Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKAKMAT DI MAHKAMAH MILITER DAN TUMBANGNYA SANG LORD
Gedung Mahkamah Militer Internasional yang berdiri megah di wilayah netral Jenewa menjadi pusat perhatian seluruh pemimpin dunia. Hari itu, ratusan wartawan media global, para duta besar dari lima benua, serta jajaran hakim militer tertinggi berkumpul di dalam aula sidang utama. Ketegangan berhembus teramat pekat; gertakan perang terbuka dan tuduhan agresi militer yang diserukan oleh Duke Vane terhadap Baret Hitam telah memicu krisis diplomatik terbesar tahun ini.
Di panggung utama bagian kanan sidang, Duke Vane duduk dengan pakaian kebesaran bangsawan tinggi Kerajaan Barat. Wajah tuanya menampilkan senyuman penuh percaya diri yang angkuh. Di sampingnya, belasan pengacara hukum internasional bersiap melemparkan tuduhan untuk memojokkan Baret Hitam.
"Hadirin sekalian..." suara pengacara utama Duke Vane menggema melalui pengeras suara. "Raja Zean dari Baret Hitam telah melakukan tindakan kriminal berupa penyerangan militer ilegal terhadap fasilitas Sektor Tujuh milik Konsorsium Barat! Kami menuntut pembekuan otoritas militer Baret Hitam dan penyerahan komando penuh kepada Mahkamah Internasional!"
Bisik-bisik riuh seketika pecah di antara para perwakilan negara yang hadir. Duke Vane menyunggingkan senyuman dingin, merasa berada di atas angin.
Namun, ketenangan palsu itu hancur seketika saat pintu utama aula sidang terbuka lebar.
PANG! PANG! PANG!
Dua puluh prajurit elit Shadow-Black berseragam taktis kebesaran melangkah masuk membentuk barikade penghormatan. Di tengah pengawalan ketat tersebut, Raja Zean melangkah masuk dengan keagungan mutlak seorang Penguasa Dunia. Pria tegap itu mengenakan seragam kebesaran Baret Hitam berhias emblem kekaisaran.
Di samping Raja Zean, Ratu Arumi Vardhana berjalan anggun memikat perhatian seluruh mata yang hadir. Arumi mengenakan gaun malam muslimah berwarna putih gading dengan sulaman benang emas berhias jilbab syar'i bermahkota zamrud murni—simbol resmi Imperial Bloodline. Meski sedang mengandung di usia awal, pendaran wibawa dan ketenangan seorang Ratu berdarah pendekar terpancar kuat dari paras cantiknya.
Kehadiran pasangan penguasa ini membuat seluruh ruang sidang hening seketika.
Zean dan Arumi melangkah menuju meja utama pembelaan. Zean menarikkan kursi untuk istrinya dengan penuh perhatian, sebelum ia sendiri duduk tegap menatap lurus ke arah Hakim Agung dan Duke Vane.
"Yang Mulia Hakim Agung," suara bass Raja Zean menggema tenang namun begitu dominan, membekukan udara di dalam aula. "Baret Hitam hadir di sini bukan untuk berdebat mengenai tuduhan konyol seorang penjahat perang yang mulai kehilangan akal sehatnya."
"Jaga mulutmu, Zean!" gertak Duke Vane seraya berdiri murka. "Kamu menghancurkan aset teritorialku di Sektor Tujuh!"
Arumi memajukan posisi duduknya, menatap Duke Vane dengan iris mata cokelat jernihnya yang memancarkan keteguhan hukum mutlak.
"Aset teritorial, Lord Vane?" panggil Arumi dengan suara merdu yang jernih dan penuh penekanan tajam. "Apakah sebuah fasilitas penyanderaan keluarga sipil dan laboratorium racun terlarang dapat Anda sebut sebagai aset teritorial yang sah?"
Hakim Agung mengetukkan palunya. "Ratu Arumi, apakah Anda memiliki bukti atas pernyataan tersebut?"
Arumi menoleh pada Zean dan memberikan anggukan pelan. Zean menjentikkan jarinya.
BZZZZT!
Layar holografik raksasa di tengah ruang sidang seketika menyala, menampilkan berkas audio-visual yang diretas secara langsung oleh tim intelijen siber Baret Hitam.
Layar pertama memutar rekaman video definisi tinggi dari kamera pengawas Sektor Tujuh: memperlihatkan anak dan suami pelayan Helena yang terikat kaku di sel isolasi, dijaga oleh tentara bayaran berseragam atribut pribadi Konsorsium Kegelapan milik Duke Vane!
"Ini adalah bukti visual penyanderaan sipil yang dilakukan oleh pasukan Duke Vane untuk memaksa racun dimasukkan ke dalam minuman saya pada Pesta Kedamaian," tegas Arumi dengan suara berwibawa.
Seketika itu juga, riuh keheranan dan keterkejutan menggema luas di seluruh penjuru aula! Para diplomat asing saling bertukar pandang dalam rasa syok yang teramat sangat.
Wajah angkuh Duke Vane seketika berubah menjadi pucat pasi bak mayat. "I-itu fitnah! Rekaman itu bisa saja direkayasa oleh teknologi Baret Hitam!"
"Realisasi teknologi tidak bisa memalsukan transaksi finansial berantai, Lord Vane..." potong Zean dengan senyuman dingin yang mengerikan.
Layar holografik kedua terbuka, menampilkan dokumen arus kas bernilai puluhan juta dolar dari rekening pribadi Duke Vane yang mentransfer dana langsung ke rekening produsen racun terlarang Aconite-X serta jaringan mafia Kazan Vance!
Tidak berhenti di situ, Felix melangkah ke depan panggung sidang seraya mendampingi dua saksi kunci: Pelayan Helena beserta suaminya yang telah diselamatkan dari perbatasan!
Pelayan Helena berlutut di hadapan Hakim Agung seraya menangis histeris. "Yang Mulia Hakim!! Tuan Duke Vane yang mengancam akan membunuh anak dan suami saya jika saya tidak meracuni Ratu Arumi!! Dialah iblis yang merancang semua ini!!"
SKAKMAT!
Bukti rekaman video, transaksi bank, dokumen racun, hingga kesaksian langsung dari saksi hidup berpadu menjadi benteng hukum mutlak yang menghancurkan seluruh kebohongan Konsorsium Kegelapan!
Hakim Agung menatap Duke Vane dengan pandangan penuh kemurkaan dan rasa jijik yang mendalam. Ketukan palu Mahkamah Militer bergema keras sebanyak tiga kali.
TAK! TAK! TAK!
"Berdasarkan bukti otentik yang tidak sanggup dibantah..." tegas Hakim Agung dengan suara menggelegar. "Konsorsium Kegelapan terbukti melakukan kejahatan perang, konspirasi terorisme internasional, dan percobaan pembunuhan terhadap Ratu Arumi Vardhana! Dengan ini, Mahkamah Militer Internasional mencabut seluruh hak diplomatik Lord Vane dan memerintahkan penangkapan seketika!"
"TIDAK!! INI TIDAK BISA TERJADI!!" jerit Duke Vane histeris, melangkah mundur hendak melarikan diri menuju pintu belakang.
Namun, belum sempat pria tua itu melangkah lima tindak...
BAM!
Pintu belakang sidang didobrak dari luar! Empat prajurit Shadow-Black pimpinan Felix merangsek masuk, memiting kedua lengan Duke Vane, dan menguncinya dengan borgol baja berbobot berat!
Duke Vane meraung-raung, memberontak tanpa daya saat tubuh mewahnya diseret melewati karpet utama ruang sidang di hadapan kilatan ratusan kamera wartawan dunia yang merekam kehancurannya secara langsung.
Satu jam kemudian...
Kemenangan mutlak di Mahkamah Militer Internasional menyapu seluruh pemberitaan media massa global. Tumbangnya Duke Vane dan pembubaran total Konsorsium Kegelapan secara resmi mengakhiri seluruh ancaman besar yang selama ini membayangi takhta Kerajaan.
Di ruang istirahat khusus pejabat tinggi gedung Mahkamah...
Arumi duduk di sofa empuk seraya menyesap teh chamomile hangat. Rasa lega yang teramat besar menyeruak di dalam dadanya. Di sebelahnya, Zean duduk tegap, merangkul pinggang Arumi dan mengusap lembut perut istrinya yang terawat sempurna.
"Semuanya sudah berakhir, Ratuku..." bisik Zean rendah di celah leher Arumi dengan kelembutan yang teramat dalam. "Tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi konspirasi, dan tidak ada lagi yang berani mengancam keselamatanmu dan anak kita."
Arumi memutar tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zean, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan jiwa.
"Terima kasih, Mas Zean..." ucap Arumi tulus, menatap iris mata abu-abu gelap suaminya. "Terima kasih telah melindungi takhta ini dan menjaga janji cintamu."
Zean menyunggingkan senyuman tipis nan tampan. Pria penguasa yang tak tertandingi itu menunduk, mencium bibir Arumi penuh kehangatan cinta yang hakiki dan tidak akan pernah terpadamkan oleh zaman.
Beberapa minggu kemudian... Di Istana Palazzo.
Kedamaian sejati kini benar-benar bertahta di seluruh pelosok Kerajaan. Tidak ada lagi sirene darurat atau penerbangan helikopter tempur di malam hari. Yang ada hanyalah keharmonisan keluarga, canda tawa di selasar istana, serta kehangatan doa yang terus dipanjatkan oleh Abi Vardhana dan Umi Fatimah.
Sore itu, di taman bunga mawar istana yang indah, Arumi berjalan perlahan didampingi oleh Zean yang setia menggandeng tangannya. Usia kandungan Arumi kini telah memasuki bulan ketiga, dan lekukan kecil calon buah hati mereka mulai tampak begitu manis di balik gaun longgar yang dikenakannya.
Zean berlutut di atas rumput hijau taman, meletakkan telapak tangan besarnya di atas perut Arumi, lalu mengecupnya penuh rasa haru dan kebanggaan seorang ayah.
"Tumbuhlah dengan sehat dan kuat, anakku..." bisik Zean penuh kelembutan pada calon bayinya. "Dunia ini telah kami siapkan untuk menyambut kehadiranmu sebagai penerus takhta tertinggi."
Arumi tersenyum bahagia, jemarinya mengusap lembut rambut tegap suaminya di bawah pendaran sinar matahari sore yang keemasan.
Perjuangan panjang melewati fitnah, pengkhianatan, dan pertempuran politik telah menemui muara terindahnya. Di atas fondasi cinta yang suci, keagungan Imperial Bloodline, serta dominasi mutlak Baret Hitam, Raja Zean dan Ratu Arumi siap menyongsong masa depan cerah bersama calon Putra Mahkota yang akan menjadi lambang kejayaan abadi Kerajaan mereka.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/