Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 13.
Aroma hangus mendadak menjajah seisi dapur minimalis bernuansa putih itu. Stella mengutuk pelan, buru-buru mematikan kompor induksi sebelum noda hitam di wajan teflonnya makin melebar. Rambut panjangnya yang dicepol asal-asalan sudah acak-acakan, beberapa helai bahkan menempel di dahi karena keringat.
Jam dinding berbentuk kepala kucing menunjukkan pukul 06.10 WIB.
Sial, dia bisa telat.
"Non Stella, astaga! Itu telurnya gosong lagi?" Bi Darmi berlari kencang dari arah halaman belakang, wajahnya panik seolah rumah baru saja kemalingan.
Stella menyengir lebar, menampilkan deretan gigi rapinya yang bersih. "Tenang, Bi! Ini bukan gosong, tapi... caramelized. Estetik, tahu."
Bi Darmi hanya bisa menepuk jidatnya. Selama tiga tahun bekerja di rumah ini, dia tahu betul kalau anak tunggal majikannya ini punya tingkat kebebalan di atas rata-rata.
Stella itu tipe cewek yang kalau dilarang A, malah bakal melakukan A+ demi memuaskan rasa penasarannya. Petakilan, tidak bisa diam, dan hobi bereksperimen. Masalahnya, hari ini eksperimennya melibatkan dapur bersih Bi Darmi dan sebuah kotak makan siang berwarna biru muda.
"Non mau bawain bekal buat Den Gibran lagi?" tanya Bi Darmi skeptis, matanya melirik nasi goreng sosis yang warnanya agak terlalu cokelat—kebanyakan kecap manis.
"Bukan lagi, Bi. Tapi harus," koreksi Stella bersemangat.
Mengabaikan satu telur yang pinggirannya menghitam, dia menata nasi goreng itu ke dalam kotak bekal.
Tidak lupa, dia menambahkan potongan tomat berbentuk hati di atasnya. Klise? Banget. Tapi Stella tidak peduli.
Rencana Stella sederhana, melunakkan hati Gibran yang masih dingin. Dia harus menjinakkan harimau galak itu. Dan jalur paling cepat menuju hati cowok katanya adalah lewat lambung, kan?
"Selesai!" Stella menutup kotak bekalnya dengan senyum puas. "Aku berangkat ya, Bi! Doakan misi diplomatik ini berhasil!"
"Hati-hati, Non! Jangan pecicilan di jalan!" teriakan Bi Darmi hanya dibalas lambaian tangan luar biasa ceria dari Stella yang sudah berlari kencang ke arah pagar depan.
Suara riuh koridor SMA Pancasila di pagi hari selalu sukses bikin pusing, tapi tidak bagi Stella. Cewek itu berjalan dengan langkah berirama, memeluk tas ranselnya yang terasa lebih berat karena ada kotak bekal di dalamnya.
Begitu melewati mading sekolah, matanya langsung menangkap siluet yang dicarinya. Gibran sedang berdiri di sana bersama dua anak futsal lainnya, sedang mendengarkan guru olahraga berbicara.
Gibran memakai seragamnya dengan rapi, tapi aura dinginnya tetap terasa kuat. Rambutnya yang sedikit berantakan sehabis latihan fisik pagi justru membuatnya kelihatan makin mencolok di antara kerumunan siswa lain.
Stella menarik napas dalam-dalam.
Oke, Stel. Lo cantik, lo berani, lo gak boleh ciut.
Begitu guru olahraga pergi, Stella langsung melompat harfiah, melompat kecil ke hadapan Gibran. Dua teman Gibran langsung menyengir, paham betul siapa cewek nekat yang baru datang ini.
"Pagi, Kapten!" sapa Stella riang, senyumnya merekah lebar.
Gibran menghentikan obrolannya. Matanya turun, menatap Stella dari kepala sampai kaki dengan tatapan datar yang biasa. "Minggir. Gak usah halangin jalan."
"Bentar dong, sensi amat kayak orang belum sarapan," potong Stella cepat sebelum Gibran sempat melangkah pergi. Dengan gerakan teatrikal, Stella membuka ritsleting tasnya dan mengeluarkan kotak makan biru muda. "Nih. Sebagai tanda permintaan maaf resmi atas di gor kemarin. Gue bikin sendiri, penuh cinta dan keringat."
Gibran menatap kotak makan itu, lalu menatap wajah Stella yang kelihatan sangat berharap. Ada jeda beberapa detik yang terasa canggung. Teman-teman Gibran di belakang mulai berbisik sambil menahan tawa.
"Gak perlu," jawab Gibran singkat, suaranya berat dan dingin. Dia mencoba melewati bahu Stella.
Tapi namanya juga Stella. Dia bergeser ke kanan, memotong jalur Gibran lagi. "Cobain dulu, Gibran. Lo belum tahu aja, nasi goreng gue ini punya formula rahasia yang bisa bikin orang galak jadi auto ramah."
Gibran mengembuskan napas berat lewat hidung. Rahangnya mengeras. Dia paling tidak suka dipaksa, dan dia paling benci menjadi pusat perhatian di koridor karena hal-hal tidak penting seperti ini.
"Gue bilang, gak usah."
"Satu suapan aja. Kalau gak enak, lo boleh katain gue sepuas lo," tawar Stella, matanya berkedip-kedip memohon, sengaja memasang wajah seimut mungkin. Dia benar-benar berharap usaha bangun paginya dan omelan Bi Darmi tidak sia-sia.
Gibran menatap lekat-lekat mata cokelat Stella yang berbinar penuh harap. Ada kilat kekesalan di mata cowok itu, tapi akhirnya dia merebut kotak makan itu dari tangan Stella tanpa berkata apa-apa lagi, lalu berjalan pergi menuju kelasnya yang berada di ujung koridor.
Stella langsung mengepalkan tangannya ke udara.
Yes! Berhasil!
Dia tersenyum kemenangan, merasa di atas angin karena si es kutub akhirnya luluh juga.
Namun, euforia Stella tidak bertahan lama.
Saat jam istirahat pertama, Stella sengaja lewat di depan kelas Gibran dengan dalih mau ke koperasi.
Di dekat pintu kelas Gibran, ada tempat sampah besar berwarna hijau yang biasanya dipakai untuk membuang botol plastik atau bungkus camilan.
Langkah Stella mendadak terhenti. Matanya membelalak.
Di dalam tong sampah yang agak terbuka itu, bersandar sebuah benda yang sangat familier. Kotak makan biru muda miliknya.
Di sampingnya, nasi goreng sosis buatan Stella, tercampur dengan tisu kotor dan bungkus roti bekas. Nasi goreng itu bahkan belum disentuh sama sekali.
Dada Stella mendadak terasa sesak. Rasanya seperti ada yang meremas jantungnya dengan kasar. Senyum yang biasanya hinggap di bibirnya lenyap seketika.
Tepat saat itu, Gibran keluar dari kelas bersama temannya. Dia melihat Stella yang berdiri mematung di depan tempat sampah. Pandangan mereka bertemu.
Tidak ada rasa bersalah di mata Gibran. Cowok itu justru menatap Stella dengan pandangan lurus yang dingin, seolah apa yang dilakukannya adalah hal paling wajar di dunia.
"Gibran," suara Stella pelan, hampir bisik-bisik, tapi sarat akan kekecewaan yang nyata. "Lo... lo buang?"
Gibran berhenti di depannya. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana abu-abunya. "Gue udah bilang gak usah repot-repot, kan? Lo yang maksa."
"Tapi gak perlu dibuang juga, kan?!" Nada suara Stella naik satu oktav, memancing perhatian beberapa siswa yang lewat.
Matanya mulai berkaca-kaca, kombinasi antara rasa malu yang luar biasa dan sakit hati yang mendalam. "Gue bangun jam 5 pagi, tangan gue hampir kena minyak panas demi bikin itu! Kalau lo gak mau, lo bisa balikin ke gue baik-baik, atau kasih ke orang lain!"
Gibran menatap air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata Stella tanpa berkedip. Ekspresinya datar, tapi ada ketegasan yang tak terbantahkan di suaranya saat dia berbicara.
"Gue gak suka makanan manis. Nasi goreng lo baunya kemanisan, dan gue benci itu," kata Gibran dingin. "Gue gak punya kewajiban buat ngejaga perasaan lo, Stella. Jadi stop bertingkah konyol dan jangan pernah bawain gue apa-apa lagi."
Setelah mengatakan itu, Gibran berjalan melewati Stella begitu saja, meninggalkan cewek itu yang terpaku di koridor. Kali ini, air mata Stella benar-benar luruh, membasahi pipinya.
Rasa perih di hatinya terasa sangat nyata, menghancurkan seluruh keceriaan pagi yang sempat dia banggakan.
......................
...****************...
Tbc,