NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Usia Delapan Puluh dan Detik Jam yang Berputar Mundur

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa. Namanya Arthur Sterling. Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

Arthur menolehkan kepalanya perlahan ke arah nakas di samping tempat tidur. Di sana, terletak sebuah bingkai foto kayu jati tua yang kacanya sudah sedikit retak. Foto itu menampilkan seorang gadis berambut sebahu dengan seragam sekolah elit, tersenyum manis di bawah rindangnya pohon ek di sebuah akademi swasta di Boston pada tahun 2016.

Clara Vance.

Cinta pertama Arthur. Gadis yang mengisi seluruh relung hatinya di masa muda, namun harus ia lepaskan karena kebodohan dan kemiskinannya kala itu. Di kehidupan pertamanya, Arthur tidak pernah menikah seumur hidupnya. Bukan karena ia tidak dicari wanita, melainkan karena di usia 25 tahun, ia mendengar kabar bahwa Clara telah dipersunting oleh seorang pewaris dinasti perbankan global, lalu menghilang tanpa jejak dari peradaban kota. Kabar angin menyebutkan bahwa hidup Clara berakhir tragis di tangan keluarga suaminya beberapa tahun kemudian.

Kematian Clara di masa lalu adalah luka terbuka yang tidak pernah sembuh, bahkan ketika Arthur berhasil mencapai puncak kejayaan dunia di usia paruh baya. Ia menyendiri, membangun benteng kekayaan yang kokoh, tetapi mati rasa secara batin.

"Clara..." suara Arthur terdengar parau, nyaris berbisik di antara selang oksigen yang melingkupi hidungnya. "Jika waktu bisa diputar kembali... aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun."

Beep................................................................

Suara mesin monitor mendadak berubah menjadi garis lurus yang panjang. Kegelapan mutlak merenggut kesadarannya. Napas terakhirnya terhembus di ruangan sunyi itu, mengakhiri sebuah kisah hidup yang penuh kemegahan sekaligus kepedihan abadi.

Kring! Kring! Kring!

Suara dering jam alarm digital berderit nyaring, memecah kesunyian sebuah apartemen studio berukuran sempit di distrik Queens, New York. Aroma kopi instan murahan sisa semalam bercampur dengan bau lembap dinding beton yang mulai terkelupas.

Arthur tersentak hebat. Tubuhnya menegak secara instan, napasnya memburu, dan kedua tangannya mencengkeram erat seprai kasur tipis. Tidak ada bau rumah sakit elit. Tidak ada selang oksigen. Yang ada hanya teriknya udara musim panas kota New York dan suara bising klakson taksi kuning dari jalanan di luar jendela apartemen.

Ia menunduk menatap tangannya. Kulit keriput berbintik usia telah lenyap. Yang tersisa adalah tangan seorang pemuda berusia dua puluh tahun—mulus, bertenaga, dan penuh vitalitas.

Arthur segera meraih ponsel pintar lawas di atas meja kayu. Layar kecil itu menyala terang, menampilkan tanggal hari ini: 12 Oktober 2016.

Arthur tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran penuh bahwa takdir telah memberinya kesempatan kedua yang mustahil. Ia telah ditarik mundur dari kematiannya di usia delapan puluh tahun, kembali ke masa ketika ia adalah seorang mahasiswa tingkat dua universitas lokal yang hidup dari pinjaman pelajar dan pekerjaan paruh waktu.

"Aku... kembali ke tahun 2016?" gumam Arthur. Suaranya terdengar jernih, tanpa beban kepikunan.

Ia berdiri dari tempat tidur lipatnya dan berjalan menuju cermin kecil di kamar mandi yang berkerak. Di dalam pantulan cermin itu, wajah mudanya menatap balik dengan sorot mata yang begitu tenang, dingin, dan dipenuhi oleh pengalaman hidup selama enam dekade dari masa depan.

Di kehidupan pertama, pada tanggal ini, Arthur sedang merana memikirkan bagaimana cara membayar biaya kuliah semester depan dan patah hati melihat Clara—gadis yang duduk di deretan bangku kuliah yang sama—tampak diantar oleh limusin mewah ke gerbang kampusnya.

Namun, hari ini, segalanya telah berubah total.

Arthur membasuh wajahnya dengan air dingin. Otaknya yang telah terlatih mengendalikan pasar modal global langsung berputar cepat. Ia mengingat persis peristiwa ekonomi besar yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan: lonjakan drastis saham teknologi rintisan yang kelak menjadi raksasa dunia, pergerakan mata uang kripto yang nilainya akan meledak jutaan persen, serta celah hukum properti komersial global.

"Para raksasa finansial dunia... para elit global yang mencengkeram sistem moneter internasional..." Arthur menyunggingkan senyuman tipis yang dingin di bibirnya. "Kalian menikmati dekade kejayaan kalian terlalu lama. Kali ini, permainan ada di tanganku."

Arthur merapikan kemeja kasual usang yang melekat di tubuhnya. Ia mengambil dompet kumal miliknya yang hanya berisi uang tunai sebesar lima puluh dolar dan selembar kartu debit dengan saldo tak sampai sepuluh dolar.

Bagi orang biasa, modal sekecil itu adalah vonis kemiskinan abadi. Namun bagi Arthur Sterling, pria yang pernah memegang kendali atas triliunan aset global, lima puluh dolar di New York tahun 2016 adalah percikan api kecil yang cukup untuk membakar seluruh tatanan ekonomi dunia.

Ia melangkah keluar dari pintu apartemen, membiarkan angin dingin kota metropolitan menyambut langkah pertamanya menuju puncak tahta dunia.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!