NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengatur layak nya ketua kelas

Suasana kelas 8-B siang itu cukup riuh oleh suara gesekan meja dan riak obrolan murid-murid yang memanfaatkan jam kosong.

Di sudut depan dekat papan tulis, ketua kelas yang sah duduk dengan wajah pasrah, memegang lembar daftar piket yang baru saja dicetak. Namun, perhatian seluruh isi ruangan tidak tertuju padanya, melainkan pada seorang siswi yang berdiri tegap di tengah ruang kelas sambil menepuk-nepuk telapak tangannya kencang-kencang. Dialah Dewi.

Dewi bukan ketua kelas, bukan pula wakil ataupun sekretaris. Ia tidak memiliki posisi resmi dalam struktur organisasi kelas yang ditempel di dinding belakang, tetapi cara berdirinya, nada suaranya, dan gestur tubuhnya memancarkan otoritas seolah seluruh keputusan di ruangan itu ada di tangannya.

"Semuanya tolong diam dulu!" seru Dewi dengan suara lantang yang seketika memotong kegaduhan. "Bapak guru sedang ada rapat, jadi kita diberi tugas merangkum bab tiga. Tolong kumpulkan di meja depan sebelum jam istirahat kedua. Kalau ada yang berisik atau keluar kelas tanpa izin, namanya bakal aku catat dan laporkan ke guru!"

Beberapa murid saling pandang, menggepruk meja pelan sebagai bentuk protes halus, sementara yang lain hanya menghela napas panjang. Fenomena Dewi ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal semester, Dewi selalu mengambil alih kepemimpinan di setiap kesempatan. Jika ada pembentukan kelompok belajar, Dewi yang menentukan anggotanya tanpa kompromi.

Ketika ada acara bersih-bersih kelas, Dewi yang membagi tugas dengan detail, membagikan sapu dan kain pel seolah ia seorang komandan tentara. Ketua kelas yang asli sering kali terdesak ke belakang, tidak berani menyanggah karena Dewi selalu bergerak lebih cepat dan berbicara lebih vokal. Aksi-aksinya memang kerap menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, namun caranya yang dominan sering kali menyisakan rasa ketidaknyamanan di hati teman-temannya.

Keadaan seperti ini menciptakan dinamika yang unik sekaligus rumit di dalam kelas. Sebagian teman merasa terbantu karena tidak perlu pusing memikirkan koordinasi, sementara sebagian lainnya merasa terkekang karena ruang gerak dan pendapat mereka kerap dibatasi.

Ketika diskusi kelompok digelar, Dewi hampir selalu memotong pembicaraan orang lain yang menurutnya tidak sejalan dengan pemikirannya. Ia menetapkan standar sendiri tentang bagaimana sebuah tugas harus diselesaikan, dan siapa pun yang mencoba memberikan usulan berbeda akan dihadapi dengan argumen panjang yang melelahkan.

Lama-kelamaan, muncul kelompok kecil di kelas yang mulai lelah dengan sikapnya, meski tidak ada yang sungguh-sungguh berani menyampaikan kritik secara terbuka demi menjaga kedamaian.

Puncak dari rasa frustrasi itu terjadi ketika kelas harus mempersiapkan dekorasi untuk lomba kebersihan dan kerapian antar-kelas. Hari itu, atmosfer kelas terasa makin tegang.

Dewi dengan sigap mengambil alih papan tulis, menuliskan daftar bahan yang harus dibeli serta nominal iuran yang wajib dibayarkan oleh setiap murid. Tanpa ada musyawarah terlebih dahulu, ia membagi kelas menjadi beberapa tim kerja dan menetapkan tenggat waktu yang sangat ketat. Di sudut belakang kelas, bisik-bisik ketidakpuasan mulai terdengar makin nyaring.

Beberapan teman merasa keberatan dengan jumlah iuran yang ditentukan secara sepihak, sementara yang lain merasa pembagian tugasnya tidak adil.

Rasa tertekan yang memuncak akhirnya memicu keberanian ketua kelas untuk angkat bicara secara perlahan, mencoba mengingatkan Dewi bahwa keputusan besar seperti ini seharusnya dibicarakan bersama seluruh anggota kelas terlebih dahulu.

Ketegangan sempat melingkupi ruangan ketika argumen kecil pecah di depan kelas. Dewi sempat bertahan pada pendapatnya, merasa bahwa apa yang ia lakukan semata-mata demi kebaikan dan kemenangan kelas.

Namun, momen tersebut menjadi titik balik penting. Masing-masing anak mulai menyuarakan pendapat mereka satu per satu, menjelaskan bahwa mereka mengapresiasi inisiatif dan kepedulian Dewi, namun mereka juga butuh dihargai sebagai bagian dari kelas yang punya hak untuk bersuara.

Mendengar reaksi jujur dari teman-temannya, raut wajah Dewi perlahan melunak. Ada rasa terkejut dan sedikit kecewa di matanya, tetapi situasi itu memaksanya untuk sadar bahwa kepemimpinan yang baik tidak bisa dibangun di atas pemaksaan atau dominasi tunggal.

Sejak peristiwa hari itu, suasana kelas perlahan mulai berubah. Dewi memang tidak sepenuhnya kehilangan jiwa pengaturnya—karena sifat dasar itu tetap melekat padanya—tetapi ia mulai belajar menahan diri dan mau mendengarkan masukan orang lain.

Ia mulai mau berbagi peran dengan pengurus kelas yang sah dan menyadari bahwa bekerja sama jauh lebih menyenangkan daripada mengatur segala hal sendirian. Lomba kebersihan kelas pun akhirnya tetap berjalan lancar dengan hasil dekorasi yang memuaskan, bukan karena perintah satu orang, melainkan karena kolaborasi nyata dari seluruh isi kelas.

Uniknya, dinamika seperti ini ternyata tidak berhenti di bangku SMP saja. Saat melangkah ke jenjang SMK beberapa tahun kemudian, pengalaman serupa kembali terulang. Di lingkungan baru dengan wajah-wajah yang berbeda, selalu ada sosok baru yang membawa energi persis seperti Dewi—seorang individu yang tanpa jabatan resmi, secara alami mengambil kendali dan mengatur segala hal di sekitarnya. Pengalaman dari masa SMP memberikan sudut pandang baru dalam menghadapi karakter semacam ini.

Bahwa di mana pun kita berada, orang-orang dengan jiwa pengatur dominan akan selalu ada; kunci utamanya adalah bagaimana belajar berkomunikasi dengan bijak, menetapkan batasan yang sehat, dan mengubah dorongan kontrol yang berlebihan tersebut menjadi kerja sama tim yang saling menghargai.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!