Saquel dari novel "Perjodohan dengan CEO"
Arabella Levina Ayyara Bastian , gadis barbar yang sering di panggil Ara ini merupakan putri sulung dari pasangan Chika dan Andre. Dia terkenal terkenal di sekolahnya sebagai murid yang sering bolos dan pembuat onar akan tetapi dia tetap berprestasi. Masih ada sisi baik dari Ara yaitu suka membela murid yang di bully atau di tindas.
Narendra Artha Wijaya, pria kaku yang mempunyai gengsi yang tinggi ini diam-diam selalu memperhatikan Ara dan juga melindunginya. Narendra mempunyai saudara kembar yaitu Nayla Queena Wijaya mereka merupakan anak dari pasangan Alana dan Raka Wijaya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya jika gadis barbar di satukan dengan pria kaku?
Yuk simak cerita selanjutnya......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Narendra melanjutkan perjalanannya ke rumah Ara, hingga tiba di rumah Ara, Narendra langsung memarkirkan mobilnya kemudian mematikan mesinnya.
Ia keluar dari mobilnya lebih dulu, setelah itu membantu Ara untuk turun.
"Bawa sini aja kursi rodanya bang, biar abang ngga berat gendong Ara terus" pinta Ara sambil memasang senyum manisnya, dia juga merasa risih kalau terus-terusan di gendong Narendra.
"****... kenapa jantungku selalu berdegub cepat ketika melihat senyumannya" batin Narendra.
"Abang gendong aja, biar cepat... katanya kamu sudah lapar" ucap Narendra setelah menetralkan perasaanya, jangan sampai Ara tahu kalau jantungnya lagi ajep ajep.
"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Ara.
Tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu, Narendra langsung saja mengangkat tubuh Ara, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Woy jantung, bisa santai dikit ngga sih, sangat tidak keren kalau sampai ke tahuan sama abang Narend" jerit Ara dalam hati.
Ara menyembunyikan wajahnya yang merona ke dada Narendra.
Chika langsung menyambut putrinya dan Narendra yang baru saja tiba.
"Kenapa kalian baru sampai? perasaan tadi kalian pulang lebih dulu ketimbang mami" tanya Chika.
"Tadi kita mampir ke warung dulu aunty" sahut Narendra seraya menurunkan tubuh Ara di atas sofa.
"Jadi kalian sudah makan?, padahal mami tadi sudah menyuruh bibi untuk memasak makanan kesukaan kamu sayang" tanya Chika sekalian memberitahu putrinya.
"Belum mi, Ara belum makan daru tadi, perut Ara sudah lapar sekali mi" rengek Ara.
"Lah katanya tadi habis mampir ke warung, memangnya kalian ngapain ke warung kalau bukan untuk makan" tanya Chika bingung, biasanya orang ke warung untuk apa lagi, tak mungkin kan kalau cuma numpang ngadem.
"Ara tidak makan mi, Ara hanya bayar utang saja, setelah itu Ara pergi" dustanya.
"Oh my God, papi kamu belum bangkrut Ara, dan mami rasa uang saku kamu juga lebih dari cukup, tapi ini apa... kamu malah utang di warung orang." cerocos Chika seperti biasa.
Narendra menggaruk kepalanya. ia hanya diam saja tanpa minat meluruskannya. dia juga heran dengan Ara, kenapa tidak bilang jujur saja sama orang tuanya, pasti orang tuanya akan bangga kalau tahu yang sebenarnya.
"Ara ini lapar mi, bukannya di kasih makan malah di ceramahin" seru Ara.
"Habisan kamu bikin malu mami aja, mami tidak bisa bayangkan kalau papi kamu tahu Ara, pasti dia akan shock mendengar putrinya ngutang" ucap Chika masih tak habis pikir dengan kelakuan putrinya.
Ara merotasi bola matanya malas.
"Mami tidak usah lebay, papi juga tidak akan tahu kalau mami tidak bilang" sahut Ara masih belum mau jujur.
"Lama-lama mami bisa stroke menghadapi kelakuan kamu yang di luar nalar itu Ara" dumal Chika sambil memijit pelipisnya.
Lalu Chika beranjak dari sofa yang ia duduki tadi, ia berjalan menuju ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk putrinya.
Sedangkan di ruang tamu.
"Kenapa kamu tidak jujur sama Aunty Chika" tanya Narendra menautkan alisnya.
"Tidak, biarin aja mereka tidak tahu, dan kamu abang jangan sampai kamu ngadu ke mereka" jawab Ara sekalian memberi ultimatum kepada Narendra.
"Hmmm" gumam Narendra.
Ara melengoskan wajahnya, dia sudah malas kalau Narendra sudah mode orang gagu.
Mereka berdua tidak terlibat obrolan lagi, mereka tengah asik dengan gedget nya masing-masing. Hingga akhirnya Chika datang sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Di minum dulu nak, kamu pasti hauskan dari tadi menggendong Ara" ucap Chika seraya memberikan gelas yang berisi jus jeruk kepada Narendra.
Narendra menerima gelas tersebut, lalu meminumnya hingga tandas, setelah itu Narendra meletakkan gelas itu ke meja.
"Aunty, Narendra pamit pulang dulu ya, takut di cariin mama" pamit Narendra.
"Kalau begitu terima kasih ya, sudah mau menolong Ara, titip salam juga buat mama mu" sahut Chika.
"Iya Aunty, nanti Narend sampaikan" ucap Narendra.
setelah itu ia beralih menatap Ara.
"Aku pamit dulu, semoga cepat sembuh" pamit Narendra kepada Ara. Ara hanya mengangguk karena mulutnya sedang sibuk mengunyah.
Setelah pamit, Narendra pergi dari rumah Ara, ia melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya Narendra sampai di rumahnya.
...****************...
Sedangkan di sekolah, setelah bel pulang sekolah bunyi, semua murid berbondong-bondong keluar dari kelasnya.
Indri dan Marissa menunggu kedatangan Bella dan kedua temannya di parkiran, ia sengaja duduk di atas kap mobilnya dengan Indri.
Kebetulan Marissa hari ini bawa mobil, sedangkan Indri membawa motor.
"Minggir.. gue mau masuk" usir Bella yang baru saja datang dan ingin masuk ke dalam mobilnya namun terhalang oleh mobil Marissa.
Marissa sengaja memarkirkan mobilnya mepet dengan mobil Bella, hingga menyebabkan Bella tidak bisa masuk ke mobilnya.
"Eitsss.... Sabar mbak bro, kita selesaikan dulu masalah kita" cegah Marissa seraya turun dari atas kap mobilnya.
"Masalah apa, gue tidak ada masalah dengan orang ngga penting kek lo berdua" sahut Bella nyolot.
"Lo emang ngga ada masalah sama kita, tapi lo ada masalah dengan Ara teman kita, jangan kalian pikir gue tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan ke Ara. Kalian sengaja kan menjegal kaki Ara hingga membuat Ara cidera" ucap Marissa dengan tegas tanpa takut sedikitpun. dia sudah jengah dengan tingkah Bella dan dua temannya.
"Kalau iya kenapa? memangnya apa yang bisa kalian berdua lakukan hah" tantang Bella sambil menatap remeh Marissa dan Indri.
Marissa dan Indri tersenyum menyeringai menatap wajah Bella dan kedua temannya.
"Ndri, kita lakukan sekarang" perintah Marissa.
Indri berjalan dan melangkahkan kakinya mendekati mobil Marissa, ia membuka bagasi mobil Marissa.
Usai pintu bagasi terbuka, Indri mengambil dongkrak yang biasa di gunakan untuk mengganti ban.
Setelah mendapatkannya Indri langsung berjalan mendekati mobil Bella. Bahkan Indri membiarkan bagasi mobil Marissa terbuka.
Prakkk
Prakk
Prakk
Tanpa banyak omong Indri langsung saja menghancurkan seluruh kaca mobil Bella menggunkan dongkrak.
"Stop! apa yang lo lakuin dengan mobil gue" teriak Bella, tapi tak membuat Indri berhenti menghancurkan mobilnya.
"Berhenti, atau gue akan membuatmu di keluarkan dari sekolah ini" ancam Bella, tapi semua itu tidak berpengaruh apa-apa untuk Indri.
"Bagaimana ini Bell, kalau begini mobil lo bisa hancur" panik Stevi.
Prakkk
Prakk
Praakk
Indri menghancurkan mobil Bella dengan membabi buta. Setelah merasa puas Indri akhirnya berhenti.
"Kenapa lo menghancurkan mobil gue hah" Sentak Bella.
"Itu baru mobil lo yang gue ancurin, belum dengan kaki lo itu" ucap Indri dengan tatapan tajam menatap wajah Bella yang di selimuti amarah.
"Ingat! jangan sekali-sekali kalian bermain curang sama kita, jika kita ingin...bisa saja kita melakukan hal yang sama seperti yang lo lakukan ke Ara" peringat Marissa kepada Bella dan temannya.
Setelah mengucapkan itu Marissa dan Indri berbalik, lalu pergi meninggalkan Bella yang masih cengok melihat mobil kesayangannya hancur.
Bersambung
Happy reading guys🙏
😀😀😀