Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Tujuh Puluh Kilogram
“𝘓𝘶𝘵𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menekuk lutut.
“𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵, 𝙑𝙖𝙣. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘫𝘰𝘯𝘨𝘬𝘰𝘬.”
Ia menaikkannya lagi.
“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘣𝘶𝘴.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
“𝘛𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢?”
“𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘰𝘣𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘭.”
“𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘳𝘰𝘣𝘰𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘶𝘯.”
“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘭𝘮𝘶.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menempelkan satu telapak tangan ke bahunya lalu mendorong.
Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung bergeser satu langkah.
“𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢. 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳?”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas.
Sudah hampir satu jam mereka berada di ruang latihan keluarga Greyad.
Dan sejauh ini, ia belum diizinkan memukul apa pun.
Tidak ada punching bag.
Tidak ada target pad.
Tidak ada sparring.
Hanya berdiri.
Kaki kiri di depan.
Kaki kanan di belakang.
Lutut sedikit menekuk.
Pusat gravitasi turun.
Berat badan dijaga seimbang.
Guard naik.
Dagu sedikit masuk.
Kemudian—
“𝘜𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke posisi awal.
---
Hari pertama berakhir dengan cara yang hampir memalukan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 datang dengan bayangan akan mempelajari Basic Combat.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 justru menghabiskan beberapa jam hanya untuk memperbaiki stance dan guard.
Setiap kali 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merasa posisinya sudah benar, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menemukan kesalahan baru.
Kaki terlalu lebar.
Bahu terlalu tegang.
Siku terbuka.
Berat badan terlalu banyak di depan.
Tumit belakang salah posisi.
Guard turun ketika berpindah langkah.
Hari kedua bahkan tidak jauh berbeda.
Hanya saja sekarang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 diperbolehkan bergerak.
Satu langkah maju.
Kembali.
Mundur.
Kembali.
Ke kiri.
Ke kanan.
“𝘒𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperbaikinya.
Beberapa menit kemudian—
“𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘗𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵.”
Ia memperpendek langkah.
“𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥-𝘮𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪.”
Tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung naik.
“𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮?”
“𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘓𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢.”
“𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮.”
“𝘚𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘫𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯. 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendecakkan lidah.
Namun ia tetap mengulang.
Puluhan kali.
Kemudian ratusan kali.
Ketika hari ketiga datang, mereka mulai berlatih pivot dan perubahan arah.
Barulah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memahami masalah sebenarnya.
Selama ini ia menganggap gerakan kaki hanya alat untuk mendekati lawan.
Padahal satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh tubuh kehilangan keseimbangan.
Ia teringat saat melawan BETA.
Bagaimana pukulannya terlalu lebar sampai tubuhnya ikut terbawa.
Bagaimana dirinya hampir jatuh hanya karena mencoba menghindar.
Bagaimana setiap serangan berikutnya dilakukan dari posisi yang semakin buruk.
Basic Combat disebut basic bukan karena mudah.
Melainkan karena semua hal lain tidak akan bekerja tanpa dasar tersebut.
---
Hari keempat, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya menyerangnya.
Tidak keras.
Hanya jab pelan menuju wajah.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 refleks menarik seluruh tubuh ke belakang.
Pukulan itu bahkan tidak menyentuhnya.
Namun 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 langsung berhenti.
“𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶?”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengerutkan dahi.
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?”
“𝘛𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘯𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.”
“𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘮𝘢𝘯.”
“𝘈𝘮𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengulurkan tangan.
“𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩.”
Jab kembali datang.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak ke belakang.
“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯.”
Sekali lagi.
Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memiringkan kepala terlalu besar.
“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯. 𝘓𝘦𝘩𝘦𝘳𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨.”
Sekali lagi.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir menutup mata.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menurunkan tangan.
“𝘔𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.”
“𝘐𝘵𝘶 𝘳𝘦𝘧𝘭𝘦𝘬𝘴. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯.”
“𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘧𝘭𝘦𝘬𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩.”
Pukulan kembali datang.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memaksa matanya tetap terbuka.
Tinju 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berhenti beberapa sentimeter di depan wajahnya.
“𝘕𝘢𝘩, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berkedip.
“𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.”
“𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯.”
Kalimat itu cukup membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 diam.
Latihan dilanjutkan.
Blocking.
Parry sederhana.
Dodge.
Slip.
Menjaga jarak.
Bahkan cara jatuh tanpa langsung menghantamkan kepala atau tangan ke lantai.
Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sebenarnya cukup cepat.
Masalahnya, hampir semua gerakannya terlalu besar.
Ketika cukup bergeser sepuluh sentimeter, ia bergerak tiga puluh.
Ketika cukup memiringkan kepala, bahunya ikut terbawa.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya menghentikan latihan.
“𝙑𝙖𝙣, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳.”
“𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩?”
“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘰𝘯𝘤𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap keringat.
“𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳. 𝘒𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯.”
“𝘐𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk tubuhnya.
“𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴. 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk.
Sederhana.
Tetapi ketika diterapkan, jauh lebih sulit.
---
Pada hari kelima, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membawa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ke bagian latihan beban.
“𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘤𝘦𝘬 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandang barbel di depan mereka.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memasang beban.
Totalnya sekitar tujuh puluh kilogram.
“𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangnya sebentar.
“𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tersenyum.
“𝘈𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘒𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶.”
Beberapa menit kemudian, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai menyesali perkataannya.
Grip-nya tidak stabil.
Napasnya berantakan.
Gerakannya kaku.
Tubuh yang sebelumnya terasa jauh lebih kuat dibanding beberapa minggu lalu mendadak seperti kembali ke titik awal.
Ia berhasil mengangkat beban itu.
Namun seluruh wajahnya menegang.
“𝘛𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨,” kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Barbel kembali ke tempatnya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri sambil mengatur napas.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melihatnya.
“𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘬𝘪𝘭𝘰, 𝘮𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘢?”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap keringat dari dagunya.
“𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menatapnya datar.
“𝘕𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶.”
Ia menunjuk 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
“𝘐𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘰𝘣𝘢𝘵𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa pendek.
“𝘎𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘪𝘭𝘪𝘳𝘢𝘯𝘮𝘶.”
“𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩. 𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴𝘬𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengambil posisi.
Beban yang sama terangkat jauh lebih mulus.
Tidak tanpa usaha.
Namun jelas berbeda.
Kontrol napas.
Grip.
Postur.
Semua lebih stabil.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikannya dalam diam.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bukan Hunter tingkat tinggi.
Ia bahkan masih seorang siswa SGA.
Namun dibandingkan dirinya, perbedaan dasar fisik dan pengalaman sudah terasa sangat jauh.
Dan orang-orang yang akan datang ke Seleksi Hunter nanti?
Sebagian besar mungkin telah berlatih sejak usia lima sampai delapan tahun.
Mereka belajar bertahun-tahun.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 baru beberapa minggu.
Untuk pertama kalinya angka itu terasa nyata.
Bukan sebagai alasan menyerah.
Melainkan ukuran seberapa jauh ia tertinggal.
---
Hari keenam akhirnya memberikan sesuatu yang selama ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tunggu.
Pukulan.
“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘫𝘢𝘣.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memukul pad di tangan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Pak!
“𝘐𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭. 𝘓𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba lagi.
“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘪𝘨𝘩𝘵.”
Pak!
“𝘉𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵. 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘯𝘺𝘢.”
Sekali lagi.
“𝘊𝘳𝘰𝘴𝘴.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutar tubuh dan melepaskan pukulan.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 langsung menurunkan pad.
“𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩?”
“𝘒𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘢𝘵.”
“𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”
Hari keenam dan ketujuh digunakan untuk memperbaiki mekanik dasar.
Jab.
Straight.
Cross.
Hook sederhana.
Rotasi pinggul.
Transfer berat badan.
Posisi bahu.
Dan yang paling sering 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 lupakan—
mengembalikan tangan ke guard.
Setiap kali memukul, ia ingin menghasilkan tenaga sebanyak mungkin.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berkali-kali menghentikannya.
“𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭.”
Pak!
“𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”
Pak!
“𝘚𝘪𝘬𝘶𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪.”
Pak!
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengatur napas.
“𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴? 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menggeleng.
“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘴𝘦𝘳.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengetuk pad ke dahinya.
“𝘒𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳.”
Kalimat itu membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti.
Tenaga yang bocor.
Ia menyimpan kalimat itu dalam pikirannya.
---
Hari ketujuh berakhir menjelang sore.
Kaos 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 basah oleh keringat.
Lengannya berat.
Paha terasa panas.
Ia menjatuhkan tubuh ke matras.
“𝘊𝘢𝘱𝘦𝘬, 𝘺𝘢?”
“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menatapnya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas panjang.
“𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵.”
“𝘗𝘦𝘮𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memberinya botol minum.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung menghabiskan hampir separuh.
Namun beberapa menit kemudian, napasnya mulai kembali stabil.
Rasa terbakar di lengannya juga mereda lebih cepat dari yang ia perkirakan.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya memperhatikan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bangkit kembali.
“𝘈𝘺𝘰, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘕𝘢𝘱𝘢𝘴𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬.”
“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.”
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩. 𝘓𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘥𝘪.”
“𝘒𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪?”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.
Kalau diminta berhenti, ia harus berhenti.
“𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘶𝘱𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪.”
Ia mengambil handuk.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 masih menatapnya.
Beberapa hari terakhir ada sesuatu yang mulai mengganggu pikirannya.
Hari pertama 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membutuhkan banyak koreksi untuk menjaga stance.
Hari ketiga, kesalahan yang sama mulai jarang muncul.
Hari kelima ia kelelahan berat setelah latihan.
Besok paginya, nyeri ototnya jauh lebih ringan dari yang seharusnya.
Dan sekarang—
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 baru saja menjalani hampir satu minggu latihan intensif setelah keluar dari rumah sakit.
Namun tubuhnya seperti menyerap setiap koreksi terlalu cepat.
---
Sebelum pulang, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berjalan melewati bagian latihan beban.
Ia berhenti di depan barbel.
Tujuh puluh kilogram.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya beberapa detik.
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮-𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮, 𝙑𝙖𝙣,” kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 dari belakang.
“𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶.”
“𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘓𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴.”
“𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘪𝘵𝘶. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menghela napas.
“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪.”
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil posisi.
Tangannya menggenggam bar.
Ia menarik napas.
Lalu mengangkat.
Masih berat.
Otot lengannya menegang.
Namun kali ini grip-nya lebih stabil.
Napasnya tidak langsung pecah.
Gerakannya juga tidak sekaku percobaan pertama.
Barbel kembali turun.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melepaskannya.
“𝘕𝘢𝘩, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶.”
Ia tersenyum puas.
“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.”
Tidak ada jawaban.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berdiri beberapa meter darinya.
Ekspresi santai yang biasanya ada di wajah pemuda itu menghilang.
“𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮? 𝘗𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪?”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memandang barbel.
Lalu melihat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Hari pertama mungkin bisa dianggap kebetulan.
Recovery cepat mungkin hanya efek CORE yang baru aktif.
Tapi adaptasi gerakan?
Kontrol tubuh?
Dan perubahan hanya dalam beberapa hari?
Untuk pertama kalinya sejak latihan mereka dimulai, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak terlihat sedang mencari kesalahan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ia terlihat benar-benar penasaran.
“𝙑𝙖𝙣…”
“𝘉𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘰𝘳𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪.”
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyipitkan mata.
“𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?”
----
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊