NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Deklarasi Hati

Malam kekalahan di Hotel Grand Hyatt membakar habis akal sehat Rendy. Di dalam ruangan kerja sementara divisi operasional, pria itu berjalan bolak-balik dengan napas memburu. Siska duduk di sofa dengan wajah pucat, memandangi berkas-berkas laporan produksi yang kini diawasi ketat oleh Maya, asisten pribadi Alya yang baru.

"Kita tidak bisa main halus lagi, Siska!" desis Rendy, matanya menyalang penuh kilat kegelapan. "Cewek itu sudah berubah total. Dia memegang kendali penuh atas perusahaan, dan Kai Aditya pasang badan untuk dia setiap saat!"

"Lalu kita harus bagaimana, Rend?" tanya Siska cemas. "Maya terus memeriksa semua nota pengadaan yang aku ajukan. Kalau kita nekat memalsukan anggaran sekarang, kita langsung tertangkap!"

Rendy menyunggingkan senyum licik yang beracun. "Kalau kita tidak bisa menjatuhkannya lewat uang, kita hancurkan dia lewat nama baik perusahaannya. Besok subuh adalah jadwal pengiriman sampel produk baterai komponen manufaktur utama untuk kementerian. Itu proyek terbesar Nusantara Industri Utama tahun ini."

Siska membelalakkan mata. "Kamu mau melakukan apa?"

"Aku sudah membayar orang dalam di bagian penjaminan mutu pabrik," bisik Rendy, merendahkan suaranya hingga ke batas minimal. "Malam ini, saat gudang penyimpanan sepi, sampel baterai kualitas tinggi itu akan ditukar dengan unit cacat produksi yang berpotensi memicu korsleting. Begitu sampel itu diuji di laboratorium kementerian besok pagi, Nusantara Industri Utama akan kena sanksi hukum berat, izinya dicabut, dan Alya sebagai penanggung jawab utama akan langsung diseret ke ranah pidana!"

Siska menelan ludah. "T-tapi... kalau perusahaan ini hancur, kita juga tidak dapat apa-apa!"

"Bohong!" potong Rendy tajam. "Saat Alya panik dan terdesak oleh ancaman penjara, siapa lagi yang akan berdiri menyelamatkannya kalau bukan aku? Aku akan berpura-pura pasang badan, menyelesaikannya secara damai, dan menuntut dia menyerahkan sahamnya padaku sebagai imbalan. Dia akan bertekuk lutut kembali di bawah kakiku!"

Pukul 22.00 WIB. Hujan deras mengguyur area kawasan industri Cikarang, tempat pabrik utama Nusantara Industri Utama berdiri. Angin kencang menghempaskan bulir air ke kaca-kaca jendela gudang penyimpanan sampel.

Alya berdiri di ruang kerjanya di lantai dua pabrik, menatap dokumen laporan akhir pengiriman sampel untuk pengujian kementerian besok pagi. Di sampingnya, Maya sedang menyusun lembaran verifikasi.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Kai Aditya melangkah masuk dengan setelan kemeja hitam yang sedikit basah di bagian bahu karena terkena rintik hujan. Wajah tampannya tampak sangat tegang, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

Alya tertegun, mendongak menatap Kai. "Kai? Kenapa kamu ada di pabrik jam segini? Hujan di luar sangat deras."

Kai melangkah mendekati meja Alya tanpa membuang waktu. "Alya, kita harus bergerak sekarang. Seseorang mencoba sabotase sampel produksi malam ini."

Alya berdiri seketika, matanya membelalak. "Sabotase? Maksudmu?"

"Tim keamanan siber dari perusahaanku memantau pergerakan jaringan internal di area pabrik ini sejak dua hari lalu atas permintaanku," terang Kai dengan suara berat dan tenang. "Satu jam lalu, ada aktivitas mencurigakan di area gudang sektor C. Seseorang mematikan rekaman CCTV lokal selama lima belas menit dan memesan akses masuk darurat menggunakan id manajer operasional."

"Rendy..." desis Alya, rahangnya mengeras seketika.

Dendam lama dari kehidupan pertamanya membakar dada Alya. Pria itu tidak pernah berubah; jika tidak bisa memiliki dan menguasai, Rendy akan menghancurkan segalanya sampai tak tersisa.

"Di mana sampel itu sekarang?" tanya Alya cepat.

"Pria bayaran Rendy sedang berada di dalam gudang sektor C, mencoba menukar segel peti pengiriman," jawab Kai. "Aku sudah menempatkan tim keamanan pribadiku untuk menutup semua pintu keluar gudang. Ayo!"

Alya bergerak cepat mengikut langkah kaki Kai menyusuri koridor pabrik yang remang-remang. Maya bertugas langsung menghubungi kepolisian kawasan industri.

Ketika mereka sampai di depan pintu besi gudang sektor C, tiga orang petugas keamanan internal pabrik bersama dua pengawal pribadi Kai sudah mengamankan seorang pria berjaket hitam yang tertangkap basah memegang tang segel dan dua peti komponen cacat.

"Lepaskan saya! Saya cuma petugas kebersihan!" jerit pria itu ketakutan saat melihat Alya dan Kai melangkah mendekat.

Di sudut gudang yang remang, sosok Rendy yang tadinya bersembunyi di balik tumpukan kontainer berusaha menyelinap keluar melalui pintu darurat belakang. Namun, Kai yang memiliki insting tajam bergerak lebih cepat.

BRUK!

Kai mencengkeram kerah jas Rendy dari belakang, memutar tubuh pria licik itu, dan menghempaskannya ke dinding beton gudang dengan pitingan yang sangat kuat.

"Mau lari ke mana, Pak Manajer Operasional?" suara Kai bergema dingin di dalam gudang yang luas itu, matanya berkilat menakutkan.

Rendy meringis kesakitan, memegangi lengannya yang terkunci. Wajahnya pucat pasi saat melihat Alya berdiri tegap di hadapannya, dipayungi pendar lampu darurat gudang.

"A-Alya! Ini salah paham!" seru Rendy terbata-bata, mencoba memasang raut wajah panik yang dibuat-buat. "Aku... aku dapat laporan ada penyusup di gudang, jadi aku datang untuk memeriksa! Aku cuma mau melindungi aset perusahaanmu!"

Alya melangkah mendekat. Setiap tapakan sepatu hak tingginya terdengar bagaikan ketukan lonceng kematian bagi Rendy. Alya menatap pria itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik yang tak tertahankan.

"Melindungi asetku?" ujar Alya dengan nada suara yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Rendy berdiri. "Atau memastikan sampel komponen cacat ini terkirim ke kementerian agar perusahaanku gulung tikar besok pagi?"

Alya mengangkat rekaman suara dari ponselnya—rekaman percakapan antara Rendy dan pria bayarannya yang baru saja ditangkap oleh tim siber Kai sepuluh menit lalu.

"Pastikan segelnya terlihat rapi. Begitu Alya ditangkap besok, kamu dapat sisa uang lima puluh juta," suara Rendy terdengar sangat jernih dari speaker ponsel.

Wajah Rendy seketika kehilangan seluruh warnanya. Matanya membelalak tak percaya. "Kamu... kamu memasang alat sadur?!"

"Aku sudah membaca setiap langkah busukmu sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di kantor ini, Rendy," potong Alya tajam. "Kamu pikir aku wanita bodoh yang bisa kamu mainkan perasaannya? Kamu dan Siska tidak lebih dari sepasang benalu yang tidak tahu malu."

Suara sirine mobil polisi terdengar melengking dari luar area pabrik, membelah suara gemuruh hujan.

Dua petugas kepolisian bersama Maya melangkah masuk ke dalam gudang, langsung memproses penangkapan Rendy dan pria bayarannya atas tuduhan sabotase industri, percobaan perusakan aset, dan konspirasi kejahatan finansial.

Saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangan Rendy, pria itu berteriak histeris seraya diseret keluar. "Alya! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu! Alya!"

Alya bahkan tidak membalikkan badannya untuk menatap Rendy. Pria yang di kehidupan pertamanya menjadi mimpi buruk dan pembunuhnya, kini diseret ke dalam kegelapan malam sebagai seorang kriminal kawakan.

Setelah area gudang kembali tenang dan kepolisian membawa seluruh barang bukti beserta para pelaku, suasana gudang sektor C mendadak hening. Maya pamit untuk mendampingi proses pembuatan laporan awal di kantor polisi terdekat.

Hujan di luar masih turun dengan lebatnya, menempa atap seng gudang dengan irama yang konstan.

Alya berdiri menyandarkan tubuhnya di dekat pintu gudang, menghembuskan napas panjang. Beban berat yang menghimpit dadanya selama berminggu-minggu—rasa takut, bayangan kematian masa lalu, dan dendam yang membara—perlahan-lahan runtuh dan menguap begitu saja.

Ia selamat. Perusahaan ayahnya selamat. Dan musuh utamanya telah hancur.

Kai melangkah mendekat, melepas jas tuksedo hitamnya yang agak lembap, lalu memasangkannya ke bahu Alya untuk menghalau dinginnya angin malam.

Alya menengadah, menatap Kai. Jas Kai yang hangat membawa aroma minyak kayu cendana yang begitu menenangkan.

"Terima kasih, Kai," bisik Alya parau, mata indahnya berkaca-kaca oleh emosi yang tak lagi bisa ditahannya. "Kalau bukan karena kamu... aku tidak tahu bagaimana nasib pabrik ini besok pagi."

Kai tidak langsung menjawab. Pria itu menatap Alya dengan pandangan yang amat sangat dalam. Tanpa ragu, Kai mengulurkan kedua tangannya, merangkul jemari Alya yang terasa dingin, lalu menggenggamnya rapat-rapat di atas dadanya sendiri.

Alya bisa merasakan detak jantung Kai yang berdegup kencang dan stabil di balik kemeja tipisnya.

"Alya, dengarkan saya," ujar Kai, suaranya bergetar pelan oleh kesungguhan yang luar biasa. "Saya melakukan ini bukan cuma karena hubungan bisnis antara keluarga kita. Dan saya tidak mau kita terus-terusan bersembunyi di balik alasan 'pura-pura dijodohkan'."

Alya menahan nafasnya, matanya menatap iris mata kecokelatan Kai yang begitu bening.

"Sejak hari pertama kamu menolong saya saat kita berumur tujuh tahun..." Kai tersenyum lembut, sebuah senyuman nostalgia yang sangat hangat. "...sampai malam ini saat kamu berdiri tegap melawan orang-orang yang berniat jahat padamu, kamu selalu menjadi satu-satunya wanita yang ada di dalam hati saya."

Alya tertegun. Jarum jam di dalam kepalanya seolah berhenti berputar. Umur tujuh tahun?

"Kamu... kamu ingat?" suara Alya bisik-bisik, tak percaya.

"Saya tidak pernah melupakannya, Alya. Anak laki-laki pemalu yang kamu selamatkan dari anak-anak nakal di taman country club itu adalah saya," terang Kai lembut, mempererat genggaman tangannya. "Saya kembali ke Indonesia untuk mencari kamu. Tapi waktu saya kembali, kamu begitu tertutup dan terluka oleh penilaian orang-orang di sekitarmu. Saya menunggu momen yang tepat untuk menunjukkan bahwa bagi saya, kamu adalah kesempurnaan yang tidak pernah berubah."

Air mata Alya menetes pelan menelusuri pipinya—bukan air mata kesedihan, melainkan air mata keharuan yang melimpah ruah.

Di kehidupan pertama, ia tertutupi oleh manipulasi Rendy dan rasa ketidakpercayaandiri hingga menyia-siakan pria yang betul-betul mencintainya sejak kecil. Namun di kehidupan kedua ini, Takdir tidak hanya memberinya kesempatan untuk membalas dendam, tetapi juga membimbingnya kembali ke pelukan cinta sejatinya.

"Saya mencintaimu, Alya Kusuma," tegas Kai lurus, tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya. "Bukan karena harta keluargamu, bukan karena bentuk tubuhmu, tapi karena jiwamu yang luar biasa berani. Maukah kamu berjalan di samping saya secara sungguh-sungguh? Bukan sebagai sandiwara lagi?"

Alya merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa cemas, trauma masa lalu, dan bayangan pembunuhan di kehidupan pertama sepenuhnya musnah digantikan oleh pendar cinta yang murni.

Alya menggenggam balik jemari Kai dengan erat, menyunggingkan senyuman paling tulus dan indah dari bibirnya.

"Iya, Kai," jawab Alya dengan suara yang mantap dan yakin. "Aku mau. Aku sangat mau."

Kai tersenyum lebar. Dengan gerakan yang amat lembut dan protektif, Kai menarik Alya ke dalam pelukannya. Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Kai, menghirup aroma tubuh pria itu seraya mendengarkan detak jantungnya yang berirama indah.

Di luar gudang, hujan deras perlahan-lahan mereda, menyisakan rintik-rintik lembut yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam. Alya tahu, esok hari saat matahari terbit, kehidupan barunya yang penuh dengan cahaya, kesehatan, dan cinta sejati baru saja dimulai.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!