Pernikahan 2 anak kembar Raffa dan Kayla harus segera dilaksanakan, karena mereka sudah tidak sabar meminang putri dari sahabat mereka.
Raffa dan Kayla tidak ingin putri dari sahabatnya itu jatuh ke tangan pria yang lain.
Apakah mereka dapat membuat kedua putra kembarnya bahagia dengan pernikahan yang telah mereka rencanakan?
lanjut baca kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Iya, mau, Kak," sahut Kania semangat.
Kania yang hampir saja berputus asa mulai semangat melakukan tugas OSPEK yang didapatnya.
"Ayo ikut aku!"seru Raju.
Dikarenakan Raju sudah mendapatkan beberapa kertas di dalam beberapa buku yang dibacanya dalam 2 hari ini, Raju tinggal mengambil buku tersebut lalu memberikannya pada Kania.
"Nah, setelah ini kamu cari perpustakaan lain yang ada di kampus ini tepat dengan buku yang sama," ujar Raju memberi petunjuk.
Raju mengetahui hal itu karena dia sempat melihat panitia OSPEK meletakkan beberapa lembar kertas di dalam buku.
"Letakkan juga di buku yang sama di perpustakaan lain," ujar salah satu panitia dengan panitia yang lain.
Kania menggenggam kertas motivasi yang sudah diberi Raju padanya.
"Terima kasih ya, Kak," ucap Kania pada Raju.
Kania mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.
"Ya Allah, apakah aku akan sanggup menjalani pernikahan ini?" lirih Kania.
Setelah itu Kania pun masuk ke dalam kamar.
Sesampai di kamar Kania langsung membuka hiasan di hijabnya, dia juga langsung menghapus make up yang sudah melekat di wajahnya
Kania menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia mulai meratapi nasib yang sudah menimpa dirinya.
Raja mencoba membuka kamar yang ditempatinya tadi malam, semua barang-barangnya ada di dalam kamar tersebut, tapi kamar itu terkunci rapat.
Berkali-kali dia mencoba membuka kamar tersebut tapi tetap saja tidak bisa membukanya.
"Ada apa dengan kamar ini?" gumam Raja.
Raja mengingat kembali kamar yang ditempatinya tadi malam. Dia yakin tidak salah kamar.
"Bang, kamu ngapain di sini? Bukannya kamar Kak Kania di sana?" tanya Ranisa yang tiba-tiba datang.
"Iya, Dek. Tapi, Abang namun ambil barang-barang Abang yang ada di dalam kamar ini," jawab Raja.
"Semua barang-barang Abang udah Rani pindahkan ke kamar kak Kania, setelah kakak keluar dari kamar ini, Mama nyuruh Rani untuk bereskan barang-barang milik Abang dan membawanya ke kamar Kak Kania," jelas Ranisa.
"Oh, begitu. Ya udah, terima kasih ya, Dek," ucap Raja tidak bisa berbuat apa-apa.
Awalnya Raja berniat mengurung diri di kamar itu untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
"Ya Allah, aku belum sanggup satu kamar dengan wanita itu, kini aku juga sudah menyakiti hati Raju." Raja terdiam dengan berbagai pikiran yang mengganggu dirinya.
"Bang, kamu kenapa?" tanya Ranisa membuyarkan lamunan Abangnya.
"Eh, enggak apa-apa. Aku akan ke kamar Kania sekarang juga," lirih Raja.
Mau tak mau Raja pun melangkah menuju kamar Kania.
Tok tok tok.
Dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar itu. Raja takut istrinya tengah berganti pakaian atau apalah itu.
Kania menoleh ke arah pintu, kini matanya sembab karena menangis.
Dia mengusap wajahnya yang basah lalu melangkah menuju pintu untuk membukanya.
"Kamu menangis?" tanya Raja heran melihat wajah Kania yang sembab.
"Ah, tidak aku baru saja cuci muka," jawab Kania berbohong.
"Barang-barang milikku sudah tidak ada di kamar itu," ujar Raja sebelum masuk ke kamar.
Kania masih berdiri di ambang pintu sehingga Raja bingung bagaimana masuk ke dalam kamar itu.
Mereka berdiam diri di tempat masing-masing beberapa menit.
"Apakah aku boleh masuk kamar ini?" tanya Raja pada Kania yang mematung di hadapannya.
"Hah? Eh, iya. Maaf," lirih Kania.
Kania pun mundur beberapa langkah, setelah itu Raja masuk ke dalam kamar wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Di mana barang-barang milikku?" gumam Raja di dalam hati.
Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar tapi tidak menemukan benda yang dicarinya.
Dia semakin bingung melihat Kania yang sejak tadi diam mematung seperti orang bingung.
"Hei, apa yang kamu lakukan di sana?'" tanya Raja pada Kania sedikit kesal.
"Mhm," gumam Kania sadar dari lamunan panjangnya.
"Mhm, Ranisa bilang barang-barang milikku sudah berada di kamar ini tapi aku tidak menemukannya," tutur Raja jujur.
Dia berharap istrinya mau membantu mencarikan barang-barang miliknya di dalam kamar itu.
Kania pun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya, dia sama sekali tidak mendapati barang-barang yang baru di kamarnya itu.
"Tidak ada, di mana barang-barang miliknya?" gumam Kania ikut bingung.
"Di mana Ranisa meletakkan barang-barangku?" lirih Raja kesal.
Raja mengira Kania yang sejak tadi tidak berpindah dari tempatnya tidak ingin membatunya mencari apa yang sedang dicarinya.
"Ya sudah, aku tanya Ranisa saja," ujar Raja kesal.
Kania yang diam saat ini sebenarnya sedang berpikir, bukan berarti dia tidak ingin menantu Raja.
"Eh, tunggu." Kania menghentikan langkah Raja.
Kania melangkah menuju lemari besar miliknya.
Dia kaget saat mendapati pakaian pria sudah tertata rapi di dalam lemarinya.
"Pakaianmu sudah ada di sini," ujar Kania menunjukkan isi lemarinya yang sudah diganti dengan pakaian sang suami.
Raja kaget dengan apa yang kini dilihatnya, dia tidak menyangka kini pakaiannya sudah tertata rapi di lemari milik sang istri.
"Oh, ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu, aku sudah gerah," ujar Raja dingin.
Raja melangkah menuju lemari, dia mengambil pakaiannya lalu, dia pun melangkah menuju kamar mandi, dia mengabaikan keberadaan Kania yang masih saja dia mematung.
Raja menjadi bingung dengan sikap Kania yang sering melamun.
"Ada apa dengan wanita itu? Kenapa dia seperti orang yang lagi kesambet setan aja," gumam Raja kesal.
Raja masuk ke dalam kamar mandi lalu dia pun mulai membersihkan dirinya yang kini merasa gerah badan dan gerah hati.
Hatinya gerah karena pernikahan yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya tanpa mempertanyakan mereka ingin menikahi siapa.
Raja memilih berendam di bathtub menggunakan air panas, sedangkan Kania menunggu Raja keluar dari kamar mandi karena dia juga ingin membersihkan diri.
Sementara itu Raju dan Kanaya berada di kamar mereka, Kanaya baru saja selesai mandi, dia sudah mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi.
Balutan gamis sederhana dan simple membuat penampilan Kanaya terlihat sangat anggun, tapi sayang keanggunan yang terpancar dari gadis itu tak terlihat sama sekali oleh sang suami.
Sang suami hanya memikirkan perasaan Raja yang pasti terluka di saat dirinya bersikap baik pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Melihat Kanaya keluar dari kamar mandi, Raju pun langsung masuk ke dalam kamar mandi, dia sudah tidak sabar ingin membersihkan dirinya.
Dia berharap dengan mandi, dapat meredam rasa sakit dan luka yang kini dirasakannya.
Raju langsung membuka pakaiannya, lalu meletakkan pakaian tersebut ke dalam pakaian kotor yang tersedia di dalam kamar mandi, dia melakukan kegiatan membersihkan badan.
Tak berapa lama dia pun selesai membersihkan diri, lalu dia keluar dari kamar mandi.
"Aaaaaaaa," pekik Kanaya.
Bersambung...
udh nunggu lama ini