Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Terima Kasih
Kafe kecil di sudut kota itu masih sama, aroma kopi pekat, musik jazz pelan yang mengalun seperti hujan tipis di kaca, dan meja pojok dekat jendela yang selama ini menjadi “tempat biasa” mereka.
Namun satu hal tidak lagi sama, perempuan yang melangkah masuk.
Danu yang sudah menunggu dengan laptop terbuka refleks terdiam. Napasnya tercekat sepersekian detik. Rambut Zizi yang dulu panjang sekarang jatuh sebahu, rapi dan ringan, memberi kesan tegas sekaligus segar. Blazer putih membingkai tubuh rampingnya, langkahnya mantap, dagunya terangkat percaya diri. Bukan lagi perempuan yang datang dengan mata sembab dan bahu turun.
Ini… bukan Zizi yang dulu.
Ini seseorang yang lahir lagi.
Perempuan itu tersenyum kecil. “Maaf lama,” ucapnya santai.
Danu masih terpaku. “Kamu…” ia mengerjab. “Kamu kelihatan… berbeda.”
“Semoga beda ke arah yang bagus,” jawabnya ringan.
Ia duduk. Meletakkan tas di kursi sebelah tanpa ragu, gerakan kecil, tapi menunjukkan seseorang yang tahu tempatnya.
Perempuan itu mengulurkan tangan, seolah pertemuan mereka baru pertama kali.
“Saya Dara,” katanya pelan namun jelas. “Dara Valencia.”
Nama itu mengisi ruang di antara mereka. Bukan sekadar nama baru, tetapi pernyataan diam, ( aku tidak lagi sama).
Danu menatap tangan itu, lalu menyambutnya. Sentuhan mereka singkat, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak ingin ia artikan terlalu cepat.
“Baiklah,” Danu tersenyum miring. “Senang berkenalan, Dara. Saya Danu. Seorang saksi resmi metamorfosis.”
Dara atau Zizi yang baru—tertawa kecil. Tawa yang kali ini tidak retak di tengah jalan.
“Terima kasih,” ucapnya kemudian, lebih serius. “Bukan hanya soal materi belajar, laporan, grafik, dan istilah yang bikin pusing itu. Terima kasih karena kamu sabar. Karena kamu nggak meremehkan aku meski aku belajar dari nol. Karena kamu percaya aku bisa, di saat aku bahkan tidak percaya pada diriku sendiri.”
Tatapannya tidak gemetar saat berkata begitu. Ada kedewasaan baru yang memancar dari matanya.
Danu menghela napas, menatapnya lama. “Kamu yang melakukan semuanya, Zi...” ia menghentikan diri, lalu mengoreksi lembut, “Dara.”
Nama itu terasa pas, seperti pintu yang tepat untuk rumah yang baru dibangun. “Kamu yang bertahan,” lanjut Danu. “Kamu yang memilih belajar daripada tenggelam. Aku cuma… menyediakan meja, kopi, dan beberapa omelan kecil.”
Dara tersenyum. “Omelan yang efektif.”
Mereka terdiam sebentar. Tapi kali ini, heningnya hangat, bukan canggung. Hening dua orang yang tahu sama-sama pernah hancur, lalu memutuskan berdiri.
Dara mengambil cangkir kopi yang baru dihidangkan. Uap hangat menyentuh wajahnya.
“Aku sedang menata hidupku. Bukan sebagai istri seseorang. Bukan sebagai bayangan siapa pun. Tapi sebagai… aku.”
Ia menatap keluar jendela. Jalanan ramai, dunia berjalan seperti biasa, tetapi bagi Dara, dunia benar-benar mulai ulang dari sini.
“Terima kasih sudah ada di balik layar,” lanjutnya. “Kalau suatu hari aku berhasil, kamu bagian dari perjalanan itu.”
Danu menatapnya dengan sorot yang sulit disembunyikan, kagum, bangga, dan sedikit takut kehilangan jika sayap itu terbang terlalu tinggi.
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya pelan. “Melihatmu seperti ini saja… sudah cukup.”
Dara tersenyum. Tidak lagi rapuh. Tidak lagi memohon dicintai. Senyum seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.
Dan di antara aroma kopi dan lalu lintas di luar jendela, keduanya tahu, cerita ini belum selesai.
Pelayan datang mengantarkan tambahan air mineral. Danu berterima kasih singkat, lalu kembali menatap perempuan di depannya, perempuan yang baru saja mengganti hidupnya sendiri.
“Jadi,” Danu bersandar ke kursi, mencoba terdengar ringan, “ke mana Dara setelah ini?”
Dara terdiam sejenak.
Dulu, setiap pertanyaan seperti itu membuatnya panik. Sekarang, ia justru merasa punya arah.
“Aku akan fokus bekerja,” jawabnya. “Belajar lebih dalam. Aku mau paham semuanya, bukan cuma duduk di kursi tinggi.”
Ia menatap layar laptop Danu, lalu menunjuk grafik yang selama ini sering membuatnya pening.
“Aku ingin orang melihatku bukan sebagai anak Rama… tapi sebagai seseorang yang pantas duduk di sana.”
Danu mengangguk. “Mereka akan melihatnya.”
Dara tersenyum kecil. “Tidak semua orang. Tidak perlu semua orang.”
Ada sesuatu yang lain di matanya. Bukan dendam yang meledak-ledak, melainkan ketenangan yang berbahaya dan tajam, terlatih, sabar.
“Termasuk dia?” tanya Danu pelan, tanpa menyebut nama.
Dara menatap ke dasar cangkirnya, seolah ada bayangan masa lalu di sana.
“Aku tidak tahu,” ujarnya jujur. “Tapi aku tahu satu hal… aku tidak lagi perempuan yang menunggu di ruang tamu sampai malam. Aku tidak lagi perempuan yang menahan air mata supaya terlihat baik-baik saja.”
Ia menarik napas panjang.
“Kalau suatu hari dia melihatku… biarlah dia melihat dengan cara yang dia pilih sendiri.”
Danu ingin mengatakan banyak hal, untuk melindungi, untuk menahan, untuk mengakui bahwa ia takut kehilangan Dara saat perempuan itu berubah menjadi cahaya penuh. Tetapi yang keluar hanya satu kalimat sederhana.
“Aku di sini.”
Dara menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada janji. Tidak ada pengakuan. Tapi ada pengertian, seseorang akan tetap duduk di meja pojok itu, apa pun bentuk akhir cerita mereka.
Dara lalu berdiri. “Aku harus pergi. Ada rapat persiapan dengan Papa.”
Danu ikut berdiri. “Baik, Nona CEO masa depan.”
Dara tertawa kecil. “Doakan saja.”
Ia melangkah pergi. Bukan tergesa, bukan ragu, melainkan mantap.
Di luar kafe, angin sore menyentuh wajahnya. Rambut barunya bergoyang ringan. Ia menatap bayangannya di kaca jendela.
Bukan Zizi.
Bukan istri yang ditinggalkan.
Bukan perempuan yang meminta dicintai.
Dara Valencia menatap dirinya sendiri, lalu berbisik dalam hati.
Aku akan hidup. Bukan untukmu. Bukan untuk mereka. Untuk diriku.
Di dalam kafe, Danu masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung Dara yang menjauh.
Ia sadar satu hal, dari semua orang yang pernah datang dan pergi dalam hidupnya, hanya perempuan itu yang membuatnya takut, bukan karena kehilangan, tetapi karena ia tahu, sekali Dara benar-benar terbang, sulit bagi siapa pun menyentuhnya lagi.
Namun hanya Danu yang tahu, rasa kagum itu bukan baru hari ini tumbuh.
Ia pernah jatuh cinta pada Zizi jauh sebelum semuanya berantakan, bahkan sebelum Zizi memilih Arman sebagai suami. Saat itu ia hanya menjadi teman yang datang membawa tawa, tempat bercerita yang tidak pernah diminta bertanggung jawab atas jawaban. Ia melihat Zizi berjalan menuju pernikahannya sendiri sambil membawa bahagia yang bukan untuknya, dan ia memilih diam.
Diam… karena cinta yang tidak ingin mengikat.
Diam… karena ia tidak ingin menjadi orang yang menarik Zizi mundur dari keputusan yang ia yakini saat itu.
Dan hari ini, melihat Dara duduk di hadapannya, lebih kuat, lebih hidup, dadanya kembali sesak. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar bahwa perasaan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Hanya bersembunyi, menunggu Zizi menemukan dirinya kembali, sebelum siapa pun berani mengakuinya.