S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.
"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"
Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. MJ
...~•Happy Reading•~...
Suster meminta semua orang keluar ruangan dengan gerakan tangan kuat, seakan sedang mengusir mereka. Agar dia bisa menenangkan Enni yang masih terguncang akibat kehadiran mereka.
Suster khawatir terjadi sesuatu dengan Enni yang baru pernah dilihatnya, selama dia merawat Enni di ruangan itu. Apa lagi dr Kirana sedang tidak ada di tempat, dia makin was-was.
"Sudah, Enni. Mereka sudah keluar. Tenang." Suster terus memeluk Enni dan mengusap punggungnya, agar bisa tenang. Hal itu dilakukan berulang kali untuk menenangkan Enni.
Beberapa saat lamanya Enni terus memeluk suster sambil menangis terisak dan gemetar. Suster jadi kasihan merasakan kondisi Enni yang masih terguncang dalam pelukannya. Dia terus mengusap punggung Enni, agar mengurangi rasa takutnya.
"Ini minum dulu, biar bisa lebih tenang." Suster coba merenggangkan pelukan dari Enni untuk menuang air mineral dalam gelas dan berikan kepada Enni. Suster tidak jadi letakkan gelas ke tangan Enni, sebab tangannya masih gemetar. Sehingga dia memegang gelas dan menyodorkan sedikit ke arah bibir Enni yang masih bergetar.
"Suster, siapa orang-orang itu? Untuk apa mereka ke sini?" Enni bertanya setelah sedikit minum dan bisa menenangkan detak jantungnya. Dia menghapus air mata sambil melihat ke arah suster dengan mata yang masih tergenang dan wajah pucat pasi.
"Saya kurang tahu, nanti kalau dr Kiran datang baru tanya, ya. Sekarang duduk dan istirahat di sini." Suster berbicara pelan, tapi terus mengusap pundak Enni dan memintanya duduk kembali di ranjang.
"Jangan biarkan mereka datang lagi suster." Enni memegang erat tangan suster, memohon, sangat.
"Iya, nanti bicarakan dengan dr Kiran." Suster berkata sambil mengangguk agar Enni bisa tenang, sebab suster sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Suster, jangan tinggalkan saya dulu." Enni berkata dengan air mata kembali membasahi pipi saat melihat suster akan beranjak meninggalkan ruangan.
"Tenang saja, saya hanya mau melihat di luar. Apa mereka sudah pergi atau belum." Suster berkata sambil menepuk tangan Enni yang sedang memegang lengannya, agar bisa tenang dan membiarkan dia keluar memeriksa situasi.
Setelah yakin, suster hanya mau memeriksa di luar, Enni melepaskan tangan dari lengan suster, membiarkan keluar ruangan. Namun dia terus melihat punggung suster dan tetap melihat ke arah pintu dengan hati was-was.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Di sisi lain ; Suster yang baru keluar kamar melihat keempat pria sedang berdiri di koridor, agak jauh dari kamar Enni. Suster segera berjalan cepat ke arah mereka untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dia ingin tahu. 'Bagaimana mereka bisa masuk, sebelum jam besuk pasien atau tidak ada informasi sebelumnya tentang kedatangan mereka kepada petugas jaga.' Suster berjalan sambil bertanya dalam hati.
"Oh, bapak. Mengapa tadi tidak masuk untuk tenangkan pasien?" Tanya suster heran, saat melihat Bagas sedang berbicara dengan ketiga pria yang tadi masuk ke ruangan Enni.
"Oh, suster." Bagas berjalan cepat mendekati suster dan membiarkan ketiga pria tadi berbicara sendiri.
"Gimana kondisi pasien sekarang?" Tanya Bagas serius, sambil mengajak suster menjauh dari ketiga pria tersebut.
"Sekarang sudah agak tenang, Pak. Tapi saya tidak bisa lama di sini. Tadi saya pamit untuk lihat situasi di luar sudah aman, belum." Suster menjelaskan kondisi Enni saat ditinggal dan tujuannya keluar ruangan.
"Kalau begitu, suster kembali ke dalam dan tidak usah bilang tadi saya ada datang juga. Nanti saya akan jelaskan padanya." Bagas berkata cepat, agar suster bisa cepat balik menemani Enni.
"Baik, Pak. Tapi apa ini diketahui oleh dr Kiran?" Tanya suster serius, agar dia bisa jelaskan jika Enni cerita kejadian tadi kepada dr Kirana.
"Nanti setelah ini, baru saya menemui dr Kiran. Tadi saya hubungi tidak bisa." Bagas menjelaskan, agar suster tidak berpikir negatif padanya dan bisa bekerja sama dengannya.
"Oh, iya. Dr Kiran sedang di lantai atas. Ada pertemuan dengan boss. Nanti saja setelah istirahat siang atau sore, Pak." Suster menjelaskan cepat, mengingat kesibukan dr Kirana.
"Ok. Tolong temani pasiennya, ya. Saya harus pergi." Bagas berkata cepat, sebab ia sedang ditunggu.
"Baik, Pak." Suster segera pamit dengan hati lega dan bersyukur tidak hubungi pihak keamanan. Dia segera meninggalkan Bagas di lorong.
Suster tidak bisa bertindak sesuatu yang berhubungan dengan Enni sebelum konsultasi dengan dr Kirana. Sebab mereka berpikir, Enni masih keluarga dr Kirana.
Bagas berjalan cepat mendekati tiga orang yang masuk ke dalam kamar Enni. "Nanti saya menemui bapak di kantor. Saya harus berbicara dengan dokter yang merawatnya. Pasien masih terguncang, kesehatan mentalnya belum pulih seperti semua lukanya." Bagas menjelaskan apa yang dikatakan suster padanya.
"Baik. Kami tunggu kelanjutannya di kantor." Ucap Pak Polisi, tegas lalu meninggalkan mereka. Kedua anggota team pengacara masih berdiri bersama Bagas. Pria yang membuat video di kamar Enni mendekati Bagas.
"Pak, apa kita menunggu dokternya?" Tanyanya sambil memasukan kamera ke dalam ransel.
"Kita kembali ke kantor dulu. Saya mau periksa hasil rekamanmu sebelum kembali ke sini lagi." Ucap Bagas sambil mereka berjalan ke lift untuk turun ke lobby.
...~▪︎▪︎▪︎~...
《Sebelumnya
Setelah Kirana berbicara dengan Enni tentang tempat tinggalnya paskah keluar dari rumah sakit, Kirana menghubungi Bagas untuk membicarakan rencana keluar Enni dan tempat tinggalnya.
Kirana hubungi Bagas karena berpikir, Mathias belum sempat berbicara dengan Bagas. Jadi ia hubungi untuk membicarakan rencananya dan Mathias pada Bagas, serta kondisi kesehatan terakhir Enni.
Mendengar penjelasan Kirana, Bagas segera meminta team nya untuk tidak pulang, tapi adakan pertemuan darurat di kantor. Dia tidak jadi ke rumah sakit sesuai rencananya setelah pulang kantor.
Bagas mau ke rumah sakit untuk memastikan beberapa hal dari hasil penyelidikan team nya. Sebelum ia ajukan laporan dan tuntutan ke kantor polisi. Namun apa yang dikatakan Kirana membuat dia dan team harus merubah rencana yang sudah mereka atur sebelumnya.
Dari hasil pertemuan team, Bagas dan dua anggota team nya segera merubah rencana. Sehingga ke esokan paginya mereka ke kantor polisi untuk membuat laporan atas tindakan rudapaksa yang dialami seorang wanita bernama Enni Sriwedari.
Berdasarkan laporan pengacara Bagas, polisi segera menemani mereka menemui Enni yang sedang dirawat di RS Sopaefams untuk melengkapi laporan mereka.
Bagas telah mengatur dengan anggota team nya, hanya anggota team yang masuk ke ruangan Enni untuk menemani polisi. Ia hanya menunggu di luar ruangan. Bagas berharap Enni lekas sembuh, tapi ia berharap polisi bisa menyaksikan sendiri kondisi Enni akibat tindakan rudapaksa yang dia alami.
Bagas bergerak cepat, sebab mendengar luka-luka akibat kekerasan yang dialami oleh Enni sudah mulai sembuh. Jika polisi melihat luka itu, mereka akan menganggapnya biasa saja. Walau ada foto-foto awal yang bisa mereka berikan sebagai bukti tindak kekerasan.
Walau pun Bagas di luar ruangan merasa tidak tega dan sedih mendengar teriakan Enni, hatinya sedikit lega atas reaksi itu. Dengan demikian polisi bisa menyaksikan kondisi kesehatan mental Enni secara langsung.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...