NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Kebenaran yang Menyakitkan

Untuk beberapa detik, Riri hanya menatap dokter tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

“Hamil?” ulangnya lirih.

“Benar, Bu.”

Riri menggeleng pelan, seolah berharap dirinya salah mendengar.

“Nggak mungkin ...” Ia menutup mulutnya, lalu kembali menatap dokter. “Maksud Dokter, putri saya mengandung?”

Dokter mengangguk.

Wajah Riri seketika kehilangan warna. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan.

“Berapa lama, Dok?”

“Usia kehamilannya masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lanjutan. Untuk saat ini, fokus kami memastikan kondisi pasien dan kehamilannya tetap terpantau setelah kejadian tadi.”

Riri menunduk. Berbagai pertanyaan berdesakan di kepalanya.

Sejak kapan? Mengapa Zinnia tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya?

Pikirannya mendadak dipenuhi berbagai kejadian yang sebelumnya tidak terlalu ia curigai.

Semuanya bermula setelah Zinnia pulang dari acara kampus di resor. Putrinya yang biasanya menghabiskan waktu di luar kamar mendadak lebih sering mengurung diri. Pola makannya pun berubah. Zinnia memakan dan meminum hal-hal yang sebelumnya tidak pernah disentuhnya, bahkan terkadang tampak menahan mual setelahnya.

Saat bertemu Dandy, putrinya juga tidak terlihat sebahagia biasanya. Padahal, setiap kali kekasihnya datang berkunjung, Zinnia selalu menunjukkan wajah ceria. Namun, kali itu ia justru terlihat murung dan seperti ingin segera mengakhiri pertemuan.

Belum sempat Riri memahami perubahan tersebut, Zinnia tiba-tiba memutuskan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Keputusan itu cukup mengejutkan, terlebih putrinya nekat melamar sebagai petugas kebersihan meskipun memiliki ijazah sarjana.

Saat itu, Riri mengira Zinnia hanya ingin belajar mandiri dan mencari pengalaman baru.

Namun, sekarang ia mendengar bahwa putrinya sedang mengandung.

Riri meremas jemarinya sendiri. Mungkinkah perubahan sikap Zinnia selama ini berkaitan dengan kehamilan tersebut?

Lalu, siapa ayah dari anak yang dikandung putrinya?

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin segera menanyakan semuanya kepada Zinnia, tetapi membayangkan putrinya yang masih terbaring lemah membuatnya mengurungkan niat.

Apa pun yang telah terjadi, ia harus memastikan Zinnia pulih terlebih dahulu.

“Dok,” suaranya terdengar rapuh, “apa kehamilannya masih bisa dipertahankan?”

“Berdasarkan pemeriksaan awal, janinnya masih menunjukkan kondisi yang baik. Namun, kami belum bisa menjamin gak ada risiko lanjutan. Karena pasien mengalami nyeri setelah jatuh, maka perlu tetap dipantau.”

Riri mengangguk, berusaha menerima penjelasan itu. “Baik, Dok. Terima kasih sudah memberi tau saya.”

Setelah dokter menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan, Riri kembali ke kamar putrinya dengan langkah berat. Ia berhenti sejenak di depan pintu.

Di balik pintu itu, Zinnia terbaring sendirian, sementara dirinya baru saja mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung.

Riri menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum masuk.

Ia belum tahu apa yang harus dikatakan. Ia juga belum tahu bagaimana Zinnia akan menjelaskan semuanya.

Namun, satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan putrinya menghadapi apa pun yang terjadi seorang diri.

Riri membuka pintu, lalu kembali duduk di sisi ranjang.

Zinnia menatapnya, seolah berusaha membaca perubahan pada wajah ibunya.

Riri menggenggam tangannya. “Zin,” bisiknya lembut, “Ibu mau kamu tau satu hal. Apa pun yang sedang kamu hadapi, kamu gak harus ngadepin sendirian.”

Zinnia terdiam. Air matanya kembali mengalir, kali ini tanpa bisa ia tahan. Riri menggenggam tangan putrinya lebih erat, memberi waktu putrinya untuk meluapkan kesedihan.

Setelah lebih tenang, Zinnia akhirnya mengangkat tangan.

Ibu udah ketemu dokter?

Riri mengangguk. “Sudah.”

Zinnia menatap ibunya beberapa saat. Jemarinya kembali bergerak, kali ini lebih lambat.

Jadi, Ibu udah tau?

“Iya.”

Gerakan tangan Zinnia terhenti. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang terletak di atas selimut. Bibirnya terkatup rapat, sementara bahunya perlahan menegang. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.

Riri mengusap punggung tangannya.

“Zin, dengerin Ibu.” Suaranya lembut. “Kalo kamu belum siap cerita, Ibu gak akan maksa. Ibu bisa nunggu sampai kamu siap.”

Zinnia mengangkat wajah.

Mata Riri tampak sembap, tetapi tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada pula desakan agar Zinnia segera menjelaskan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Hanya kekhawatiran.

Justru itulah yang membuat dada Zinnia terasa semakin sesak. Selama ini, ia berusaha menyimpan semuanya sendiri. Ia pergi ke kota, mencari pekerjaan, dan menjauh dari Dandy karena berpikir dengan begitu ia bisa menghadapi masalahnya tanpa melukai siapa pun.

Namun, sekarang ibunya sudah mengetahui kehamilannya. Apa lagi yang bisa ia sembunyikan?

Zinnia menarik napas pelan. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mulai bercerita.

Gerakannya mula-mula lancar, tetapi semakin lama semakin lambat.

Ia menceritakan malam ketika kampusnya mengadakan acara perpisahan di sebuah resort tepi pantai. Malam yang awalnya menyenangkan, penuh tawa, makanan bakar, dan obrolan bersama teman-temannya.

Riri mendengarkan tanpa menyela.

Zinnia melanjutkan ceritanya. Setelah kembali ke kamar, ia tidak bisa tidur. Ia akhirnya berjalan menuju pantai untuk menenangkan diri.

Di sana, ia melihat seorang pria berjalan ke arah laut. Zinnia mengira pria itu hendak mengakhiri hidupnya.

Ia berusaha menghentikannya. Ia tidak ingin membiarkan seseorang melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Namun, pria itu justru bertindak di luar kendalinya.

Gerakan tangan Zinnia mendadak terhenti. Jemarinya mengepal di atas selimut.

Riri segera menggenggam tangannya. “Nggak apa-apa, Zin. Pelan-pelan aja.”

Zinnia menggeleng. Ia ingin menyelesaikan ceritanya. Dengan susah payah, ia kembali menggerakkan tangan. Kali ini, gerakannya jauh lebih lambat. Beberapa kali ia berhenti, memejamkan mata, lalu memaksa dirinya melanjutkan.

Pria itu telah menodainya.

Riri terdiam. Wajahnya seketika pucat. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk memahami kata-kata yang baru saja disampaikan putrinya.

Zinnia menunduk. Air matanya jatuh ke atas selimut, tetapi ia tetap melanjutkan cerita.

Ia menjelaskan bahwa pria itu tampak tidak sepenuhnya sadar. Tubuhnya seperti berada di bawah pengaruh sesuatu. Setelah kejadian itu, pria tersebut akhirnya kembali menunjukkan kesadaran dan meminta maaf.

Pria itu mengatakan bahwa dirinya telah dibius.

Zinnia tidak tahu apakah seluruh perkataannya benar. Namun, saat itu, kondisi laki-laki tersebut memang membuatnya percaya bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Pria itu juga berjanji akan bertanggung jawab. Namun, tidak lama setelah itu, lelaki tersebut menerima panggilan telepon. Ada keadaan mendesak yang mengharuskannya pergi. Ia meminta Zinnia mencari dirinya menggunakan sebuah cincin yang kemudian diserahkan kepadanya.

Dan ia pun meninggalkan Zinnia di pantai. Tanpa sempat mengetahui nama lengkapnya. Tanpa mengetahui di mana ia bisa ditemukan. Hanya sebuah cincin yang tertinggal di tangannya.

Zinnia mengakhiri ceritanya dengan menurunkan kedua tangan ke atas selimut. Tubuhnya tampak semakin lemas. Ia mengusap air mata di pipinya, tetapi air mata lain segera menggantikannya.

Riri tidak mampu berkata-kata. Ia ingin memeluk putrinya, tetapi takut menyentuh bagian tubuh yang masih sakit. Akhirnya, ia hanya menggenggam tangan Zinnia erat-erat.

“Ya Tuhan, Zin ...” Suara Riri pecah. “Kenapa kamu nanggung semua ini sendirian?”

Zinnia menggeleng. Ia kembali menggerakkan tangan, menjelaskan bahwa ia takut. Ia takut ibunya kecewa, takut Dandy mengetahui semuanya, dan takut hidupnya tidak akan pernah kembali seperti dahulu.

Riri menggeleng cepat. “Ibu gak kecewa sama kamu.”

Ia menunduk, mengecup tangan putrinya. “Kamu gak salah karena berusaha nolong orang. Dan apa pun yang dilakukan pria itu sama kamu, kamu gak pantas mengalaminya.”

Zinnia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian di pantai, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Namun, di balik pintu ruang rawat yang sedikit terbuka, seseorang berdiri mematung.

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan biarkan rasa malu atas kejahatan orang lain membuatmu merasa dirimu telah kehilangan harga diri....

...Apa yang dilakukan seseorang terhadapmu bukanlah ukuran nilai dirimu, dan masa depanmu tidak harus ditentukan oleh kesalahan yang bukan milikmu.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dek Sri
Arvid kalo kamu sudah tahu bahwa wanita itu adalah Zinnia, berilah penjelasan baik²
Ass Yfa
bukan ksmu Zin...jangan salah paham
Sastri Dalila
🥺🤗
Sastri Dalila
👍🥺
Hanima
Lanjuttt
puji lestari
zinnia jangan ngmong sendiri dijawab sendiri,nyesel nanti.seenggaknya anakmu ada bapaknya.jangan egois
Siti Jumiati
Arvid andai kamu tahu Zinia sebenarnya takut.
Siti Jumiati
semangat zinia kamu harus berani berterus terang, jangan takut tenang aja arvid pasti akan bertangungjawab.
siti irnani
Yaaaa sesuaiiiii judulnya bikin keseeelll juga sich ....
Dek Sri
lanjut
eny mamanya irwanfizi
makin bulet kayak sinetron
Anitha
Ini yang bikin gereget kenapa Zinnia membisu sih tidak jujur aja....Arvid ga akan narah sana kamu justru bakal senang
Anitha
sayangnya du gantung nih lagi tegang-tegangnya
Anitha
Zinnia tenang aja Arvid akan bertanggung jawab dan akan menikahimu....kamu harus ngaku yaa jujur sama Arvid kalo kamu Perempuan yang di pantai bersama Arvid.

kasihan Zinnia....semoga dapat Perlakuan istimewa dari Arvid setelah kebebarannya terungkap....

Dan berharap Keluarga Danendra sangat baik tidak memandang sosial media
Hanima
Lanjut
Anitha
Zinnia kamu harus tunjukin ke Arvid Cin-cin Pemberiannya....
jangan di urungkan lagi niatnya ya Zinn....
Anitha
Zinnia jangan salah paham dulu yang di omongin Arvid dan Juky bukan kamu,, tapi Oerempuan lain yang me njebak Arvid itu si Lena
Anitha
jangan terpengaruh dengan omongan yang kantin itu Zinnia....Arvid dan Keluarganya mungkin tidak seoerti yang kamu bayangkan,justru sebaliknya Keluarga Arvid akan menerimamu apa adanya demi kebahagiaan Putranya,apalagi ada anak Arvud dalam tubuhmu
Sastri Dalila
🥺🤗👍
Anitha
Khawatir dengan si Nita yang akan berbuat jahat pada Zinnia karena Arvid pastinya akan lebih memperhatikan Zinnia,apalagi kalo sudah terbukti bahwa Zinnia Perempuan yang di cari Arvid
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!