NovelToon NovelToon
Terlambat, Tuan Wiratama

Terlambat, Tuan Wiratama

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Vale

Tiga puluh dua panggilan tak terjawab. Satu kotak putih kecil yang dibuang seperti sampah. Dan seorang suami yang memilih menemani perempuan lain.

Dua tahun Maya Nugroho menjadi istri yang tak boleh dikenal siapa pun. Ketika mobilnya dilempar ke sungai dan ia kehilangan bayinya, Dimas Wiratama, pewaris Grup Wiratama yang dingin dan selalu merasa benar, bahkan tak sempat bertanya apa yang terjadi padanya.

Maya memilih pergi.

Yang tak diketahui keluarga itu: perempuan yang mereka remehkan sebagai "analis junior" adalah Aro, nama paling ditakuti di dunia teknologi, orang yang bisa menahan kontrak bernilai miliaran hanya dengan satu laporan penilaian. Dan ada satu rahasia lain yang Maya sembunyikan rapat-rapat dari Dimas.

Kini keluarga Wiratama menekan lewat perawatan ayahnya, musuh lama memasang jerat, dan sebuah kebohongan besar mulai retak dari dalam. Maya harus bertahan demi satu-satunya hal yang tak akan ia biarkan hilang lagi.

Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dimas hanya punya satu kata untuk dirinya sendiri: terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

capitulo-014

Bab 14 — Cincin Ibuku

Aku pergi ke lelang amal karena Eyang Kartini memintaku menemani. Aku tak berharap menemukan apa pun yang menarik di katalog.

Lalu aku melihat lot 34.

Aku mengenali zamrud itu dan bentuk lingkarannya sebelum selesai membaca deskripsinya. Itu cincin ibuku.

Ibu memakainya saat menjahit. Di hari wisudaku, beliau memasangkannya di jariku beberapa menit dan berkata suatu hari cincin itu akan jadi milikku.

Sesudah usaha bangkrut dan stroke pertama Ayah, cincin itu terpaksa dijual untuk membayar pengobatan. Aku tak pernah lupa rasa malu Ayah ketika pulang tanpa perhiasan itu.

Tujuh tahun kemudian, cincin itu ada di sini, di bawah cahaya etalase.

Aku menemui sekretaris lelang dan menanyakan taksirannya. Aku bisa membayar dengan penghasilanku dari MN Tech.

Tapi Dimas ada di ruangan. Kalau dia melihatku menghabiskan jumlah yang tidak sesuai dengan gaji yang dia tahu, dia akan mengajukan pertanyaan soal penghasilanku. Sejak kunjungan dini hari ke apartemenku, aku tahu dia sudah memantau gerak-gerikku.

Kukirim pesan ke Gilang agar mencoba mencari perwakilan. Dia membalas bahwa dia perlu memeriksa akreditasinya.

Kuminta melihat cincin itu dari dekat. Seorang petugas membawanya di atas baki dan tetap bersamaku selagi aku memeriksa bagian dalamnya.

Ada goresan kecil di dekat batu. Ibu pernah membenturkannya ke tepi wastafel saat aku kecil. Tukang emas menawarkan memolesnya, tetapi Ibu memilih membiarkannya begitu.

Kudekatkan cincin itu tanpa memakainya.

"Ibu mengenal perhiasan ini?" tanya petugas itu.

"Dulu milik keluargaku."

Dia menunjukkan prosedur untuk meminta informasi asal-usulnya. Kucatat kontaknya. Aku butuh sesuatu yang konkret untuk kubawa pulang kalau malam itu gagal membelinya.

Selagi menunggu balasan Gilang, kubuka foto lama di ponsel. Ibu duduk di samping Ayah, tangannya bertumpu di atas tangan Ayah. Zamrud itu hanya sebuah titik di gambar, tapi aku tahu persis di mana harus mencarinya.

Waktu itu, aku bilang pada Ayah bahwa sebuah cincin tidak penting. Aku ingin meringankan rasa bersalahnya karena melepas satu-satunya perhiasan yang lama dipakai Ibu. Beliau setuju, meski menyimpan kotaknya yang kosong.

Baru belakangan aku sadar aku tak perlu berpura-pura tak peduli untuk mendukungnya. Aku bisa memahami keputusan itu dan tetap merindukan cincinnya.

Gilang membalas: pendaftaran perwakilan baru tidak akan selesai sebelum lot itu. Dia bertanya batas penawaranku.

Kusebutkan taksirannya dan satu angka di atasnya. Aku tidak menerima uang dari keluarga Wiratama untuk berada di sini. Kemampuan membayar itu ada; masalahnya adalah segala yang akan ingin diketahui Dimas tentang keuanganku.

Sesaat aku mau menerima risiko itu. Aku begitu ingin pulang membawa cincin itu sampai nyaris lupa pada map hasil pemeriksaan yang tersimpan di rumah dan persiapan persalinanku.

Bukan keputusan yang seharusnya kuambil di tengah lelang, di bawah tatapan suamiku.

Petugas itu menaruh cincin kembali ke etalase. Aku kembali ke kursiku, papan penawaran di antara kedua tanganku.

Lot itu diumumkan sebelum aku sempat memutuskan.

Kuangkat papan penawaranku. Kututup penawaran pertama dan kedua, masih dalam jumlah yang bisa kujelaskan dengan tabunganku.

Ketika juru lelang bertanya apakah ada penawaran lain, kudengar suara Dimas.

Angka yang dia sebutkan tiga kali lipat lebih besar.

Clarissa ada di sampingnya.

"Indah sekali," katanya sambil memperlihatkan tangannya yang kosong. "Hijaunya cocok untukku."

Kulirik ponselku. Gilang belum punya solusi. Aku bisa melanjutkan dan menjelaskan nanti, tapi aku teringat Ayah di rumah sakit dan rencana yang berusaha kujaga kerahasiaannya.

Kuturunkan papan penawaranku.

Palu diketuk. Dimas membeli cincin itu.

Aku tetap duduk selagi mereka mengurus dokumen. Belakangan, kulihat seorang petugas mengantarkan perhiasan itu kepadanya. Dimas memasangkannya di tangan Clarissa, yang langsung mencobanya.

Impuls pertamaku adalah menghampiri mereka dan mengatakan milik siapa cincin itu sebelumnya. Aku melangkah, lalu berhenti.

Aku tak sanggup mendengar mereka mengubah kenangan ibuku menjadi adegan cemburu juga.

Clarissa menangkap pandanganku.

Dia memutar tangannya di bawah cahaya dan tersenyum. Mungkin dia tidak tahu sejarah perhiasan itu. Cukup baginya tahu bahwa aku sempat memperebutkannya.

Aku keluar ke koridor sebelum mulai menangis.

Eyang Kartini menyusulku.

"Eyang lihat kamu menawar. Perhiasan itu ada artinya?"

"Dulu milik ibuku."

Beliau menoleh ke arah ruangan.

"Kamu yakin?"

Kutunjukkan foto di katalog dan kujelaskan bentuk lingkarannya. Suaraku pecah ketika kuceritakan kenapa Ayah harus menjualnya.

Eyang Kartini membiarkanku menyelesaikan.

"Seharusnya kamu memanggil Eyang."

"Semuanya begitu cepat. Kukira aku bisa."

Beliau meremas tanganku.

"Eyang akan pikirkan cara membantu. Eyang tidak mau menjanjikan sesuatu yang belum bisa Eyang selesaikan."

Aku berterima kasih. Aku terlalu lelah untuk satu janji mustahil lagi.

Sebelum pulang, kuminta rumah lelang memberi informasi asal-usul yang tersedia. Kusimpan katalognya untuk mencatat nomor lot dan catatan penjualannya.

Rumah lelang membenarkan akan mengirim informasi itu ke kontak pribadiku. Kuminta jangan lewat kantor Dimas.

Di mobil, kubalas Gilang bahwa dia tak perlu mengurus penawaran lagi.

Dia bertanya siapa yang membelinya.

Dimas. Dia berikan untuk Clarissa.

Kupandangi pesan itu sebelum mengirimnya. Suamiku tidak tahu apa arti cincin itu bagiku. Menyadari betapa sedikit yang dia ketahui tentang sejarahku hampir sama menyakitkan dengan melihat perhiasan itu di tangan Clarissa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!