Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA KERJA
Belum pernah sebelumnya, Dara merasa seribet ini saat mau berangkat kerja. Ia sampai gonta-ganti baju 5 kali demi mendapatkan penampilan terbaiknya. Di hari pertamanya bekerja sebagai sekretaris Luth, ia ingin tampilan yang luar biasa mengesankan.
"Ra, sarapan." Teriak Mami dari bawah tangga.
"Duluan aja, Mi." Dara masih sibuk mencatok rambut. Sepertinya pagi ini, dia tak akan sempat untuk sarapan gara-gara terlalu lama bersiap-siap.
Setelah penampilannya di rasa sempurna, ia mengecek kembali isi tas, jangan sampai ada barang yang ketinggalan, terutama ponsel, lipstik, bedak dan kaca. Setelah memakai stiletto nude nya, ia turun ke bawah, menuju meja makan.
"Busyet, mandi parfum lo, wangi amat." Elang memperhatikan penampilan Dara dari atas hingga bawah. Mulutnya sampai menganga, beruntung nasi di dalam sana tak keluar.
Mami dan Papi tak jauh beda, mereka juga salfok dengan penampilan Dara. Hampir setiap pagi melihat putrinya itu berangkat kerja, tapi pagi ini, terlihat sangat beda. Dara jauh lebih cantik dan rapi dibanding biasanya.
"Aku kayaknya gak sarapan deh, Mi. Gak sempat." Dara mengambil satu buah apel hijau yang rencananya nanti akan dia makan sambil nyetir.
"Ini masih pagi, Ra," ujar Papi.
"Ini hari pertamaku kerja, aku gak mau sampai telat." Dara mencium tangan dan kedua pipi Papinya, lalu bergeser ke Maminya, melakukan hal yang sama.
"Lo gak bareng gue, Ra?" tanya Elang.
"Kantor kita udah beda, gimana mau bareng."
"Gue bisa kok, anterin lo duluan."
Dara menggeleng. "Gak usah, aku bawa mobil sendiri aja. Aku berangkat dulu ya."
"Heh!" panggil Elang cepat saat baru berjalan beberapa langkah. "Lo belum salim sama gue."
Dara menghentakkan kakinya kesal. Sepertinya itulah Elang, selalu merasa jadi Abang meski mereka lahir hampir bersamaan. Bahkan kata Papinya, ia yang dikeluarkan dari perut lebih dulu daripada Elang, tapi cowok itu selalu bersikap seolah lebih tua dan harus dihormati.
Malas debat pagi-pagi, Dara menghampiri Elang dan mencium tangannya.
"Awas kalau lo nanti ganjen di kantor baru."
"Apaan sih, gak jelas." Dara langsung pergi.
"Hati-hati bawa mobilnya, Sayang. Jangan ngebut, ini masih pagi." Pesan Mami Nisa.
"Gak mungkin ngebut Mi, macet." Dara tersenyum tipis sambil menoleh.
Semua yang ada di meja makan masih menatap ke arahnya, mereka bahkan mengabaikan nasi di atas piring masing-masing. Saat Dara menghilang setelah belok ke ruang tamu, mereka seketika saling tatap.
"Ada yang beda gak sih, sama Dara?" Mami menatap Elang dan Papi bergantian.
"Yang pasti lebih cantik daripada biasanya." Papi membuang nafas sambil geleng-geleng. Di kantor banyak sekali yang naksir Dara, tapi anak gadisnya itu tak tertarik pada satu pun. Beberapa koleganya juga ingin menjodohkan Dara dengan anak mereka, tapi ya seperti itu, Dara selalu menolak.
"Tuh kan bener kata aku, Mi. Dara itu kerja disana buat ngedeketin Luth. Dia naksir sama Luth. Secara, sekarang Luth jadi genteng," ujar Elang.
"Masa sih?" Mami mengerutkan kening.
Elang bangkit dari duduknya, mendekati Mami lalu menunjukkan foto Luth di ponselnya.
"Ini... Luth?" Mami sampai bengong menatap laki-laki tampan di layar ponsel. Ia memang tak pernah bertemu Luth secara langsung sejak dulu, tapi dengar ceritanya, Luth itu gendut, jelek, cupu. Tapi yang di foto itu jauh beda.
"Gantengkan sekarang?"
"Sini Lang, Papi mau lihat." Si Papi ikut penasaran. Saat Elang mendekat, ia langsung menarik ponsel putranya tersebut, memperhatikan foto di layar.
"Sekarang ganteng, Pi," ujar Mami.
"Enggaklah, biasa saja." Papi mengembalikan ponsel Elang. "Gantengan Papi pas waktu muda."
Mami dan Elang saling tatap, lalu sama-sama mencebikkan bibir.
Elang kembali ke kursinya, melanjutkan sarapan yang tinggal sedikit.
"Aku kok jadi khawatir ya, Pi, takut Dara kenapa-napa." Elang menatap Papinya. "Sekarang Luth amnesia, tapi nanti pas ingat, takutnya dia benci sama Dara. Terus kalau mereka udah terlanjur dekat, dan Dara jatuh cinta, apa gak jadi masalah? Terus, apa orang tua Luth mau menerima Dara? Berkali-kali kita mencoba datang ke rumahnya dulu, tapi gak pernah diterima."
"Apa gak kejauhan mikir kamu, Lang." Papi menimpali dengan santai. "Belum tentu juga Luth mau sama Dara, palingan kalau udah cakep kek gitu, dia udah punya pacar. Tapi ya..." Ia garuk-garuk kepala. "Kalau tiap hari deket Dara, ya bisa jadi. Mana si Dara cakep banget gitu kalau kerja. Astaga, keturunan Papi emang meresahkan."
Elang dan Mami kembali saling tatap sambil mencebik. Kalau soal narsis, Papi gak ada lawan.
...----------------...
Dara tiba di kantor saat masih lumayan pagi. Kantor masih sepi, dan ia menunggu di ruangan HRD sekarang. Hari ini, sebelum benar-benar kerja, dia akan di training lebih dulu. Ia duduk gelisah, lututnya bahkan sampai gemetar. Ternyata seperti ini rasanya jadi karyawan baru tanpa privilege, menegangkan.
Saat jam kerja sudah dimulai, Dara di training oleh Julia, sekretaris senior disana. Sebenarnya tidak sulit, hanya saja ia tegang, jadi beberapa kali melakukan kesalahan. Untungnya masih bisa ditoleransi.
Hampir tengah hari, Dara baru diantar ke meja kerjanya. Letaknya di ujung koridor, tepat di depan ruangan Luth. Di belakangnya ada jendela kaca besar yang membuat tempat itu terasa lebih nyaman karena bisa langsung melihat pemandangan luar.
"Gak ada ruangan khusus, semoga gak masalah buat kamu," ujar Julia.
"InsyaAllah gak masalah kok."
"Pasti beda banget ya, dengan di kerjaan kamu sebelumnya. Basic kamu managerkan?" Julia menoleh ke arah lain, nyengir sambil mengusap tengkuk.
"Iya." Dara tersenyum malu-malu, ia bisa tahu apa yang dipikirkan Julia.
Julia lalu mengantar Dara ke ruangan Luth untuk diperkenalkan secara resmi.
"Pagi, Pak." Sapa Julia, yang masuk bersama Dara.
"Pagi." Luth tersenyum, tatapannya langsung tertuju pada Dara. Gadis itu terlihat cantik sekali hari ini.
"Saya mau memperkenalkan sekretaris baru, Bapak," ujar Julia yang berdiri berdampingan dengan Dara di depan meja Luth.
"Gak usah," Luth tersenyum. "Kami sudah saling kenal kok." Ia menatap Dara.
Dara langsung menunduk, salah tingkah dengan tatapan Luth.
"Tugas kamu sudah selesai Jul, kamu bisa pergi."
"Oh, gitu ya." Julia menatap Luth dan Dara bergantian. "Baiklah kalau begitu, saya Permisi." Ia membungkuk sopan, lalu balik badan, keluar.
"Gimana?" tanya Luth saat pintu sudah kembali tertutup.
"Apanya?"
Luth tertawa melihat ekspresi tegang Dara.
"A, ada apa? Ada yang salah?' Dara gugup, ia memperhatikan dirinya sendiri. Tanganya menarik turun rok spannya yang sedikit di atas lutut. Apa mungkin rok nya kependekan? Tapi tadi dia lihat, karyawan lainnya juga pakai rok seperti dia.
"Kamu cantik."
Blush
Pipi Dara langsung memerah, wajahnya menghangat karena pujian tersebut. Jantungnya berdebar kencang tanpa bisa dikendalikan.
"Apa jadwal saya hari ini sudah siap?"
"Hah! Apa?" Dara kurang fokus.
"Jadwal." Luth tersenyum.
"Oh..." Dara melangkah ke samping Luth sambil merutuki diri sendiri dalam hati. Baru kerja bisa-bisanya udah telmi.
Dara berdiri di samping Luth, membuka tap di tangannya, sambil sedikit membungkuk, menunjukkan jadwal yang beberasa saat yang lalu dia buat bersama Julia. Jantungnya makin berdebar berdiri sedekat ini dengan Luth. Hidungnya bisa mencium dengan jelas aroma parfum maskulin dari tubuh bos nya itu.
Sambil menunjukkan di tablet, Dara membacakan jadwal hari ini. Tak terlalu padat, tak ada kegiatan di luar kantor, juga hanya ada satu tamu yang siang nanti akan datang.
Krucuk krucuk
Mata Dara membulat sempurna saat perutnya tiba-tiba bunyi. Reflek, sebelah tangannya menyentuh perut. Sialan! Kenapa bisa gak tepat waktu banget sih bunyinya.
Luth menutup mulut dengan kepalan telapak tangan, menahan tawa.
"Maaf." Wajah Dara memerah, menahan malu. Harusnya tadi ia sarapan dulu, biar tak memalukan seperti ini. Mana apel yang ia bawa juga tak sempat ia makan. Dan tumbler. Benda penting itu justru ketinggalan, ia lupa bawa.
"Lapar?" Luth menoleh pada Dara.
"Eng, enggak."
"Gak salah maksudnya?"
tapi ya gitu memastikan apa Dara cinta sama Luth saat ini ketika penampilan nya berbeda di banding ketika SMA ternya Anya gayung bersambut,,,maka. dari itu
Luth mengejar Mu. dan ya sedikit bikin ulah 🤣peran pembantu nya Valeri Bia,,makanya Luth percaya kalau ada Diego karena Luth sudah melihat sebelumnya,,,kayanya satpam dan pegawai hotel yang. membantu. Diego keluar sedangkan Luth sibuk meredakan ketakutan Dara,,,,ya sudah Luth ngaku saja
kalau Luth sudah ingat. sudah. keceplosan
🤭🤭 up lupa Luth bilang Diego 🤣🤣🤣🤣