NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — Sehari Sebelum Janji itu

Gaun yang tergantung di dekat lemari menjadi benda pertama yang menarik perhatian Alisha ketika dia memasuki kamar.

Gaun itu sudah disiapkan untuk dikenakan pada hari pernikahannya. Di sampingnya, terdapat sebuah kotak berisi aksesori dan beberapa barang yang akan dibutuhkan untuk acara tersebut.

Alisha berdiri cukup lama di depan lemari.

Besok, dia akan menikah.

Pikiran itu masih terasa asing, meskipun seluruh persiapan telah berjalan selama beberapa waktu.

Dia mengalihkan pandangan ke meja, tempat ponselnya bergetar karena sebuah panggilan masuk.

Nama Daniel muncul di layar.

"Halo, Pak Daniel?"

"Selamat pagi, Nona Alisha. Saya ingin memastikan bahwa semua persiapan dari pihak Anda sudah siap."

"Sejauh ini sudah, Pak. Saya sedang memeriksa barang-barang yang perlu dibawa besok."

"Baik. Untuk jadwal besok, Anda akan dijemput sesuai waktu yang sudah kita sepakati. Saya akan mengirimkan kembali rinciannya supaya tidak ada yang terlewat."

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama. Jika ada kesulitan, silakan hubungi saya."

Setelah panggilan berakhir, Alisha membuka pesan yang dikirim Daniel dan membaca jadwalnya sekali lagi.

Semuanya sudah tertulis dengan jelas.

Dia tidak perlu mengurus banyak hal sendirian karena Daniel telah membantu mengatur sebagian besar kebutuhan administratif dan koordinasi acara.

Namun, tetap saja, ada rasa gugup yang sulit dihilangkan.

Alisha duduk di tepi tempat tidur, lalu mengambil napas panjang.

Dia tidak tahu apakah dirinya benar-benar siap menjadi seorang istri.

Selama ini, kehidupannya hanya berputar di sekitar pekerjaan dan ibunya. Dia terbiasa membuat keputusan sendiri, mengatur penghasilannya, serta memikirkan cara agar kebutuhan ibunya tetap terpenuhi.

Besok, sebagian dari kehidupannya akan berubah.

Dia akan tinggal bersama seorang laki-laki yang belum benar-benar dikenalnya.

Seorang laki-laki yang selama ini lebih sering berbicara seperlunya dan tampak tidak memiliki banyak waktu untuk urusan pribadi.

Namun, Alisha tidak ingin membiarkan kecemasannya membuatnya kehilangan ketenangan.

Dia sudah mengambil keputusan.

Sekarang, dia hanya perlu menjalani hari esok dengan sebaik-baiknya.

---

Sebelum melanjutkan persiapan, Alisha memutuskan untuk mengunjungi ibunya di rumah sakit.

Dia ingin menghabiskan waktu bersama Ratih sebelum hari pernikahannya tiba.

Ketika Alisha memasuki kamar, Ratih sedang duduk bersandar sambil berbicara dengan seorang perawat. Setelah perawat itu selesai memeriksa kondisinya, Alisha mendekat dan meletakkan tas di kursi.

"Bu, bagaimana keadaan Ibu hari ini?"

Ratih tersenyum.

"Baik, Nak. Kamu sendiri bagaimana? Persiapannya sudah selesai?"

"Hampir semuanya, Bu."

Alisha menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Ratih memperhatikan wajah putrinya. Dia melihat bahwa Alisha berusaha terlihat tenang, tetapi ada sedikit kegugupan yang tidak bisa disembunyikan.

"Kamu gugup?" tanyanya.

Alisha tersenyum malu.

"Sedikit."

"Itu wajar. Besok kamu akan menjalani hari yang berbeda."

Alisha menunduk sambil merapikan ujung lengan bajunya.

"Iya, Bu."

Ratih menggenggam tangannya.

"Alisha, Ibu ingin kamu mengingat satu hal."

"Apa, Bu?"

"Setelah menikah, jangan merasa bahwa kamu harus selalu mengalah hanya karena ingin menjaga hubungan tetap baik. Kamu tetap boleh menyampaikan pendapatmu. Kamu juga tetap berhak dihargai."

Alisha menatap ibunya.

"Aku akan mengingatnya."

Ratih mengusap tangan putrinya dengan lembut.

"Ibu memang berharap kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tetapi Ibu tidak ingin kamu mengorbankan seluruh kebahagiaanmu demi orang lain."

Alisha terdiam.

Dia tahu ibunya selalu memikirkan dirinya, bahkan ketika sedang menghadapi masalah kesehatan sendiri.

"Bu, aku hanya ingin semuanya berjalan baik," jawabnya pelan. "Aku akan berusaha menjalani kehidupan baruku dengan sebaik mungkin."

Ratih mengangguk.

"Ibu percaya kamu bisa."

Alisha kemudian tersenyum dan mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih ringan. Dia menceritakan beberapa persiapan yang telah selesai dan menanyakan apakah ibunya membutuhkan sesuatu.

Selama berada di kamar itu, Alisha berusaha menikmati setiap menit yang tersedia.

Dia tidak ingin terlalu memikirkan hari esok hingga melupakan waktu yang bisa dihabiskannya bersama ibunya.

Ketika akhirnya harus berpamitan, Alisha menggenggam tangan Ratih sekali lagi.

"Besok aku akan menghubungi Ibu, ya."

"Tentu, Nak. Hati-hati."

Alisha mengangguk sebelum meninggalkan kamar.

Di lorong rumah sakit, dia berhenti sejenak untuk mengatur napas.

Besok akan menjadi hari yang penting.

Namun, ibunya tetap menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya.

Apa pun yang terjadi setelah pernikahan, Alisha tidak ingin melupakan hal itu.

---

Di kantor Mahendra Group, Adrian sedang menyelesaikan beberapa urusan yang harus dituntaskan sebelum mengambil waktu untuk menghadiri pernikahannya sendiri.

Sebuah rapat yang semula dijadwalkan berlangsung singkat ternyata memakan waktu lebih lama. Beberapa keputusan mengenai rencana perusahaan harus dibahas secara terperinci sebelum disetujui.

Adrian duduk di ujung meja dengan ekspresi serius.

"Saya ingin laporan revisinya selesai sebelum dikirim kepada klien," katanya.

Salah satu kepala divisi mengangguk.

"Baik, Pak Adrian."

"Pastikan tidak ada angka yang keliru. Saya tidak ingin masalah yang sebenarnya bisa dicegah justru muncul setelah laporan dikirim."

"Dimengerti, Pak."

Rapat berlanjut selama beberapa menit sebelum akhirnya selesai.

Ketika semua peserta keluar, Daniel tetap berada di ruangan untuk menyampaikan beberapa informasi.

"Pak, semua persiapan pernikahan sudah dikonfirmasi. Keluarga Anda juga sudah menerima jadwal terakhir."

Adrian mengangguk sambil merapikan dokumen.

"Bagus."

"Besok saya akan memastikan seluruh koordinasi berjalan sesuai rencana."

"Baik. Jika ada masalah administratif, selesaikan segera. Jangan menunggu sampai masalahnya membesar."

"Tentu, Pak."

Daniel melirik jam tangannya.

"Apakah ada pekerjaan lain yang ingin Anda selesaikan hari ini?"

Adrian membuka agenda di tabletnya.

"Ada beberapa dokumen yang perlu saya periksa. Setelah itu, saya akan menyelesaikan pekerjaan yang bisa ditangani dari rumah."

"Baik, Pak."

Daniel tidak langsung meninggalkan ruangan.

Dia tahu Adrian tidak terlalu menyukai pembicaraan panjang tentang pernikahan. Namun, sebagai asisten pribadinya, dia tetap perlu memastikan bahwa atasannya memahami jadwal yang akan dijalani.

"Pak, besok Anda perlu menyediakan waktu sesuai jadwal acara. Saya akan mengatur agar pekerjaan yang tidak mendesak tidak mengganggu."

Adrian menatapnya.

"Saya tahu, Daniel. Saya akan mengikuti jadwalnya."

"Baik, Pak."

Setelah Daniel pergi, Adrian kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Tidak ada kegembiraan berlebihan yang terlihat pada wajahnya.

Tidak ada pula kecemasan yang dia tunjukkan kepada orang lain.

Bagi Adrian, pernikahan itu merupakan keputusan yang sudah diambil. Dia tidak berniat menghindarinya, tetapi dia juga tidak ingin menjadikan acara tersebut sebagai alasan untuk mengabaikan tanggung jawabnya.

Dia akan menikah besok.

Dan setelah itu, dia tetap harus kembali bekerja.

Setidaknya, begitulah yang ada dalam pikirannya saat ini.

---

Sementara Adrian berkutat dengan urusan perusahaan, Ratna Mahendra sedang memastikan bahwa semua kebutuhan acara telah disiapkan.

Dia memeriksa kembali beberapa catatan bersama Hendrik, lalu menghubungi pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara.

"Untuk bagian ini sudah dipastikan?" tanyanya.

"Sudah, Bu," jawab orang yang berada di seberang telepon.

"Baik. Tolong pastikan semuanya sesuai jadwal."

Setelah menutup telepon, Ratna meletakkan ponselnya di atas meja.

Hendrik yang duduk di dekatnya memperhatikan istrinya.

"Kamu sudah memeriksa semuanya beberapa kali."

Ratna menghela napas.

"Saya hanya ingin acara besok berjalan lancar."

"Semuanya sudah diatur dengan baik."

Ratna mengangguk, tetapi pikirannya masih tertuju pada Adrian.

"Yang membuat saya lebih khawatir sebenarnya bukan acaranya."

Hendrik memahami maksud istrinya.

"Kamu khawatir Adrian akan tetap terlalu sibuk setelah menikah?"

Ratna mengangguk.

"Alisha gadis yang sederhana. Dia tidak meminta banyak hal. Saya hanya tidak ingin dia merasa bahwa dirinya tidak dianggap penting."

Hendrik terdiam sejenak.

"Adrian mungkin tidak pandai menunjukkan perhatian. Tetapi dia memahami tanggung jawabnya."

"Saya berharap begitu."

Ratna mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk dari Daniel. Semua persiapan telah dikonfirmasi, dan tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.

Dia menghela napas lega.

Setidaknya, untuk hari esok, semuanya sudah dipersiapkan.

Mengenai kehidupan setelah pernikahan, Ratna tahu tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan berjalan sempurna.

Dia hanya berharap putranya belajar memberikan ruang bagi orang lain dalam kehidupannya.

---

Menjelang sore, Adrian akhirnya meninggalkan kantor setelah memastikan beberapa pekerjaan penting telah selesai.

Daniel mengantarnya sampai ke lobi sebelum kembali untuk menyelesaikan urusan lainnya.

"Besok saya akan datang sesuai jadwal, Pak," ujar Daniel.

Adrian mengangguk.

"Pastikan semuanya siap."

"Baik, Pak."

Adrian masuk ke mobilnya dan meminta sopir mengantarnya pulang.

Sepanjang perjalanan, dia memeriksa beberapa pesan yang belum sempat dibalas. Sebagian besar berkaitan dengan pekerjaan, dan dia segera memberikan jawaban yang diperlukan.

Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Adrian menyimpan ponselnya dan turun.

Ratna yang sedang berada di ruang keluarga menoleh ketika mendengar langkah putranya.

"Kamu sudah pulang."

"Iya, Ma."

"Besok kamu harus beristirahat cukup. Jangan sampai datang ke acara dalam keadaan terlalu lelah."

Adrian meletakkan tas kerjanya.

"Saya baik-baik saja."

Ratna menggeleng kecil.

"Kamu selalu mengatakan itu."

Adrian tidak menjawab.

Ratna kemudian mempersilakannya duduk.

"Adrian, Mama tidak akan meminta kamu melakukan sesuatu yang berlebihan. Mama hanya ingin kamu memahami bahwa setelah menikah nanti, ada orang lain yang akan tinggal bersamamu."

Adrian menatap ibunya.

"Saya mengerti, Ma."

"Mama berharap kamu bisa bersikap baik kepadanya."

"Saya akan memperlakukannya dengan baik."

Ratna memperhatikan wajah putranya, mencoba memastikan bahwa Adrian benar-benar memahami perkataannya.

Namun, dia tidak melanjutkan pembicaraan.

Dia tahu memaksa Adrian untuk berbicara lebih banyak tidak akan menghasilkan apa-apa.

"Baiklah. Kalau begitu, istirahatlah. Besok hari yang penting."

Adrian mengangguk, lalu membawa tasnya menuju ruang kerja.

Dia masih perlu memeriksa satu dokumen sebelum benar-benar beristirahat.

Ratna hanya bisa memandang punggung putranya dengan perasaan campur aduk.

Dia berharap hari esok menjadi awal yang baik bagi keduanya.

---

Di rumahnya, Alisha baru saja selesai mandi ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Daniel muncul di layar, berisi pengingat mengenai waktu keberangkatan dan beberapa hal yang perlu dibawanya.

Alisha membaca semuanya dengan saksama, lalu membalas bahwa dia sudah memahami jadwal tersebut.

Setelah itu, dia kembali memeriksa pakaian yang akan dikenakannya.

Dia tidak ingin ada sesuatu yang tertinggal.

Ketika semuanya sudah siap, Alisha duduk di depan meja kecil dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya terlihat sedikit lelah setelah beberapa hari disibukkan oleh berbagai urusan.

Namun, dia berusaha tersenyum.

Besok, dia akan menikah.

Dia akan menjadi istri Adrian Mahendra, seorang laki-laki yang selama ini lebih sering dia temui dalam percakapan singkat dan pembahasan administratif.

Alisha belum tahu seperti apa kehidupan mereka setelah menikah.

Dia juga tidak tahu apakah Adrian akan terus menjaga jarak atau perlahan mulai mengenalnya.

Namun, dia tidak ingin berharap terlalu banyak.

Selama Adrian memperlakukannya dengan baik dan menghormati kesepakatan mereka, Alisha akan berusaha menjalani pernikahan tersebut dengan tenang.

Dia tidak membutuhkan janji cinta yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Untuk saat ini, ada hal yang lebih penting baginya.

Dia ingin ibunya pulih.

Dia ingin tetap bekerja.

Dan dia ingin menjalani kehidupannya tanpa harus terus-menerus merasa takut akan masa depan.

Alisha mengambil ponselnya, lalu membuka percakapan dengan ibunya.

Dia mengetik sebuah pesan singkat.

Alisha: Bu, jangan lupa istirahat, ya. Besok aku akan menghubungi Ibu lagi. Aku sayang Ibu.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

Ratih: Ibu juga sayang kamu, Nak. Jangan terlalu banyak pikiran. Istirahatlah supaya besok kamu sehat.

Alisha tersenyum ketika membaca pesan itu.

Dia meletakkan ponselnya di meja, kemudian mematikan lampu utama kamar.

Sebelum berbaring, dia memandang gaun yang tergantung di dekat lemari untuk terakhir kalinya.

Besok, gaun itu akan dikenakannya pada hari yang akan mengubah status kehidupannya.

Alisha menarik selimut dan memejamkan mata.

Dia berusaha menenangkan pikirannya, meskipun masih ada sedikit kegugupan yang tersisa.

---

Di kediaman Mahendra, Adrian akhirnya menutup laptop setelah menyelesaikan dokumen terakhir yang perlu diperiksanya.

Dia mematikan lampu ruang kerja, kemudian berjalan menuju kamar.

Ponselnya menunjukkan beberapa pesan masuk dari Daniel mengenai jadwal esok hari.

Adrian membacanya sekilas dan memastikan tidak ada perubahan yang membutuhkan tanggapannya.

Setelah itu, dia meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur.

Besok, dia akan menikah dengan Alisha Amanda.

Dia tidak tahu apakah pernikahan itu akan membawa perubahan besar dalam kehidupannya.

Dia juga tidak mencoba membayangkan bagaimana hubungan mereka akan berkembang.

Baginya, yang terpenting adalah menjalankan keputusan yang sudah diambil dan memastikan tidak ada pihak yang dirugikan.

Adrian mematikan lampu.

Malam itu, dua orang yang akan menikah keesokan harinya beristirahat di tempat yang berbeda dengan pikiran masing-masing.

Alisha berharap kehidupan barunya tidak membuatnya kehilangan kesempatan untuk merawat ibunya dan mempertahankan pekerjaannya.

Adrian berharap pernikahan tersebut berjalan lancar tanpa mengganggu tanggung jawabnya terhadap perusahaan.

Mereka belum memiliki kedekatan yang berarti.

Mereka belum saling mengenal dengan baik.

Namun, waktu untuk terus menunda telah berakhir.

Besok, mereka akan berdiri bersama sebagai pasangan pengantin.

Dan setelah semua ucapan selamat serta rangkaian acara selesai, keduanya harus mulai menghadapi kenyataan bahwa mereka kini terikat dalam sebuah pernikahan.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!