wanita seperti saya ini sudah terbiasa berada dalam situasi sulit, dan sudah kenyang atas segala tuduhan serta hinaan dari orang lain," jawab Shanum lirih, namun terselip nada kepasrahan yang mendalam di setiap katanya.

Deg!

Daniel tersentak di tempatnya berbaring. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat mendengar jawaban dari Shanum. Panggilan Pak Dokter yang kembali diucapkan wanita itu terdengar begitu jauh dan asing di telinganya, seolah-olah menciptakan jarak ribuan kilometer di antara mereka.

Lebih dari itu, Daniel menangkap getaran halus dari suara Shanum yang parau. Sebagai pria, ia bisa merasakan bahwa wanita di sampingnya saat ini sedang menahan isak tangis yang teramat pedih.

Rasa bersalah yang teramat besar seketika menghantam dadanya Daniel dengan telak. Ia teringat kembali akan ucapan dinginnya di taman belakang tadi siang saat meminta maaf soal ciuman mereka. Pikiran Daniel mulai berkecamuk, dipenuhi penyesalan yang mendalam.

'Apakah... apakah tindakanku dan perkataanku tadi siang yang telah menggores luka di hatinya?' tanya Daniel pada dirinya sendiri dengan rasa sesal yang membakar batin.

Ia ingin sekali mengulurkan tangannya, menembus benteng bantal itu untuk menghapus air mata Shanum dan menariknya ke dalam pelukan hangat untuk meminta maaf yang sesungguhnya. Namun, melihat kokohnya perisai guling di antara mereka, Daniel hanya bisa mengepalkan tangannya di atas dada, terdiam dalam penyesalan yang menggantung di keheningan malam menjelang sidang esok hari.

*

*

Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus menegangkan itu akhirnya tiba. Pagi ini, atmosfer di dalam kamar pengantin terasa begitu mencekam. Sikap Shanum benar-benar kembali ke setelan awal, bahkan jauh lebih dingin dan kaku dari biasanya. Ia menyiapkan keperluan Daniel tanpa mengeluarkan sepatah kata pun selain anggukan pelan.

Melihat perubahan drastis istrinya, dada Daniel berdenyut perih oleh rasa bersalah yang teramat besar. Namun, ia tahu fokus utamanya pagi ini adalah mengamankan Ziva.

'Setelah sidang ini selesai, aku berjanji akan menyelesaikan kesalahpahaman ini denganmu, Num. Aku tidak mau jarak di antara kita semakin melebar,' tekad Daniel dalam hati sembari menatap punggung Shanum yang sibuk merapikan pakaian.

Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang sunyi, Shanum dan Daniel mulai bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan. Nyonya Tania dan Tuan Lee berdiri di ruang tengah, memberikan dukungan penuh serta doa agar segalanya berjalan lancar.

Sebelum melangkah keluar rumah, Shanum sempat berdiri cukup lama di depan boks bayi Ziva. Rasanya begitu berat untuk meninggalkan putri kecilnya itu walau hanya untuk beberapa jam saja. Namun, sebagai ibu sambung yang bertanggung jawab, ia sudah memastikan stok ASI perah untuk Ziva aman di dalam kulkas dan siap diberikan oleh Bik Sumi. Setelah mengecup kening Ziva dengan penuh kasih, Shanum memantapkan langkahnya keluar rumah.

Sepanjang perjalanan menembus jalanan kota Jakarta, keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat. Shanum yang duduk di jok depan samping kemudi sama sekali tidak berani menoleh ke arah Daniel. Pandangan matanya lurus menatap keluar jendela, mengamati deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di bawah langit ibu kota.

Namun, tatapan mata Shanum tampak kosong, pikirannya entah melayang ke mana. Daniel yang sedang memegang kendali setir sesekali melirik ke arah Shanum melalui sudut matanya. Kekhawatiran di dadanya semakin membuncah. Ia ingin sekali membuka suara, sekadar menyapa atau menggenggam jemari wanita itu untuk menenangkannya. Namun, aura dingin yang dipancarkan Shanum pagi ini benar-benar menciutkan keberanian sang dokter untuk mengusiknya.

Setibanya di Pengadilan Agama Jakarta, Pengacara Jacob rupanya sudah berdiri menunggu mereka di dekat lobi utama. Pria paruh baya itu mengangguk tegas, memberikan sinyal kesiapan. Daniel dan Shanum pun segera mempercepat langkah, berjalan beriringan memasuki gedung pengadilan.

Langkah mereka mendadak terhenti di selasar luar ruang sidang utama. Di sana, Klara bersama Pengacara Jason sudah berdiri dengan melipat dada. Tak berselang lama, seorang pria yang usianya tampak sedikit lebih tua dari Daniel datang menghampiri. Dengan gerakan posesif, pria yang tak lain adalah Sony itu langsung meraih dan merangkul pinggang Klara secara intim.

Sony mengedarkan pandangannya, menatap tajam ke arah Daniel, Shanum, dan beralih pada sosok Pengacara Jacob yang berdiri tegap di samping mereka. Detik itu juga, begitu mengenali reputasi emas Jacob di dunia hukum, dada Sony berdesir aneh.

'Sial... kenapa perasaanku mendadak tidak enak? Melihat ketenangan Daniel dan pengacara kondang di sampingnya, aku merasa perjuangan Klara untuk merebut anak itu kali ini akan berakhir sia-sia,' batin Sony mendadak didera kecemasan yang luar biasa.

Berbeda dengan kekasihnya yang mulai ragu, Klara justru melangkah maju dengan keangkuhan yang meluap-luap. Tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke arah Daniel.

"Bersiap-siaplah untuk kehilangan Ziva, Daniel," ucap Klara dengan nada sinis penuh percaya diri. "Kali ini aku yang akan memenangkan persidangan, dan kau tidak akan bisa menghalangiku lagi untuk membawa putriku pergi."

Mendengar gertakan murahan itu, Daniel tidak terpancing emosi. Ia justru menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang meremehkan. Tanpa diduga oleh siapa pun, Daniel mengulurkan tangan kanannya, meraih jemari Shanum, lalu menggenggamnya dengan teramat erat di hadapan mantan istrinya.

Deg!

Shanum tersentak hebat. Di dalam hatinya, ia ingin sekali menyentakkan tangannya dan melepaskan diri dari cengkeraman hangat suaminya. Luka di taman kemarin masih terasa basah. Namun, Shanum tahu posisi dan tempat. Jika ia nekat melepaskannya di depan Klara, itu sama saja ia telah menjatuhkan harga diri Daniel serta merusak sandiwara yang mereka bangun untuk memenangkan hak asuh Ziva. Menekan egonya dalam-dalam, Shanum berusaha mengatur napas, bersikap relaks, dan membiarkan tangannya bertaut erat dengan tangan Daniel.

Daniel sempat menoleh sejenak, menatap wajah Shanum dari samping. Ia memandangi sepasang manik mata istrinya yang tampak berbeda hari ini, ada amarah besar dan luka yang disembunyikan rapat-rapat di balik ketenangan wajah polos tersebut.

Tak berselang lama, pintu ruang sidang terbuka lebar. Petugas pengadilan memanggil nama kedua belah pihak. Pengacara Jacob dan Pengacara Jason segera melangkah masuk terlebih dahulu, membawa map-map tebal berisi berkas penting yang siap dijadikan alat bukti mematikan di hadapan majelis hakim.

Daniel mempererat genggaman tangannya pada Shanum, menuntun langkah wanita itu memasuki ruang persidangan. Perang hukum perebutan hak asuh anak yang sesungguhnya kini resmi dimulai.

Bersambung...

1
Wang Lin
suka' yang masih belum bisa dipakai untuk 🌼
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
I Love You To semua.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh, bikin barengan, pas hamil juga barengan dan lahirpun barengan jadinya tar kayak kembar 3 dong.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
🤣🤣🤣Jadinya barengan bakal Calon debaynya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kondangan tapi amplopnya di hutang dulu ya Nath, An.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Semangat untuk sembuh bu Dewi.💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Berdoa saja semoga bu Dewi bisa sembuh dari kankernya, biar bisa melihat Nathan nikah dan merasakan kebahagiaan anak²nya dan kelak cucunya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ahaayyy.... di ikat ga tuuhhh.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada pasangan baru nih, jangan... jangan lupa pajak jadiannya ya.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ana sok jual mahal, kalau emang suka ga usah sok judes dan bermulut kasar meskipun cuma dalam hati kalau kebenarannya adalah kamu juga menyukai Nathan... tinggal ikutin saja alur yang Nathan kasih.🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kalau boleh kasih usulan, mending baby Ziva manggil Shanum dengan Panggilan MAMAH saja Thor sesuai panggilan pertama yang keluar dari mulutnya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eengng... iingng... eengng, keburu iklan.🤣🤣🤣

Emang gitu sih, laki² kalau suka sama perempuan kadang nunjukinnya beda²_ ada yang bilang langsung kadang ada yang diem mendem tapi nunjukinnya lewat perhatian dan kadang juga ada yang pura² benci, nyindir² sok pedas... eh ga tau'nya lain di mulut lain di hati.🤣🤣🤣

jadi harap maklum biarpun perempuan punya jiwa perasa tapi dia juga bukan paranormal yang bisa mudah nebak isi hati / perasaan sukanya laki², jadi sebelum menyesal lebih baik ungkapin langsung saja.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hmmm... mulai bau² hawa angin jatuh cinta.🤣🤣🤣

O ya Thor, penuturan tuan Lee saat di meja makan buat baby Ziva apa Shanum_ kalau buat baby Ziva harusnya manggil OPA kan bukan PAPAH... maaf kalau salah tanggap.🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Yuk lah_ Aku juga dukung banget.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sok lahbsaling adu ejekan, tar siapa yang bakalan menang.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
yang perempuan salah paham karna cemburu dan yang laki² salah paham karna jiwa perlindungan seorang kakak, lucu sekali kalian... padahal yang jadi tersangka di salah pahami para sepupu masing².🤣🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Cemburu An, kalau suka mah tanya saja langsung atau cari tau dulu.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Musuh bebuyutan.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
🤣🤣🤣 Pas banget jatuhnya Ana di pangkuan Nathan, 🤣🤣🤣
dan juga Sekarang bahan rebutan Daniel dengan Nathan bukan lagi boneka teddy bear tapi Shanum.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tom Jerry_nya malah nambah lagi, Niel... bakal rame tar kalau bertiga berkumpul (Daniel, Nathan, Ana)🤣🤣🤣
Jangan² Ana bakal jadi jodohnya Nathan nih.🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!