Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Nona, lagu yang Anda senandungkan itu indah sekali." Sopir taksi bicara setelah mendengar perempuan itu bernyanyi untuk dirinya sendiri.
Kayana merona. "Terima kasih, ini lagu baru dari Salome," ucapnya sambil melepas earphone.
Sang sopir mengangguk penasaran. Salome? Bukankah itu penyanyi kontroversial yang menampar dan menghajar selingkuhan suaminya sampai jatuh ke lantai? Internet ramai mengecam perilaku brutalnya yang sama sekali tak terduga dari sosok Penyanyi Kesayangan Bangsa itu.
Sopir taksi mengamati penampilan Kayana yang berkarisma. Ia berpakaian rapi dengan busana profesional, tak ada yang terlalu mencolok atau mengumbar aurat, membuatnya tampak seperti pekerja kantoran. Mengapa perempuan seperti dia mendengarkan penyanyi semacam itu?
"Oh, begitu ya?" ucapnya netral, tak ingin menyinggung Kayana dan menerima tip yang lebih kecil, jadi ia diam dan fokus menyetir.
Setelah hening beberapa menit, ia bicara lagi. "Nyonya, kita sudah sampai di tujuan Anda."
Kayana menatap ke luar jendela, tempat Rumah Sakit Pusat berdiri megah dan menjulang. Ada jalan yang mengarah ke pintu masuk utama, dengan air mancur di depannya.
"Terima kasih." Ia tersenyum dan menyerahkan dua lembar uang seratus ribu. Mata sang sopir berkedip terkejut.
"Ambil kembaliannya," ucapnya sebelum keluar dari mobil.
Ia menutup pintu, masuk ke rumah sakit, menuju meja resepsi.
"Halo, di lantai berapa kamar VVIP?" tanyanya pada salah satu perawat.
Melihat tatapan skeptis mereka, Kayana tersenyum. "Oh, jangan khawatir. Aku teman dari adik perempuan si pasien," ujarnya meyakinkan.
Perawat itu memperhatikan blus biru mahal dan celana putih Kayana, lalu tas yang tersampir di lengannya. Pasien di kamar VVIP jelas berasal dari kalangan sangat kaya, dan perempuan ini tampak berasal dari lingkungan yang sama.
Maka perawat itu menjawab, "Saya tidak bisa memberitahukan nomor kamar tanpa bukti identitas, tetapi kamar-kamar VVIP terletak di lantai sebelas." Ia tahu setiap kamar VVIP dijaga sangat ketat, dan berpikir seandainya Kayana pemalsu, ia toh tak akan pernah bisa masuk ke kamar itu.
"Oke, terima kasih." Kayana tak punya bukti identitas apa pun, jadi ia berterima kasih pada perawat itu dan pergi.
Sesampainya di lantai sebelas, Kayana keluar dan menyusuri koridor yang bersih mengilap. Ia berbelok dan melihat beberapa pasien di kamar-kamar VVIP, lalu berpikir kamar yang ia cari tak jauh lagi.
Benar seperti dugaannya, saat berbelok ke koridor lain, ada empat kamar VVIP. Tapi dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat dua kamar, dan salah satunya dijaga sekelompok pengawal yang berdiri di depannya.
Ia tersenyum. Ini pasti kamar tempat Darian dirawat.
Kayana mendekati para pria itu dan menyadari betapa curiganya mereka padanya. Mereka berdiri seperti prajurit, kepala terangkat, lengan lurus di sisi tubuh, dalam sikap yang jelas melindungi. Namun ada yang aneh dengan mereka. Di mana ia pernah melihat lambang di saku dada itu sebelumnya?
Ia mendengar gumaman rendah di dalam kamar dan secara naluriah menyadari itu sepasang suara, laki-laki dan perempuan. Menduga mungkin itu suara Karolina dan Darian, ia berkata, "Permisi, apakah saya di tempat yang tepat untuk menjenguk Darian?"
Tak seorang pun dari para pria itu bergerak.
Karena bahu mereka lebar dan tubuh mereka luar biasa tinggi, Kayana tak bisa melihat papan nama di pintu, sehingga tak bisa melihat nomor kamarnya. Lagipula, siapa lagi yang akan berada di kamar VVIP dengan pengawal sebanyak ini?
Jelas, itu pasti pemegang saham utama Adiwangsa Enterprise, sang CEO itu sendiri.
Ketika para pria itu tak juga bergerak, Kayana mengira mereka menginginkan semacam bukti. "Mmm, aku tak punya bukti tertulis soal hubunganku dengan Karolina, tapi aku punya foto kami berdua bersama..."
"Loh? Yana, sedang apa kau berdiri di depan pintu itu?" Suara Karolina bergema di sepanjang koridor. Kayana menoleh dan melihatnya berjalan ke arahnya.
"Bukankah ini kamar kakakmu...?" tanya Kayana, berdiri canggung di sana.
"Bukan, kamar kakakku ada di seberang koridor," Karolina terkekeh, merangkulkan lengannya pada Kayana dan menuntunnya menjauh dari kamar itu.
Kayana sama sekali tak menyadari ekspresi kelam Karolina saat mereka berjalan menyusuri koridor.
Sementara berjalan bersama Karolina, Kayana tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya siapa yang dirawat di kamar satunya... Yah, siapa pun dia, orang itu pasti seseorang yang teramat penting hingga membutuhkan penjagaan seketat itu di depan pintunya.