Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menaklukkan Panggung Ibu Kota
Gemerlap lampu-lampu di kawasan Jalan Sudirman memantul pada kaca-kaca gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, menyambut kedatangan tiga pemuda asal daerah yang baru saja turun dari bus antarkota. Bau polusi Jakarta, desing mesin kendaraan, dan lalu lalang manusia berbusana serba cepat seketika menyergap Mamat, Darto, dan Bowo.
Bagi Darto dan Bowo, Jakarta adalah rimba beton yang mengerikan. Namun bagi Mamat, Kota Metropolitan adalah samudra luas yang dipenuhi oleh ribuan "ikan besar" berdasi yang kesepian, stres, dan kebingungan mencari pegangan hidup.
Dengan modal uang tunai lima puluh juta rupiah di dalam tas ransel, Mamat tidak mau membuang waktu untuk hidup terlunta-lunta. Ia langsung menyewa sebuah apartemen tipe studio di kawasan Jakarta Pusat yang posisinya sangat dekat dengan pusat bisnis. Mamat membeli tiga set jas formal berpotongan modern, sepatu kulit mengkilap, serta cincin akik berlapis perak yang tampak elegan namun tidak norak.
Papan nama kayu Ki Mamat dan botol racun nyamuk rasa jeruk ditinggalkan sepenuhnya di masa lalu. Kini, yang ada hanyalah Master Mamat Brajamukti, seorang pakar Life & Spiritual Mindset yang memadukan intuisi ghaib dengan komunikasi psikologis tingkat tinggi.
"Ingat kalian berdua," kata Mamat sambil membetulkan dasi merah tuanya di depan cermin apartemen. "Di Jakarta ini, penampilan adalah sembilan puluh persen dari kebenaran. Jangan pernah sebut kata 'dukun' atau 'sajen'. Kalau ada yang bertanya, metode kita namanya Mindset Bio-Energy Alignment!"
Darto yang mengenakan seragam kemeja batik Rapi bertindak sebagai Sekretaris Eksekutif, sementara Bowo bertugas sebagai Manajer Logistik dan Pengawal Pribadi.
Trik pemasaran Mamat di Jakarta jauh lebih canggih. Melalui bantuan seorang pemuda penyedia jasa iklan media sosial yang disewanya, Mamat membuat cuplikan video pendek berdurasi tiga puluh detik. Di dalam video itu, Mamat berdiri di balkon apartemennya dengan latar belakang gedung tinggi, mengenakan jas mahal, memegang Keris Bengkok Brajamukti—yang kini diklaim sebagai "Simbol Keseimbangan Energi Nusantara"—sambil mengucapkan kalimat-kalimat motivasi puitis yang terkesan sangat dalam namun sebenarnya kosong makna.
Video itu meledak di media sosial! Ribuan orang kaya, selebritas internet, hingga manajer perusahaan yang sedang mengalami tekanan kerja membanjiri kolom komentar dan mendaftar untuk mendapatkan sesi Personal Coaching bersama Master Mamat dengan tarif lima juta rupiah per jam!
Sore itu, di salah satu ballroom hotel bintang lima di kawasan Kuningan, suasana tampak begitu anggun. Karpet tebal berwarna emas membentang, disinari oleh pendaran lampu kristal gantung yang mewah.
Mamat berdiri anggun di atas panggung kecil. Di hadapannya, duduk sekitar lima puluh orang peserta eksklusif yang terdiri dari para pengusaha muda, manajer senior, dan wanita-wanita kaya berpenampilan glamor. Masing-masing dari mereka membayar mahar kehadiran sebesar sepuluh juta rupiah untuk mengikuti seminar "Menguak Rahasia Rezeki dan Magnet Jiwa Bersama Master Mamat".
Di belakang panggung, Darto dan Bowo memandangi tumpukan amplop transferan bank dan uang tunai yang terkumpul di dalam brankas portabel. Total pemasukan hari itu saja menembus angka lima ratus juta rupiah!
"Gila, To..." bisik Bowo dengan mata melotot. "Orang Jakarta kalau dikasih kata-kata bijak berbalut energi ghaib langsung ngeluarin uang ratusan juta tanpa mikir!"
"Ssssh! Jangan keras-keras!" tegur Darto. "Itu namanya ilmu pemasaran kelas tinggi!"
Di atas panggung, Mamat memegang mikrofon nirkabel berlapis emas. Tangannya yang mengenakan cincin akik memegang Keris Bengkok Brajamukti yang tersimpan di dalam sarung kayu ukir jati mahal.
"Bapak dan Ibu sekalian..." panggil Mamat dengan suara bernada berat, tenang, dan penuh karisma buatan yang membius seluruh ruangan. "Banyak orang bekerja keras dua puluh empat jam sehari tetapi tetap miskin dan gelisah. Mengapa? Karena Frequency Mindset mereka masih berada di gelombang penolakan rezeki."
Para peserta seminar manggut-manggut khusyuk, mencatat setiap patah kata Mamat di dalam buku catatan bersampul kulit mereka.
Mamat memegang gagang Keris Bengkok-nya, lalu mengangkatnya perlahan ke udara. "Pusaka Brajamukti di tangan saya ini bukanlah alat mistis untuk memanggil jin. Ini adalah antena pemancar fokus jiwa! Ketika pikiran kalian selaras dengan energi alam, maka rezeki, jabatan, dan kebahagiaan akan tertarik secara otomatis bagaikan besi menempel pada magnet!"
Tepuk tangan riuh bergema menggelegar di dalam ballroom hotel! Para pengusaha kaya berdiri memberikan standing ovation atas ceramah motivasi Mamat yang sebenarnya hanyalah racikan kata-kata acak dari buku psikologi populer yang dibacanya kemarin malam!
Selesai sesi seminar, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas buatan Italia mendekati Mamat di ruang VIP. Pria itu adalah Bapak Hartawan, seorang pengembang properti raksasa di Jakarta yang sedang mengalami masalah besar karena proyek perumahan mewahnya di kawasan Bogor mangkrak dan sepi pembeli.
"Master Mamat..." panggil Pak Hartawan dengan raut muka sangat hormat. "Saya sangat tersentuh dengan ceramah Master tadi. Saya butuh bantuan Master untuk 'membersihkan' dan membangkitkan aura proyek perumahan saya yang bernilai puluhan miliar rupiah!"
Mamat merapikan jasnya, memandang Pak Hartawan dengan tatapan matanya yang tajam dan misterius.
"Proyek perumahan yang tertahan bukan sekadar masalah pemasaran, Pak Hartawan," kata Mamat dengan nada sangat yakin. "Itu adalah tanda bahwa lokasi tersebut memiliki sumbatan energi tanah yang harus diselaraskan menggunakan Ritual Penyelarasan Nusantara."
Pak Hartawan tanpa ragu merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan cek senilai dua ratus ratus juta rupiah!
"Ini uang muka dua ratus juta rupiah, Master!" kata Pak Hartawan mantap. "Tolong datang ke lokasi proyek saya minggu depan dan pimpin ritual penyelarasan itu!"
Mamat menerima cek tersebut dengan gerakan lambat dan anggun, seolah uang dua ratus juta rupiah hanyalah sekadar kertas tanpa arti baginya. "Energi akan bekerja sesuai dengan kesungguhan hatimu, Pak Hartawan. Sampai jumpa di lokasi proyek."
Keberhasilan Mamat menaklukkan Ibu Kota mencapai puncaknya. Wajahnya mulai muncul di berbagai acara bincang-bincang televisi swasta sebagai "Pakar Mindset dan Energi Nusantara". Rumah kontrakan sempit di Kalisari dan lorong penuh preman di Gang Pinggir telah berubah menjadi unit griya tawang (penthouse) mewah di kawasan Senopati.
Namun, seperti hukum alam yang tak bisa dihindari, puncak kejayaan yang dibangun di atas angin kebohongan selalu membawa angin sakal yang jauh lebih kencang.
Di Kampung Kalisari, Mbah Jambrong yang matanya kini terlindung kacamata hitam sebelah akibat cedera jatuh dari atap seng, sedang duduk di warung kopi bersama Pak Bintoro dan Pak RT Sugino. Tiba-tiba, mata Pak RT Sugino tertuju pada layar televisi empat belas inci yang tergantung di sudut warung.
Di layar televisi itu, tampak Mamat sedang diwawancarai oleh pembawa acara terkenal, mengenakan jas mahal dan memegang Keris Bengkok Brajamukti!
"LHO?! IKU KAN MAMAT?!" jerit Pak RT Sugino melompat dari kursinya sampai kopinya tumpah!
Mbah Jambrong yang mendengar nama Mamat langsung mendekatkan wajahnya ke layar televisi. Ketika melihat musuh bebuyutannya kini dipanggil "Master Mamat" dan menjadi jutawan ternama di Jakarta, darah tua Mbah Jambrong mendidih seketika!
"JANCUKKKK!" maki Mbah Jambrong histeris sambil menggebrak meja warung! "Bocah karatan itu beneran jadi orang kaya di Jakarta pakai keris bengkokku!"
Pak Bintoro menyipitkan matanya tajam. "Ternyata dia lari ke Jakarta dan makin menjadi-jadi menipu orang-orang kaya di sana. Kita tidak bisa biarkan ini! Kita harus berangkat ke Jakarta dan bongkar semua penipuannya di depan media!"
Dalam hitungan hari, sebuah gelombang koalisi pembongkar rahasia terbentuk! Pak Bintoro memimpin rombongan warga Kalisari, memboyong Mbah Jambrong, Jumadi, Pak RT Sugino, serta Mbak Wiwin yang merasa sakit hati, menuju Jakarta menggunakan bus malam!
Tak hanya warga Kalisari, berita tentang keberadaan Mamat di Jakarta juga sampai ke telinga Bang Tato dan kelompok premannya di Pelabuhan Semarang. Bang Tato yang merasa dimanfaatkan dan ditinggal kabur begitu saja, langsung mengerahkan lima orang anak buah bertatonya naik kereta malam menuju Jakarta untuk menagih "uang komisi bagian" mereka!
Dua kekuatan besar dari masa lalu Mamat kini meluncur bersamaan menuju satu titik tujuan: Acara Live Show Grand Seminar Master Mamat di Gedung Convention Center Jakarta!
Malam puncak Grand Seminar Master Mamat dihadiri oleh lebih dari satu orang penonton yang memenuhi Gedung Convention Center Jakarta. Puluhan kamera media televisi dan siaran langsung internet menyorot panggung utama yang megah.
Mamat berdiri anggun di tengah panggung dengan jubah sutra modern, memegang Keris Bengkok Brajamukti. Di sampingnya, Darto dan Bowo mengenakan jas rapi bertindak sebagai pembawa acara utama.
"Malam ini!" seru Mamat dengan suara bergema memutar di seluruh gedung. "Kita akan menyaksikan pembuktian energi Brajamukti dalam menyatukan gelombang pikiran menuju kejayaan abadi!"
Penonton bertepuk tangan riuh meriah!
Namun, tepat saat Mamat hendak mengangkat Keris Bengkok-nya ke udara untuk memulai aksi panggungnya—
BAMMMM!
Pintu utama gedung pertunjukan didepak kencang dari luar!
"MAMAT BONGKOK! BERHENTI KAMU DUKUN GADUNGAN PENIPU WARGA!"
Suara bentakan Pak Bintoro menggelegar menembus pengeras suara gedung! Pak Bintoro melangkah masuk memimpin rombongan warga Kalisari, disusul oleh Mbah Jambrong yang mengacungkan tongkatnya, serta Mbak Wiwin yang menunjuk Mamat dengan penuh amarah!
Belum sempat pengawal gedung bereaksi, dari pintu samping menerobos masuk Bang Tato bersama lima anak buahnya yang membawa balok kayu!
"MAMAT! BAYAR UANG KOMISI KAMI DI SEMARANG!" teriak Bang Tato garang!
Kamera siaran langsung televisi yang sedang menyiarkan acara itu secara otomatis mengarahkan lensa mereka ke arah keributan di pintu utama! Jutaan penonton di seluruh Indonesia menyaksikan adegan kekacauan tersebut secara live!
Penonton di dalam gedung seketika gempar dan kasak-kusuk histeris.
Pak Bintoro berjalan mantap menuju panggung utama, menarik pengeras suara kabel dari meja panitia.
"Warga Jakarta dan seluruh penonton televisi!" seru Pak Bintoro dengan suara penuh wibawa pembongkar kejahatan. "Pria berjas mahal yang dipanggil 'Master Mamat' ini sebenarnya adalah Mamat, pengangguran kecanduan pinjaman online dari Kampung Kalisari! 'Kesaktian'-nya di desa cuma modal racun nyamuk semprot, kapur barus, sama petasan banting!"
"Iya!" teriak Bu Tejo dari bawah panggung. "Keris bengkok itu cuma besi tua bekas pencabut tanaman di Kali Garang!"
"Dia juga menipu saya pakai alasan 'Penyucian Jiwa' cuma mau nepuk punggung saya!" tambah Mbak Wiwin dengan wajah merah padam karena malu.
Mbah Jambrong melompat ke atas panggung, menunjuk Mamat dengan tangannya yang gemetar. "Mamat! Kamu bikin mataku rabun sebelah kena asap mesiu! Kembalikan reputasiku!"
Mati angin! Mamat berdiri kaku di tengah panggung berlampu megah itu. Kacamata hitamnya merosot, dadanya kempis seketika, dan kemeja sutra mewahnya terasa sangat menyiksa. Seluruh kebohongan yang dirangkainya dari Kampung Kalisari, Gang Pinggir Semarang, hingga gedung mewah Jakarta runtuh secara sempurna dan tragis di depan kamera siaran langsung nasional!
Darto dan Bowo di belakang panggung langsung menyambar brankas portabel berisi uang tunai, siap melompat lewat jendela belakang!
Suasana di dalam Gedung Convention Center berubah menjadi kekacauan total! Para peserta seminar yang merasa ditipu mendadak mengamuk, melemparkan kursi dan buku catatan ke arah panggung! Bang Tato dan anak buahnya terlibat adut mulut dengan pengawal gedung, sementara Pak Bintoro dan warga Kalisari mengepung panggung untuk menangkap Mamat!
Mamat yang sadar bahwa kariernya sebagai "Master Motivator" telah tamat secara resmi, tidak lagi memikirkan wibawa jas mewahnya.
Naluri bertahan hidup Mamat sang pengangguran sejati kembali menyala terang!
"DARTO! BOWO! KABURRRR!" jerit Mamat histeris.
Mamat melepas jas mewahnya, melemparkan Keris Bengkok Brajamukti ke arah Mbah Jambrong yang langsung ditangkap dengan pingsan konyol oleh sang dukun tua, lalu Mamat melompat dari panggung utama menerobos gorden belakang!
BRUK!
Mamat, Darto, dan Bowo berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong evakuasi gedung, keluar menuju tempat parkir belakang di mana sebuah mobil travel antarkota sedang bersiap berangkat menuju Pulau Bali.
Dengan gerakan lincah penuh pengalaman sebagai buronan, ketiga pemuda itu melompat masuk ke dalam bak belakang mobil travel, bersembunyi di bawah tumpukan terpal dan koper-koper penumpang.
Mobil travel itu melaju kencang meninggalkan Gedung Convention Center, menembus gemerlap malam Kota Jakarta yang riuh oleh berita pembongkaran skandal "Master Mamat Sang Motivator Gadungan".
Di dalam bak travel yang gelap, Mamat merebahkan tubuh kerempengnya di atas koper. Napasnya terengah-engah, kemeja sutranya robek di bagian lengan, dan kacamata mewahnya telah hilang.
Darto merogoh tas ransel di sampingnya, lalu tersenyum lebar. "Mat... Brankas portabelnya sempat tak bawa! Di dalamnya ada uang tunai hampir tiga ratus juta rupiah!"
Bowo tertawa terpingkal-pingkal di kegelapan. "Gila, Mat... Kita bikin geger dari desa, kota, sampai masuk televisi nasional!"
Mamat menyulut sebatang rokok kretek murah milik supir travel yang tergeletak di dekatnya. Ia menghembuskan asapnya perlahan ke udara, memandangi bayangan pepohonan jalan tol yang melesat cepat di luar.
Rasa takut dan kepanikannya perlahan-lahan menguap, berganti dengan helai tawa kecil yang kian lama kian keras.
"Darto... Bowo..." kata Mamat sambil tersenyum licik bercampur bangga. "Di Bali nanti... Orang-orang asing sama wisatawan luar negeri banyak yang butuh Yoga Spiritual sama Healing Mindset... Modal uang tiga ratus juta ada, dan otakku masih encer!"
Darto dan Bowo tertawa berderai bersama Mamat di bawah kain terpal travel yang bergoyang-goyang. Kerajaan "Ki Mamat Sastrogati" dan "Master Mamat" telah hancur berkeping-keping, namun perjalanan komedi gila Mamat sang penipu ulung yang tak pernah kehabisan akal baru saja bersiap membuka lembaran baru di Pulau Dewata.