NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Fajar hari Senin menyingsing dengan pendar cahaya keemasan yang hangat, menembus kabut tipis di sepanjang jalanan kota. Alya melangkah keluar dari pintu rumahnya dengan seragam putih-abu yang sudah tergosok rapi. Tas punggungnya terpanggul tegap, sementara senyum simpul terukir manis di wajahnya yang berseri-seri. Perasaan gundah dan sesak yang sempat menyergapnya akhir pekan lalu kini telah luluh sepenuhnya, berganti menjadi semangat baru untuk menyongsong hari.

Namun, begitu langkah kakinya menuntunnya keluar menyusuri gang sempit menuju jalan raya utama, langkah Alya mendadak terhenti.

Tepat di mulut gang yang rindang, sebuah mobil SUV serba hitam mengkilap berdesain elegan terparkir mulus di tepi jalan. Sosok pria tinggi tegap berbalut seragam putih-abu dengan jaket hitam tersampir santai di bahunya tampak bersandar di kap mobil. Devan Narendra. Cowok itu memegang sebotol susu kotak dingin, matanya yang tajam langsung mengunci pandangan begitu melihat Alya muncul dari balik gang.

Alya mengerjap kaget, matanya membelalak kecil. Ia melirik jam tangan plastiknya yang baru menunjukkan pukul 06.15 pagi.

"Devan? Kamu... ngapain berdiri di depan gang rumah aku pagi-pagi gini?"

Devan menyunggingkan senyum tipis—senyuman khas yang selalu sanggup membuat dada Alya berdesir. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah mendekati Alya.

"Nungguin kamu, lah. Dari jam enam kurang lima belas tadi aku udah di sini."

"Hah?! Setengah jam nungguin di sini?!"

pekik Alya tertahan, merasa tak enak hati sekaligus terkejut.

"Tapi kan aku gak ada minta kamu buat jemput, Devan..."

"Gak perlu diminta,"

potong Devan santai. Ia membukakan pintu depan penumpang mobil mewahnya dengan gerakan anggun.

"Ayo masuk. Kita berangkat bareng."

Alya refleks melangkah mundur satu tapak, menggeleng pelan.

"Gak usah, Devan. Makasih banyak. Aku biasa naik angkot dari persimpangan jalan depan. Lagian... gak enak kalau ada anak sekolah yang liat kita berangkat bareng."

Mendengar penolakan halus Alya, Devan justru melipat kedua tangannya di dada. Binar jahil bermunculan di matanya.

"Al, kamu mau berangkat naik angkot jam segini? Jalanan depan pasar lagi ada perbaikan trotoar, angkot pasti macet parah. Kamu mau terlambat lagi dan kena omel Pak Joko untuk kedua kalinya?"

Gertakan Devan telak mengenai sasaran. Bayangan wajah kaku Pak Joko dan insiden bolos hari Jumat lalu seketika berputar di kepala Alya, membuat nyalinya sedikit ciut.

"Tapi, Dev..."

"Gak ada tapi-tapi,"

tegas Devan tanpa memberikan ruang debat, walau intonasi suaranya sangat lembut. Ia mengambil alih tas sekolah Alya dari pundaknya lalu meletakkannya di jok belakang, membuat Alya tak punya pilihan lain selain menyerah.

"Masuk, Alya Saraswati. Sebelum aku beneran gendong kamu ke dalam mobil."

Pipi Alya seketika memerah padam mendengarkan gertakan konyol itu. Dengan helaan napas pasrah namun diiringi desiran hangat di dadanya, Alya akhirnya melangkah masuk dan duduk manis di kursi penumpang. Devan tersenyum puas, memutari mobil, lalu menginjak pedal gas meluncur membelah jalanan pagi yang mulai ramai.

Perjalanan menuju SMA Nusa Bangsa menempuh waktu sekitar dua puluh menit. Begitu gerbang sekolah megah itu mulai terlihat di kejauhan, Alya mendadak menjadi gelisah. Ia memilin ujung roknya, menatap Devan dengan pandangan memohon.

"Devan, tolong turunin aku di depan gerbang luar aja ya? Atau dekat pos polisi depan? Jangan sampai ke dalam parkiran,"

pinta Alya cemas.Devan melirik Alya melalui kaca spion dalam. Memahami kebingungan dan ketakutan Alya akan sorotan publik, Devan menuruti permintaan itu tanpa membantah. Mobil SUV mewahnya perlahan meminggirkan lajunya, berhenti tepat di trotoar beberapa meter sebelum gerbang utama sekolah.

"Makasih ya, Devan..."

ujar Alya lega. Ia meraih tasnya dan bergegas membuka pintu mobil.Namun, yang tidak disadari Alya dan Devan adalah timing kedatangan mereka berada tepat di puncaknya jam kedatangan siswa. Puluhan murid yang berjalan kaki dari arah halte, mengendarai motor, hingga mobil-mobil penjemput lainnya sedang memadati area depan gerbang sekolah.

*Cklek.*

Pintu mobil SUV mewah kelas atas milik keluarga Narendra yang sangat ikonik itu terbuka. Alya melangkah keluar dengan anggun, merapikan seragamnya. Tak lama kemudian, kaca mobil sebelah kemudi terbuka perlahan, menampilkan wajah tampan Devan yang tersenyum tipis sembari melambaikan tangan singkat pada Alya.

"Nanti istirahat aku samperin ke kelas,"

ucap Devan cukup nyaring sebelum melajukan mobilnya masuk melewati gerbang menuju area parkir khusus.

Seketika itu juga, area depan gerbang SMA Nusa Bangsa bagaikan disambar petir di siang bolong. Hening mencekam melanda selama beberapa detik, sebelum akhirnya ledakan bisik-bisik dan pekikan heboh membakar suasana!

"ANJIR! ITU ALYA KAN?! CEWEK IPA 1?!"

"Demi apa dia turun dari mobilnya Devan Narendra?!"

"Bukannya itu mobil mewah edisi terbatas punya keluarga Devan?! Gila, mereka berangkat bareng?!"

"Wah, fix! Gosip hari Jumat kemarin bukan cuma rumor! Mereka beneran ada hubungan!"

Alya yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi—mulai dari melongo, iri, hingga takjub—seketika menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya yang memerah panas seolah ingin menembus lantai trotoar. Dengan langkah seribu, Alya berlari kecil menerobos kerumunan siswa menuju gedung kelasnya.

Kabar heboh mengenai Alya yang diantar berangkat sekolah menggunakan mobil mewah Devan menyebar secepat kilat, seperti api yang menyambar jerami kering. Dalam hitungan lima belas menit, berita itu telah merajai seluruh grup percakapan antarkelas dan menjadi bahasan utama di setiap sudut koridor sekolah.

Di dalam kelas 11 IPA 1, Adel dan Jesica yang baru saja menginjakkan kaki di kelas langsung disambut oleh kehebohan teman-teman sekelas mereka. Begitu mendengar kabar burung tersebut, keduanya saling berpandangan dengan mata membelalak lebar, lalu serempak melompat gembira.

"DEMI APA ALYA BERANGKAT BARENG DEVAN?!"

jerit Adel heboh di depan pintu kelas, sampai-sampai beberapa murid IPS yang lewat ikut menoleh.

"Jes! Modus lima jutanya berlanjut ke jemputan pagi! Sahabat kita beneran diratuin!"

"Gue gak kuat! Ini mah bukan sekadar investor Dapur Saras lagi, ini mah udah tingkat pengawal pribadi premium!"

timpal Jesica sambil tertawa histeris, menantikan kedatangan Alya untuk dicecar habis-habisan.

Sementara itu di kantin belakang, tempat nongkrong geng Devan, suasana tak kalah riuh. Bimo dan Arya—dua sahabat karib Devan—langsung merangkul bahu Devan kasar begitu cowok itu meletakkan tasnya di meja.

"Woy, Bos! Parah lo ya!"

cerocos Bimo sambil tertawa lebay.

"Gak main-main sekarang! Mobil langka kesayangan lo dipakai buat antar jemput 'Incaran'? Sejak kapan Devan Narendra sudi jadi supir pribadi kalau gak lagi jatuh cinta berat?!"

Arya ikut menyenggol lengan Devan.

"Mantap betul pertahanan lo runtuh juga sama Alya, Dev. Salut gue! Anak-anak satu sekolah pada gempar tuh!"

Devan hanya menyunggingkan senyum miring yang tenang, menyruput kopi dinginnya tanpa berniat menyanggah godaan sahabat-sahabatnya. Bagi Devan, biarkan seluruh dunia tahu bahwa Alya berada di bawah perlindungannya.

Namun, di sudut sekolah yang lain, atmosfer terasa begitu mendidih dan beracun.

Di dalam toilet perempuan lantai dua, Clara berdiri mematung di depan cermin besar. Tangannya mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya memutih. Di sampingnya, Siska memegang ponsel yang menampilkan foto curi-curi saat Alya turun dari mobil Devan pagi tadi.

"Cla... liat deh, beritanya makin ramai di grup angkatan,"

bisik Siska dengan wajah cemas, takut memicu amarah Clara.

"SHIT!" geram Clara kasar, memukul tepi wastafel hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.

Wajah Clara yang biasanya dipoles cantik kini tampak sangat mengerikan oleh siraman rasa iri, dendam, dan malu yang memuncak. Ancaman pemutusan kerja sama dari Devan pada hari Jumat lalu masih membayangi dan mengunci pergerakannya untuk menyentuh Alya secara terbuka. Namun melihat Alya—cewek yang sangat dibencinya—kini justru semakin intim dan diperlakukan bak ratu oleh Devan, rasanya seperti menggoreskan sembilu tepat di ulu hatinya.

"Cewek miskin itu bener-bener gak tahu diri..."

desis Clara tajam dengan mata berkilat beracun, menatap pantulan dirinya di cermin.

"Dia pikir dia udah menang hanya karena dibela Devan? Liat aja... gue gak akan biarkan cewek kampung itu tertawa bahagia di atas penderitaan gue!"

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!