Karena sebuah kesalahan satu malam, Ayaneru terjebak bersama seorang pria asing yang membuatnya hamil.
Namun Ayaneru yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang pria terhormat, memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena merasa kotor dan tak pantas. Hingga dia ingin menggagalkan perjodohan itu dan malah berniat untuk merawat bayinya seorang diri.
Namun, 5 tahun kemudian Ayaneru kembali ke Tokyo dengan membawa kedua buah hatinya yang sangat jenius.
Apakah takdir akan mempertemukan mereka dengan sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Reo
Di dalam sebuah ruangan kerja, terlihat seorang pria dewasa dengan auranya yang selalu terlihat dingin sedang berkutat di depan laptopnya. Pria itu rupanya sedikit membaca informasi dari lamaran pekerjaan Ayaneru, karena merasa sedikit penasaran.
"Ryusei?" gumam pria yang selalu beraura dingin dan berkharisma itu yang tak lain adalah Reo.
Reo hampir saja tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya saat ini, hingga membuat keningnya berkerut.
"Keluarga Ryusei memiliki berapa anak perempuan? Bukankah mereka hanya memiliki seorang putri?" imbuhnya seakan masih merasa begitu syok.
"Aku harus segera mencari tau tentang dia!! Jika aku tidak salah, maka seharusnya gadis 5 tahun yang lalu adalah dia! Dan gadis itu juga gadis yang sudah dijodohkan dengan presdir utama Fukushi Group!" gumam Reo lirih dan masih fokus menatap layar di hadapannya itu.
Namun tiba-tiba saja sepasang matanya mulai membelalak karena mengingat sesuatu.
"Jika itu memang benar, itu berarti Leon dan Leona yang saat ini berusia 4 tahun ... mereka adalah ..."
Tok ... tok ... tok ...
Sebuah ritme teratur, tiba-tiba mulai membuyarkan angan Reo tentang Ayaneru, Leon dan Leona.
"Masuk!!" titahnya memberikan ijin untuk sang tamu.
Setelah menyadari kedatangan sang asisten pribadi, kini pria necis itu mulai menghentikan aktifitasnya untuk beberapa saat.
"Tuan Reo memanggil saya?" tanya pria berjas yang baru saja memasuki ruangan itu dengan nada yang begitu rendah.
"Hhm. Gavin!! Cari tau tentang Ayaneru dan kedua anak kembarnya! Cari tau tentang semua kehidupan dia!! Cari tau kehidupan dia saat di London!! Cari tau juga suaminya dan hal sekecil apapun tentang dia!!" titah Reo tiba-tiba.
"Ayaneru? Karyawan baru di divisi marketing yang sekarang menjadi model khusus yang dipilih oleh nyonya Lingling?" tanya Gavin hampir saja tak mempercayai titah yang baru saja diberikan oleh tuannya.
"Hhm. Memang ada berapa karyawan kita yang memiliki nama Ayaneru?" celutuk Reo seakan memojokkan Gavin.
"Ba-baik, Tuan. Akan segera aku lakukan!" sahut Gavin sang asisten pribadi Reo mulai berbicara sedikit terbata karena dia malah mendapatkan tatapan dingin dari Reo.
"Hhm. Cepat lakukan dan segera laporkan semua padaku!"
"Baik, Tuan." Gavin menyauti dengan begitu patuh dan segera undur diri kembali.
Reo masih terlihat menatap dingin kepergian Gavin selama beberapa saat, hingga akhirnya dia mulai fokus kembali pada laptopnya.
...🍁🍁🍁...
Lagi-lagi Leon dan Leona mulai menjalankan siasat liciknya kembali. Leona sengaja meminta tolong kepada kekasih Yora agar pria itu mengajak Yora untuk berkencan di pagi ini.
Yora berpesan dengan Leon dan Leona agar tidak kabur kembali dari rumahnya. Dan tentu saja kedua bocah kembar itu memberikan jawaban yang sangat manis dan begitu patuh, hingga membuat Yora akan merasa lebih tenang ketika meninggalkan mereka berdua.
"Tenang saja, Bibi! Kami akan di rumah saja dan menonton TV. Bibi Yora berkencan saja!! Kami tak akan memberitahukan hal ini kepada mama kok. Okay? Ini hanya akan menjadi rahasia kita saja!" ucap Leona mengedipkan salah satu matanya menatap Yora.
"Kalian memang keponakan bibi yang begitu lucu, menggemaskan dan sangat pengertian!! Nanti bibi akan membelikan oleh-oleh untuk kalian!! Kalian mau apa? Bibi akan membelinya nanti." ucap Yora dengan wajah berbinar.
"Kami hanya ingin makanan lezat saja, Bibi. Hehe ..." jawab Leona tersenyum lebar.
"Hhm. Baiklah. Kalau kamu, Leon? Kamu mau dibelikan apa?" tanya Yora mulai beralih menatap Leon.
"Belikan saja catur Internasional untukku, Bibi! Aku ingin sekali bermain itu." jawab Leon penuh harap.
"Baiklah ... baiklah. Bibi akan membelikannya untuk kalian. Kalian baik-baik di rumah ya! Sekarang bibi pergi dulu ya. Bye ..." ucap Yora mulai meninggalkan rumah itu dan segera menguncinya dari luar.
Padahal sebenarnya Leon dan Leona juga memiliki sebuah kunci cadangan tanpa sepengetahuan mereka, maka dari itu beberapa saat yang lalu Leona dan Leon bisa kabur begitu saja.
Kepergian Yora membuat kedua anak kembar itu tersenyum penuh binar seakan sudah meraih sebuah kemenangan. Terlebih Leona, sang gadis kecil kini berjingkrak dan segera melompat untuk dari sofa dan segera bersiap untuk melakukan sesuatu bersama sang kakak.
...🍁🍁🍁...
St. Luke's International hospital, Tokyo
Kedua anak kembar yang terlihat begitu menggemaskan dengan gaya pakaiannya yang stylish seperti biasanya, mulai masuki salah satu rumah sakit besar di Tokyo.
Mereka segera bergegas untuk mendatangi bagian labolatorium untuk menemui seorang dokter untuk melakukan tes DNA. Namun semangat yang membara dari kedua anak kembar itu seketika melempem begitu saja karena mendengar jawaban dari sang dokter.
"Maaf dek, tapi kami tidak bisa melakukan pengujian ini, karena kalian masih terlalu kecil untuk permintaan pemeriksaan tes DNA. Sebaiknya bawa wali kalian ke rumah sakit dan lakukan tes DNA." ucap sang dokter pria dengan ramah.
Tak ada pilihan lain, akhirnya tes DNA tidak jadi dilakukan.
"Huft ... bagaimana dong, Kak? Kita tidak bisa membuktikan jika paman Reo adalah papa kita sekarang. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" celutuk Leona terlihat begitu murung.
"Tak ada pilihan lain, kita harus meminta tolong orang dewasa untuk menjadi wali kita." jawab Leon yang mulai memikirkan sebuah cara.
Kedua anak kembar itu kini terduduk di sebuah bangku yang berada tak jauh dari ruangan labolatorium dan terlihat sedikit memikirkan sesuatu.
"Tapi siapa ya? Bibi Yora akan sangat marah dan kesal jika tiba-tiba saja kita menghubunginya dan mengatakan jika kita sedang berada di rumah sakit." gumam Leona mencoba mencari akal.
"Tidak mungkin kita meminta tolong kepada paman Reo. Huft ..." gumam Leon mulai tak bersemangat. "Ya sudah. Sepertinya kita tidak bisa melakukan pengujian DNA sekarang, lebih baik kita segera pulang saja. Jika tidak bibi Yora akan memergoki kita yang sudah melarikan diri lagi. Ayo, Leona!" ucap Leon mulai melompat turun dari bangku
HHUUPP ...
Si gadis kecil Leona rupanya terlihat seakan masih belum rela jika mereka harus segera kembali pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Wajah manis nan mungil itu terlihat begitu murung. Namun si ratu drama itu mulai turun dari bangku dan segera mengikuti sang kakak.
Mereka berdua menyusuri lorong rumah sakit bersama dan terlihat kurang bersemangat. Namun tiba-tiba saja dari seberang lorong, Leon mulai melihat seorang pria dewasa yang sangat tidak asing sedang berbincang dengan seorang dokter.
"Leona! Lihat ke depan!" bisik Leon mendekatkan dirinya di dekat sang adik.
Leona yang sejak dari tadi sedikit menunduk, kini mulai mendongak ke depan dan melihat pria dewasa berpenampilan rapi itu.
"Paman Reo?" ucap Leona penuh binar menatap pria dewasa yang tak lain adalah Reo yang masih sibuk berbincang dengan seorang dokter pria.
"Wah. Sepertinya dewi fortuna berpihak kepada kita, Kak! Dan kita malah bertemu paman Reo lagi!! Ayo kita minta paman Reo untuk menjadi wali kita, Kak!!" imbuh Leona bersemangat dan segera menarik tangan Leon untuk mendekati Reo.
...🍁🍁🍁...
Bonus visual Leon dan Leona intip dulu yuk ...