Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Polisi baru tiba dua puluh menit setelah penembak itu dibawa ke ruang keamanan di lantai dasar. Selama itu Pak Wijaya memerintahkan pengawalnya menutup pintu ballroom, meminta para tamu tetap tenang, dan menyuruh pelayan membagikan air putih ke setiap meja. Suaranya rendah tetapi jelas, dan dalam sepuluh menit musik sudah berhenti dan orang-orang mulai berpamitan satu per satu. Ray dan Dimas ikut menghilang di antara mereka. Dimas sempat menoleh ke arah Elang dari pintu keluar, dan Elang membalas tatapan itu dengan wajah yang tidak berubah.
Lastri duduk di sofa sudut ruangan dengan selimut tipis di bahunya. Wajahnya pucat, dan jemarinya masih menggenggam ujung gaunnya erat-erat.
Elang berjongkok di depannya sebentar. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Lastri mencoba tersenyum, tetapi bibirnya bergetar. "Aku hanya... Ayah hampir..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak ada yang terjadi pada ayahmu." Elang menepuk punggung tangannya sekali. "Pulanglah bersama pengawal, istirahat."
Lastri mengangguk dan membiarkan seorang pelayan menuntunnya keluar. Pak Wijaya menghampiri Elang ketika putrinya sudah menjauh. Jasnya tidak lagi rapi, dan ada garis lelah di sekitar matanya yang tidak ada sejam lalu.
"Orang itu belum bicara sepatah kata pun," katanya. "Aku sudah menyuruh orangku menanyainya, tapi tidak ada gunanya."
"Boleh aku bicara sendiri dengannya?" tanya Elang. "Sebelum polisi masuk."
Pak Wijaya menatapnya sebentar. Ia tidak bertanya kenapa, dan tidak meminta penjelasan.
"Lima menit," katanya akhirnya. "Pengawalku akan menunggu di luar pintu."
Elang mengangguk dan berjalan pergi ke ruangan keamanan.
...-----...
Ruang keamanan itu kecil dan bercat putih polos. Di tengahnya ada satu kursi besi dengan penembak itu duduk terikat di sana, tangannya dibelenggu ke belakang. Wajahnya sudah sadar, tetapi matanya menatap lantai tanpa fokus, dan ia tidak bereaksi ketika pintu menutup di belakang Elang.
Elang menarik kursi lain dan duduk di depannya. "Namamu siapa?"
Tidak ada jawaban.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Penembak itu mengangkat kepala pelan. Pandangannya langsung menembus wajah Elang seolah ia sedang menatap sesuatu di belakangnya.
"Tuan yang menyuruh saya," katanya dengan suara datar. "Tuan sudah memberi tugas."
"Tuan yang mana?"
"Tuan yang memberi tugas."
Elang menyipitkan mata. Nada suara itu, jawaban yang terulang tanpa ekspresi, ia kenal. Ia pernah melihat orang yang bicara seperti itu. Wahyu, Bram, dan Lastri.
Ia berdiri dan menaruh telapak tangannya di bahu pria itu.
[Permintaan dijalankan...]
[Subjek berada di bawah kendali sistem lain.]
[Keberhasilan: 0%.]
[Permintaan gagal.]
[Kuota tersisa: 3/5.]
Elang menarik tangannya perlahan. Ia berdiri diam, dan ruangan itu terasa lebih sempit daripada beberapa detik lalu. Selama ini ia hanya pernah melihat ikatan yang ia buat sendiri. Wahyu masih bisa gugup dan Bram masih bisa menjawab dengan nada seseorang, tetapi pria ini tidak punya apa-apa lagi di balik matanya, seolah semua yang membuatnya menjadi dirinya sudah dicabut dan hanya sisa tubuh yang menunggu perintah.
'Ada yang melakukan hal yang sama.' Pikiran itu muncul tenang, tetapi ia merasakan dingin di tengkuknya. 'Dan lebih dulu dariku.'
Ia berjongkok dan memeriksa pakaian pria itu sekali lagi, kali ini lebih teliti. Di balik lipatan kerah, terselip sebuah ponsel kecil dengan layar retak. Elang menyalakannya dan menemukan satu pesan yang belum dihapus, dikirim dari nomor yang tidak tersimpan.
Kau harus membunuh keluarga Wijaya. Sistem ini terus menyuruhku. Aku ingin membunuhnya sendiri biar cepat. Tapi, kalau aku tertangkap oleh si kanan, aku tidak bisa apa-apa. Bunuh dia sebelum pesta berakhir, atau misiku untuk membunuh mereka gagal lagi.
Elang membaca pesan itu tiga kali.
Tidak ada kurung siku dan tidak ada nada netral seperti panelnya sendiri. Tulisan itu ditulis oleh seseorang yang berbicara langsung pada anak buahnya, tetapi dua kalimat pertama sudah cukup untuk membuat tengkuknya mendingin.
Sistem ini terus menyuruhku.
Orang yang mengirim pesan ini punya sistem, dan sistem itu mengejarnya sama seperti sistem Elang mengejarnya dengan misi.
Ia teringat truk tanpa sopir di lobi mall Wijaya, setir yang berputar sendiri, dan misi pertamanya yang menyuruhnya menyelamatkan seorang pria tua. Ia teringat tekanan samar di tengkuknya ketika perjalanan menuju tambang, perhatian dari jauh yang tidak pernah berubah menjadi ancaman. Semua keping itu perlahan bergeser dan mulai membentuk satu gambar.
'Sistemku menyuruhku menyelamatkan. Sistem yang satunya menyuruh pemiliknya membunuh.' Ia berdiri dan menatap foto di tangannya. Pemilik sebelah kiri. 'Si kanan. Itu aku.' Ia menutup rahangnya. 'Dua sistem. Satu target.'
Pintu terbuka di belakangnya. Pak Wijaya berdiri di ambang dengan dua pengawal, dan di belakang mereka terdengar langkah polisi berseragam mendekat di lorong.
"Bagaimana?" tanya Pak Wijaya.
Elang memasukkan foto dan ponsel itu ke saku dalam jasnya dengan gerakan tenang. Ia berbalik menghadap lelaki itu dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun.
"Dia tidak mau bicara, Pak," katanya. "Tapi aku akan mencari tahu siapa yang mengirimnya."
Pak Wijaya menatapnya lama, seolah menimbang apakah jawaban itu cukup. Akhirnya ia mengangguk dan menepi, memberi jalan pada polisi yang masuk.
Elang melangkah keluar tanpa menoleh pada pria di kursi besi itu, yang masih duduk dengan tatapan kosong dan bibir bergerak pelan mengulang kalimat yang sama.
Tuan sudah memberi tugas.