Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi ini Emily terlambat bangun karena ia baru dapat tertidur menjelang pukul 3 dinihari. Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi. Emily bergegas turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Ia berharap suaminya telah kembali, ternyata Leon tak kunjung pulang.
Emily tampak kecewa, sebab dia tak bertemu suaminya. Apalagi rasa penasaran dan khawatirnya masih bersarang dihatinya.
"Nona Emily!" Karin menghampiri istri atasannya itu di dekat pintu masuk rumah.
"Karin, apa mereka sudah kembali?" tanya Emily.
Karin menggelengkan kepalanya.
"Hubungi mereka!" titah Emily.
"Maaf, Nona. Saya tidak dapat menghubungi mereka, ada peraturan yang dibuat. Kami tak mudah menelepon Tuan Leon atau Tuan Charles," kata Karin.
"Berikan ponselmu, biar aku saja yang menghubungi mereka!" Emily menyodorkan tangannya dan membuka telapak tangannya.
"Maaf, Nona. Saya tidak dapat memberikannya!" tolak Karin dengan sopan.
Emily mendengus kesal karena permintaannya tak dikabulkan. Ia kemudian kembali menuju kamarnya.
Di kamar, Emily menghentakkan kakinya beberapa kali ke lantai sebab Karin enggan menghubungi Leon. Ia hanya ingin menenangkan perasaannya. Jika tak terjadi apa-apa kepada suaminya sudah membuatnya lega.
Selesai mandi, Emily menikmati sarapannya yang tertunda. Kegiatannya belajar terpaksa juga diundur karena Emily bangun kesiangan.
-
Pukul 2 siang, Emily yang sedang belajar bahasa asing tak fokus. Pandangannya selalu tertuju ke arah jendela yang menghadap gerbang utama kediaman suaminya.
"Nona, bisakah anda tidak terus melihat ke arah jendela?" tegur sang guru wanita.
"Aku sedang menunggu suamiku. Bolehkah hari ini aku libur sehari saja?" pinta Emily menatap sang guru.
"Maaf, Nona. Tidak ada instruksi dari Tuan Leon. Jadi, saya tidak mungkin libur hari ini. Waktu belajar juga sudah mundur tiga jam dari biasanya," jelas sang guru.
Emily beranjak dari tempat duduknya dan berkata, " Hari ini aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Maka, hari ini juga aku mau libur!"
Emily lalu meninggalkan ruang belajar dan sang guru tak mau disalahkan dengan cepat mengejar langkah Emily.
"Aku jamin kamu tidak akan dimarahi suamiku!" kata Emily meyakinkannya.
"Tapi, Nona--!"
Emily melanjutkan langkahnya, ia tak menggubris gurunya itu.
Sore harinya, Emily sengaja mandi lebih awal. Ia ingin menyambut kepulangan suaminya. Ia juga mau memprotes beberapa kebijakan yang dilakukan suaminya itu.
Emily berdiri di atas balkon rumahnya, pandangannya terus tertuju ke arah gerbang. Berharap Leon segera pulang.
Sudah 10 menit Emily menunggu kehadiran suaminya, namun suara mesin mobil yang membawa Leon tak kunjung terdengar. Dalam hatinya ia terus berdoa agar suaminya itu selalu dalam penjagaan.
Langit kembali mendung, Emily tetap berada di tempat itu. Ia akan masuk ke rumah jika hujan telah turun.
Kurang lebih 30 menit menunggu dalam kegusaran, mobil yang membawa Leon memasuki halaman.
Emily menarik kedua ujung bibirnya, ia bergegas turun ke bawah. Ia berlari kecil menghampiri suaminya. Begitu pintu masuk utama rumah terbuka, Leon pun muncul. Emily menghambur ke pelukan suaminya.
Leon sejenak terpaku. Emily memeluknya dan menangis.
"Kenapa kau lama sekali pulangnya? Aku benar-benar sangat khawatir!" protes Emily seraya melepaskan pelukannya.
"Apa kau merindukanku?" tanya Leon dengan wajah datar.
"Ya. Aku sangat merindukanmu," jawab Emily tanpa sadar.
Leon tersenyum tipis.
"Jangan terlalu percaya diri!" Emily mengepalkan tangan kanannya lalu meninju pelan dada bagian kirinya suaminya.
Sontak, Leon meringis kesakitan.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Emily menatap suaminya.
"Tidak apa-apa," jawab Leon menahan rasa sakitnya.
"Benar?" Emily belum terlalu yakin.
Leon mengangguk kecil.
"Satu malam aku memikirkanmu dan aku sangat sulit mendapatkan informasi apapun dari para anak buahmu. Mengapa kau memberikan aturan tentang jadwal menghubungimu?" tanya Emily penasaran.
"Karena aku memang tidak mau diganggu saat lagi di kantor," jawab Leon.
"Ya, tapi semalam aku benar-benar tak dapat tertidur nyenyak karena kau. Aku mau kau memberikan aku ponsel agar mudah menghubungimu!" ujar Emily.
"Aku tidak bisa memberikanmu ponsel!" Leon menolak permintaan istrinya memiliki ponsel.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kau pergi dari rumah ini," Leon beralasan.