NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Noah

“Opah, bagaimana keadaan Opah?” tanya Ninda sambil merengkuh Jonathan yang tampak ringkih, bersandar di ranjang.

“Jauh lebih baik setelah melihat gadis secantik kamu datang menjenguk,” jawab Jonathan. Matanya berbinar, suaranya hangat.

Ninda tersenyum kecil, namun ada nada menyesal di baliknya.

“Maafkan Ninda baru sempat datang. Ninda dengar dari Mama, Opah kurang sehat.”

“Ah, ini bukan sakit, Sayang,” Jonathan terkekeh pelan. “Opah hanya sudah tua.”

Jhonatan menepuk tangan Ninda lembut. “Terima kasih sudah datang.”

“Ninda senang kok, bisa bertemu Opah,” balas Ninda sambil menggenggam tangan Jonathan erat.

Lalu Ninda membuka kotak kecil yang dibawanya.

“Ninda bawakan bolu pandan kesukaan Opah. Mama yang buat tadi pagi."

Jonathan menerima piring kecil itu dengan senyum hangat.

“Sampaikan terima kasih Opah pada mamah. Kue ini selalu mengingatkan Opah pada ibunya Opah.”

Jonathan menyantap kue itu perlahan. Tatapannya menerawang, seolah kenangan masa kecil di Indonesia kembali hadir di benaknya.

“Kamu bisa membuat kue?” tanyanya kemudian.

Ninda menggeleng, pipinya merona.

“Belum, Opah.”

“Belajarlah dari ibumu,” ujar Jonathan bijak. “Kelak, meskipun kamu sukses membangun gedung pencakar langit, kamu tetap harus bisa membuat kue.”

Ninda mengangguk serius.

“Iya, Opah. Nanti Ninda belajar.”

“Opah ingin jadi orang pertama yang mencicipi buatanmu,” kata Jonathan sambil tersenyum penuh kasih.

Hati Ninda menghangat. Dalam diam, ia berpikir ini mungkin saat yang tepat untuk mengambil hati calon mertua.

Jonathan terdiam sejenak, menikmati sisa kue di piringnya. Ninda sigap membantu mengambil piring itu dan meletakkannya di meja.

“Ninda,” ujar Jonathan tiba-tiba, “kamu tahu tidak… siapa gadis yang sedang berhubungan dengan Uncle mu?”

Ninda menggeleng, sedikit terkejut.

“Tidak, Opah.”

“Kamu pernah melihat seorang gadis apartemennya?” lanjut Jonathan.

Ninda menunduk, merasa kikuk.

“Tidak pernah, Opah.”

Jonathan menghela napas pelan.

“Pamanmu memang tidak pernah berubah. Opah kira Sarah yang terakhir, ternyata hanya bertahan beberapa bulan.”

Jonathan menggeleng pelan. “Usianya sudah matang, tapi masih saja bermain-main dengan wanita.”

Jonathan menatap Ninda lembut.

“Semoga kamu tidak bertemu laki-laki seperti anakku.”

Belum sempat Ninda menjawab, sosok Noah muncul di ambang pintu. Ia tersenyum, menghampiri ayahnya, lalu memeluknya.

“Sedang membicarakan apa sampai serius begitu?” tanya Noah.

“Aku hanya memperingatkan Ninda agar berhati-hati,” jawab Jonathan sambil melirik Ninda dengan senyum.

“Jaga keponakanmu baik-baik. Jangan sampai dia bertemu laki-laki brengsek.”

“Itu tidak akan terjadi,” balas Noah tenang. “Laki-laki yang bersamanya cukup baik.”

Jonathan menatap Noah penuh selidik.

“Benarkah? Kamu sudah punya pacar? Bawa ke sini.”

Wajahnya tampak antusias. “Kenalkan pada Opah. Tonny pasti senang.”

Ninda hanya tersenyum tipis. Ada rasa tidak nyaman yang menyusup ke dadanya.

“Pah, aku antar Ninda pulang, ya,” kata Noah, menangkap kegelisahan itu.

“Baiklah,” jawab Jonathan. “Sering-seringlah datang, Nak. Anak-anakku jarang sekali menjenguk.”

“Iya, Opah,” sahut Ninda lembut.

“Tonny dan Mama nanti sore akan datang.”

“Syukurlah,” ujar Jonathan lega. “Opah kangen sekali dengan Tonny.”

“Kalau begitu, Ninda pamit,” ucap Ninda sambil memeluk Jonathan.

Jonathan tersenyum, memandangi kepergian mereka.

Di lorong rumah, Ninda dan Noah berjalan beriringan. Noah menggenggam tangan Ninda erat.

Tiba-tiba, langkah Noah berbelok.

Ia mengajak Ninda menuju lantai dua.

“Ikut aku,” kata Noah tiba-tiba.

Ninda menoleh, sedikit bingung.

“Ke mana?”

“Aku ingin menunjukkan kamarku,” jawab Noah sambil menarik tangannya pelan.

Rumah itu terasa begitu besar. Seumur hidupnya, Ninda belum pernah menginjakkan kaki di rumah semegah ini. Langkah mereka bergema ringan di lorong yang panjang dan agak remang.

Noah menyalakan lampu.

“Maaf agak gelap. Papahku tinggal sendiri sekarang, dan asisten kami sedang libur.”

Ninda mengangguk sambil mengamati sekeliling. Di dinding, berjejer foto-foto keluarga. Pandangannya berhenti pada sebuah foto lama.

“Itu Uncle?” tanya Ninda sambil menunjuk.

Noah mengangguk, tersenyum bangga.

“Iya.”

“Tampan sekali. Usiamu berapa waktu itu?”

“Tujuh belas.”

“Uncle hampir tidak berubah,” komentar Ninda jujur.

Noah terkekeh.

“Benarkah? Jadi aku masih tampan?”

Ninda mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu… menggemaskan.”

Noah mendekat, mengecup keningnya singkat.

“Nanti ada yang lihat,” bisik Ninda gugup sambil mendorong pelan dadanya.

Noah hanya tertawa kecil, lalu tanpa peringatan mengangkat tubuh Ninda ke dalam gendongannya.

“Uncle sedang apa?” seru Ninda kaget.

“Menggendong pacarku,” jawab Noah santai.

Ninda menatap wajah Noah dari jarak dekat, memperhatikan setiap detail yang selama ini sering ia rindukan.

“Apa yang mau Uncle lakukan?” tanyanya pelan.

“Kita lihat saja,” balas Noah sambil tersenyum samar. “Kamu pasti suka.”

Tatapan mereka bertaut. Jari-jari Ninda tanpa sadar menyentuh pipi Noah. Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah pintu.

“Nah, kita sudah sampai,” ucap Noah sambil membuka pintu kamarnya.

Ninda melangkah masuk perlahan. Kamar itu seperti potret masa remaja Noah poster sepak bola memenuhi dinding, jersey bertanda tangan tergantung rapi.

“Keren, kan?” tanya Noah antusias.

Ninda tersenyum tipis. Dalam hati ia menggerutu, ini yang dia maksud keren?

Noah lalu mulai bercerita panjang lebar tentang masa kecilnya, latihan keras sejak usia empat tahun, hingga puncak kariernya dan keputusan pensiun di usia dua puluh sembilan.

“Pelatihku bilang aku punya bakat besar,” katanya penuh kebanggaan.

Waktu berlalu tanpa terasa. Setelah hampir satu jam mendengarkan, perhatian Ninda beralih ke meja belajar di sudut kamar. Beberapa pigura memajang foto-foto masa kecil Noah.

“Kamu lucu sekali,” katanya sambil mengambil salah satu pigura.

Noah mendekat dari belakang, memeluknya.

“Kira-kira begitu wajah anak kita nanti.”

Ninda tersenyum kecil.

“Kamu tidak ingin anak kita mirip aku?”

Noah mendekatkan bibirnya ke telinga Ninda.

“Anak kita pasti cantik. Perpaduan kita berdua.”

Hembusan napasnya membuat Ninda merinding.

“Uncle,” bisik Ninda, “nakal.”

Noah membalikkan tubuh Ninda perlahan. Tatapan mereka kembali bertemu—lebih dalam, lebih hangat. Sentuhan mereka berubah lebih dekat, lebih intens, hingga dunia di sekitar terasa memudar.

Noah menarik Ninda ke pelukannya, membimbingnya ke arah tempat tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!