NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL05. Kesibukan di Kampus

Pagi datang terlalu cepat bagi Qiera.

Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai membuatnya perlahan membuka mata. Beberapa detik pertama ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih kosong. Namun, ketika hendak bergeser, ia baru menyadari bahwa ada seseorang di sampingnya.

Ravi.

Qiera langsung terdiam.

Entah sejak kapan ia mulai terbiasa melihat laki-laki itu berada di sana setiap pagi. Mungkin baru beberapa hari, tetapi rasanya sudah cukup untuk membuat keberadaan Ravi di kamar tidak lagi terasa seasing sebelumnya.

Ravi masih memejamkan mata. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang ketika sedang tidur. Tidak ada ekspresi menyebalkan, tidak ada tatapan mengintimidasi seperti ketika sedang mengoreksi jawaban Qiera di kelas, bahkan tidak ada senyum tipis yang biasanya membuat Qiera curiga bahwa ia sedang merencanakan sesuatu.

Qiera menatapnya sedikit lebih lama. “Kalau tidur ternyata enggak nyebelin,” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Qiera kembali memperhatikan wajah Ravi. Tanpa benar-benar sadar, tangannya terangkat. Ujung jarinya hampir menyentuh wajah laki-laki itu, seolah ingin memastikan apakah Ravi benar-benar tidur atau tidak.

Namun baru saja jarinya menyentuh pipi Ravi, tangan laki-laki itu bergerak. Hal itu tentu membuat Qiera seketika terkejut saat pergelangan tangannya ditangkap ringan oleh pria di sampingnya.

Ravi membuka mata, “Pagi, Lily.”

Qiera nyaris membeku. “K-kamu sudah bangun?”

“Saya sudah dari tadi.”

Qiera menatapnya tidak percaya. “Terus kenapa pura-pura tidur?”

Ravi tersenyum kecil. “Karena menarik melihat kamu memperhatikan wajah saya.”

“ENGGAK!”

“Lalu tadi tangan kamu buat apa?”

Qiera buru-buru menarik tangannya, tetapi Ravi melepaskannya tanpa banyak gerakan. Wajah Qiera terasa panas. Ia langsung memalingkan muka sambil menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Aku cuma…”

“Cuma?”

“Enggak tahu.”

Ravi tertawa kecil. “Berarti kamu sendiri tidak tahu kelakuan kamu.”

Qiera semakin kesal. “Masih pagi jangan mulai deh..”

“Bukankah kamu yang mulai?”

Qiera menoleh dengan wajah sebal. “Aku kira tadi masih tidur.”

“Kalau saya masih tidur, kamu mau apa?”

“Enggak mau apa-apa!”

“Yakin?”

“Yakin!”

Ravi kembali tersenyum. “Baiklah.”

Qiera menghela napas panjang. Ia ingin segera bangun dari tempat tidur sebelum percakapan itu menjadi semakin memalukan.

Ia menarik selimut, lalu berkata dengan suara pelan, “Pak, minggir.”

Namun Ravi justru langsung mengangkat satu alisnya.

Qiera membeku. Ia baru sadar dengan ucapannya. “Mas,” koreksinya cepat.

“Lima kali.”

Qiera menatapnya tidak percaya. “Pagi-pagi begini?”

“Aturannya tetap berlaku.”

“Mas, aku baru bangun.”

“Justru supaya kamu ingat sejak pagi.”

Qiera memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya menyerah. “Mas Ravi.”

“Satu.”

“Mas Ravi.”

“Dua.”

“Mas Ravi.”

“Tiga.”

Qiera menahan kesal. “Mas Ravi.”

“Empat.”

Ia menatap Ravi dengan tatapan tajam sebelum mengucapkan yang terakhir. “Mas Ravi!”

Ravi mengangguk puas. “Nah. Pagi yang baik.”

Qiera langsung turun dari tempat tidur.

“Nyebelin!”

Ravi hanya tertawa kecil di belakangnya sementara Qiera berjalan menuju kamar mandi sambil menggerutu. Baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh.

Dilihatnya Ravi masih tersenyum.

“Jangan senyum begitu!”

“Kenapa?”

“Menyebalkan!”

“Padahal tadi kamu yang nyentuh wajah saya.”

Qiera langsung menunjuknya. “Itu jangan dibahas lagi!” Qiera buru-buru masuk ke kamar mandi sebelum wajahnya semakin panas.

...🌻🌻🌻...

Pagi itu akhirnya berjalan seperti biasa, meskipun Qiera membutuhkan waktu beberapa menit lebih lama untuk menenangkan pikirannya sendiri.

Setelah bersiap, ia keluar dari kamar dengan rambut yang sudah dirapikan dan tas di tangan. Ravi sudah berada di meja makan sambil memeriksa jam tangannya.

“Lima menit lagi kita berangkat.”

Qiera yang masih sibuk memasukkan buku ke dalam tas hanya mendengus. “Aku tahu.”

Ravi mengangkat alis. “Tadi saya bilang berangkat lima menit lagi.”

“Terus?”

“Artinya lima menit lagi. Bukan sepuluh.”

Qiera berhenti memasukkan pulpen ke dalam tas dan menatapnya. “Mas, aku cuma masukin pulpen!”

“Yang sejak dua menit lalu masih belum masuk.”

Qiera menatap tangannya sendiri. Benar juga. Pulpen itu masih berada di antara jari-jarinya.

Ia mendengus lagi sebelum akhirnya memasukkan benda tersebut ke dalam tempatnya. Sejak tinggal di apartemen ini, ia baru menyadari satu hal yang cukup mengganggu: Ravi ternyata sangat memperhatikan hal-hal kecil. Posisi barang, waktu berangkat, jadwal kuliah, bahkan apakah Qiera sudah sarapan atau belum.

Awalnya Qiera mengira semua itu merupakan kebiasaan seorang dosen yang terlalu teratur. Namun, setelah beberapa hari tinggal bersama, ia mulai curiga bahwa Ravi memang seperti itu kepada semua hal dalam hidupnya.

Atau mungkin hanya kepadanya.

Pikiran itu segera Qiera singkirkan.

Tidak penting.

Yang lebih penting adalah hari ini ia harus kembali ke kampus sebagai mahasiswa biasa, setelah menghabiskan pagi bersama orang yang sama yang beberapa hari terakhir juga menjadi suaminya.

Aneh.

Sangat aneh.

Apalagi karena ketika berada di rumah, orang itu memanggilnya Lily, menggodanya karena salah menyebut panggilan, bahkan bisa dengan santainya menyuruhnya sarapan. Namun begitu sampai di kampus, Ravi akan kembali menjadi Pak Ravi yang menyebalkan, dosen yang seolah memiliki hobi menemukan kelemahan dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Qiera.

Qiera mengambil tasnya dan berdiri.

“Sudah.”

Ravi melirik jam tangannya sekali lagi sebelum mengambil kunci mobil. “Bagus. Ayo, Lily.”

Qiera berjalan mengikutinya, lalu tanpa sadar berkata, “Iya, Pak—”

Ravi berhenti.

Qiera ikut berhenti.

Mereka saling memandang.

Senyum tipis muncul di wajah Ravi.

Qiera langsung menutup mulutnya sendiri.

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Barusan hampir.”

“Hampir itu bukan berarti mengatakan.”

“Berarti kamu masih belum belajar.”

Qiera memutar mata. “Aku buru-buru.”

Ravi membuka pintu apartemen sambil menggeleng kecil. “Di rumah panggil saya Mas.”

“Iya, Mas.”

“Nah. Begitu lebih bagus.”

Qiera masuk ke dalam lift dengan wajah sebal. Entah kenapa, mendengar Ravi puas hanya karena berhasil membuatnya mengatakan satu kata sederhana terasa lebih menyebalkan daripada teguran dosen di kelas.

Dan beberapa jam kemudian, Qiera kembali menyadari betapa benar pemikirannya.

Begitu masuk ke ruang kelas, Ravi berubah.

Tidak ada senyum kecil. Tidak ada panggilan Lily. Tidak ada nada santai seperti saat mereka berada di apartemen. Ia berdiri di depan kelas dengan kemeja rapi dan ekspresi tenang, kemudian mulai menjelaskan materi seolah-olah beberapa jam sebelumnya mereka tidak berada di kamar yang sama.

Qiera yang duduk di tempat biasanya hanya bisa menghela napas.

Inilah Ravi yang ia kenal.

Pak Ravi yang menyebalkan.

Kelas berjalan cukup tenang sampai Ravi melemparkan sebuah pertanyaan kepada seluruh mahasiswa. Beberapa orang saling pandang, sementara Qiera yang merasa cukup memahami materi mengangkat tangan.

Ravi mempersilakannya menjawab.

Qiera menjelaskan pendapatnya dengan percaya diri. Ia bahkan sempat merasa jawabannya cukup bagus karena sudah membaca materi sejak malam sebelumnya. Namun, baru beberapa kalimat selesai, Ravi mulai mengajukan pertanyaan lanjutan.

“Kalau dasar pemikiranmu seperti itu, bagaimana kamu menjelaskan kondisi sebaliknya?”

Qiera terdiam sebentar, kemudian mencoba menjawab.

Ravi kembali bertanya.

Qiera menjawab lagi.

Pertanyaan berikutnya datang.

Sampai akhirnya Qiera mulai merasa bahwa dosen di depannya bukan sedang menguji materi, tetapi sedang menguji kesabarannya.

“Pak, saya sudah menjawab,” katanya akhirnya, berusaha menjaga suara agar tetap sopan.

“Betul.”

“Lalu kenapa masih ditanya?”

“Karena jawabanmu belum selesai.”

Beberapa mahasiswa menahan tawa.

Qiera mengembuskan napas panjang. “Bagian mana yang belum selesai?”

Ravi menatapnya beberapa detik sebelum menunjuk bagian tertentu dari argumennya. “Di sini. Kesimpulanmu terlalu cepat. Kamu sudah punya dasar, tetapi belum menjelaskan hubungan antara dasar tersebut dengan kesimpulan yang kamu ambil.”

Qiera terdiam. Ia membaca kembali catatannya.

Sial.

Ravi benar.

Hal itu justru membuatnya semakin kesal. “Baik, Pak,” katanya akhirnya.

Ravi mengangguk. “Nah. Sekarang lanjutkan.”

Qiera melanjutkan jawabannya, kali ini lebih hati-hati. Ketika akhirnya selesai, Ravi hanya berkata bahwa jawabannya sudah lebih baik sebelum melanjutkan pembahasan kepada mahasiswa lain.

Qiera kembali duduk sambil menatap bukunya dengan wajah kesal.

Dari samping, Naya, berbisik, “Kamu kalau sama Pak Ravi kayak punya masalah pribadi.”

Qiera langsung menoleh. “Hah?”

“Serius. Beliau kalau tanya kamu panjang banget.”

“Karena jawabanku salah.”

“Enggak juga. Tadi akhirnya dibenarkan.”

Qiera tidak menjawab. Ia pura-pura sibuk menulis, meskipun sebenarnya pikirannya sudah mulai berantakan.

Kalau Naya sampai tahu bahwa mereka memang punya masalah pribadi, bukan sekadar masalah dosen dan mahasiswa, Qiera mungkin harus pindah planet.

...🏤🏤...

Kelas berakhir, mahasiswa mulai berhamburan keluar. Qiera sempat berniat langsung menuju kantin, tetapi sebuah pesan masuk ke ponselnya.

📩 Kak Arga si Kabem: Lima menit lagi rapat BEM. Jangan lupa.

Qiera menghela napas.

Benar.

Hari ini ia bukan hanya mahasiswa. Ia juga Wakil Ketua BEM Fakultas Hukum.

Begitu keluar dari gedung perkuliahan, bukannya langsung menuju kantin bersama Naya, Qiera justru berbelok ke gedung organisasi mahasiswa Fakultas Hukum. Langkahnya sudah begitu terbiasa melewati koridor tersebut sampai ia bahkan tidak perlu berpikir ke mana harus pergi.

Ada sebuah ruangan di lantai dua yang selama hampir dua tahun terakhir menjadi tempatnya menghabiskan banyak waktu. Ruangan BEM FH itu tidak terlalu besar, tetapi selalu terasa hidup. Papan pengumuman dipenuhi kertas agenda kegiatan, beberapa kursi sering kali berpindah tempat, dan meja panjang di tengah ruangan hampir tidak pernah benar-benar kosong dari berkas.

Begitu Qiera membuka pintu, beberapa kepala langsung menoleh.

“Akhirnya Bu Waka datang!”

Qiera langsung meletakkan tas di salah satu kursi. “Kenapa teriak-teriak? Aku baru masuk.”

“Karena dari tadi Kak Arga nyariin kamu,” jawab salah satu anggota sambil menunjuk meja di ujung ruangan.

Qiera mengikuti arah telunjuk itu dan menemukan seorang laki-laki sedang berdiri sambil membaca beberapa lembar proposal. Arga Mahendra, Ketua BEM FH yang satu tingkat di atasnya, mengangkat wajah begitu menyadari kedatangan Qiera.

“Lima menit lagi rapat dimulai,” katanya.

Qiera mengernyit. “Bukannya sepuluh menit?”

“Kalau kamu datang tepat waktu, sepuluh menit. Karena kamu datang terlambat, tinggal lima.”

Qiera mendengus. “Aku tadi kelas.”

“Aku tahu. Makanya lima menit.”

Beberapa anggota yang mendengar percakapan mereka langsung tertawa. Qiera mengambil kursi di sebelah meja Arga sambil mengeluarkan buku catatan.

Beginilah kehidupan Qiera di kampus yang tidak pernah diketahui Ravi secara utuh.

Ia memang mahasiswa hukum yang cukup serius dengan akademiknya, tetapi di luar kelas, Qiera juga dikenal sebagai salah satu pengurus BEM FH yang paling vokal. Ia tidak pandai diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya tidak benar. Karena itulah sejak semester sebelumnya ia dipercaya menjadi Wakil Ketua BEM, mendampingi Arga dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Arga sendiri termasuk sosok yang mudah disukai. Ia tidak segan turun langsung ketika ada anggota yang membutuhkan bantuan, cukup pandai mencairkan suasana, dan memiliki prestasi akademik yang membuat namanya cukup dikenal di fakultas. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap Arga sebagai salah satu senior paling ideal untuk dijadikan panutan.

Dan, tentu saja, ada satu hal yang lebih sering didengar Qiera daripada pujian tentang prestasi Arga.

Mereka sering dijodohkan.

“Kak Qiera sama Kak Arga lagi,” celetuk seorang anggota ketika keduanya duduk bersebelahan.

Qiera langsung melirik tajam. “Kerja, bukan pacaran!”

“Siapa tahu.”

“Siapa tahu apanya?”

Arga hanya tertawa sambil menggeleng. “Sudah, jangan ganggu Bu Waka yang lagi serius. Lima menit lagi kita mulai.”

Qiera kembali menunduk pada catatannya, sama sekali tidak menganggap candaan tersebut serius. Baginya, Arga adalah kakak tingkat sekaligus rekan organisasi. Mereka sering bekerja sama karena posisi mereka memang menuntut demikian. Tidak lebih.

Rapat hari itu awalnya berjalan seperti biasa. Mereka membicarakan agenda seminar, evaluasi kegiatan sebelumnya, dan beberapa keluhan mahasiswa yang masuk melalui kotak aspirasi BEM. Qiera beberapa kali menyampaikan pendapat, bahkan sempat berdebat cukup panjang dengan salah satu anggota mengenai mekanisme pengaduan mahasiswa.

“Kalau kita membuka ruang pengaduan, jangan cuma menerima laporan lalu selesai,” kata Qiera tegas. “Kita harus punya prosedur supaya orang yang melapor tahu laporannya diproses sampai mana. Jangan sampai mereka merasa sudah bicara, tetapi akhirnya tidak ada tindak lanjut.”

Arga mengangguk. “Aku setuju. Kita revisi mekanismenya.”

Qiera hendak menambahkan sesuatu ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Seorang mahasiswi berdiri di sana. Wajah menunduknya terlihat pucat. Tangannya menggenggam tali tas begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!