Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Menebang Pohon Delima
Pada malam terakhirnya di rumah Danuwijaya, Sekar berdiri di depan pohon delima dengan sebuah gergaji di tangan.
Ningsih datang melalui pintu samping menjelang tengah malam. Ia membawa dua koper kecil, pakaian sederhana, dan mobil sewaan yang diparkir dua gang dari rumah.
Sebelum masuk, ia menyerahkan dompet dokumen milik Sekar yang sempat disimpan di brankas kantor keluarga. KTP, paspor, kartu pajak, dan salinan buku nikah lengkap berada di dalamnya.
"Bagaimana kamu mengambil ini?" tanya Sekar.
"Saya tidak mengambil. Dokumen itu milik Mbak. Saya meminta petugas administrasi membuat tanda terima saat menyerahkannya kepada saya sebagai kuasa tertulis."
Ningsih menunjukkan selembar formulir. Setiap benda dicatat. Dengan begitu, keluarga Danuwijaya tidak bisa menuduh mereka mencuri berkas kantor.
"Ada satu map lain di brankas," lanjut Ningsih. "Dokumen pengalihan hak pengelolaan Astarasa. Tanda tangannya mirip tanda tangan Mbak, tapi tanggalnya saat Mbak berada di rumah sakit. Saya tidak berani membawanya."
"Kamu sempat memotret?"
"Tidak. Ada kamera. Saya hanya mencatat nomor dokumennya."
Sekar memasukkan catatan itu ke tas bukti. Bahkan pada malam ia pergi, lubang baru terus terlihat. Ia ingin berbalik dan mengambil semuanya, tetapi Pak Djoyo benar. Bukti bisa dicari melalui jalur hukum. Kesempatan keluar mungkin hanya datang sekali.
"Kita tidak mengambil risiko tambahan," putusnya. "Setelah aman, pengacara akan meminta salinan resminya."
"Penjaga depan berganti pukul empat," bisiknya. "Penjaga sisi timur biasanya salat Subuh di pos belakang. Kita punya celah sekitar sepuluh menit."
Sekar mengangguk. "Dokumen sudah masuk tas tahan air?"
"Sudah. Uang tunai, obat, dan ponsel cadangan juga."
"Barang lain tinggalkan."
Ningsih menatap gergaji. "Mbak yakin mau melakukan ini sekarang? Suaranya bisa membangunkan orang."
"Batangnya belum terlalu besar. Aku akan pelan-pelan."
Malam itu Rendra tidur di kamar Kirana. Wida menghadiri pengajian keluarga dan baru pulang lewat tengah malam. Para petugas keamanan menganggap Sekar sudah menyerah karena tiga hari terakhir ia tidak mencoba keluar.
Tidak seorang pun memperhatikan suara gergaji yang tenggelam oleh mesin penyiram taman.
Mata pisaunya menggigit batang pohon. Serbuk kayu jatuh ke tanah dan menempel pada telapak kaki Sekar. Setiap tarikan membuka kembali satu kenangan.
Rendra menggulung celana dan mengotori tangannya dengan lumpur.
Rendra berjanji rumah mereka akan penuh anak.
Rendra berkata ia tidak akan menjadi seperti ayahnya.
Sekar menarik gergaji lebih kuat.
"Istirahat dulu," kata Ningsih. "Tangan Mbak lecet."
"Sebentar lagi."
Getah menempel pada jari. Batang itu mengeluarkan bunyi retak kecil, lalu miring ke arah taman. Ningsih membantu menarik cabang agar tidak menghantam dinding kaca.
Pohon delima jatuh di atas rumput.
Bunga-bunga merahnya bergetar, beberapa terlepas dan berserakan di tanah. Enam tahun lalu, Sekar menyentuh daun pertamanya dengan malu-malu. Kini ia berdiri di depan batang yang terpotong dan tidak merasakan penyesalan.
Hanya lelah yang akhirnya memiliki bentuk.
"Biarkan di sini," katanya.
"Bu Wida pasti marah."
"Memang untuk dilihat."
Di kamar, Sekar telah mengumpulkan benda-benda dari pernikahannya. Album foto, surat-surat lama, kartu ucapan ulang tahun, dan daftar kewajiban yang pernah dibuat Wida agar ia menjadi menantu sempurna.
Ia membawa semuanya ke tungku pembakaran kecil di belakang dapur paviliun. Ningsih menyiapkan ember air dan memastikan api tidak menjalar.
Foto pernikahan menjadi yang pertama.
Api memakan sudut wajah Rendra, lalu merambat ke tangan mereka yang saling menggenggam. Setelah itu surat-surat menggulung dan menghitam. Kalimat janji yang pernah dihafal Sekar berubah menjadi abu tanpa suara.
Ponsel cadangannya bergetar. Ratih menelepon.
"Kamu benar-benar pergi malam ini?" tanya ibunya.
"Iya, Ma."
"Mama ingin ikut."
"Belum sekarang. Kalau Mama menghilang bersamaku, Ayah akan langsung tahu ke mana harus mencari. Aku perlu waktu sampai di vila dan memastikan dokumennya aman."
Ratih terdiam cukup lama. "Mama malu karena tidak bisa menjemputmu sendiri."
"Mama sudah memberiku nama Pak Djoyo. Itu cukup untuk menyelamatkanku."
"Tidak, Nak. Seharusnya seorang ibu memberi lebih dari petunjuk."
Sekar memandang api. "Kalau aku berhasil berdiri, nanti aku akan kembali menjemput Mama."
Tangis Ratih terdengar tertahan. "Bayu juga sedang berusaha pulang. Hati-hati di jalan. Kabari Mama setelah aman."
"Aku janji."
Setelah telepon berakhir, Sekar masuk ke kamar untuk terakhir kali. Lemari besar hampir kosong. Ia tidak membawa gaun pesta, tas bermerek, atau perhiasan yang diberikan Danuwijaya.
Di atas meja tersisa dua benda.
Yang pertama adalah map tahan air berisi salinan pemeriksaan, transaksi, kronologi hotel, dan perangkat penyimpanan terenkripsi. Itu bukan kenangan. Itu senjata.
Yang kedua adalah separuh liontin pasangan dari Rendra.
Sekar mengangkatnya di bawah lampu. Dahulu dua keping itu bisa disatukan membentuk bunga. Setelah ia mencoba memisahkannya pada malam Rendra mengaku menikah siri, pengait kecilnya patah dan meninggalkan sisi tajam.
Ia tidak memasukkannya ke kotak perhiasan.
Liontin itu dibungkus kain polos, lalu diletakkan di kantong terpisah bersama salinan gugatan yang sudah dicetak ulang.
"Kenapa masih dibawa?" tanya Ningsih.
"Karena suatu hari aku akan mengembalikannya. Aku ingin dia melihat benda yang dulu disebut janji sudah tidak bisa disatukan lagi."
Sekar berdiri di depan cermin. Ia melepas bros berlambang Danuwijaya, gelang pemberian Wida, dan cincin besar yang biasa dipakai dalam acara keluarga. Cincin nikah dilepas terakhir.
Bekas pucat melingkari jari manisnya.
Kulit di pergelangan tangannya juga masih menyimpan warna kebiruan akibat genggaman Rendra. Dua lingkaran pada tubuh yang sama, satu ditinggalkan cincin, satu ditinggalkan paksaan. Sekar memotret memar itu bersama penunjuk tanggal, lalu mengirimkannya ke folder bukti. Bahkan perpisahannya harus dicatat, sebab di rumah ini rasa sakit selalu disangkal setelah bekasnya hilang.
Ia menyimpan cincin itu dalam amplop bertuliskan nama Rendra dan meninggalkannya di atas meja.
Yang menatap dari cermin bukan lagi Nyonya Danuwijaya yang menunggu izin untuk bernapas.
Hanya Sekar.
***
Menjelang azan Subuh, Ningsih memberi tanda dari pintu samping.
Mereka membawa dua koper dan satu tas dokumen. Tidak ada pelayan yang dibangunkan. Tidak ada surat perpisahan selain cincin di meja, abu di tungku, dan pohon delima yang terbaring di tanah.
Sekar berhenti sekali di depan gerbang kecil.
Enam tahun hidupnya tertinggal di balik tembok. Ia pernah datang ke rumah ini dengan keyakinan bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang aman. Ia keluar dengan pelajaran bahwa keselamatan kadang harus direbut oleh tangan sendiri.
"Mbak?" panggil Ningsih dari ujung gang.
Sekar menarik kerudungnya, mengangkat koper, dan menutup gerbang tanpa bunyi.
Ia tidak menoleh lagi.
Ketika langit Jakarta mulai memucat, mobil sewaan membawa mereka menuju jalan ke Puncak.