"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesedihan mendalam
"DEKOR GINI doang "
" sudah dipuji puji " Clarisa memainkan bibirnya mengejek.
-------
Raut wajah Devan makin mengeras. Kekesalannya pada sikap Clarissa yang melunjak sudah mencapai batas. Namun, sebelum Devan sempat melontarkan kata-kata pedas, Nenek melangkah maju dengan wajah serius, menatap Clarissa tajam.
Clarissa yang menyadari tatapan dingin dari Devan dan teguran Nenek justru makin membakar rasa tidak sukanya pada Naya. Ia mengibaskan rambutnya, melipat tangan di dada dengan bibir merungut. "Apaan sih, Nek? Rissa kan cuma bilang fakta. Memangnya cewek ini siapa sampai Abang sama Nenek belain banget?"
"Jaga mulutmu, Clarissa!" tegur Nenek dengan nada tegas yang membungkam seluruh ruangan. Budi dan para staf kafe yang melihat situasi memanas spontan menunduk, tidak berani berkutik.
Nenek berjalan mendatangi Clarissa dan berdiri tepat di hadapannya. "Kamu datang ke sini cuma bisa mengkritik dan meremehkan orang lain. Kamu tahu kenapa penginapan dan kafe Nenek yang dulunya hampir bangkrut ini bisa sebagus dan seramai ini?"
Clarissa mengerutkan kening, melirik Naya dengan pandangan sinis. "Ya... paling cuma bantu nempel-nempel dekorasi murah."
"Bukan cuma dekorasi!" potong Nenek cepat, suaranya bergetar menahan emosi. "Naya yang memberikan modal uang untuk merenovasi seluruh tempat ini. Dia yang mengeluarkan tabungannya, menyuntikkan modal usaha, sekaligus turun tangan merancang konsep kafe dari nol saat Nenek dan Devan sedang dalam masa sulit!"
Kata-kata Nenek menghantam Clarissa bagai petir di siang bolong. Matanya membelalak, terkehut luar biasa. Ia menatap Naya yang berdiri diam dengan wajah serba salah. Clarissa tidak menyangka bahwa cewek yang ia kira hanya staf biasa yang bajunya kusut ternyata adalah investor utama sekaligus penyelamat bisnis keluarga mereka.
Devan mengambil satu langkah maju, menatap sepupunya itu tanpa rasa iba sedikit pun. "Kamu dengar sendiri, kan? Tempat yang kamu puji bagus ini berkat Naya. Kalau kamu ke sini cuma untuk merendahkan orang dan membuat kekacauan, lebih baik kamu pulang kerumah sekarang."
Clarissa menggigit bibir bawahnya. Rasa malu dan gengsi bercampur aduk menjadi kemarahan yang tertahan. Bukannya sadar, rasa tidak sukanya pada Naya justru makin berubah menjadi dengki yang mendalam. Ia merasa posisinya sebagai sepupu kesayangan terusir begitu saja oleh kehadiran Naya.
"Oh... jadi karena dia punya uang, Abang sama Nenek mendadak tunduk sama dia?" cibir Clarissa berusaha membela gengsinya, walau suaranya terdengar bergetar.
"Ini bukan soal uang, Rissa," sahut Devan dingin, matanya menusuk tajam. "Ini soal ketulusan dan rasa hormat. Hal yang sama sekali tidak kamu punya saat masuk ke pintu kafe ini."
Naya yang melihat ketegangan makin membakar atmosphere akhirnya membuka suara pelan. "Sudah, Bang Devan, Nek... Tidak apa-apa. Mungkin Clarissa cuma kaget dan belum paham."
Sikap Naya yang tetap tenang dan dewasa justru membuat Clarissa makin merasa kalah telak. Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun lagi, Clarissa menghentakkan kakinya dengan kesal, menarik koper kecilnya, dan berlari menuju area kamar penginapan di belakang dengan wajah merah padam.
Nenek menghembuskan napas panjang, menepuk bahu Devan pelan seraya menatap Naya dengan rasa bersalah. "Maafkan Clarissa ya, Naya. Dia memang manja dan selalu dibiarkan oleh orang tuanya."
"Tidak apa-apa, Nek. Naya mengerti kok," senyum Naya tulus, meski dadanya sempat bergemuruh.
Saat Nenek berjalan ke belakang untuk menenangkan situasi, Devan berbalik menghadap Naya sepenuhnya. Kekesalan di wajah pria itu perlahan luntur, berganti dengan tatapan penuh penyesalan. Devan meraih jemari Naya, menggenggamnya hangat di depan para staf yang diam-diam tersenyum lega.
"Maafkan sepupuku ya," bisik Devan lembut, suaranya hanya bisa didengar oleh Naya. "Saya tidak akan biarkan siapa pun—termasuk keluargaku sendiri—merendahkan kamu atau merusak apa yang sudah kita bangun di sini."
Genggaman tangan Devan yang erat dan sorot matanya yang pasang badan sepenuhnya membuat rasa ketidaknyamanan Naya lenyap seketika. Di balik ancaman luar yang belum sepenuhnya usai dan kehadiran Clarissa yang membawa drama baru, Naya tahu satu hal pasti: Devan akan selalu berdiri di sampingnya.
------
Cahaya keemasan mentari sore menerobos lembut lewat celah jendela kaca kafe, memantulkan kilau di atas permukaan meja kayu. Di sana, Naya berdiri mematung. Jemarinya memang memegang kain lap, tetapi gerakannya telah lama terhenti. Tatapannya kosong menatap garis pantai di luar, hanyut dalam pusaran sesak yang bergulung di dadanya.
Ejekan Clarissa tentang baju atau statusnya sama sekali tak berbekas di hatinya. Yang mengikis ketenangannya justru satu kenyataan yang kian membayang tegak: besok, para wisatawan akan mulai berdatangan. Dan kedatangan mereka adalah pertanda bahwa detik-detik kepulangannya ke Pulau Sina makin dekat. Berat rasanya memikirkan harus berpisah dengan Nenek yang sudah menganggapnya seperti cucu sendiri, dan terpisah dari Devan... pria yang perlahan memegang separuh jiwanya. Di ujung Pulau Sina sana, keluarganya memang sudah menunggu, tetapi hatinya seolah tertambat erat di pulau ini.
Langkah kaki yang berat namun halus terdengar mendekat. Devan berhenti tepat di samping Naya. Pria itu tak langsung bersuara. Ia hanya berdiri di sana, menjadi pelindung angin bagi Naya, sebelum perlahan mengulurkan tangan dan mengambil kain lap dari jemari Naya yang dingin.
"Jauh sekali melamunnya," bisik Devan. Suara baritonnya rendah dan hangat, merayap lembut menembus keheningan di antara mereka. "Sampai-sampai kehadiran saya pun tidak terdengar."
Naya tersentak kecil, membuang napas pelan lalu menunduk. "Eh... Abang. Enggak kok, cuma... lagi memikirkan persiapan besok."
"Bohong," potong Devan cepat, namun tanpa nada menghakimi. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, melipat kedua tangan di dada seraya menatap wajah Naya dari samping. "Mata kamu tidak pernah bisa berbohong, Naya. Ucapan Clarissa tadi... masih mengganggu pikiranmu?"
Naya menggeleng pelan. Ia memberanikan diri menatap mata Devan—mata yang dulu menyimpan misteri dan kegelapan, namun kini menatapnya dengan kejujuran yang menelanjangi seluruh pertahanannya.
"Sama sekali bukan karena Clarissa, Bang," suara Naya bergetar tipis, menahan bobot emosi yang membendung di tenggorokannya. "Kata-katanya tidak ada artinya buat Naya."
Devan menyipitkan mata, menangkap binar air mata yang mulai menggenang di sudut mata gadis itu. "Lalu? Apa yang membuat mata indah ini redup?"
Naya menghembuskan napas panjang, menahan tangis yang hampir pecah. "Besok wisatawan sudah mulai datang, Bang..."
Devan terdiam. Tatapannya mendalam, mendengarkan setiap patah kata yang sulit payah Naya keluhkan.
"Itu artinya... waktu Naya di sini sudah habis," lanjut Naya dengan suara yang kian memelan, hampir tenggelam dalam desir angin pantai. "Naya harus segera pulang ke Pulau Sina. Keluarga Naya... mereka sudah menunggu di sana. Tapi rasanya berat sekali harus berpisah sama Nenek... dan harus berpisah sama Abang."
Rapat bibir Devan memungut ketegangan. Rasa sesak yang tak kalah hebat mendadak menghantam dadanya sendiri. Pria yang biasanya selalu tenang dan kokoh itu perlahan mengikis jarak. Ia merengkuh kedua pipi Naya dengan telapak tangannya yang hangat dan kasar, memaksa Naya untuk menatap lurus ke dalam matanya.
" kamu mesti berjalan kedepan, jangan pernah menoleh....., keluargamu ..Masa depan mu ada dipulau Sina ...."..
pulau sane bukanla tempatmu.....Naya.