Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Part 10
Di tengah tatapannya ke arah Amanda dan Cio yang tengah bercanda tawa, Farel tiba-tiba dikejutkan oleh Vanessa yang baru datang dari kamar mandi. Membuat Farel yang sempat terdiam itu terkejut, merasa kaget dengan apa yang Vanessa lakukan. Namun gadis itu tertawa, seolah apa yang dilakukannya adalah hal lucu.
"Kamu nakal ya sekarang?" ujar Farel dengan nada menggoda namun kian membuat Vanessa tertawa lepas. Sampai saat bibirnya merapat lalu menatap ke arah yang tadi Farel tatap. Amanda dan seorang lelaki, ternyata Farel terdiam sampai seperti itu hanya karena melihat mereka bersama. Membuat Vanessa yang menyadari hal itu merasa geram, merasa tidak terima dengan apa yang Farel lakukan.
"Jadi kamu terdiam dan melamun cuma karena melihat mereka?" tanya Vanessa tak percaya, begitupun dengan tatapan matanya yang memperlihatkan kekecewaan di sana.
"Tidak kok, aku hanya merasa bingung dengan lelaki yang berdiri di samping Amanda. Apa dia mahasiswa baru? Karena aku belum pernah melihatnya sebelum ini." Farel mengelak santai dan itu berhasil membuat Vanessa sedikit percaya dengan kata-katanya.
"Benar, cuma itu? Kamu tidak merasa bersalah kan karena telah menjauhi Amanda?" tuduh Vanessa yang seketika digelengi kepala oleh Farel.
"Tentu saja, tidak. Aku tidak mungkin merasa seperti itu, apalagi semua itu hanya akan membuatmu marah, aku kan ingin berusaha membahagiakanmu." Farel menggenggam erat tangan Vanessa, membuat empunya tersenyum sumringah mendengar ucapannya.
"Benarkah?" tanya Vanessa mencoba meyakinkan kembali meski ia sendiri tahu jawabannya seperti apa, hanya saja Vanessa merasa suka dengan setiap kalimat yang Farel lontarkan untuknya.
"Iya. Kamu jangan mengkhawatirkan perasaanku, karena aku akan selalu ada untuk membahagiakanmu." Dan benar, setiap ucapan yang Farel lontarkan itu berhasil membuat hati Vanessa menghangat, terlihat dari bibirnya yang tersenyum sumringah setelah mendengarnya.
"Baiklah, aku mengerti." Vanessa merengkuh lengan Farel sembari menyenderkan kepalanya pada pundaknya.
Keduanya terlihat begitu mesrah dan bahagia, sampai saat tatapan mereka bertemu dengan dua orang yang bernama Amanda dan temannya. Keempatnya memperlihatkan ekspresi berbeda-beda, termasuk Amanda yang tadinya tertawa mendengar godaan Cio kini bibirnya merapat senduh, merasa tidak bisa apa-apa bila sudah ada Farel dan Vanessa berada di sekitarnya. Begitupun dengan Cio, lelaki itu juga ikut terdiam dengan sesekali melirik ke arah Amanda yang tertunduk lesuh.
"Tidak apa-apa, kan ada aku." Entah kenapa Cio tiba-tiba mengucapkan hal itu, membuat Amanda terdiam lalu menatap ke arahnya dengan sorot mata tak mengerti meski hatinya merasa nyaman saat Cio mengatakannya.
Di sisi lainnya, Vanessa tersenyum sinis melihat Amanda bersama dengan lelaki selevelnya. Baginya, Amanda adalah gadis yang tidak pantas untuk Farel meskipun sebatas berteman, karena mereka berada di level yang berbeda. Farel adalah anak dari orang kaya ke dua di kota ini, bahkan orang tuanya masuk sepuluh besar orang terkaya di negara ini. Bagaimana mungkin Vanessa membiarkan seorang Amanda, yang bahkan orang tuanya hanya bekerja sebagai pembantu, bisa akrab dan berteman baik dengan seorang Farel. Tentu saja Vanessa tidak akan membiarkannya, karena ia paling benci dengan orang yang berada di tempat yang tidak seharusnya, seperti Amanda.
"SEMUANYA DENGAR YA!" Tiba-tiba Vanessa berteriak ke semua orang yang berlalu lalang, membuatnya menjadi pusat perhatian mereka terlebih lagi statusnya yang menjadi bunga kampus, membuatnya mudah melakukan apapun. Begitupun dengan Farel di sampingnya, lelaki itu juga menatap ke arah Vanessa dengan tatapan tak mengerti, bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya ingin Vanessa lakukan kali ini.
"SEKARANG AKU DAN FAREL SUDAH RESMI BERPACARAN. AKU TIDAK MAU MENDENGAR ADA YANG MENGGODANYA, TERUTAMA GADIS TIDAK PUNYA MALU SEPERTI DIA." Vanessa menunjuk ke arah Amanda dengan dagunya, memberikan gadis itu banyak tatapan sinis dan tidak suka dari semua orang.
"KALAU ADA YANG MELIHATNYA, KALIAN HARUS BERITAHU AKU! KALIAN MENGERTI KAN?" Vanessa kembali bertanya ke semua orang, dan banyak dari mereka memperdulikan ucapannya terlihat dari cara mereka mengangguk mengerti dengan menjawab kata iya.
"Bagus, kalau begitu kalian bisa pergi." Vanessa tersenyum sinis ke arah Amanda yang tertunduk, tanpa memperdulikan bagaimana Farel terdiam kala menatapnya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru kekasihnya itu umumkan. Meski yang terjadi, Farel tidak berbuat banyak selain terdiam dan menyaksikkan karena ia tahu, menentang adalah hal yang tidak Vanessa sukai.
Beberapa senti dari keberadaan Farel dan Vanessa, Cio mengepalkan tangannya, ekspresinya memperlihatkan amarah yang sudah meluap-luap di dadanya. Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Cio berjalan ke arah Vanessa, mencoba membukam bibir wanita angkuh itu.
"Kenapa kamu begitu khawatir kalau Amanda akan menggoda kekasihmu? Apa kamu takut bila Amanda akan berhasil melakukannya, karena ternyata kamu tidak terlalu pantas bersaing dengannya, kan kamu murahan?" Cio menjawab santai sembari tersenyum sinis dan merendahkan ke arah Vanessa yang berpenampilan begitu seksi.
"Apa kamu bilang?" Vanessa bertanya geram sembari melangkahkan kakinya, mencoba menantang ucapan Cio yang harus dipertanggung jawabkan.
"Aku bilang, kamu murahan." Cio menekankan kalimatnya dengan nada santainya, membuat Vanessa kian marah begitupun dengan Farel di sampingnya.
"Kalau kamu ada masalah dengan ucapan Vanessa, hadapi saja aku! Jadilah lelaki jantan, yang berani menghadi lelaki bukan perempuan." Farel menyahut tegas dengan menatap geram ke arah Cio yang justru berdecap meremehkan kali ini.
"Kamu ini lucu. Kamu berbicara seolah-olah aku adalah lelaki pengecut yang hanya berani menghadapi perempuan. Lalu apa perlakuanmu selama ini ke Amanda termasuk tindakan lelaki jantan? Tidak, itu tindakan banci, karena kamu mencapakkan temanmu sendiri hanya demi wanita seksi yang tidak bisa menjaga dan menutup diri." Cio melirik sinis ke arah penampilan Vanessa yang begitu terbuka dengan rok mininya di atas lutut dan bahkan kaos berlengan panjangnya itu begitu membentuk lekukan tubuhnya.
"KAMU MAU CARI MATI, HA?" Farel mendorong keras tubuh Cio hingga empunya tersungkur ke lantai, membuat mereka menjadi pusat perhatian kembali.
"Apa bisamu cuma mendorong, ha? Ayo lawan aku! Kita buktikan, siapa yang jantan di sini!" Cio membangunkan tubuhnya lalu menarik kera Farel penuh amarah, merasa tidak terima dengan apa yang sudah lelaki itu lakukan padanya.
"CIO STOP!" pinta Amanda tegas, membuat lelaki menoleh ke arahnya, merasa tidak percaya karena gadis itu justru menyuruhnya untuk berhenti, dan seharusnya dia senang karena ada yang membalaskan rasa sakitnya, bukan malah berteriak dan ingin menghentikannya.
"Apa kamu masih mau membelanya setelah apa yang sudah mereka lakukan kepadamu?" Cio bertanya kesal sembari menatap ke arah Amanda yang tengah mati-matian mempertahankan air matanya. Sampai saat matanya melotot tak percaya kala melihat Cio ditonjok pipinya dengan begitu tiba-tiba, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Farel? Lelaki itu begitu licik, menyerang saat lawan belum sepenuhnya memperhatikan.
"CIO," panggil Amanda khawatir melihat lelaki itu tersungkur kembali ke lantai dengan bibirnya yang sudah lebam. Dengan perasaan was-was, Amanda menghampiri Cio untuk segera menolongnya.
"Dasar pengecut, kamu memukulku saat aku tidak memperhatikanmu." Cio berujar geram sembari berusaha membangunkan tubuhnya, namun Farel justru tersenyum sinis penuh keangkuhan.
"Aku tidak peduli, yang terpenting aku sudah buktikan siapa yang banci di sini." Farel menjawab sinis seperti biasanya, membuat Cio kian geram karena ulahnya.
"Apa kamu bilang?" geramnya marah dengan membangunkan tubuhnya, namun sebelum langkahnya sampai di hadapan Farel, tangan Amanda mencegahnya dengan cara menarik lengannya yang menguat dan tangannya yang sudah mengepal.