Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Naga di Balik Layar
Udara di dalam Paviliun Chaoyang mendadak berubah beku, seolah-olah musim dingin turun seketika di tengah teriknya siang hari. Seluruh selir, kasim, dan pengawal yang tadinya berdiri dengan angkuh langsung berlutut serentak hingga dahi mereka mencium lantai marmer yang dingin.
"Panjang umur kepada Yang Mulia Kaisar!"
Suara koor itu menggema memenuhi ruangan, diwarnai oleh getaran ketegangan yang luar biasa. Di antara kerumunan yang bersujud, Mu Qingran tetap berdiri dengan postur anggun. Ia hanya membungkuk hormat secukupnya, menjaga harga dirinya sebagai seorang selir, namun cukup tunduk untuk tidak dianggap membangkang. Di dalam dadanya, detak jantungnya tetap stabil—sebuah bukti ketenangan batin yang luar biasa.
Pintu besar paviliun terbuka lebar, menampakkan sesosok pria tinggi tegap berbalut jubah naga kuning keemasan. Kaisar Tang Xuanze melangkah masuk dengan wibawa yang mendominasi seluruh ruangan. Garis wajahnya tegas, rahangnya kokoh terpahat, dan sepasang matanya yang gelap bagaikan jurang tak bertepi menyapu seisi ruangan dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa saja bertekuk lutut tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Di belakangnya, Kasim Agung berjalan dengan langkah hati-hati, membawa aura kekuasaan mutlak yang menyertai sang Putra Langit.
Tang Xuanze tidak langsung duduk di singgasananya. Langkah kakinya terhenti tepat di tengah ruangan, di mana pecahan porselen teh berserakan dan lempengan kayu hitam berukir simbol kutukan masih tergeletak di atas nampan.
Suasana hening mencekam. Tidak ada yang berani mengangkat kepala, termasuk Selir Mei yang wajahnya kini pucat pasi, kehilangan warna merah dari gincunya. Rencana awalnya yang ingin menghancurkan Mu Qingran kini berbalik menjadi pedang bermata dua yang siap menghujam lehernya sendiri jika ia salah melangkah di hadapan Kaisar.
"Ada apa ini?"
Suara Tang Xuanze rendah, berat, namun bergema tajam di setiap sudut ruangan. Tidak ada kemarahan yang meluap-luap dalam suaranya, tetapi justru ketenangan dingin itulah yang jauh lebih mematikan daripada badai.
Selir Mei merangkak maju dengan gemetar, air mata palsunya langsung tumpah membasahi pipi. Ia memasang wajah paling menyedihkan yang ia miliki. "Yang Mulia... mohon tegakkan keadilan bagi istana dalam! Hamba... hamba tidak sengaja menemukan bukti pengkhianatan ini. Selir Mu Qingran dari Istana Ziyun... ia berani merencanakan kutukan untuk mencelakai keselamatan Yang Mulia!"
Selir Mei menunjuk ke arah lempengan kayu hitam di atas nampan, lalu melirik sekilas ke arah Qingran dengan tatapan penuh kebencian yang disembunyikan di balik isak tangisnya. "Hamba menemukan laporan dari para penjaga bahwa benda terlarang ini ditemukan di dekat tempat tinggalnya. Hamba hanya tidak ingin bahaya mengancam keselamatan Yang Mulia..."
Tang Xuanze mengalihkan pandangannya dari Selir Mei. Perlahan, mata elangnya menoleh ke arah Mu Qingran yang berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun.
Bagi Kaisar, ini adalah pemandangan yang langka. Selama ini, setiap kali ia memanggil seorang selir—terutama mereka yang tertuduh melakukan kejahatan besar—pemandangan yang ia temui selalu sama: wanita-wanita yang meratap histeris, memohon ampun, atau pingsan karena ketakutan. Namun, wanita di hadapannya ini justru menatap balik matanya dengan sorot jernih yang tenang, seolah-olah ia sedang menilai seorang pedagang di pasar, bukan seorang penguasa mutlak negeri.
"Selir Mu," suara Tang Xuanze memecah keheningan, bernada menguji. "Apa pembelaanmu? Bukti kejahatan ada di hadapanmu, dan tuduhan telah dijatuhkan. Apakah kau hendak menolak takdirmu?"
Chun’er di samping Qingran sudah menutup matanya rapat-rapat, siap menyambut kematian.
Namun, Mu Qingran perlahan merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu membungkuk hormat dengan anggun. Suaranya meluncur tenang, mengalir bagaikan mata air pegunungan yang jernih di tengah padang pasir yang membara.
"Menjawab Yang Mulia," ucap Qingran, suaranya terdengar jelas tanpa ada getaran sedikit pun. "Seseorang yang tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki pengaruh, dan bahkan diabaikan di sudut istana yang paling dingin, tidak akan pernah memiliki alasan untuk melakukan pengkhianatan. Sebab, mengkhianati Putra Langit sama artinya dengan menghancurkan nyawanya sendiri dalam satu kedipan mata. Hamba mungkin tidak memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi hamba cukup waras untuk tidak menggali kubur sendiri."
Beberapa selir di belakang menahan napas mendengar keberanian Qingran yang secara tersirat membalikkan logika tuduhan tersebut.
Tang Xuanze menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah gerakan mikro yang hampir tidak terlihat. "Lalu, bagaimana kau menjelaskan lempengan kayu hitam berukir simbol kutukan yang ditemukan di dekat istanamu? Apakah kau akan mengatakan benda itu jatuh dari langit dengan sendirinya?"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia," jawab Qingran mantap, mengangkat kepalanya untuk menatap langsung ke dalam mata sang kaisar. "Lempengan itu memang nyata, tetapi pemilik niat busuknya bukanlah penghuni Istana Ziyun. Seperti yang hamba katakan kepada Selir Mei sebelumnya, tinta emas murni dan ukiran kuil kekaisaran hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kedudukan tinggi di istana utama—mereka yang memiliki akses langsung ke gudang harta karun kekaisaran."
Qingran melirik sekilas ke arah Selir Mei yang kini tubuhnya sudah gemetar hebat.
"Jika seseorang merasa posisinya terancam oleh bayangannya sendiri, atau jika seseorang ingin menyingkirkan orang lain demi mengamankan kekuasaannya di harem, maka membuat fitnah murahan adalah cara paling cepat. Hamba menyerahkan kebijaksanaan ini sepenuhnya kepada Yang Mulia untuk melihat siapa yang sebenarnya sedang panik di ruangan ini."
Suasana Paviliun Chaoyang menjadi sangat sunyi hingga suara detak jantung setiap orang terdengar jelas di telinga.
Tang Xuanze terdiam selama beberapa detik. Ia menatap lempengan kayu hitam di nampan, lalu kembali menatap Mu Qingran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat ketertarikan yang dalam di dalam mata sang kaisar—sebuah rasa penasaran terhadap wanita yang selama ini terabaikan di sudut istana, yang ternyata menyimpan pikiran setajam pedang dan keberanian sekeras baja.
Selir Mei, yang menyadari situasi mulai berbalik menghancurkannya, mendadak menjerit histeris sambil bersujud lebih rendah. "Yang Mulia! Jangan dengarkan wanita licik itu! Dia memutarbalikkan fakta! Hamba tidak bersalah!"
Tang Xuanze mengangkat sebelah tangannya, membuat Selir Mei langsung terdiam seketika, menelan sisa kata-katanya dalam ketakutan yang mencekam.
Sang kaisar perlahan melangkah mendekati Qingran. Aroma wangi dupa gaharu dan wibawa seorang penguasa menguar pekat di sekitar mereka. Tang Xuanze berhenti tepat satu langkah di depan sang selir, menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Mu Qingran," bisik Tang Xuanze pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau jauh lebih menarik daripada yang tertulis di dalam laporan kasim istana."
Qingran tidak mundur. Ia mempertahankan ketenangannya, lalu menjawab dengan suara rendah yang sama, "Kenyataan di istana ini seringkali jauh lebih gelap daripada apa yang terlihat di permukaan, Yang Mulia. Hamba hanya mencoba bertahan hidup di antara para serigala."
Tang Xuanze mendengus pelan—sebuah respons yang mengejutkan semua orang di ruangan itu, karena sang kaisar tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu kepada selir mana pun selama bertahun-tahun.
Kaisar kemudian berbalik badan, kembali menghadap ke arah seluruh isi paviliun dengan suara yang menggelegar penuh wibawa.
"Sidang hari ini ditutup," titah Tang Xuanze mutlak. "Bukti ini palsu, dan tuduhan terhadap Selir Mu tidak terbukti. Karena ada pihak yang mencoba bermain-main dengan intrik kotor di dalam istana dalam..."
Tang Xuanze melirik tajam ke arah Selir Mei yang kini terduduk lemas di lantai.
"...Mulai hari ini, Selir Mei dicabut hak istimewanya selama tiga bulan dan diperintahkan untuk merenung di istananya sendiri. Dan untukmu..." Kaisar kembali menatap Qingran,
"...Mu Qingran, pindahlah ke Paviliun Lanting mulai hari ini. Istana Ziyun terlalu dingin untuk seseorang yang memiliki kepala secerdas milikmu."