Assalamu'alaikum...
Selamat datang di karya pertamaku.
Kisah seorang muslimah yang berasal dari keluarga sederhana.
Fatimah,ia rela bekerja keras demi adik kembarnya dapat melanjutkan sekolah.
Mengalami kekerasan dan pelecehan di pabrik,tak menyurutkan tekadnya.
Meskipun memiliki ilmu beladiri ia tak ingin menunjukkannya di hadapan orang lain.
Hingga kehormatannya hampir di jual oleh sepupunya sendiri.
Berawal dari memesan ojek melalui sebuah aplikasi online.
Perkenalannya dengan seorang pemuda rupawan namun tengil dan selengean.
Dialah Rojali pemuda jenaka yang ternyata menyimpan kisah kelam dalam hidupnya.
Sebagai putra yang terbuang,mampukah ia menyadarkan sang ayah?
🐾mohon kritik dan sarannya... 🐾
jangan lupa tinggalkan jejaknya... 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumi Kusuma Wardani
Ketika berbuat maksiat itu sudah menjadi hal yang biasa. Ketika norma dan adat ketimuran yang leluhur kita agung-agungkan kini sudah jadi sampah.
Ketika rasa bangga itu hadir meski kau tau itu salah. Apakah hati nurani itu masih ada?
Atau terkalahkan dengan gelenyar hasrat kesenangan sesaat.
~••••~
"Maksud saya apakah kalian pasangan suami istri?"
tanyaku serius, siapa tau mereka pasutri kan.
" Belom kok, kita baru aja tunangan di kampung"
"iya kan beb? "
si perempuan menoleh dan tersenyum ke lelaki di sebelahnya,dan dengan tak tau malunya melingkarkan tangannya di lengan si lelaki yang sedari tadi memperhatikanku dengan menelisik, rasanya pengen copotin aja deh itu biji matanya.
Lelaki itu pun mengiyakan dengan anggukan dan senyuman yang malah mengarah kepadaku.
(Cih, dasar buaya got!)
Upss,tabok mulut sendiri.
(Dasar lemeeesss,dosa taukk.)
Dalam hati ngomel sendiri.
Ku hela nafas sesaat sebelum ku bicara kembali, menghadapi manusia yang sudah tidak punya urat malu itu gak boleh emosi, kita harus elegan supaya menang.
"Jadi kalian bukan suami istri? "
"Lalu apa kalian lupa dengan peraturan di kosan ini?
Tanyaku, dengan tenang
" Terus kenapa?"
"Lagian kalo kamu gak bilang, mereka juga gak akan tau,"
jawabnya dengan sinis.
"Apa kalian tidak tau pepatah?
" Sebaik-baiknya bangkai disimpan, lama-lama bau busuknya akan tercium juga,"
"Kalian pasti tau perbuatan kalian salah, jadi saya tidak perlu menjabarkan,"
ucapku dengan tetap memasang senyum ramah.
"Saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai warga negara, sebagai tetangga yang peduli dan juga sebagai muslim. Saya wajib memperingatkan kalian berdua,"
Jelas ku dengan tenang, berharap mereka mengerti dan tidak akan mengulangi lagi.
Sebelum pemilik kosan tau dan mereka akan diusir.
Bukankah itu akan sangat memalukan.
" Cih, elu jangan sok nasehatin!"
Sok bener banget lu jadi orang!"
hardiknya dengan melotot ke arahku dan mendorong sebelah bahuku dengan tangannya.
(Wah, dia mulai maen fisik ,)
"Udahlah beb aku pulang aja ya? "
"Bener kata dia, kalo sampe Om Heru tau kamu bisa diusir. "
laki-laki itu menenangkan perempuan itu yang sepertinya emosi sekali terhadapku.
Ia merangkul pundak wanitanya.
"Ih kok pulang sih beb?"
"Aku kan belom puas lho masih kangen?"
rajuk nya dengan gaya bicara yang manja sambil sesekali tangan nya mengusap dada tel@njang laki-laki itu.
(dasar nggak tau malu, mengotori mata suci ku yang sebening embun ini aja) umpat ku dalam kalbu.
" Next kita masih bisa ketemu beb,"
ucap lelaki itu sambil menatap wanita di sebelahnya.
Kemudian dia berlalu kedalam mengambil baju dan mengenakannya.
(Aih, kenapa aku jadi menyaksikan drama mesum ini sih, ampuunn...)
"Ya udah deh beb, lain kali kita maen nya di hotel aja, biar gak di ganggu sama tetangga yang rese dan kepo sama urusan orang kayak gini.
sarkasnya,sambil melirik sinis ke arahku.
(Biar aja dia marah yang penting tu cowok minggat)
(Dan kewajiban ku menegur selesai sudah)
" Baiklah kalo kalian udah pada ngerti dan faham.
"Semoga lain kali sebelum berbuat pikirkan kembali akibat dan resiko nya di masa depan nanti.
"Saya permisi,Assalamu alaikum,"
Aku pun kembali ke kamarku,setelah aku memastikan lelaki itu sudah berlalu dan menuruni tangga.
Aku masuk ke kamar dan meneguk segelas air dengan cepat.
Ku hela nafasku berkali-kali, rasanya seperti habis lari maraton,haus dan ngos-ngosan.
Alhamdulillah, aku berani juga menegur tetangga sebelah.
Semoga ia menceritakan kejadian ini dengan temannya di kamar paling ujung, karena sepertinya mereka bekerja sama.
Semoga mereka faham dan sadar.
Sebelum berbuat seharusnya mereka berfikir dulu, bukan hanya takut ketahuan atau di grebek massa, tapi lebih dari itu. Resiko di kemudian hari sangatlah besar.
Bagaimana kalau perbuatan mereka menghasilkan seorang anak, apa mereka tidak berpikir nasib anak itu nanti?
Apa jadi nya bila sang anak tau bahwa dia dibuat secara haram.
Terkadang malah kehadirannya tidak diinginkan, lalu banyak kejadian janin yang di gugurkan, bayi yang di buang, anak yang di telantarkan.
Ujung-ujungnya anak tak berdosa lah yang menjadi korban, mereka seakan menanggung dosa yang tidak mereka perbuat.
Sungguh tidak adil bukan?
Perbuatan dari gejolak hasrat sesaat tetapi menimbulkan efek yang tidak akan selesai bertahun-tahun bahkan seumur hidup.
Seandainya para pelaku zina menggunakan otak mereka, tentu kisah buruk dan nestapa itu tidak akan terjadi.
Tapi, sayangnya mereka tidak berpikir,mereka sudah dikuasai oleh hasrat dan keinginan semu.
Kepuasan sesaat yang akan membelenggu hidup mereka di dunia juga di akhirat nanti.
***•••***
Belum sampai setengah hari ,kejadian bertubi-tubi ini telah menguras sebagian energi ku.
Rasanya aku jadi ngantuk,tapi nanggung sebentar lagi masuk waktu Juhur.
Ku buka gawai ku, ku kirim chat kepada Nur.
Ternyata dia balik ke kosan setelah Isya.
Sumi, dia sudah izin tiga hari karena akan mengadakan lamaran.
Ku berharap acaranya lancar.
Ku lihat di chat story WA.
Sumi memposting rumahnya yang sudah di pasang tenda dan ruang tamu yang sudah dihias secara sederhana.
Aku ikut bahagia untukmu, sahabatku.
Kau begitu mudah membuka hatimu dan kau begitu percaya akan pilihan orangtuamu.
Semoga kalian berjodoh sampai halal🥰
Komentar ku di salah satu statusnya.
Doa tulus ku panjatkan dalam hati.
Semoga sahabatku bahagia.
🌾Di waktu yang sama di kampung Sumi Kusuma Wardani.
Beberapa tetangga dan sanak saudara tampak sibuk berlalu lalang, ruang tamu nampak telah di dekor dengan sederhana, halaman sudah di pasang tenda dan kursi.
Sementara keadaan di dapur juga tak kalah sibuk,di dominasi ibu-ibu paruh baya dan juga para nenek atau tetua yang sibuk dengan bagiannya masing-masing.
Ada yang memarut kelapa kemudian memerasnya agar menghasilkan santan.
Ada yang mengupas bawang dan mengiris sayuran.
Semua hal itu masih di lakukan secara manual di desa.
Semua tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Opo ndak terlalu kesusu toh buk'e ?"(apa tidak terlalu terburu-buru kah bu?)
Sumi bertanya sambil menyender di bahu ibunya yang sedang memasukkan kue-kue kedalam dus kecil.
Kue-kue ini nanti akan di bagikan kepada para tamu yang hadir di acara lamaran nanti sore ba'da Ashar.
"Yo ndak to ndok,luwih cepet luwih apik."(lebih cepat lebih baik)
" Biar cepet-cepet halal, wis lamaran sore, sesuk langsung nikah ae.(Biar segera halal setelah lamaran langsung nikah saja)
" Yowis aku manut ae opo kata pak'e karo buk'e. "(yaudah aku nurut aja apa kata bapak dan ibuk)
Sumi menjawab dengan tersenyum dan memeluk pinggang ibunya dari samping.
Ia memang anak yang penurut, ia sudah mengenal pria yang akan melamarnya.
Mereka dulu semasa sekolah menengah pernah PKL bareng di balai kota.
Namun keberuntungan tidak berpihak pada Sumi, otaknya yang minimalis membuat nya mendapatkan hasil yang sangat minim.
Hingga ia memutuskan mencari kerja di pabrik saja selesai lulus sekolah.
Ia pun ikut sang bibik dan akhirnya melamar di salah satu pabrik yang memproduksi kosmetik terbesar di Jakarta.
Sementara pria yang akan melamarnya itu, setelah lulus kembali di pekerjakan di balai desa sambil kuliah malam.
🌵Maaf yaa kawan kalau bahasa jawa nya ngaco... 🤗
🌵Segini dulu, soalnya jari jemariku udah mulai kebas😁