"Kami hanyalah orang-orang yang berada di luar pikiran manusia. Karena kami tidaklah nyata. Kami hanyalah lambang dari jiwa yang menuntut kedamaian."
Seorang teroris tak terkalahkan di Korea mendadak melakukan boom bunuh diri tanpa sebab setelah menghancurkan sebuah perusahan dan meninggalkan banyak pertanyaan besar. Teroris yang dikenal dengan nama Jii Joon tersebut dinyatakan tewas dalam insiden tersebut dengan bukti-bukti nyata.
Namun bagi sebagian orang yang memahami kecerdasan Jii Joon memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka yakin bahwa teroris tersebut masih hidup dengan kondisi baik dan mungkin sedang menyusun rencana untuk serangan yang lebih kuat.
Tujuan untuk mengungkap rahasia dan misteri yang terus menjadi pertanyaan besar di balik tindakan dan identitas sang teroris pun mulai dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leorein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandi Rya
Jepang
Seorang wanita bertubuh seksi mengenakan gaun kentat sepanjang paha yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Bulu matanya lentik, bibirnya merah dengan warna lipstick, kulitnya yang berisi berwarna putih mulus tanpa noda, rambut hitam pekat bergelombang di bagian ujung-ujung rambut.
Wanita cantik itu berjalan dengan cara yang sangat menarik perhatian kaum Adam. Saat dia lewat, mata para pria tertuju kepada bentuk tubuh menggoda dan paha yang mulus serta bokong yang berisi.
Wanita itu masuk ke sebuah kantor polisi cabang dengan santai sambil membawa tas selempang juga sebuah tas besar berwarna hitam. Senyuman manis menggoda versinya terus menghiasi kedua bibirnya dan membuatnya semakin terlihat menarik dan menggoda.
"Aku menemukan tas ini di stasion," ucapnya dengann nada yang dibuat-buat sedikit manja seolah sedang menggoda kepada dua petugas tersebut.
"Barang hilang lagi?" keluh salah satu petugas.
Hampir setiap hari selalu ada barang hilang yang datang ke kantor ini. Terlebih lagi hari ini. Mereka telah menerima setidaknya ada sekitar tujuh belas lebih laporan orang menemukan barang hilang. Tetapi mereka tidak mendapat laporan seseorang mencari barangnya yang hilang.
Salah satu petugas mengambil selembar kertas berisi beberapa teks yang harus diisi. Polisi itu menyerahkan kertas beserta polpen bertintah hitam.
Tanpa perlu diberitahu wanita itu sudah tahu kalau ia diminta untuk mengisi selembar kertas ini. Wanita itu dengan gayanya sudah ingin mengambil polpen yang terletak di depannya, tapi tiba-tiba ponsel miliknya yang dia simpan di dalam tas selempang tersebut berdering dengan sangat nada keras dan sangat berisik hingga mengganggu orang-orang di sana.
Orang-orang di sana melihat kepada wanita tersebut dengan tatapan terganggu untuk suara ponselnya yang sangat mengganggu itu.
"Aku harus mengangkatnya sebentar," kata wanita tersebut memberitahu kepada dua petugas itu.
Wanita tersebut meletakkan tas besar yang menjadi barang hilang tersebut di meja dekat dengan kertas juga polpen.
Dia kemudian berjalan ke arah luar dengan terlihat sibuk membuka tas selempang mencari ponsel yang terus berdering di antara peralatan make up. Dia baru bisa menemukan ponselnya begitu tiba di luar kantor.
Dia melihat nomor tanpa nama tersebut. Hanya dengan melihatnya saja dia tahu siapa pemilik nomor yang meluangkan waktu untuk menelpon dirinya. Dengan begitu santai di berjalan ke sebuah mobil dan segera masuk ke mobil BMW merah miliknya tanpa mempedulikan tas yang dia tinggal di dalam kantor polisi tersebut.
Di dalam mobil wanita itu mengangkat telpon tersebut sambil bercermin memeriksa riasannya lewat kaca spion tengah.
"Malam ini juga. Aku akan pergi ke Korea," ucapnya dengan tenang memberitahu kepada seseorang di telpon.
Dia tersenyum sinis. Dengan satu tangan yang bergerak cepat dia menghidupkan mesin mobil tersebut dan menyetir dengan satu tangan seolah dia telah ahli.
Wanita tersebut kemudian membawa mobilnya keluar dari arena parkiran menuju jalan raya yang besar. "Aku sudah menemukan banyak informasi tentang Jii Joon, tenang saja. Tidak akan lama lagi Jii Joon akan tahu bahwa Rya ada di Korea," ucap wanita tersebut dengan yakin.
Sambungan telpon kemudian di putus oleh wanita yang tengah mengemudi itu secara sepihak.
Rya kemudian mulai menghitung mundur dari angka lima, empat, tiga, dua, satu, dan nol. Tepat di saat mulutnya mengucapkan kata nol, kantor yang dia datangi sebelumnya mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Ledakan sesuatu yang dasyat.
Bangunan tersebut mulai berkobaran api, dalam sekejap jalanan utama menjadi macet total. Suasana tenang mendadak berubah dengan sangat drastis.
Di dalam mobilnya Rya memutar musik dengan bunyi yang begitu keras. Dia tidak suka mendengar keributan di luar sana. Beberapa mobil pemadam yang dilengkapi oleh sirene melaju kencang, mobil-mobil lain membukakan jalan. Di belakang mobil pemadam, melaju dua mobil ambulan lalu polisi-polisi lokal. Pemandangan yang sudah familiar bagi wanita tersebut.
Rya menurunkan kaca mobilnya. Lalu dia melempar ponsel yang sebelumnya dia pakai untuk saling berkomunikasi dengan seseorang di telpon tadi ke udara lewat jendela yang kemudian jatuh ke sungai. Jembatan panjang dengan sungai besar.
Ini tugas terakhir untuk Rya di Jepang. Berapa tahun dia mengacau di Jepang? Sebelas tahun? Dua belas tahun? Atau lebih? Rya tidak menghitung hal seperti itu. Cukup menyenangkan membuat ledakan-ledakan di kota-kota negara ini. Dan sekarang dia harus mengakhiri kegiatannya di negri sakura ini.
Perasaan senang mengacau di negara ini tentu tidak seberapa daripada bertemu dengan orang yang menurutnya paling hebat. Jii Joon.
Jii Joon hanyalah sebuah nama sandi, begitu juga dengan Rya. Tidak ada yang tahu siapa nama mereka sebenarnya selain mereka itu sendiri.
Sejak dulu. Waktu yang sangat lama telah berlalu, mereka di didik dengan keras. Tidak peduli cuaca ataupun rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka harus menjadi mesin pembunuh. Pembunuh yang tidak pernah memiliki kata takut. Hanya itu.
Tujuan mereka mudah dan sederhana saja, hanya kedamaian. Namun tidak akan mudah bagi orang lain memahami arti kedamaian mereka. Untuk mendapatkan kedamaian itu, mereka akan melakukan dengan cara mereka.
Mereka bukan pahlawan dalam dongeng yang berjuang untuk kedamaian dalam negri. Kedamaian mereka berbeda dengan kedamaian yang orang-orang ketahui.
Hanya mereka yang mengerti makna kedamaian ini dan seberapa penting kedamaian ini bagi mereka hanya mereka yang memahaminya.
Untuk mendapat kedamaian itu, mereka telah berkorban banyak. Bahkan seluruh perasaan mereka telah menjadi korban mereka. Tidak ada ambisi sendiri, keserahakan sendiri, kemarahan sendiri, kebahagian sendiri, tidak ada keegoisan.
Apa yang mereka miliki adalah milik bersama meskipun itu karakter sendiri.
Hubungan yang terikat pada satu tujuan yang sama itu adalah hasil dari sebab akibat. Mereka telah diperlakukan dengan tidak adil. Keserakahan, kelicikan dan kecurangan. Dan untuk itu, mereka juga akan bermain seperti itu. Ini bukan bentuk balas dendam, tapi menuntut keadilan dan kedamaian.
Jauh di negara sana. Di markas. Jii Joon tidak suka dengan apa yang ia lihat dari berita dunia seputar Jepang ini.
Rya. Orang yang paling tidak ingin ditemui oleh Jii Joon dalam untuk waktu tertentu telah memberi sandi kepada Jii Joon lewat aksinya. Bisa malam ini atau besok. Orang itu akan tiba di Korea.
Tidak akan lama lagi. Dan mereka akan bertemu satu sama lain. Jii Joon mungkin akan bertemu dengan Rya dengan berusaha mengulur waktu, tapi Rya akan melakukan hal yang sebaliknya. Orang itu juga suka melakukan hal berdasarkan kemauannya sendiri. Rya sering keluar dari perintah dan memiliki cara berpikir sendiri.