Kia dan Bimo, dua orang yang berusaha bersatu, Tetapi halangan yang mereka hadapi tidak mudah. Bisakah mereka melewatinya? Kenapa Bimo meninggalkan Kia? Apa alasan Kia sangat membenci Bimo? Rahasia apa yang mereka simpan ? Apa ada orang lain yang sama dengan Bimo mencintai Kia? Dengan siapa Kia bisa bahagia? Temukan disini di "Rahasia hati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maylazee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang
Cafe Salsa jam tiga siang.
Suasana sangat tegang. Kami berempat duduk berhadapan. Aku dan Fahri hanya tertunduk Nisa juga tertunduk walau kadang-kadang menatap Bimo.
Bimo menatap Nisa tajam, dia menghela napas kemudian mengambil minuman kaleng di kulkas .
Kami bertemu di sebuah Cafe tempat Bimo sering kumpul sama temannya.
Dia membuka dan meminumnya sampai habis,
Braaakkkk........!!
Suara kaleng yang dilempar ke dinding memecahkan kesunyian.
Beberapa pelayan menoleh tapi mereka diam saja, mungkin sudah kenal dengan Bimo.
Aku menatap Bimo sebentar kulihat mukanya merah, menahan marah.
Dia kembali duduk dan menatap Nisa tajam, sambil tersenyum sinis. Dia memandang Fahri dan aku bergantian sambil menghela napas.
"Berapa lama kita pacaran?" tanyanya pada Nisa.
"Enam bulan," jawab Nisa lirih.
"Selama itu, kamu masih tidak percaya padaku?" Bimo mandang Nisa marah.
Nisa tertunduk dan kudengar dia menangis tersedu.
"Kau bahkan menyuruh orang memataiku, apa aku seburuk itu di matamu?" tanya Bimo, sambil menghembuskan napas.
"Apa aku harus diam saja, mendengar pacarku sering bermesraan di kelas dengan perempuan lain?" jawab Nisa, setengah berteriak.
"Jangan menyalahkan orang lain!" kata Bimo, sambil menoleh ke arahku.
"Jadi menurutmu, ini semua salahku karena menyuruh dia memataimu?" Nisa berteriak, sambil menunjuk Fahri.
Aku ingin sekali mengatakan, minta maaf pada mereka untuk menyudahi pertengkaran ini, tapi bergerak saja aku tidak berani.
"Berapa lama sudah kau jadi penguntit?" tanya Bimo pada Fahri.
"Tiga bulan," jawab Fahri pelan.
"Aku bahkan tidak perduli, apa kata orang tentangmu, aku hanya percaya kata yang keluar dari mulutmu, tapi kau bahkan berbuat seperti ini padaku,"
Bimo berkata sambil tersenyum sinis. "Aku hanya seorang penjahat, di matamu," lanjutnya.
Nisa kelihatan sedikit panik.
"Bukan begitu kamu bagiku, Bim!" Nisa berkata, seraya berdiri menghampiri Bimo.
"Maafkan aku! Kau boleh bilang aku bodoh atau apapun, tapi kita jangan putus, aku mohon..." katanya sambil menangis, dan memegang tangan Bimo. "Bimo maafkan aku, " mohon Nisa.
Bimo cuma diam sambil menatap Nisa.
"Bukannya aku tidak bisa memafkanmu, tapi kenyataan yang kau pikirkan itu aku tidak terima." Bimo agak melunak.
"Hubungan tanpa kepercayaan, tidak akan berhasil," sambungmya.
"Jadi kita berpisah?" Nisa kaget sekali, dengan kata kata Bimo.
"Menurutmu kita bisa bersama, setelah semua ini terjadi," jawab Bimo.
"Aku tidak mau berpisah denganmu, maafkan aku kali ini, aku berjanji tidak mengulanginya lagi." Nisa berusaha memohon, pada Bimo.
Tapi sepertinya keputusan Bimo sudah bulat.
"Aku tidak bisa bersama orang, yang tidak percaya padaku," ucap Bimo.
Aku tidak pernah melupakan kata kata itu. Karena bagi Bimo percaya padanya, harga mati, untuk bisa bersamanya.
Tangis Nisa semakin keras, kulihat Fahri mencoba menenangkannya.
Dia memegang tangan Bimo, tidak mau melepaskannya. Aku memalingkan wajah ke arah lain, mencoba mengalihkan pandanganku seakan tidak melihat.
"Semua gara-gara kamu! Dasar Wanita murahan! Beraninya merebut pacar orang, kalau aku sampai putus sama Bimo aku tidak akan memaafkannu, aku benci padamu.." Nisa menghardikku sambil berteriak.
Aku terkejut mendengar kata-kata Nisa, seperti seribu jarum menusuk hatiku, ketika dia menyebut Wanita murahan.
Bimo melepaskan tangan Nisa, dengan kasar.
"Aku dengan dia cuma berteman tidak lebih, kamu tidak berhak menyebutnya seperti itu," kata Bimo, sambil memandang Nisa.
"Teman macam apa yang mau berciuman?" Nisa kalap, melihat Bimo membelaku.
Bimo memandang Fahri. "Berciuman seperti apa yang kau katakan?" tanyanya.
Fahri diam, tidak berani menjawab. Bimo kembali, memandang Nisa.
"Aku yang menciumnya, di pipi!" kata Bimo, sambil menyentuh pipiku.
"Bukan seperti apa yang kau pikirkan, kalau kau tidak terima yang harus disalahkan aku, bukan dia!" Bimo sepertinya, menahan emosinya.
Saat itu Luthfi datang dan tergesa-gesa masuk. Dia kaget sekali melihat ekspresi Bimo, yang menunjukan jarinya pada Nisa.
"Bim, sabar!" Lithfi berusaha melerai dan menurunkan tangan Bimo.
Kulihat Bimo berusaha menahan emosi yang hampir meledak. Aku tidak pernah, melihatnya seperti ini, menakutkan bagiku. Aku sekarang melihat sisi lain Bimo.
Bahkan Papaku yang pemarah, tidak pernah seperti itu. Aku cuma menunduk tidak berani menatap mereka.
"Biarkan aku bicara padanya!"
Nisa berusaha menghampiriku, tapi ditahan Bimo. Luthfi berdiri di depanku berusaha melindungiku. Aku masih tertunduk merasa sangat bersalah.
"Bicara padaku pengecut!" Nisa berteriak padaku.
"Nisa kontrol dirimu, kau mempermalukan dirimu sendiri," kata Luthfi, agak keras.
"Aku tidak perduli! Aku sudah berpisah dengan Bimo, kau puas melihatku seperti ini , aku berharap, kau akan mengalami hal sepertiku nantinya," jerit Nisa, sambil menangis keras.
Pertahananku tumbang, aku duduk sambil memeluk lututku, berusaha menyembunyikan tangisku.
"Bawa dia keluar!" kata Bimo pada Luthfi.
Aku berusaha bangkit, ditolong Luthfi, langsung menuju tempat parkir cafe. Aku mengusap air mataku, berusaha meredakan tangisku .
****************
Didepan Cafe di tempat parkir.
Luthfi mengambil air mineral, di box motornya dan memberikan padaku.
"Minum dulu tenangkan dirimu," kata Luthfi.
"Aku mau pulang," ucapku pelan. "
Tunggu Bimo dulu sebentar," kata luthfi, mencoba menenangkanku.
"Jangan terlalu di masukan ke hati, kata-kata orang marah memang seperti itu," lanjutnya.
"Aku harus minta maaf pada Nisa," kataku, setengah berbisik.
"Nanti setelah semuanya tidak emosi lagi, aku akan membawamu bertemu dengannya," janji Luthfi.
****************
Kulihat Bimo keluar dari cafe, menuju ke arah kami.
"Bagaimana?" Tanya Luthfi pada Bimo.
"Berikan rokokmu! Urus Nisa, Ikuti sampai ke rumah, aku pulang dulu!" suruhnya, sambil mengambil rokok Luthfi.
"Kita pulang!" ajaknya padaku, sambil memakai helm.
Aku menatapnya dan mengikutinya tanpa bicara. Di jalanpun kami tidak bicara.
*************
Sampai di depan rumah Bimo dia memasukan motorku, sampai di garasi.
"Kita bicara dulu," ajaknya, sambil menarik tanganku.
"Aku pulang saja, sudah sore," kataku.
"Sebentar saja." Katanya mendudukanku, di sebuah kursi yang ada di dalam garasi.
Dia pun duduk di sebelahku dan menatapku. "Masih kelihatan takut," katanya.
Aku cuma diam takut kalau salah kalau bicara.
"Bicaralah! Aku siap mendengarnya, kalau kau mau marah," katanya, sambil menatapku.
Bukannya bicara aku malah menangis dengan keras. Bimo kelihatan kebingungan dan berusaha menghentikanku, supaya tidak terdengar orang di rumahnya.
Aku malah menangis lebih keras dan memukul pundaknya.
"Jangan keras-keras menangisnya, malu!" katanya.
Aku menghentikan tangisku, menghapus air mataku dan memukulnya lagi.
"Jangan keras-keras memukulnya, sakit!" katanya.
Dia menyalakan rokok yang di ambil dari Luthfi dan menyandarkan belakangya ke kursi. Dia memainkan asap rokoknya seperti mau menghilangkan pikrannya.
"Aku baru saja dibilang Wanita murahan," lirihku, sambil memainkan kakiku.
Dia menoleh padaku. "Semua wanita, ya... wanita, tidak usah pakai embel-embel tidak bagus," katanya.
"Kamu tidak mau menghiburku?
Aku sedih, lho...habis dimaki maki tadi," kataku, sambil memandangnya.
Dia menatapku dank menggelengkan kepala. "Lihat! Siapa yang kondisinya lebih buruk?" tanyanya padaku.
Benar juga dia dituduh berselingkuh, putus sama pacar, dipermalukan di tempat umum .
Tapi aku juga buruk, aku malah dimaki maki dan disebut Wanita murahan.
"Apa lebih buruk kondisimu, daripada aku?" tanyaku.
Dia mengangguk menatapku. "Aku kehilangan pacarku, kamu kehilangan apa coba?" tanya Bimo.
Aku langsung emosi. "Aku disebut Wanita murahan," kataku, sambil melotot padanya. "Kamu bisa cari pacar lagi, dan aku bagaimana mungkin wanita murahan dapat pacar," kataku, sambil menunduk.
Dia masih menghisap rokoknya. Aku mengibaskan tanganku mengusir asap yang ada di mukaku.
"Memang bisa kamu pacaran?" tanyanya, sambil menoleh padaku dan menatap mataku.
Aku balas menatapnya.
"Kalau bisa aku tidak mencari kemana-mana lagi, sama kamu saja," ucapku, sambil memainkan tanganku.
"Memang mau sama aku? aku seorang penjahat mantanku saja mematai ku," tanyanya, sambil tersenyum.
Aku menatapnya dan tersenyum geli.
"Hebat, dong...Penjahat pacaran sama Wanita murahan, hmm... seperti pecundang saja," kataku, sambil tertawa.
Kami pun tertawa bersama.
"Waah, menakjubkan!" kata Bimo, disela sela tawanya.
Kami pun bisa melupakan kejadian tadi untuk sementara .
Aku selalu merasa saat saat bersama Bimo sulit untuk dilupakan. Selalu ada hal-hal yang membuat aku bisa melepaskan semua beban beratku, walau untuk sementara.
** Tuh kan pecaaahhh... penjahat pacaran sama wanita murahan ...
malas terima nasib jadi wait reader 😓
gadis sakit
rahasia miko kebuka
kia marah
mereka bercerai
kia bantu gadis
miko kecelakan
staga aaa kenapa otakku traveling thor
lama banget update
bab baru kapan terbit
i ok i fine
not bad not bd
-----------
kumerasa sakit----sakit
😂😂😂😂