"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Aku kembali mendorong belanjaanku ke toko, aku tidak tahu kapan Mas Aga kembali, mana sudah siang dan perutku mulai keroncongan.
Hatiku merana, tubuhku sengsara. Di saat seperti ini, aku ingin sekali pulang ke kampung, menyandarkan kepala ini ke bahu Ibuku yang masih nampak muda di usianya.
"Aku rindu ibu"
Tak terasa air mata ini jatuh, namun aku melihat ada sebuah tangan yang menangkap air mataku. Aku mendongak menatap lelaki itu.
"Dewa?"
"Jangan menangis"
Dewa langsung memeluk tubuh ku, rasa hangat tubuh pria itu menjalar ke tubuhku, membuat hati yang dingin ini sedikit menghangat, aku memang sedang membutuhkan pelukan ini.
Aku makin kencang menangis di pelukan Dewa, aku yakin kemeja basah dengan air mataku.
"Menangislah sampai hati mu lega"
Entah berapa lama aku memeluk Dewa, mungkin lebih dari lima belas menit, kakiku sampai kram karena terus berdiri.
Aku mengurai pelukan itu saat perut ku tiba-tiba berbunyi di waktu yang tidak tepat. Aku jadi malu sendiri pada Dewa. Tadi pagi aku hanya sarapan sedikit, setelah belanja kilat tadi, itu cukup menguras tenaga, jadi perut ini makin tidak bisa di ajak kompromi.
"Mana suami kamu?" Tanya Dewa sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Dia pergi"
Aku tahu pasti dewa berfikir negatif tentang mas Aga, di dalam saja dia sempat mencari keberadaan suamiku yang tidak ada di sampingku. Apalagi sekarang, dia pasti mengira mas Aga tidak perduli padaku.
Aku cepat-cepat mencari alasan agar Dewa tidak berprasangka buruk pada suamiku, bagaimana pun juga dia adalah imamku, aku tidak bisa sembarangan membuat orang lain tahu aibnya. Meski aku sangat ingin sekali bercerita tentang keadaan ku pada orang lain.
"Suamiku seorang Letnan, dia selalu ada tugas mendadak, jadi dia meminta ku naik kendaraan online saja"
Dewa nampak manggut-manggut, aku tidak tahu dia percaya atau tidak padaku, aku tahu IQ nya sangat tinggi, dia sangat pintar. Meski tahu dia masih agak curiga, namun aku tidak mau mencari alasan lagi, dia bisa benar-benar tahu keadaan keluarga kami jika aku terus berusaha menyembunyikan resah ku.
"Kalau begitu aku antar saja"
"Apa tidak repot?"
"Tentu tidak, kamu sudah lupa dengan janji persahabatan kita? Kita ini saudara yang tidak akan terpisah"
Aku tersenyum, dia masih ingat kata-kata itu, hari-hari ku begitu berwarna sejak bersama Dewa dulu, kami selalu saling mendukung.
"Ayo"
Dewa mengambil alih keranjang belanjaan ku ke mobilnya. Tidak ku sangka sama sekali, ternyata mobilnya Alphard. Ku kira dulu saat di sekolah dia selalu di kucilkan karena dia anak orang miskin seperti aku, ternyata dugaan ku salah. Meski kami dekat di kelas, kami sama sekali tidak pernah berhubungan di luar sekolah, pulang sekolah aku selalu sibuk bekerja, jadi tidak punya banyak waktu untuk sekedar bermain atau ke tempat teman. Hanya Dewa satu-satunya teman ku saat itu.
"Kamu pakai mobil ini?" Tanyaku penasaran.
"Ini mobil ibu, kebetulan mobilku masih ada di bengkel, kemarin baru di servis belum sempat ku ambil"
Aku mengagguk pelan, dia punya lebih dari satu mobil? Sepertinya dia bukan orang biasa.
"Ayo aku antar pulang"
Aku agak ragu, jika aku pulang sekarang Mas Aga pasti marah, Ibu pasti curiga karena aku pulang sendirian. Tapi bagaimana bilangnya ke Dewa? Apa aku tunggu dia di sini saja ya? Tapi akan bosan sekali di sini, mana panas juga.
"Bisa antar aku ke sebuah tempat saja?" Tawar ku pada Dewa.
"Ke manapun kamu minta, akan aku antar"
Aku langsung bersemangat, ada satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi di Jakarta.
"Kalau begitu boleh bawa aku ke Monas?"
"Monas?"
Aku mengagguk cepat, dia seperti keheranan karena aku justru mengajak nya ke sana. Sejak dulu aku penasaran ingin ke sana. Selfie di tempat itu.
Tapi aku selalu sibuk di toko yang hampir tidak pernah ada liburnya. Karena dulu kami butuh biaya untuk Mas Aga, jadi Ibu mati-matian mencari uang dan tak pernah beristirahat. Sejak ayah Mas Aga meninggal, semua beban rumah Ibu yang menanggung, jadi aku ikut membantunya bekerja tanpa henti.
"Memang kamu belum pernah ke Monas?"
Aku hanya bisa tersenyum kecil, dan menggeleng pelan, aku tahu apa yang di pikirkan Dewa, dia pasti tengah memikirkan hubungan ku dengan suamiku, tapi mau bagaimana lagi? aku memang belum pernah ke sana. Mas Aga mana mau mengajakku ke sana? aku juga jarang punya waktu luang. Aku memang sering lewat tapi jarang masuk dan melihat langsung. Aku juga ingin melihat Jakarta dari puncak Monas. Dari dulu aku selalu penasaran ingin melihatnya.
"Kalau tidak mau tidak apa-apa, aku di sini saja"
"Bukannya tidak mau Rin, kamu nggak di cariin suami kamu?"
Aku menunduk antara ingin berterus terang atau menutupinya. Jujur aku butuh seseorang untuk berbagi, tapi aku tidak mau membuat nama suami ku buruk. Apalagi dia seorang abdi negara.
"Dia tengah bertugas, jadi tidak apa-apa, nanti aku izin padanya"
"Baiklah kalau begitu, Ayo!"
Aku senang sekali Dewa mengiyakan ke inginan ku. Aku bergegas masuk ke mobilnya. Jujur ini pertama kalinya aku baik mobil sebagus ini.
"Mau makan dulu?"
Aku menggeleng, aku mengambil dua kue kecil dari dalam tas ku, memberikan salah satu kue itu ke Dewa.
"Kamu mau? Ini kue buatan ku sendiri"
Dewa menatapku saat memberikan kue itu, entah tatapan apa itu, yang pasti detak jantung ku jadi tidak normal, aku tidak pernah di tatap sedalam ini oleh suami ku sendiri, di tatap seperti ini pasti membuat hati tidak nyaman.
"Kenapa? Kamu tidak mau?"
"Bisa menyuapiku? Aku sedang menyetir"
"Ohhh baiklah"
Dengan perasaan canggung aku menyuapi Dewa, sesekali aku juga ikut makan. Aku selalu ingin seperti ini dengan Mas Aga, saling suapan, tapi aku tidak pernah bisa.
Saat aku ingin menyuapi Dewa lagi, aku lupa kalau kami makan dari sendok yang sama.
"Sebentar aku ganti sendok nya"
Di dalam kue itu memang sengaja aku beri sendok plastik, aku berniat memberikan kue ini pada mas Aga, tapi ternyata dia pergi.
"Pakai sendok satu saja tidak apa-apa"
Aku tersenyum dan kembali menyuapi Dewa. Andai saja sikap Mas Aga sebaik dan se ramah Dewa.
Aku menggeleng cepat, bagaimana bisa aku membandingkan mas Aga dengan Dewa? mereka jelas orang yang berbeda.
"Oh ya, kenapa kamu bisa kurus begini wa? kamu diet?"
"Tidak, aku hanya tidak berselera makan karena memikirkan seseorang"
"Memikirkan seseorang? pasti dia sangat istimewa"
"Tentu saja, tapi sayang sekali dia sudah jadi milik orang"
"Yang sabar ya? Aku yakin suatu saat nanti, kamu pasti menemukan seseorang yang lebih baik dari orang itu, kamu pasti akan bahagia dengan orang itu"
Ucapku sok menasehati, padahal hidupku sendiri saja tidak bahagia.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...