• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Membelah Angin Sore
Deru mesin motor sport 250cc milik Angkasa menderu memecah keheningan area parkir belakang sekolah yang mulai sepi. Seperti biasa, dengan gerakan yang terkesan memaksa namun sangat telaten, Angkasa memasangkan helm full-face hitam matte ke kepala Eca, mengunci tali pengikat di bawah dagunya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menepuk pelan pelindung kaca helm tersebut.
"Naik. Dan jangan coba-coba lepas pegangan kalau lo nggak mau nyium aspal," ujar Angkasa dingin dari balik helmnya sendiri.
Eca mendengus di dalam helm, memegang pundak kokoh Angkasa sebagai tumpuan, lalu menaiki jok belakang motor yang posisinya menungging tinggi. Begitu Eca mapan duduk, Angkasa langsung menarik tuas gasnya tanpa peringatan, membuat motor itu melesat cepat membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan komuter sore hari.
"Aaa! Angkasa, pelan-pelan dong!" jerit Eca spontan. Tubuhnya terdorong keras ke depan akibat gaya sentakan motor, membuat dada dan perutnya menempel sempurna pada punggung tegap Angkasa. Kedua tangan Eca refleks melingkar erat di pinggang cowok itu, mencengkeram erat kemeja putih seragam Angkasa karena takut terpental.
Di balik kaca helmnya yang gelap, Angkasa tersenyum miring melihat reaksi asisten pribadinya dari kaca spion. Bukannya melambat, Angkasa justru sengaja mempertahankan kecepatannya, menyalip beberapa kendaraan dengan gerakan lincah namun tetap aman.
Jarak yang begitu intim di atas motor sport itu perlahan-lahan mulai mengikis kekesalan Eca. Di tengah deru angin sore yang menerpa wajahnya dan bisingnya suara jalanan raya, Eca terpaksa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari punggung kokoh Angkasa ke sekujur tubuhnya.
Aroma wangi maskulin yang dominan bercampur dengan kesegaran angin sore dari tubuh Angkasa seolah mengepung seluruh inderanya, membuat debar jantung Eca di dalam rongga dadanya mulai berdentum brutal dengan ritme yang semakin tidak beraturan. Sial, kenapa setiap dekat dengan cowok manipulatif ini, pertahanan nya selalu hancur lebur tanpa sisa.
Angkasa membawa Eca berkendara dengan motor sport-nya menjauhi jalur kemacetan kota menuju Bukit Bintang, sebuah dataran tinggi yang menghadap ke pemandangan kota. Di sana, di tengah udara malam yang dingin, Angkasa meminjamkan jaket almamaternya dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan Eca di panti asuhan sebelumnya. Momen tenang ini memperlihatkan sisi lain Angkasa yang lebih lembut dan jujur, jauh dari citranya yang tegas dan ditakuti di sekolah, sehingga meruntuhkan pertahanan Eca dan mengubah perasaan cewek itu secara perlahan.
Motor sport hitam itu terus melesat membelah jalanan kota yang mulai bermandikan cahaya lampu jalanan. Setelah hampir tiga puluh menit terjebak dalam posisi yang membuat jantung Eca bekerja dua kali lebih keras, Angkasa akhirnya memperlambat laju kendaraannya. Namun, alih-alih berbelok ke arah kompleks perumahan Eca atau jalan menuju panti asuhan, Angkasa justru mengarahkan motornya masuk ke sebuah kawasan pertokoan tua yang cukup lengang di sudut kota.
Motor berhenti dengan mulus di depan sebuah bangunan dua lantai bergaya kolonial dengan papan nama kayu bertuliskan “Literasi & Kopi”. Aroma bubuk kopi segar dan wangi kertas tua langsung menyambut indra penciuman begitu deru mesin monster besi itu mati total.
"Turun, Alesya. Kita udah sampai," ucap Angkasa sembari melepas helmnya, membuat rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan jatuh dengan pas di dahinya.
Eca mengerjapkan mata, buru-buru melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Angkasa dengan canggung. Wajahnya dipastikan sudah sekeren tomat matang saat ini. Dia turun dari jok belakang dengan kaki yang sedikit gemetar, lalu buru-buru melepas helmnya sendiri sebelum Angkasa sempat maju untuk membantunya lagi. "Kita... ngapain ke sini? Katanya mau ke lapangan?"
"Di sini tenang. Donatur minta draf pertama laporan visual dikirim sebelum jam tujuh malam. Kalau kita ngerjain di sekolah, anak-anak OSIS yang lain bakal bolak-balik nanya," jawab Angkasa lugas. Cowok itu menyambar tas ranselnya dan langsung melangkah masuk, meninggalkan Eca yang hanya bisa menghela napas pasrah dan mengekor di belakangnya.
Suasana di dalam kafe buku itu sangat hangat. Dinding-dindingnya dipenuhi rak kayu tinggi yang memuat ribuan buku, sementara lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram memberikan kesan magis yang menenangkan. Angkasa memilih meja di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang mulai temaram di bawah langit senja.
"Lo mau minum apa?" tanya Angkasa saat mereka baru saja duduk.
"Cokelat panas aja," jawab Eca pelan. Dia mengeluarkan laptop dan beberapa berkas fisik dari tasnya.
Tanpa banyak bicara, Angkasa berjalan ke meja kasir dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir cokelat panas penuh dengan marshmallow kecil di atasnya, serta secangkir kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri.
"Nih," Angkasa menggeser cangkir tersebut ke hadapan Eca. "Minum dulu sebelum lo mulai protes soal kerjaan."
Eca melirik cangkir itu, lalu menatap Angkasa dengan pandangan menyelidik. "Ketua, lo kesambet apa sih hari ini? Tadi di panti lembut banget sama anak-anak, sekarang malah peka banget beliin gue cokelat panas lengkap pake marshmallow. Lo gak lagi ngerencanain hal buruk buat ngasih gue hukuman tambahan, kan?"
Angkasa menghentikan gerakannya yang sedang membuka laptop. Mata elangnya menatap Eca lurus-lurus, membuat cewek berkacamata itu menahan napas. Perlahan, sudut bibir Angkasa terangkat, membentuk senyuman tipis yang kali ini terlihat sangat jelas. "Gue cuma memperlakukan asisten gue dengan layak, Alesya. Emangnya di mata lo, gue ini sekejam itu?"
"Pake nanya lagi! Seisi SMA Taruna Bangsa juga tahu lo itu diktator bertangan besi!" cibir Eca, meskipun dia tetap meraih cangkir cokelat panas itu dan menyesapnya pelan. Rasa manis dan hangat langsung menyebar di tenggorokannya, perlahan menenangkan debar jantungnya yang sejak tadi belum sepenuhnya normal.
"Itu karena mereka gak tahu bedanya ketegasan dan kekejaman," sahut Angkasa tenang, mulai fokus pada layar laptopnya. "Udah, jangan banyak omong lagi. Bantu gue sortir foto fasilitas panti yang tadi lo ambil."
Selama satu jam berikutnya, suasana di meja sudut itu berubah menjadi sangat produktif. Deru mesin motor di luar berganti dengan ketukan jari di atas papan ketik dan gemerisik lembaran kertas yang dibalik. Eca harus mengakui bahwa bekerja di samping Angkasa secara fokus seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda. Cowok itu sangat cerdas, terstruktur, dan tahu persis apa yang harus dilakukan. Setiap kali Eca merasa bingung menyusun kalimat laporan, Angkasa akan memberikan arahan dengan suara baritonnya yang tenang, tanpa ada nada membentak atau merendahkan.
Tepat pukul 18.45, Angkasa menekan tombol send di laptopnya. Laporan draf pertama resmi dikirim ke pihak yayasan donatur. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah.
"Beres," gumam Angkasa.
Eca merapikan berkas-berkas ke dalam map. "Kalau gitu gue udah boleh pulang, kan? Udah mau jam tujuh malam, Angkasa. Nanti bunda gue nyariin."
Angkasa melirik jam tangan peraknya. "Belum. Ada satu tempat lagi yang harus kita datangi sebelum gue anter lo pulang."
Eca memutar bola matanya jengkel. "Astaga, Angkasa! Kerja paksa ini namanya! Gue mau dibawa ke mana lagi sih?"
"Ikut aja. Gak usah banyak protes," potong Angkasa sambil bangkit berdiri, memakai kembali jaket almamaternya dan menyampirkan tas di bahu.
Mau tidak mau, Eca kembali duduk di belakang jok motor sport Angkasa. Kali ini, rasa canggungnya sudah sedikit berkurang. Ketika mesin motor kembali menderu membelah angin malam yang mulai menusuk tulang, Eca tidak lagi memeluk pinggang Angkasa dengan panik, melainkan memegang jaket cowok itu di bagian pinggang dengan lebih rileks, menjaga jarak aman namun tetap stabil.
Ternyata, Angkasa membawanya ke sebuah pasar malam rakyat yang terletak di pinggiran kota. Tempat itu sangat ramai, dipenuhi lampu beraneka warna, suara musik dari komidi putar, dan aroma berbagai macam jajanan jalanan yang menggugah selera.
"Kita ngapain ke pasar malam?" tanya Eca heran saat mereka berjalan menyusuri deretan stan makanan.
"Tadi Ibu Rahma bilang, anak-anak panti lagi suka banget sama jajanan pasar, terutama kue cubit dan arum manis. Tapi di dekat panti jarang ada yang jual. Karena minggu depan kita mau ke sana lagi buat persiapan dekorasi baksos, gue mau pesen dalam jumlah banyak di sini buat diantar minggu depan," jelas Angkasa sambil matanya mengedar mencari stan yang dituju.
Mendengar alasan itu, hati Eca mendadak menghangat. Cowok di sebelahnya ini, yang selalu memasang wajah datar dan dingin di koridor sekolah, ternyata mengingat detail sekecil itu demi kebahagiaan anak-anak panti asuhan.
Mereka berhenti di sebuah stan kue cubit yang cukup besar. Sementara Angkasa sibuk bernegosiasi dan membayar uang muka kepada penjual untuk pesanan minggu depan, Eca berdiri di sampingnya, memandangi wajah samping Angkasa yang diterpa cahaya lampu hias warna-warni. Garis rahangnya yang tegas tampak sedikit melunak di bawah atmosfer pasar malam yang kasual.
"Nih, buat lo," suara Angkasa memecah lamunan Eca. Cowok itu menyodorkan satu kotak kecil kue cubit setengah matang yang masih mengepulkan asap hangat.
"Eh? Buat gue?"
"Iya. Lo dari tadi siang belum makan nasi, kan? Muka lo udah pucat. Jangan sampai lo pingsan pas gue bonceng, ntar merepotkan," ujar Angkasa dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat, meski matanya memancarkan rasa peduli yang jelas.
Eca tersenyum manis, sesuatu yang jarang dia tunjukkan di depan Angkasa. "Makasih, Ketua Bos." Dia mengambil satu tusuk kue cubit dan memakannya dengan lahap. Rasa manis yang lumer di lidah membuatnya memejamkan mata saking enaknya.