Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Dipaksain
Clara mengerjap kaget, raut wajahnya mendadak berubah pias. Ia buru-buru membuang muka, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang telanjur menyeruak di balik tatapan Teman-temannya.
"Mantan?" cetus Adel dengan nada suara meninggi.
"Clara, demi apa? Jadi ini Niko, mantan lo yang bikin lo nangis seharian?" tanya Stevi, matanya bergantian menatap Clara dan pria berkaus hitam yang tadi menarik jaket Clara, pria yang rupanya bernama Niko.
Clara menggigit bibir bawahnya, salah tingkah. "Udah, Vi. Nggak usah dibahas di sini, malu," bisik Clara tertahan, mencolek lengan Stevi agar temannya itu berhenti menginterogasinya di hadapan orang banyak.
Suasana di jalur pendakian itu mendadak menegang, rombongan Ayara yang tadinya kelelahan kini langsung memasang badan dan berdiri melingkar melindungi Clara.
Di sisi lain, pria berjaket abu-abu gelap yang baru saja menahan tubuh Ayara agar tidak jatuh ke tanah, perlahan menarik tangannya yang tadi sempat menyangga lengan Ayara. Pria bernama Althaf meluruskan postur tubuhnya yang tinggi tegap, lalu melirik sekilas ke arah Niko dengan sorot mata dingin penuh peringatan.
"Ko, sikap lo kekanak-kanakan. Kalau ada urusan pribadi, selesain baik-baik di tempat yang benar, bukan dengan cara norak kayak tadi, sampai narik tangan orang. Hampir aja cewek ini jatuh," tegur Althaf.
"Eh... gue saking senengnya ketemu Clara, jadi nggak mikirin itu. Tapi, ya dia nggak jatuh, kan," balas Niko.
Ayara, yang masih berdiri tak jauh dari Althaf, bisa merasakan aura ketegangan yang menguar di antara kedua pria tersebut. Jantung Ayara yang tadinya berdegup karena kaget, kini beralih menjadi kesal pada sikap Niko yang seolah meremehkan keselamatan orang lain.
Heri yang melihat keributan itu, segera melangkah mendekat dengan wajah tegas. "Hei! Tolong jaga sikap kalian di area pendakian ini, jalur ini bukan tempat buat kalian bikin keributan atau mengganggu kenyamanan pendaki lain. Kalau kalian mau lanjut mendaki, silakan jalan dengan tertib. Kalau tidak, silakan putar balik turun ke basecamp!"
Mendengar teguran keras dari guide berpengalaman itu, teman-teman Niko yang lainnya langsung menarik lengan pria itu agar tidak memperpanjang masalah.
"Udahlah, Ko. Malu dilihatin orang, lagian ceweknya juga udah ogah sama lo," bisik Baim, salah satu temannya.
"Maafin temen gue ya," ucap Mike, pada Clara.
"Hem, gue juga nggak mau ada urusan lagi sama dia," balas Clara.
"Udah, abaikan aja cowok kayak gitu. Yang penting sekarang kita fokus lanjut jalan biar nggak kemalaman sampai di pos berikutnya," timpal Diana menengahi.
Rombongan Ayara kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan rombongan pria tersebut. Kali ini, langkah mereka terasa sedikit lebih berat karena insiden barusan, ditambah jalur pendakian yang mulai menanjak melewati rimbunnya pohon pinus dan akar-akar pohon besar yang melintang.
Setelah berjalan sekitar dua jam mendaki tanjakan yang cukup menguras tenaga, Heri akhirnya memberikan aba-aba untuk beristirahat di Pos 2.
"Kita istirahat agak lama di sini ya, makan siang dan isi tenaga dulu sebelum lanjut ke area yang lebih terbuka," seru Heri kepada seluruh anggota rombongan.
Mendengar hal itu, Ayara segera langsung merebahkan punggungnya bersandar pada batang pohon yang cukup besar, melepaskan ransel beratnya. Keringat membasahi pelipis dan lehernya, napasnya terengah-engah. Maura dan Adel langsung membagikan roti lapis dan air mineral kepada teman-teman mereka.
"Gila, baru Pos 2 aja rasanya kaki gue mau copot," keluh Maura sambil memijat betisnya sendiri.
"Apalagi nanti pas sabana, katanya jalurnya lebih panjang lagi," tambah Clara sembari membuka botol minumnya.
Ayara tersenyum tipis, mengeluarkan sebotol air dari tasnya dan meneguknya perlahan. "Nggak apa-apa, kapan lagi kita bisa naik gunung, kan? Apalagi langsung Argopuro."
Matahari perlahan mulai merayap naik. Waktu istirahat di Pos 2 dirasa cukup, Heri kembali menyerukan instruksi untuk bersiap melanjutkan perjalanan.
"Ayo, semuanya. Kita harus jalan lagi supaya tidak terlalu malam sampai di area perkemahan nanti," seru Heri sambil merapikan ransel besarnya.
Satu per satu dari mereka bangkit, meski ringisan kecil sempat lolos dari bibir Maura dan Adel yang merasakan otot kaki mereka mulai kaku. Ayara menarik napas dalam-dalam dan meregangkan bahunya yang terasa pegal, lalu mengenakan kembali ransel yang kini terasa kian berat.
Jalur pendakian meninggalkan area pohon pinus dan mulai memasuki vegetasi hutan yang lebih rapat, tanjakan demi tanjakan kecil harus mereka lewati dengan susah payah.
Ayara berjalan di urutan tengah, diapit oleh Linda dan Diana. Setiap kali Ayara terlihat mulai melambat, Linda selalu siap memberikan dorongan semangat kecil atau sekadar menepuk pundaknya.
"Masih kuat, Ra? Kalau capek, bilang ya, jangan dipaksain," ucap Linda.
"Masih kuat kok, Lin, jawab Ayara sambil tersenyum tipis, meski keringat sudah membasahi pelipisnya.
Perjalanan terus berlanjut melintasi jalur tanah berbatu dan akar-akar pohon yang melintang, sesekali mereka harus berhenti sejenak untuk mengatur napas dan meneguk air dari botol masing-masing. Di barisan depan, Andik setia membuka jalan, sementara Heri memastikan tidak ada satupun anggota rombongan yang tertinggal jauh di belakang.
Tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan. Udara di sekitar perlahan berubah dari hangat menjadi sejuk, menandakan sore hari menjelang malam mulai tiba. Cahaya temaram jingga mulai menyelimuti langit ketika rombongan Ayara memasuki kawasan yang lebih terbuka. Angin pegunungan berhembus lebih kencang, menerbangkan ujung jaket dan helai rambut mereka yang basah oleh keringat.
Di tengah lelah yang teramat sangat, sebuah pemandangan luas terbentang di hadapan mereka. Padang sabana yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau kekuningan tampak berkilau diterpa cahaya matahari senja.
"Wah... Indah banget," gumam Clara takjub, menghentikan langkahnya sejenak demi menyaksikan hamparan alam yang begitu megah.
"Itu apa ya, luas banget?" tanya Maura dengan mata berbinar lelah.
"Itu namanya Cikasur, tempat kita mendirikan tenda malam ini," sahut Heri dari barisan depan dan memberikan semangat bagi rombongan yang sudah hampir kehabisan tenaga.
Mendengar bahwa tempat tujuan sudah dekat, semangat mereka yang sempat surut kembali bangkit. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka mempercepat langkah menyusuri padang sabana yang luas tersebut.
Namun, perjalanan melintasi padang terbuka di malam hari menjelang gelap bukanlah hal yang mudah. Suhu udara turun dengan drastis, membuat napas mereka mengepulkan uap putih tipis setiap kali dihembuskan. Kegelapan malam akhirnya pekat membungkus kawasan Cikasur, hanya ditemani oleh cahaya gemerlap bintang di langit malam yang cerah tanpa awan.
Sekitar pukul tujuh malam, dengan menggunakan bantuan lampu senter dan headlamp, rombongan Ayara akhirnya tiba di area perkemahan Cikasur.
Begitu sampai di sana, mata mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan yang menghangatkan hati. Di tengah lapangan sabana yang luas, tiga buah tenda dome berwarna cerah sudah berdiri dengan rapi.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita