Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penjaga yang Tersisa
Mereka mendekati bangunan utama dengan langkah hati-hati, menyusuri jalan setapak yang dulunya mungkin jalan batu rapi namun kini dipenuhi rerumputan liar dan reruntuhan patung-patung yang sudah tak berbentuk jelas lagi.
"Tetap waspada," Yun Xia berbisik, pedangnya sudah tergenggam meski belum tercabut sepenuhnya dari sarung. "Siapa pun atau apa pun yang menyalakan api itu, mereka sudah bertahan di sini entah berapa lama tanpa diketahui siapa pun."
Xiao Mu bergerak lebih dulu, cahaya matanya menyala waspada, dan Xiao Yu terbang tinggi untuk mengintai dari udara—melalui ikatan jiwa yang kini semakin kuat, Ji Ming bisa merasakan gambaran samar yang dikirim burung kecil itu: sebuah ruangan di dalam bangunan utama, api unggun kecil, dan sesosok bayangan duduk sendirian di dekatnya.
"Hanya satu orang," Ji Ming berbisik, menyampaikan apa yang ia rasakan. "Tidak ada yang lain di sekitarnya, sejauh yang bisa Xiao Yu lihat."
Mereka mendekati pintu masuk bangunan utama yang sebagian besar sudah runtuh, hanya menyisakan lengkungan batu besar yang masih berdiri kokoh meski ukirannya sudah aus dimakan waktu. Di dalam, cahaya api unggun kecil menerangi sesosok pria tua berjubah lusuh, duduk membelakangi mereka, seolah tak menyadari—atau tak peduli—kedatangan mereka.
"Aku sudah menunggu cukup lama," suara itu terdengar sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, serak namun tegas. "Lebih lama dari yang seharusnya seseorang menunggu di reruntuhan sunyi seperti ini."
Pria itu berbalik perlahan, dan Su Mei tersentak mundur setengah langkah, tangannya reflek terangkat ke dada.
"Itu tidak mungkin," bisiknya, suaranya bergetar antara ketakutan dan sesuatu yang mendekati harapan. "Kau seharusnya sudah mati. Semua orang bilang kau mati bersama yang lain saat pemusnahan."
Wajah pria tua itu, meski dipenuhi kerutan usia dan bekas luka lama yang membelah salah satu alisnya, masih menyimpan sesuatu yang membuat Su Mei mengenalinya seketika.
"Tetua Feng," Su Mei berkata, air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Kau masih hidup."
Pria yang dipanggil Tetua Feng itu tersenyum tipis, senyum yang menyimpan tiga ratus tahun—atau lebih tepatnya, tiga puluh tahun terakhir—kepedihan yang tak terucapkan. "Su Mei kecil. Kau sudah menjadi wanita tua sepertiku sekarang. Waktu memang tak pernah baik pada siapa pun."
"Bagaimana kau bisa—kenapa kau tidak pernah mencari kami? Kenapa kau membiarkan kami mengira kau sudah tiada selama tiga puluh tahun?"
Senyum Tetua Feng meredup, digantikan kelelahan yang dalam. "Karena seseorang harus tetap di sini, Su Mei. Seseorang harus menjaga agar apa yang tersisa dari Mo Yan tidak pernah bangkit kembali—dan aku tidak bisa mempercayakan tugas itu pada siapa pun selain diriku sendiri, tidak setelah apa yang kulihat terjadi pada orang-orang yang terlalu percaya pada mereka yang seharusnya bisa dipercaya."
Ji Ming melangkah maju, merasakan beban kata-kata itu meski belum sepenuhnya memahami konteksnya. "Kau menjaga wadah jiwa Mo Yan? Ia benar-benar ada di sini?"
Mata Tetua Feng tertuju padanya untuk pertama kalinya, menyipit tajam menilai sosok pemuda asing yang tiba-tiba muncul membawa dua boneka kayu berjiwa di sisinya.
"Siapa kau, Nak? Meridian macam apa yang kau bawa, hingga formasi penjaga lembah membiarkanmu lewat dengan cahaya seterang itu—cahaya yang bahkan tak pernah kulihat sejak masa jaya sekte kami dulu?"
"Namaku Ji Ming," ia menjawab, berusaha tegas meski tatapan tajam Tetua Feng membuatnya sedikit gentar. "Aku pewaris Guru Chen. Ia mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama padaku sebelum sisa tekadnya lenyap selamanya."
Nama itu membuat Tetua Feng terdiam lama, matanya menerawang jauh seolah kembali ke masa yang telah lama berlalu.
"Chen," gumamnya pelan. "Aku ingat dia. Salah satu yang paling menentang cara Mo Yan hingga akhir, orang yang lebih memilih mati melindungi murid-muridnya daripada tunduk pada keserakahan." Ia menatap Xiao Mu, lalu kembali ke Ji Ming dengan pandangan yang perlahan melunak. "Kalau begitu, mungkin kau memang yang telah lama kutunggu—atau setidaknya, seseorang yang layak mendengar kebenaran yang selama ini kusembunyikan sendirian."
Tetua Feng bangkit perlahan, tubuhnya yang menua namun masih menyimpan sisa kekuatan yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya, dan berjalan menuju sebuah pintu tersembunyi di balik reruntuhan dinding, tersamar sempurna hingga tak seorang pun dari mereka menyadarinya sebelum pria tua itu menunjukkannya.
"Wadah Mo Yan bukan satu-satunya rahasia yang kusimpan di sini," katanya, suaranya kini penuh beban tiga puluh tahun kesendirian yang akhirnya siap ia lepaskan. "Tapi sebelum aku menunjukkan semuanya, kalian perlu tahu satu hal yang lebih mendesak—sesuatu yang kulihat dalam sepuluh hari terakhir, sejak seekor gagak aneh mulai berkeliaran di langit lembah ini untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun."
Semua orang saling pandang, kekhawatiran yang sama tergambar jelas di wajah masing-masing.
"Seseorang selain kalian juga sedang menuju kemari," Tetua Feng melanjutkan, suaranya berat, "dan dari cara gagak itu bergerak, aku curiga mereka tahu persis apa yang mereka cari."