⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 5: Jiwa yang Bertaut
Keheningan yang mencekam masih menggantung di udara Balai Utama Kediaman Shen. Sensasi ketegangan akibat kata-kata penuh tantangan dari Shen Yue modern seakan membekukan aliran waktu.
Namun, tubuh porselen milik putri sulung Jenderal Shen itu ternyata memiliki batas ketahanan fisik yang sangat rentan.
Beban transmigrasi jiwa yang begitu mendadak, beradu dengan trauma fisik akibat penyiksaan halus korset ketat serta kelelahan ekstrem, mendadak memicu reaksi balik pada saraf tubuhnya.
Deg!
Pandangan mata Shen Yue yang tadinya tajam bagaikan sebilah pedang mendadak kabur. Rasa pusing yang dahsyat menghantam bagian belakang kepalanya secara bertubi-tubi.
Api keberanian di matanya mendadak redup, tergantikan oleh gelombang kegelapan yang datang menyerbu tanpa kompromi.
"Ugh..." ringis Shen Yue pelan.
Kaki tegapnya melonggar dan kehilangan pijakan. Tubuh ramping yang terbalut gaun sutra mewah itu terhuyung ke belakang, dan ambruk secara mendadak.
"Yue-er!"
Jenderal Shen Longwei yang berdiri paling dekat dengannya bereaksi cepat. Sebagai seorang panglima perang yang terlatih dalam hitungan detik di medan tempur, refleks tubuhnya bekerja instan.
Tangan kekar sang jenderal terulur dan menangkap tubuh ramping putrinya tepat sebelum kepalanya membentur lantai kayu jati yang keras.
Shen Longwei mendekap tubuh ringkih itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan betapa ringannya tubuh putri sulungnya. Begitu dingin dan tanpa daya.
"Yue-er! Buka matamu!" panggil Shen Longwei dengan nada suara yang bercampur antara panik dan dorongan penyesalan yang mendalam.
Di sisi lain meja utama, Zhao Xiao tetap berdiri tegap. Matanya memicing tajam menatap tubuh gadis yang kini tak sadarkan diri di pangkuan sang jenderal.
Binar ketertarikan yang baru saja menyala di dadanya mendadak tertutup oleh tabir misteri. Apakah perubahan sikapnya tadi hanya cetusan keputusasaan terakhir sebelum ambruk? Atau ada hal lain yang tersembunyi?
Jiang Xiuwei berpura-pura panik, kemudian melangkah maju sambil mengusap dadanya. "Astaga! Suamiku, cepat bawa dia ke kamar! Panggil tabib terbaik! Sudah aku katakan, fisik Yue-er belakangan ini sangat lemah, tapi dia memaksa ingin menyambut Yang Mulia!"
"Cukup, Xiuwei!" bentak Shen Longwei hingga membuat wanita itu bungkam seketika. Sang Jenderal menatap para pelayan dengan mata merah penuh amarah. "Angkat putriku ke kediaman belakang sekarang juga!"
Empat pelayan wanita berlarian dengan wajah pucat pasi, lalu mengusung tubuh Shen Yue keluar dari Balai Utama menuju kamarnya yang dingin.
Sementara tubuh fisiknya terbaring kaku di atas tempat tidur berukir, jiwa Shen Yue modern mendadak terlempar ke sebuah ruang hampa yang aneh.
Tidak ada cahaya lentera, tidak ada lantai porselen, dan tidak ada aroma dupa cendana. Di sekelilingnya hanyalah hamparan kabut putih yang tak bertepi, melayang tanpa bobot di antara batasan antara hidup dan mati.
"Di mana aku?" batin Shen Yue modern sambil menoleh ke sekeliling.
Tiba-tiba, dari balik gulungan kabut putih tebal, muncul sebuah bayangan sosok wanita. Wanita itu mengenakan gaun putih polos yang berkibar ditiup angin gaib.
Wajahnya sangat identik dengan wajah Shen Yue, namun penampilannya jauh lebih ringkih, pucat, dan matanya dipenuhi oleh lelehan air mata kebingungan dan penderitaan.
Itu adalah jiwa Shen Yue asli, pemilik tubuh era kerajaan ini.
Kedua jiwa itu kini berdiri berhadapan di alam mimpi bawah sadar.
"Kau... kau adalah aku?" tanya Shen Yue modern, lalu melangkah mendekati sosok samar di depannya.
Gadis bergaun putih itu menyatukan kedua tangannya di depan dada, dan berlutut perlahan di hadapan Shen Yue modern. Suaranya terdengar seperti bisikan angin yang pilu dan merintih:
"Tolong... tolong aku..." rintih jiwa Shen Yue asli. "Aku tidak sanggup lagi... Dunia ini terlalu kejam untukku. Rumah ini bukan rumahku, dan pernikahan itu hanya akan menjadi kuburanku..."
Shen Yue modern pun ikut berlutut, dan mencoba meraih jemari gadis tersebut. "Siapa yang melakukan ini padamu? Ibu tirimu? Ayahmu?"
Jiwa Shen Yue asli menggeleng lemah, air matanya menetes bagaikan mutiara jernih yang hilang di udara. "Semua orang... Mereka hanya menginginkan posisiku, darahku, dan penurutku. Aku sudah menyerah... Tubuhku sudah tidak sanggup menampung derita ini lagi. Tapi..."
Gadis itu mendongak, dan menatap Shen Yue modern dengan tatapan memohon.
"Jika kau yang ditakdirkan mengisi wadahku... tolong, jangan biarkan mereka menghancurkan kita lagi. Balaskan rasa sakitku... Rebut kembali kebebasan yang tidak pernah bisa kurasakan..."
"Tunggu! Jangan pergi dulu! Jelaskan lebih banyak tentang istana ini!" seru Shen Yue modern saat melihat sosok jiwa asli itu perlahan-lahan mulai memudar dan terurai menjadi serpihan cahaya.
"Tolong... hiduplah untuk kita berdua..."
Ssshhhh!
Bayangan itu lenyap seketika, terdispersi oleh tiupan angin kabut yang kencang. Shen Yue modern berteriak memanggil, namun ruang hampa itu mendadak runtuh, dan menariknya kembali ke dalam kegelapan yang sangat pekat dan berat.
Jiwanya terkunci di dalam tubuh fisik yang mati rasa.
Sementara itu, kembali ke Balai Utama Kediaman Shen.
Pembersihan sisa-sisa pecahan cangkir akibat insiden tadi telah selesai dilakukan. Suasana pun kembali tenang secara dipaksakan.
Jenderal Shen Longwei kembali duduk di mejanya setelah memastikan putrinya diurus oleh Tabib Kediaman.
Zhao Xiao menyesap tehnya yang sudah agak dingin. Wajahnya kembali pada topeng semula: dingin, angkuh, dan penuh kalkulasi politik. Insiden pingsannya calon putri mahkota seolah tidak pernah terjadi bagi dirinya.
"Jenderal Shen," ujar Zhao Xiao membuka suara, suaranya jernih dan datar. "Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai penempatan divisi kavaleri di jalur perbatasan utara. Ketiadaan logistik yang memadai bisa diatasi jika pasokan gandum dari provinsi barat berhasil dialihkan sebelum musim dingin."
Jenderal Shen Longwei menarik napasnya dalam-dalam. Sebagai seorang ayah, hatinya diliputi kecemasan atas kondisi putrinya yang tak berdaya.
Namun sebagai seorang Panglima Perang dan Kepala Klan Shen, ia tidak memiliki kemewahan untuk menunda urusan negara di hadapan calon penguasa kerajaan.
"Baik, Yang Mulia," jawab Shen Longwei, memadamkan emosi pribadinya dan kembali menunjukkan aura yang tegas. "Divisi kavaleri ketiga sudah siap ditempatkan di celah pegunungan. Namun, kami membutuhkan dekrit resmi dari Istana untuk memegang kendali atas benteng pertahanan."
"Dekrit itu akan diterbitkan besok pagi," balas Zhao Xiao tenang. "Mengenai pernikahan politik kita... tanggal yang ditentukan oleh Dewan Istana tidak akan berubah. Tiga bulan dari sekarang, setelah kampanye militer utara selesai."
Jiang Xiuwei yang duduk sedikit di belakang tersenyum puas di balik sapu tangannya. "Bagus. Pingsan atau matinya gadis sialan itu tidak menggoyahkan rencana pernikahan ini sama sekali. Posisi keluargaku di istana tetap aman."
Diskusi politik berlanjut hingga larut malam. Tidak ada satu pun kata dari Zhao Xiao maupun Shen Longwei yang kembali menanyakan kondisi Shen Yue yang terbaring kritis di kamar belakang.
Bagi lingkaran kekuasaan tertinggi ini, individu hanyalah instrumen kecil dalam roda besar politik kerajaan.
_______
Dua hari telah berlalu....
Kabar mengenai putri sulung Jenderal Shen yang mendadak pingsan dan tak bangun-bangun mulai menyebar di kalangan para pelayan kediaman.
Di dalam kamar yang luas namun sepi di paviliun barat, tubuh Shen Yue terbaring kaku di atas tempat tidur kelambu. Kulitnya pucat bagaikan porselen dingin, dan dadanya naik turun dengan sangat pelan, bahkan hampir tak berhembus sama sekali.
Tabib Kediaman yang dipanggil berulang kali hanya bisa menggelengkan kepala.
"Nyonya Besar," ujar Tabib tua itu pada Jiang Xiuwei yang berdiri di ambang pintu bersama dua pelayan kepercayaannya. "Nadi Nona Sulung sangat lemah dan tidak menentu. Sepanjang ingatan hamba, tidak ada racun atau penyakit dalam yang terdeteksi. Namun jiwanya... seolah tidak berada di dalam tubuh ini lagi. Jika sampai malam nanti beliau tidak terbangun, hamba takut..."
Jiang Xiuwei mengibaskan tangannya, mengisyaratkan tabib itu untuk keluar. Setelah pintu ditutup rapat, raut wajah berpura-pura cemas di wajah Jiang Xiuwei berganti menjadi senyuman sinis.
"Biarkan saja dia seperti itu," bisik Jiang Xiuwei pada pelayan kepercayaannya. "Jika dia mati, kita tinggal mengatakan pada Istana bahwa dia meninggal karena penyakit bawaan. Aku masih bisa mencalonkan putri kandungku untuk menggantikan posisinya sebagai calon Putri Mahkota."
Namun, di dalam kegelapan pikiran Shen Yue modern yang terbelenggu selama dua hari... integrasi antara dua jiwa dan memori kuno serta pengetahuan modern telah mencapai puncaknya.
Sel-sel tubuh yang mati rasa mulai dibakar oleh energi baru. Jiwa sang petarung modern telah sepenuhnya mengambil alih kendali atas wadah ini.
Bruk!
Jemari tangan Shen Yue yang terbaring kaku di atas ranjang mendadak bergerak, dan mencengkeram kain seprai berbahan sutra. Kelopak matanya terbuka lebar secara drastis, menyingkap sepasang mata yang berkilat bagaikan mata elang di tengah kegelapan malam.
Bersambung...