Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
POV: Amelia
Pondok Indah. Dia membawaku kembali ke rumah yang kujanjikan tak akan kuinjak lagi.
Mobil berhenti di garasi. Dua pria menurunkanku dari jok tanpa kekerasan yang kentara, tapi tanpa memberi pilihan, masing-masing memegang satu lenganku, dan membawaku masuk. Dan di sana, di tengah ruang tamu yang dulu milikku, berdiri Arga, kerah kemejanya terbuka, segelas wiski di tangan, menunggu seperti orang menunggu makan malam diantar.
"Kamu punya jadwal penerbangan dari Surabaya," katanya. "Aku hanya memajukannya."
"Ini penyekapan, Arga. Ini kejahatan. Ada yang tahu aku bersama sopir Aurora. Mereka akan mencariku."
"Mereka akan mencari mobil yang sudah tidak ada." Dia memberi isyarat dan kedua pria itu keluar, menutup pintu. "Duduk. Kita mulai lagi. Seperti seharusnya sejak awal."
"Kita tidak akan memulai apa pun. Aku mau cerai. Buka pintu itu."
Dia berjalan pelan ke arahku, memutar wiski di gelas.
"Tinggalkan Mahardika. Cabut gugatan cerai. Pulanglah ke sini. Akan kulupakan semuanya, kaburmu, Surabaya, foto di taman. Kita pura-pura tak terjadi apa-apa. Aku bisa jadi baik padamu, Lia. Kamu lupa, tapi aku tahu caranya."
"Dan kalau aku tidak mau?"
Wajahnya berubah. Dinginnya, yang sangat kukenal, turun seperti tirai, dan di baliknya muncul sesuatu yang lebih buruk, keputusasaan seorang pemilik.
"Maka kamu tinggal di sini sampai kamu mau."
Dia menguncinya. Bukan di kamar, dengan ranjang dan selimut. Di sebuah ruangan belakang berlantai dingin, tanpa kasur, tanpa jaket, jendela tinggi yang tersegel. Di luar malam hari yang mulai dingin, pendingin ruangan rumah itu dinyalakan pada suhu terendah, dan aku di dalam, bergaun pesta, bersepatu hak, tanpa pakaian hangat, tanpa apa-apa.
Kuketuk pintunya.
"Arga! Buka!" Kuketuk lagi, dengan kedua tangan. "Aku hamil, Arga, aku butuh hangat, buka pintunya! Kamu akan melukai bayinya!"
Hening. Dia mendengarku. Aku tahu dia mendengar, karena semua kamera ada di sana, lampu-lampu merah kecil berkedip di atas, dan dia melihat semuanya dari suatu tempat di rumah ini, dari kantor, dari enam layar itu.
"ARGA!"
Tak ada apa-apa.
Dingin merambat pelan. Mula-mula kaki, di lantai beku, menembus hak yang kulepas supaya tak tergelincir. Lalu tangan. Aku meringkuk di pojok, memeluk lutut, mencoba menghangatkan diri dengan tubuhku sendiri. Waktu berlalu dengan cara aneh, memanjang. Aku mulai menggigil tanpa bisa berhenti, gigiku beradu, lalu setelah beberapa lama bahkan menggigilnya melambat, dan itu lebih menakutkanku daripada dinginnya, karena aku tahu artinya. Tubuh yang berhenti menggigil adalah tubuh yang menyerah.
Datang kram. Rendah, dalam, lain dari yang pernah kurasa. Kuletakkan tangan di perutku dan kutekan.
"Jangan," kataku, pada dia, pada mereka berdua. "Jangan, jangan, jangan. Tetap bersamaku. Kumohon, tetap bersamaku. Mama tidak membawamu sejauh ini untuk kehilanganmu sekarang."
Aku mencoba mengingat semua yang kutahu tentang dingin, tentang tubuh, apa saja yang bisa menjaga kesadaranku. Kugosok telapak tangan satu sama lain. Kutiup. Kuringkuk lebih rapat, melindungi perut dengan lengan bersilang di atasnya, karena kalau masih ada hangat tersisa dalam diriku, biarlah itu mengalir ke sana, untuk mereka.
Aku merangkak ke pintu dan mengetuk lagi, dengan sisa tenaga.
"Bi Ning!" teriakku, karena kadang Bi Ningsih ada di rumah. "Bi Ning, tolong! Aku hamil! Bayinya, Bi! Panggil siapa saja! Demi Allah!"
Kudengar langkah dari seberang, jauh, dan suara Bi Ningsih, melengking, putus asa.
"Lia! Lia, bertahan! Saya nggak boleh masuk, ada dua orang di pintu! Bertahan, Nak, saya cari bantuan! Saya tahu harus panggil siapa!"
Langkahnya menghilang, berlari.
Dingin sudah merasuk sampai ke tempat dalam diriku yang tak kutahu ada. Kakiku tak terasa lagi. Kepalaku berat, pikiranku melambat, mengabur. Kukeluarkan alat tes dari saku, plastik konyol yang kubawa sejak awal semua ini, dan kutekan ke dada dengan kedua tangan, kuat-kuat, dengan seluruh hidupku.
"Dua garis," kataku, tersendat, pada diriku sendiri, supaya tidak padam. "Kita berhasil, sayang-sayangku. Setelah tiga tahun. Kita berhasil. Jangan menyerah sekarang. Mama tidak menyerah, jadi kalian juga jangan."
Aku meringkuk lebih dalam. Dunia mulai gelap di tepinya, dingin berubah jadi sesuatu yang nyaris hangat, yang kutahu, jauh di dalam, adalah tanda terburuk dari semuanya. Kupikirkan Nenek Dina, suaranya mengatakan aku tidak lahir untuk sangkar. Kupikirkan panggung, lampu hangat di lokasi syuting, tasbih yang hangat di tangan Fariz, di taman itu. Dan sungguh ketidakadilan yang besar dan mengerikan, mati di lantai dingin rumah seorang pria yang memanggilku sayang.
Saat itulah kudengar suara itu.
Sebuah gerbang. Teriakan di luar. Langkah berat, banyak, berlari. Suara yang tak kukenali, lalu yang lain, dan dentuman keras ke kayu. Pintu ruangan itu bergetar di engselnya sekali. Dua kali.
Pada yang ketiga, pintu itu menyerah.
Cahaya lorong masuk mendadak dan membutakanku. Sebuah siluet berlutut di atasku, tangan-tangan hangat di wajahku, di leherku, mencari denyut, dan tasbih berbunyi menyentuh lenganku ketika tangan-tangan itu mengangkatku.
"Lia." Suara Fariz, parau, nyaris pecah, begitu berbeda dari suaranya yang selalu tenang. "Lia, aku di sini. Aku di sini, kamu dengar aku? Bertahan. Lihat aku. Buka matamu, Lia, lihat aku."
Aku ingin bilang aku hamil. Ingin bilang ada dua, bahwa aku bahkan belum tahu ada dua, bahwa dia harus menyelamatkan mereka berdua lebih dulu. Kubuka mulutku.
Dan dunia padam di tengah kalimat, dengan tangan-tangan hangatnya mengangkatku dari lantai beku, dan hal terakhir yang kurasakan adalah aroma tubuhnya, dan keyakinan aneh, di akhir semuanya, bahwa aku tidak akan mati sendirian.