Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ardi Datang Menjemput.
Rumah sakit tempat Fardan dirawat sangat luas. Jalan dari ruang rawat inap menuju ke depan rumah sakit cukup memakan waktu lama. Setelah beberapa menit menyusuri lorong-lorong rumah sakit akhirnya Ani sampai ke depan rumah sakit. Ia memutuskan untuk menunggu Ardi di dekat pintu pagar rumah sakit.
Setelah Ani menunggu hampir 20 menit, akhirnya yang ditunggu datang juga. Mobil Ardi berhenti tepat di depan tempat Ani berdiri. Ani memperhatikan mobil tersebut, ia ragu untuk membuka pintu mobil. Ia tidak hafal dengan nomor mobil Ardi. Tiba-tiba jendela mobil pun terbuka. Ardi terlihat duduk di belakang kemudi.
“Ayo masuk!” seru Ardi. Ani membuka pintu lalu masuk ke mobil, kemudian Ardi menjalankan mobilnya.
“Maaf saya telat datang. Tadi jalanannya macet,” ucap Ardi sambil menyetir mobil.
“Tidak apa-apa,” jawab Ani.
Ani memperhatikan Ardi yang sedang mengemudikan mobil. Ardi tidak menggunakan seragam kepolisian, ia memakai t shirt berwarna hitam dan celana jeans berwarna biru gelap. Tercium wangi parfum beraroma kayu yang biasa Ardi pakai. Wanginya sangat enak dan membuat Ani merasa nyaman berada di sebelah Ardi.
“Ibu sudah makan?” tanya Ardi tanpa menoleh ke Ani. Ia fokus mengemudikan mobil.
“Belum,” jawab Ani.
“Saya juga belum makan. Tadi nggak sempat makan. Saya buru-buru ke rumah sakit, takut Ibu keburu pulang,” ucap Ardi.
Ani mengerut kening mendengar ucapan Ardi. “Ada apa Bapak mencari saya?” tanya Ani. “Sepertinya penting sekali.”
Ardi menoleh sebentar ke Ani. “Nanti saya ceritakan. Sekarang kita cari restoran yang nyaman untuk bicara,” jawab Ardi. Pandangan Ani kembali ke depan. Ia membiarkan Ardi fokus menyetir.
Setelah menempuh perjalanan selama 15menit, Ardi membelokkan mobil ke sebuah restoran di daerah Siliwangi. Ani memperhatikan restoran tersebut. Restoran itu sepertinya penuh dengan pengunjung. Banyak kendaraan yang parkir di sana. Ardi membuka sabuk pengaman, sedangkan Ani belum membuka sabuk pengaman. Ani masih memperhatikan ke sekeliling halaman restoran.
“Maaf, saya mau ambil sesuatu dari laci,” kata Ardi. Ani memindahkan tas yang berada di atas pangkuannya agar Ardi bisa membuka laci dashboard. Ardi menjulurkan tangan kiri ke laci dashbord. Ia membuka laci dashbord lalu mengambil amplop putih dari dalam laci.
“Ayo kita turun. Saya sudah lapar,” ujar Ardi usai mengambil amplop.
Ani menoleh ke Ardi. “Bagaimana kalau ada orang yang mengenal kita?” tanya Ani.
“Biarkan saja. Kita ‘kan tidak sedang selingkuh,” jawab Ardi. “Ayo turun!” Ardi membuka pintu mobil lalu turun dari mobil. Ardi berjalan beberapa langkah meninggalkan mobil. Tiba-tiba ia berhenti lalu menoleh ke mobil, Ani belum juga turun dari mobil. Ardi memberi tanda agar Ani turun dari mobil.
Ani menghela napas melihat Ardi. “Oke.” Ani membuka sabuk pengaman lalu ia turun dari mobil. Ia berjalan mendekati Ardi. Ardi mengunci pintu dengan pengendali jarak jauh. Mereka bersama-sama masuk ke restoran. Di dalam restoran penuh oleh orang yang sedang makan malam.
Ardi memutuskan untuk mencari tempat di teras belakang. Ani mengikuti Ardi dari belakang. Tiba-tiba Ardi berhenti berjalan dan menoleh ke Ani. “Ibu mau duduk di lantai bawah atau di lantai atas?” tanya Ardi.
“Terserah Pak Ardi aja,” jawab Ani.
“Di lantai atas aja, ya. Biar nyaman bicaranya,” ujar Ardi.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Ani.
Ardi berjalan menuju ke tangga yang berada di teras belakang. Ia menaiki tangga tersebut. Ani mengikuti Ardi. Ternyata di lantai dua tidak begitu banyak orang. Ardi berjalan menuju ke meja yang berada di pojok ruangan. Ia duduk di kursi membelakangi tembok sedangkan Ani duduk di depan Ardi.
Tidak lama kemudian seorang pelayan restoran menghampri mereka. Ia menaruh buku menu di tengah-tengah meja. “Ibu pesan duluan!” Ardi mendorong buku menu ke depan Ani. Ani mengambil buku menu lalu membaca daftar menu yang ada di restoran itu. Restoran tersebut menyediakan makanan khas sunda dan makan tradisional daerah lain, yang dikemas ala resto.
“Saya pesan nasi liwet komplit dan minum teh manis panas,” kata Ani kepada pelayan restoran. Ia memberikan buku menu kepada Ardi. Ardi membuka buku menu lalu membaca menu yang tersedia.
“Saya pesan nasi timbel komplit dan es kelapa,” ujar Ardi lalu memberikan buku menu kepada pelayan restoran. Pelayan restoran mencatat pesanan mereka. Setelah itu, pelayan restoran pun pergi meninggalkan meja mereka. Kini tinggal mereka berdua.
Ani menatap wajah Ardi, ia masih penasaran dari mana Ardi mendapatkan nomor teleponnya. Ia belum pernah memberikan nomor telepon kepada Ardi. “Bapak tau nomor telepon saya dari mana?” tanya Ani.
“Dari Edwin,” jawab Ardi.
“Oh.” Ani lupa kalau Edwin mempunyai nomor teleponnya.
Ardi memberikan amplop putih yang ia bawa kepada Ani. Ani menerima amplop tersebut. Di pinggir kiri atas amplop tertulis nama beserta lambang rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota Bandung. Di tengah amplop tertulis sebuah nama Malika Kemala Ardi.
Ani mengerutkan kening ketika membaca tulisan di amplop. Ani mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ardi. “Apa ini, Pak?” tanya Ani.
“Bukalah! nanti Ibu akan tau,” jawab Ardi. Ani membuka amplop itu, di dalam amplop ada selembar kertas yang dilipat dengan rapih. Ani membuka lipatan kertas tersebut.