Menjadi duda di usia muda membuat hati sang CEO menjadi dingin, apalagi trauma masa lalu mengenai rumah tangga membuatnya menutup diri untuk yang namanya Cinta.
Simak kelanjutan kisahnya, tapi disarankan sebelum membaca ini agar terlebih dahulu membaca karya Lepaskan Aku, agar bisa semakin faham jalan ceritanya, karena karya ini adalah lanjutan dari kisah penuh lika liku rumah tangga dari cerita tersebut.
Jadi, tunggu apalagi. Yuk cap cus, baca dan nikmati kisah nano nano yang ada di cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💘 Nayla Ais 💘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Tes dari Mas Duda
Luna yang bangun kesiangan buru-buru mandi dan berganti pakaian, Ia ingat pagi ini dirinya harus ke perusahaan, kebetulan mata kuliah pagi ini kosong, Ia baru masuk nanti agak siangan.
Tanpa sarapan apapun Ia buru-buru keluar, namun alangkah terkejutnya ketika melihat kehadiran Abi yang sudah berdiri di depan pintu kontrakannya.
" Mas Abi, untuk apa pagi- pagi sudah ada disini. " Batin Luna.
Abi tersenyum melihat Luna yang auranya semakin cantik dan bersinar pagi ini.
" Hai Lun. " Sapa Abi.
" Assalamu'alaikum, pagi. Hai juga Mas. "
Abi salah tingkah, karena terpesona dengan kecantikan Luna Ia jadi lupa mengucap salam.
" Ahai, wa' alaikum salam. " Abi malu- malu dan jadi serba salah.
" Mau ke kampus Lun, yuk bareng Mas. " Tawar Abi.
Luna bingung harus menanggapi apa, karena dirinya pagi ini memang tidak ke kampus. Tapi kalau Ia bilang mau kekantor Luna takut kabar itu akan sampai di telinga Ayahnya yang ada di kampung.
" Ah..... maaf Mas, hari ini aku tidak ke kampus tapi ke.....
Luna bingung harus memberi alasan apa, tiba-tiba Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
" Hai Lun. "
Keduanya menoleh dan ternyata itu adalah Ara, gadis cantik yang selalu ceria.
" Assalamu'alaikum Lun, Hai Mas... ..
" Abi. " Abi mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Ara.
" Ya, Hai Mas Abi, pagi. "
Ara menyapa dengan senyum manis yang mampu memikat siapa saja yang menatapnya.
" Lun, jadi nggak kita pergi. " Ara langsung bertanya setelah terdengar jawaban salam dari keduanya.
Luna nampak bingung bagaimana menanggapi kedua orang di depannya itu.
" Oh kalian ingin pergi ya, baiklah. Mas pulang dulu, Lun sampai ketemu nanti ya. "
Abi langsung melangkah pergi, hari ini Ia gagal lagi mengajak Luna pergi bersamanya.
" Ah sudahlah, mungkin lain waktu. " Batin Abi.
Luna bersyukur karena pagi ini Ia di selamatkan dengan kehadiran Ara, sahabatnya ini memang adalah penolongnya saat dalam kesulitan.
" Apa aku ganggu acaramu tadi Lun. " Tanya Ara ketika mereka berdua sudah di dalam mobil menuju ke perusahan BJB.
Luna menggeleng, justru Ia bersyukur pada sahabatnya itu. Karena kedatangan Ara, Abi tidak jadi mengantarkannya dan mengetahui kalau dirinya saat ini sedang berniat mencari pekerjaan.
" Enggak Ara. Oh ya, apa kita belum terlambat ini Ra, soalnya ini sudah jam delapan. "
Ara tertawa kecil, soal terlambat mah nggak jadi masalah. Paling dia ngambek kalau sampai Mas tampannya itu marah- marah.
" Nggak ada kata terlambat sayang, dari pada tidak datang sama sekali. Kan brabe benarkan. "
Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba disana, karena memang tempatnya tidak terlalu jauh.
" Yuk. "
Keduanya melangkah masuk, kali ini tanpa membuat laporan atau sekedar minta ijin.
" Kita langsung saja Lun. "
Luna hanya mengangguk saja dan mengekor di belakang Ara, Ara menekan tombol lift yang langsung membawa mereka ke lantai atas tempat ruangan CEO
Ara segera mengetuk pintu dan masuk setelah mendengar suara dari dalam.
" Masuk. "
Ternyata bukan Ara yang masuk tapi Luna. Luna yang masuk lebih dulu, Ia harus memberanikan diri. Di dalam lift tadi Dia sudah berpikir untuk berani menanggung apapun itu, agar tidak selalu membebani orang lain.
" Assalamu'alaikum Pak, maaf saya terlambat. "
Alwi mendongakkan wajahnya melihat siapa yang sedang berbicara dengannya.
" Ya, silahkan duduk. "
Di luar dugaannya, ternyata Pria berwajah kulkas itu tidak marah sama sekali padanya.
" Meja mu sebelah sana, disana sudah ada beberapa berkas. Silahkan kamu periksa, baca dan pelajari. Berikan apa pendapat mu untuk setiap masalah yang ada disana. "
Tanpa menunggu perintah dua kali, Luna langsung menuju ketempat yang di katakan Alwi.
" Baik Pak, terima kasih. "
Luna meletakkan tasnya di sudut meja dan mengambil nafas dalam- dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Ia berharap apa yang tertulis disana bukan sesuatu yang sulit Ia pecahkan.
" Bismillah hirrahmani rahim, Ya Allah semoga ini tidak sulit. " Monoloq Luna.
Ia mulai membuka satu persatu berkas yang ada di hadapannya, berbekal satu bolpoin dan satu kertas kosong Luna mulai menulis poin- poin yang Ia anggap penting.
Satu demi satu sudah Ia selesaikan. Tanpa Ia sadari sejak tadi ada yang selalu curi- curi pandang padanya.
Wajahnya yang serius semakin memancarkan aura kecantikannya. Alwi melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, Ia sedikit terkejut melihat kertas yang berada di depan Luna sudah banyak berpindah tempat.
" Lumayan cepat sih, baiklah kita lihat nanti hasilnya. Semoga orang yang kamu rekomendasikan benar-benar bisa Dek, atau Mas terpaksa akan menolaknya meskipun kamu ngambek. Dari pada nanti perusahaan yang jadi kacau gara-gara satu karyawan yang tidak benar." Gumam Alwi.
Luna masih nampak konsen sesekali Ia mengetuk ketuk kepalanya dengan bolpoin yang ada di tangannya. Semua gerak geriknya tak luput dari pantauan Alwi.
Hingga helaan nafas panjang pertanda berakhirnya lembaran yang ada di atas meja.
" Alhamdulillah, semoga hasilnya baik. Kalau tidak aku pasti akan mengecewakan Ara. " Batin Luna.
Luna menghampiri meja Alwi dan menyerahkan kembali semua berkas dan juga satu lembar kertas jawaban miliknya.
" Maaf Pak, ini sudah selesai, silahkan di periksa. "
Alwi mengangguk dan meminta Luna duduk kembali.
" Ah iya, silahkan duduk kembali atau kamu bisa pulang sekarang. Oh ya, tolong tinggalkan nomor ponselmu disini. " Pinta Alwi.
Luna mengangguk, Ia menuliskan nomornya di lembaran kertas jawabannya tadi.
" Baik Pak, kalau bisa saya ijin pulang dulu, soalnya ada jam kuliah setengah jam lagi. Permisi. "
Alwi mengangguk dan mempersilahkan sahabat dari Adiknya itu untuk pergi. Luna keluar dan disambut langsung oleh Ara.
" A
" Husttttt, cepat sini. Ayo kita pergi dari sini. "
Ara menarik tangan Luna untuk meninggalkan ruangan Mas Duda. Luna hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ara.
" Ra, kenapa tadi kamu nggak masuk. " Tanya Luna karena sejak tadi Ia penasaran apa yang di lakukan gadis itu di luar.
Ara tertawa kecil, alasannya hanya dirinyalah yang tau.
" Sudahlah jangan di pikirkan, terus bagaimana hasilnya Lun. Apa tadi Mas Alwi marah- marah. "
Ara menatap wajah Luna menunggu jawaban darinya.
" Ah tidak Ra, aku tadi langsung di perintahkan menilai beberapa masalah yang kemungkinan di hadapi perusaan dan apa solusi yang akan aku ambil kalau aku jadi sekertaris. Soal hasilnya ya aku juga belum tau, semoga tidak terlalu buruk sih. Tapi kalau buruk aku minta maaf ya, kalau sudah mengecewakan mu. "
Pintu lift pun terbuka, keduanya melenggang bak model menuju parkiran. Tujuan mereka saat ini adalah kampus, dag dig dug ser. Luna menunggu hasil dari semua kerjaannya hari ini.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu