NovelToon NovelToon
My Son Is My Strength

My Son Is My Strength

Status: tamat
Genre:Komedi / Cerai / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Naaila Qaireen

Niat untuk mencari biaya operasi ibunya, membawa seorang Arini pada kehancurannya. Kesuciannya di renggut oleh seorang yang menjadikan ia pembantu dalam satu hari, sehingga membuat Arini mempunyai seorang malaikat kecil.

Ketika Arini menyadari adanya malaikat kecil itu dalam perutnya, ibunya menyuruh ia untuk meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang sudah merenggut kesuciannya. Namun, itu tidak di lakukan oleh Arini. Karena lelaki itu telah menolak bahkan malaikat kecil itu belum ada dalam perut Arini.

Berbagai cibiran, hinaan, bahkan perlakuan kasar di terima oleh Arini dan keluarganya. Tapi itu tidak membuat Arini untuk menggugurkan malaikat kecil itu, bagi Arini malaikat kecil itu adalah sosok kekuatan baru baginya.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun di lewati oleh Arini, hingga pada suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan sosok lelaki itu kembali.

Siapakah lelaki itu? Kenapa ia menolak malaikat kecil itu bahkan sebelum berada dalam perut Arini? Apakah yang akan ia lakukan ketika bertemu kembali dengan Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naaila Qaireen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamil

Setelah berpisah dengan Naya, Arini memanggil ojek untuk mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan, tiba-tiba saja Arini menyuruh tukang ojek itu berhenti.

"Kiri. Kiri, Pak." Arini memberhentikan ojek itu, ketika melihat apotek di seberang jalan sana.

"Tunggu ya, Pak. Saya mau beli sesuatu di sana." Tunjuk Arini, ke arah apotek.

"Baik, mbak." Tukang ojek itu berkata, seraya mengangguk mengiyakan perkataan Arini.

Setelah berbicara dengan tukang ojek, Arini berjalan mendekati apotek dan masuk ke dalamnya. Ia membeli dua tes pack dengan model berbeda. Lalu membayarnya dan keluar dari apotek tersebut. "Hum... semoga saja dugaan ku salah." Gumam Arini sembari melihat tes pack di tangannya.

"Jalan, Pak." Kata Arini setelah ia menaiki kembali ojek itu.

Tukang ojek itu pun, menjalan kembali motornya menuju alamat yang telah Arini beritahu sebelumnya.

Sampai di rumah kontrakannya, Arini turun dan membayar ongkos ojek yang ia naiki, lalu mengucapkan terima kasih.

Ia melangkah mendekati pintu rumah dengan menenteng belanjanya di satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi, ia gunakan untuk mengetuk pintu.

Arini mengetuk pintu, seraya mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama, pintu pun dibuka oleh Arumi.

"Wa'alaikumussalam." Arumi menjawab salam dan membukakan pintu untuk kakaknya.

Arini masuk, ketika pintu sudah di bukakann oleh Arumi. Arumi menawarkan bantuan, untuk membantu kakaknya membawa barang-barang belanjaan dan menyimpannya di dapur.

*****

Kini Arini sudah berada di kamarnya, ia termenung di atas ranjang menatap alat tes kehamilan yang ada di tangannya. "Apakah aku harus menggunakannya?" Arini bertanya pada dirinya sendiri. Ia masih mengumpulkan keberanian untuk menggunakan alat tes kehamilan tersebut.

"Kalau aku tidak menggunakannya, aku tidak akan bisa membuktikan apakah dugaan ku kemarin salah atau benar." Arini masih menimbang.

Sejenak ia terdiam, masih menatap alat tes kehamilan itu. Lalu ia pun bangkit dan berdiri sambil menggenggam tes pack.

"Aku harus mencobanya, untuk membuktikan semua ini." Arini melangkah keluar kamar, menuju kamar mandi untuk membuktikan dugaannya. "Semoga saja hasilnya negatif." Gumam Arini dalam hati, sepanjang menuju toilet.

Tiba di toilet, ia membaca prosedur cara penggunaan tes pack tersebut. Lalu mulai menggunakannya sesuai dengan anjuran prosedur penggunaan tes pack itu.

Setelah menunggu beberapa menit, hasil berupa garis merah pun muncul. Arini bernapas lega, karena yang muncul hanya satu garis merah saja. Karena yang sesuai ia baca, satu garis merah menunjukkan hasilnya negatif, sementara dua garis merah berarti positif hamil.

"Huft... syukurlah, ternyata dugaan ku salah. Aku memang hanya masuk angin saja." Kata Arini merasa lega akan hasil yang muncul dari tes pack tersebut.

Tapi, tiba-tiba mata Arini melebar. Tak kala melihat kembali hasil tes pack itu, yang sekarang berubah menjadi dua garis merah.

"Ke... kenapa hasilnya berubah?" Arini bergumam kecil dengan suara yang gemetar.

Ia mengucek matanya berulang kali, lalu melihat kembali hasil tes pack itu. Masih sama, terdapat dua garis merah di sana.

Arini pun mencoba tes pack satunya lagi, yang modelnya berbeda dengan tes pack sebelumnya. Mungkin saja tes pack yang ia gunakan sekarang ini tidak berfungsi dengan baik.

Arini harap-harap cemas, menunggu hasilnya keluar beberapa menit lagi. Ia berharap, hasilnya berbeda dengan tes pack sebelumnya. Namun, nahas hasilnya tetap sama, ia positif hamil.

"A... apa?!!!" Arini memekik, saat ia melihat hasil tes pack yang ia gunakan kedua kalinya tetap sama dengan hasil tes pack sebelumnya. "Ha... hasilnya sa---ma." Kata Arini dengan suara bergetar dan terbata-bata.

Setetes air mata tiba-tiba saja keluar dari mata Arini, dengan gerakan yang pelan ia memegang perutnya yang masih datar itu.

"Harus ku apa 'kan bayi ini?" Arini bertanya pada dirinya sendiri, dengan air matanya terus mengalir deras di pipinya. "Ti... tidak mungkin aku menggugurkannya, di... dia tidak bersalah, dia tetap lah darah daging ku. Aku... aku tidak bisa membunuh anak ku sendiri hiks...." Arini berkata sambil menangis dengan isakan pelan.

"Ta... tapi, apa yang harus ku katakan pada ibu nanti... hiks." kata Arini lirih.

Saat ini, ia sangat bingung dengan keadaan yang menimpanya sekarang. Ia bingung, tentang cara untuk menyampaikan kebenaran kepada ibunya nanti. Ia juga takut, kalau ibunya akan marah dan tidak menganggap bahwa dia adalah anaknya lagi. Karena ia sudah menjadi perempuan yang kotor dan bukan lagi perempuan yang baik-baik.

Tok... tok....

Pintu diketuk dari luar oleh Ibu Syahra dan Arumi, karena mendengar pekikan Arini. Mereka khawatir, terjadi sesuatu pada Arini di dalam kamar mandi. Maka dengan segera Arumi yang pertama kali mendengar pekikan kakaknya, memanggil ibunya untuk melihat Arini sang kakak yang berada di dalam kamar mandi.

"Arin? Kamu kenapa, Nak?" Kata ibu Syahra khawatir masih dengan mengetuk pintu.

"Kak? Apa kakak baik-baik saja di dalam?" Arumi tidak kalah khawatirnya. "Buka pintunya kak." Lanjut Arumi lagi.

Arini tersentak mendengar ketukan pintu dan panggilan dari ibu dan adiknya itu. Ia ragu untuk membukakan pintunya, karena belum tahu cara untuk menyampaikan kebenaran ini pada ibu dan adiknya. Arini masih melamun memikirkan hal tersebut.

"Kak apa kakak baik-baik saja di dalam? Ayo buka pintunya kak!" Arumi kembali memanggil kakaknya, sambil tetap mengetuk pintu kamar mandi berulang kali. Ia berharap kakaknya bisa membukakan pintunya agar ia dapat melihat keadaan sang kakak. Sungguh ia sangat khawatir padanya.

Arini yang sedang melamun, tersadar mendengar panggilan dari adiknya. Pelan tapi pasti, ia pun membuka pintu kamar mandi itu.

Setelah pintu kamar mandi di buka Arini refleks bersimpuh di bawah kaki ibunya, dengan menangis sesenggukan.

"Kamu kenapa, Nak?" Tanya ibu Syahra berjongkok, berusaha membangunkan anaknya dengan memegang pundaknya. Tapi terhenti, mendengar perkataan dari Arini.

"Ma... maaf kan Arin, Bu. A-Arin sudah kotor hiks...." Arini menjawab pertanyaan, dengan masih memegang kedua kaki ibunya.

Bagai di sambar petir di siang bolong, ibu Syahra tercengang mendengar perkataan Arini. Ia menarik kembali tangannya dan refleks berdiri lalu mundur beberapa langkah dari Arini.

Sedangkan Arumi yang mendengar itu pun, langsung memeluk sang kakak. Ia tidak tahan ketika melihat sang kakak terpuruk seperti ini. Ia yakin ini bukan salah kakaknya, pasti ini kecelakaan.

"A... apa yang kamu katakan, Arin?" Ibu Syahra bertanya dengan suara gemetar, mendengar kata 'kotor' yang keluar dari mulut Arini, ia ingin memastikan bahwa pendengarannya salah.

"Hiks... Arin sudah kotor, Bu. A... Arin telah ter-nodai, A... Arin bukan lagi perempuan yang baik-baik." Arini berkata terbata-bata mencoba menjelaskan pada ibunya.

Arumi yang sedang memeluk kakaknya semakin mengeratkan pelukannya, mendengar kata-kata itu.

Ibunya terdiam, air matanya luruh begitu saja dan cepat-cepat menghapusnya. Ia mencoba untuk menyangkal semua perkataan yang keluar dari mulut Arini, dengan memalingkan pandangannya dari sang anak.

*****

Bersambung...

1
SJR
Assalamu'alaikum, mampir yuk ke novel ku ini, "ISTRI BERCADAR MILIK KETOS TAMPAN", Saling suportnya dan jangan lupa like dan follow ya 🙏🤗😊❤️
Naaila Qaireen: Waalaikumsalam, oke kak.
total 1 replies
Sulainiothman Sulainiothman
Luar biasa
Oi Min
happy ending lah.....
Naaila Qaireen: Makasih sudah mampir membaca Kak ❤❤❤
total 1 replies
Oi Min
entah krna putus asa ato sdah gila si Marvel ini sampe2 ngajakin Dian menikah tiba2.
Oi Min
mamvus lu pada.
Oi Min
gek ndang thas thes ngunu hlo Bian..... babat habis wong2 sing utekke gur sak upil kro bozockx cankemme kui
Oi Min
guwak en nek Amazon kno kui si mulut busuk Rahma
Oi Min
kui ibu2 mantan tetangga kontrakan yg julid dan iri ma Arini sampe hasut tetangga yg laen
Oi Min
kek nya Arini dah hamil lagi ini..... Bian yg kna cauvade syndrome
Oi Min
semoga di Hongkong Bian baik2 saja. awas aja klo sampe ketempelan ulat bulu
Oi Min
ck..... gur komedi putar ae wedi Bi.....
Oi Min
akhirnya berhasil ngadon jga lu Bian
Oi Min
wkwkwk... .... lupa die klo masih ada anak
Oi Min
lu sech Rin.. ..... ngajakin Bian ke kasur, taunya dia lu ajakin ngadon udah
Oi Min
ternyata Rio suka Hana.... dan sebaliknya..... selamat untuk kalian berdua. semoga cpt nyusul Bian Arini
Oi Min
nyang sabar ye Marpel..... jodoh lu masih di rahasia in
Oi Min
Rio ma sapose?? Hana ato Diana??
Oi Min
goro2 kwe hlo hidup Arini susah selama ini. tp nek ra ngunu y ra no Azzam saiki
Oi Min
jo gampang luluh kro playboy cap cacing kremi kyo Rangga kui
Oi Min
berarti Rangga kabur dri rumah nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!