NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Krucuk... krucuk...

Suara nyaring dari perut Mili memecah keheningan ruangan rahasia yang temaram.

Mili, yang masih berbaring polos tanpa sehelai kain pun di atas dekapan David, meringis malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

David terkekeh pelan, suara tawa yang begitu hangat dan rileks—suara tawa yang belum pernah terdengar dari bibirnya selama bertahun-tahun.

Ia mengusap rambut Mili yang berantakan dengan penuh kasih sayang.

"Aku lapar..." bisik Mili polos dengan pipi yang memerah padam.

"Kamu di sini dulu, ya. Aku akan ke dapur buatkan makanan untukmu," ucap David lembut seraya mengecup kening istrinya.

Mili mendongak heran. "Bukannya ada para pelayan?"

"Ini sudah larut malam, pelayan sudah istirahat semuanya. Lagipula, aku ingin memasakkan sesuatu khusus untuk istriku malam ini," jawab David dengan senyum tipis yang menawan.

Mili menganggukkan kepalanya antusias. "Mmmm! Aku tunggu di sini, David."

David beranjak berdiri, mengenakan celana santainya, lalu menyelimuti tubuh Mili dengan kain lembut sebelum melangkah keluar dari ruangan rahasia itu menuju dapur, meninggalkan istrinya yang tersenyum bahagia dalam kegelapan yang kini tak lagi menakutkan.

Di dapur yang sunyi, David membuka pintu lemari es dan mengambil beberapa bahan segar—nasi putih, telur, sedikit daging, dan bumbu-bumbu dasar.

Dengan terampil, ia memotong bahan-bahan tersebut dan memanaskan wajan, mulai meracik nasi goreng andalannya.

Bau aroma gurih bumbu yang ditumis perlahan memenuhi area dapur.

Dari balik kegelapan lorong di dekat ruang tengah, Jonas yang kebetulan terbangun memperhatikan tuannya.

Pria yang biasanya berwajah dingin, kaku, dan penuh beban itu kini tampak begitu tenang saat berdiri di depan kompor.

Jonas tersenyum tipis, merasa lega melihat perubahan besar dalam diri Tuan mudanya, lalu diam-diam melangkah kembali ke kamarnya tanpa mengganggu.

Setelah masakan matang dan dihiasi di atas piring, David membawanya kembali menuju ruangan rahasia di lantai atas.

Ceklek.

"Hmm... harum sekali," ucap Mili antusias saat mencium aroma gurih yang dibawa suaminya.

Ia kini sudah membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan selimut tebal.

"Ini nasi goreng andalanku, semoga kamu suka," ujar David lembut sambil duduk di samping Mili di atas lantai.

David menyendokkan nasi goreng itu dan menyuapkannya perlahan ke mulut Mili.

Mili mengunyahnya dengan binar mata bahagia, lalu bergantian mengambil sendok dan menyuapi David.

Di dalam ruangan yang dulunya penuh dengan ketakutan dan kepedihan itu, tawa kecil dan kehangatan kini tercipta dengan indah.

"Terima kasih sudah menjadi suamiku, David," ucap Mili tulus sambil menatap lekat mata pria di hadapannya.

David tersenyum hangat, menggenggam erat jemari Mili dan mengecupnya penuh rasa syukur.

"Aku yang seharusnya berterima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu mau menerima monster ini."

Setelah piring nasi goreng bersih tak bersisa, David kembali membopong tubuh Mili dengan penuh kehati-hatian, membawanya keluar dari ruangan rahasia itu dan kembali menuju kamar utama mereka yang luas dan nyaman.

Ia membaringkan Mili di atas ranjang empuk, menarik selimut lembut hingga menutupi dada istrinya, lalu ikut berbaring di sampingnya sambil merengkuh tubuh ramping Mili ke dalam pelukannya.

"Sekarang kita istirahat, besok kamu harus belajar lagi," ucap David lembut seraya mengecup puncak kepala Mili.

Mili menganggukkan kepalanya pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang David yang hangat.

Perasaan tenang dan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini membungkus jiwanya hingga mata cantiknya perlahan terpejam lelap.

Sementara itu, di kediaman Andrew yang megah namun terasa dingin dan hampa.

Gea duduk seorang diri di tepi tempat tidur yang luas.

Suasana kamar begitu hening, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang terus berputar menunjukkan pukul dua dini hari.

Gea melirik jam tersebut dengan raut wajah kesal berbaur gelisah.

Suaminya—Andrew—masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang.

"Kenapa dia tidak pulang juga..." gumam Gea dengan nada benci bercampur rasa kesepian yang makin menggerogoti dadanya.

Hampir setiap malam Andrew tidak pernah pulang tepat waktu, apalagi menemaninya tidur.

Pernikahan yang ia bayangkan akan penuh dengan kemewahan dan perhatian dari pria idaman, nyatanya kini terasa bagai penjara dingin yang menyiksa hatinya.

Pintu kamar terketuk dua kali sebelum Papa Hermawan melangkah masuk dengan raut wajah dingin.

Melihat menantunya masih duduk termenung di tepi ranjang dengan pakaian rapi, pria paruh baya itu menghela napas panjang.

"Gea, ini sudah hampir pagi. Segera tidur," perintah Papa Hermawan tegas.

Gea mendongak dengan raut cemas sekaligus kesal.

"Tapi, Pa... Mas Andrew belum pulang. Gea khawatir."

Papa Hermawan tersenyum sinis, ada kilat kekecewaan mendalam saat menyebut nama putra tunggalnya itu.

"Dia tidak akan pulang malam ini, Gea. Jadi berhenti menunggunya dan tidurlah."

Tanpa menunggu balasan dari Gea, Papa Hermawan membalikkan badan dan mematikan sebagian lampu kamar, meninggalkan Gea yang mengepalkan tangannya rapat-rapat dalam keheningan yang menyiksa.

Di tempat lain, Dentuman musik berdentum keras menggetarkan lantai sebuah klub malam eksklusif di pusat kota.

Lampu neon berwarna-warni menyapu ruangan remang yang dipenuhi aroma alkohol dan asap rokok.

Andrew duduk di sofa VIP paling pojok, dikelilingi oleh botol-botol minuman keras yang sudah kosong.

Di kanan dan kirinya, beberapa wanita malam bergelayut manja, namun tatapan mata Andrew sama sekali tidak fokus pada mereka.

Pandangannya kosong, menatap cairan emas di dalam gelas kristal yang ia genggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Setiap kali ia mengingat nama David—pria yang selalu unggul dalam segala hal, pria yang berhasil memiliki segalanya termasuk wanita yang seharusnya menjadi miliknya—rasa terbakar di dadanya kian menjadi-jadi.

Dengan sekali teguk, Andrew menghabiskan sisa minumannya hingga tandas.

Ia menghempaskan gelas kosong itu ke atas meja glass sampai terdengar bunyi denting yang keras.

"Aku membencimu, David..." gumam Andrew parau, suaranya sarat akan dendam yang membara di balik hiruk-pikuk klub malam itu.

Andrew kembali menuangkan minuman keras ke dalam gelasnya hingga meluap membasahi meja.

Tawa sinis keluar dari bibirnya, disambut tatapan bingung dari wanita-wanita di sekelilingnya yang tak berani menyela.

"Kamu hanya seekor monster..." lanjut Andrew pelan, suaranya sarat dengan kebencian yang sudah mendarah daging.

"Monster gila yang tidak pantas bahagia. Tidak pantas mendapatkan apa pun."

Rasa iri dan dendam yang menumpuk bertahun-tahun meracuni otaknya.

Bagi Andrew, David bukan sekadar saingan bisnis atau adik tirinya, melainkan benalu yang telah merebut perhatian, kejayaan, dan segala hal yang seharusnya menjadi miliknya.

Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga pembuluh darah di lengannya menegang.

Kilat kebencian di matanya makin tajam menembus remangnya lampu klub malam.

Andrew tahu betul trauma dan sisi gelap David.

Di dalam kepalanya yang terkontaminasi alkohol, sebuah rencana licik mulai tersusun—ia bersumpah akan memanfaatkan kelemahan dan sisi "monster" adiknya itu untuk menghancurkan hidup David sampai tak tersisa.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!