Setelah istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, Alkha Kim Junno seorang lelaki keturunan Korea Selatan, menjadi seorang yang sangat dingin kepada semua wanita. Sampai akhirnya dia dijodohkan dengan seorang wanita oleh mamanya, karena mamanya takut anaknya akan selamanya sendiri.
"Aku nggak mau nikah sama duda!!!" teriak Arabella Putri Jovanka, seorang gadis yang baru lulus kuliah, bahkan belum dapat pekerjaan. Dia adalah wanita yang akan dijodohkan dengan Alkha. Seorang gadis ceria, optimis, dan memiliki rasa percaya diri diatas rata-rata, juga keras kepala.
Akan tetapi, setelah melihat ketampanan Alkha. Gadis kecil itu langsung berubah pikiran. Pasalnya, Alkha adalah lelaki yang dia cintai setelah pertemuannya di sebuah club malam.
Ara jatuh cinta pada Alkha, pada pandangan pertama. Alkha adalah tipe lelaki idaman Ara.
Akankah Ara bisa mencairkan gunung es yang bisa bernafas itu?
Terus dukung author ya 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Pantang Menyerah
Ara merasa sangat bahagia ketika Alkha membawanya ke sebuah kafe yang ada di tepi pantai dengan di hiasi cahaya lilin yang begitu indah. Ara bahkan tidak mampu berkata-kata karena saking senangnya.
Biasanya Ara hanya melihat dinner yang romantis di sebuah drama korea atau sinetron. Tapi kali ini dia merasakan langsung moment indah itu.
"Makasih ya Kak, karena lo udah mau lakuin semua mau gue.." ucap Ara dengan perasaan sangat senang.
"Iya.." jawab Alkha juga senang ketika melihat ekspresi wajah Ara yang begitu sangat bahagia.
Alkha juga telah mempersiapkan secara khusus hidangan yang disajikan. Tidak hanya itu, tapi Alkha juga mempersiapkan pemusik untuk menemani makan malam mereka. Tentu saja itu semua membuat Ara sangat bahagia.
"Om, eh, kak, kenapa kita nggak nikah aja?" tanya Ara tanpa basa basi.
"Uhuk..." ucapan Ara membuat Alkha kaget sampai tersedak.
Alkha tidak pernah berpikiran sejauh itu. Dia baik ke Ara karena mereka punya hubungan pekerjaan.
"Nikah?" tanya Alkha sembari menatap Ara yang seolah tanpa beban dan pikiran membahas tentang pernikahan.
"Iya, emang kenapa? Kita kan udah dijodohin.." jawab Ara santai.
"Aku nggak pernah larang kamu buat suka sama aku, tapi kamu juga harus tahu, kalau aku nggak ada kewajiban buat balas rasa suka kamu." ucap Alkha dengan jujur. Karena memang dia belum punya pikiran buat menikah lagi.
"Lupain aku!! Aku nggak mau kamu terluka.." Alkha kembali memperingati Ara untuk melupakan rasa sukanya kepada Alkha, karena Alkha tidak bisa membalas rasa sukanya.
"Seandainya gue bisa buat lo jatuh cinta, apa lo mau melepas masa lalu lo?" tanya Ara dengan serius, sembari menatap Alkha.
Alkha sempat terkejut melihat ekspresi serius Ara. Karena Alkha selalu melihat wajah ceria Ara setelah mereka bertemu. Tapi berbeda dengan kali ini, Alkha bisa melihat wajah yang serius dari seorang Ara.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia!! Karena aku nggak akan bisa mencintai wanita lain selain istri aku.."
"Coba lo buka hati lo, gue yakin lo bisa cinta sama wanita lain. Lo bilang kayak gitu karena lo selalu menolak kenyataan kalau istri lo udah meninggal.." Ara mulai tersulut amarahnya.
"Hidup ini terus berjalan, lo nggak bisa berhenti pada hari ini selama lo masih hidup, mau atau tidak lo harus menjalani hidup lo. Mau seperti apapun lo menolak kenyataan, semua itu yang harus lo jalani!"
"Udah aku bilang, lupain aku!!" Alkha juga mulai sedikit kesal. Alkha beranggap bahwa Ara ingin dia melupakan mendiang istrinya. Padahal faktanya bukan begitu, Ara hanya ingin Alkha menjalani hidupnya dengan kenyataan yang ada.
Kenyataannya bahwa istrinya sudah meninggal, dan tidak akan pernah kembali.
"Buka hati dan mata lo!! Takdir udah sangat jelas bahwa istri lo tidak akan pernah kembali. Itu kenyataan."
Alkha merasa sangat kesal dengan ucapan Ara. Tapi dia memilih diam. Belum selesai makan, Ara merasakan suasana yang sudah tidak menyenangkan, karena Alkha terus saja diam setelah perdebatan itu.
Ara lalu meminta Alkha untuk mengantarnya pulang, meskipun makanan masih belum habis. Ara tidak suka diabaikan, jadi dia memilih untuk pulang.
Sepanjang perjalanan keheningan terjadi dalam sebuah mobil yang ditunggangi Alkha dan Ara. Ara yang biasanya cerewet menjadi pendiam seketika, dia tahu kalau Alkha sedang kesal kepada dirinya.
"Makasih.." Tapi Ara seolah tidak mengerti apa yang terjadi. Dia masih mengucapkan terima kasih dengan gaya genitnya. Tapi Alkha sama sekali tidak mengindahkannya. Bahkan tidak menjawab ucapan makasih dari Ara.
Begitu Ara turun dari mobil, Alkha langsung menginjak gas begitu saja meninggalkan rumah Ara. "Kenapa sih? Apa gue salah kalau gue pengen dia jangan menyiksa diri dia sendiri?" gumam Ara yang tidak mengerti kenapa Alkha marah kepada dirinya.
Ara masuk ke kamarnya dengan sedih. Dinner romantis yang dia harapkan, hancur. Setelah berganti pakaian Ara mempertimbangkan untuk menghubungi Alkha atau tidak.
"Apa gue harus minta maaf? Tapi gue nggak salah kan, jika nyuruh dia buat move on?" gumam Ara seorang diri.
"Bodo amatlah, pusing.." Ara merebahkan tubuhnya dan mulai menarik selimutnya. Dia memutuskan untuk tidak menghubungi Alkha, karena tidak mau menambah masalah lagi.
****
Dua hari Ara dan Alkha tidak saling menghubungi.
Pagi hari di hari Senin, tidak seperti biasa Ara berangkat ke kantor dengan sedikit malas. Tidak ada semangat sama sekali. Mungkin karena dia sedang marahan dengan Alkha.
"Hai, tumben lemes amat?" tanya Reska yang baru juga datang.
"Kak, apa gue salah kalau gue menyarakan kak Alkha untuk menerima kenyataan kalau istrinya sudah meninggal?" tanya Ara dengan lemas.
"Enggak sih, emang kenapa?" tanya Reska balik.
"Dia kayaknya marah sama gue karena hal itu." jawab Ara sembari duduk di lobby. Dia terlalu malas untuk bekerja hari itu.
Reska juga mengikuti Ara duduk di lobby bersama Ara. Dia merasa kasihan melihat Ara yang tak bersemangat, seperti biasanya. Reska juga tahu betul bagaimana rasanya diposisi Ara saat ini. Karena dia juga sering di diamkan oleh Alkha, karena masalah yang sama.
"Mungkin Alkha masih belum bisa lupain Adela, karena mereka kan udah lama pacaran, meskipun menikah baru beberapa bulan. Mungkin Alkha masih kaget dengan kepergiaan Adela yang begitu mendadak."
"Kamu beneran suka sama Alkha?" tanya Reska kepada Ara.
Seketika Ara mengangkat kepalanya yang sebelumnya bersender di kursi yang ada di lobby. Ara menatap Reska yang melihat dengan ekspresi serius.
"Gue belum pernah ngerasain perasaan kayak gini sebelumnya." jawab Ara masih belum ada semangat.
"Boleh jujur nggak?"
"Harus jujur dong.."
"Kamu itu mirip seperti Adela, istrinya Alkha. Mungkin karena itu juga Alkha baik banget ke kamu, bukanya apa-apa ya, karena setelah Adela meninggal, Alkha jadi dingin banget kepada semua orang, terutama wanita. Tapi beda sama kamu, dia bahkan bisa selalu mengalah sama kamu. Mungkin dia melihat Adela di diri kamu, cuman bedanya Adela lebih dewasa dari kamu." Dari penjelasan Reska itu akhirnya dia tahu kenapa Alkha selalu memintanya untuk melupakan Alkha, tapi masih sangat baik ke dia.
Tentu saja itu semakin membuat Ara tidak mau menyerah untuk cintanya. Meskipun dia keberatan jika seandainya Alkha menerimanya karena dia mirip mendiang istrinya.
"Menurut lo, gue bisa nggak buat dia jatuh cinta sama gue?" tanya Ara meminta pendapat Reska.
"Nggak tahu juga sih, Alkha tuh suka wanita yang dewasa." jawab Reska ambigu.
"Gue bakal takhlukin kedinginannya dengan keceriaan gue.." Ara sangat percaya diri dengan dirinya sendiri.
"Aku suka sama semangat kamu, aku harap kamu bisa buat Alkha kembali merasakan indahnya jatuh cinta, dan melihat bahwa hidup ini sangatlah indah." Reska percaya, suatu saat Ara akan bisa membuat Alkha kembali merasakan cinta. Karena Reska melihat beberapa hari setelah perkenalannya dengan Ara, Alkha sering terlihat tersenyum dan bahagia.
"Aku akan dukung kamu sepenuhnya.." imbuh Reska menyemangati Ara.