Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Percikan di Tengah Persiapan
Kehadiran Su Yue di istana dengan cepat menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut Kerajaan Chu.
Sebagai perwakilan Klan Su, ia ditempatkan di paviliun tamu kehormatan dekat taman tengah istana, dan hampir setiap hari salah satu pangeran—terutama Chu Ming dan putra ketiga—bergantian mengunjunginya dengan berbagai alasan diplomatik yang sebenarnya tidak lebih dari usaha menarik simpati Klan Su menjelang Festival Penentuan.
Chu Feng tidak ikut dalam barisan itu. Ia tidak punya alasan diplomatik untuk dikunjungi, dan lebih penting lagi, ia tidak berminat bermain permainan yang sama seperti saudara-saudaranya.
Tapi takdir, atau mungkin sekadar kebetulan, punya rencana lain.
Pada suatu pagi, ketika Chu Feng sedang berjalan menyusuri taman belakang istana—rute yang selalu ia ambil karena sepi dan jauh dari mata-mata yang biasa mengawasi gerak-geriknya—ia menemukan Su Yue duduk sendirian di tepi kolam kecil, memandangi ikan-ikan yang berenang tenang di bawah permukaan air.
Ia hampir berbalik untuk menghindar, tapi gadis itu sudah menyadari kehadirannya.
"Kau salah satu pangeran, bukan?" tanya Su Yue, menoleh dengan ekspresi ingin tahu yang jujur, bukan sikap berhati-hati yang biasa ditunjukkan orang-orang istana. "Aku belum sempat berkenalan dengan semuanya."
"Chu Feng," jawabnya, membungkuk singkat. "Putra ketujuh."
Sesuatu berkelebat di mata Su Yue—pengenalan, atau mungkin rasa ingin tahu yang lebih dalam. "Ah. Kau yang jarang muncul di pertemuan-pertemuan formal."
"Aku tidak punya banyak hal untuk ditawarkan dalam pertemuan semacam itu," jawab Chu Feng, nada suaranya datar seperti biasa. "Berbeda dengan saudara-saudaraku."
Su Yue mengamatinya sejenak, kepalanya sedikit dimiringkan, seolah mencoba membaca sesuatu di balik jawaban sederhana itu. "Kau bicara seolah sudah menyerah sebelum bertanding."
"Bukan menyerah," Chu Feng duduk di bangku batu tak jauh dari kolam, menjaga jarak yang sopan. "Hanya tahu di mana aku berdiri."
"Kalimat yang menarik." Su Yue tersenyum kecil, kembali menatap ikan-ikan di kolam. "Kebanyakan orang yang kutemui di sini justru sebaliknya—terlalu yakin di mana mereka berdiri, padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa."
Chu Feng menatapnya sejenak, sedikit terkejut dengan komentar setajam itu dari seseorang yang baru tiba di istana beberapa hari lalu. "Kau cukup berani mengatakan itu di dalam istana yang bukan milikmu."
"Aku hanya mengatakan yang kulihat." Su Yue mengangkat bahu ringan. "Lagipula, keluargaku mengajarkanku untuk selalu jujur soal apa yang kulihat—selama tidak membahayakan hubungan dagang, tentu saja." Ia terkekeh kecil, dan untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, terlihat lebih seperti gadis muda biasa dibandingkan perwakilan resmi klan kultivator ternama.
Mereka mengobrol sejenak—tentang Klan Su, tentang perjalanan panjang menuju Kerajaan Chu, tentang hal-hal ringan yang jarang sekali Chu Feng bicarakan dengan siapa pun selain Lao Sun. Ada sesuatu dalam cara Su Yue berbicara yang membuatnya nyaman, sesuatu yang tidak menghakimi, tidak menilai berdasarkan gelar atau bakat kultivasi.
Ketika akhirnya mereka berpisah, Su Yue berhenti sejenak sebelum berbalik pergi.
"Chu Feng," katanya, "aku akan menonton Festival Penentuan bulan depan. Meski kau bilang tidak punya banyak untuk ditawarkan, aku penasaran melihat seperti apa pertandinganmu."
Chu Feng menatapnya, sedikit tidak yakin bagaimana harus merespons ketertarikan yang tulus semacam itu—sesuatu yang jarang sekali ia terima dari siapa pun di istana ini.
"Jangan berharap terlalu banyak," jawabnya akhirnya, meski ada sesuatu di dadanya yang terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Su Yue hanya tersenyum sebelum berlalu, meninggalkan Chu Feng sendirian di tepi kolam, pikirannya lebih ramai dari yang seharusnya untuk sekadar percakapan singkat di taman.
Malam harinya, seperti biasa, Chu Feng melanjutkan latihannya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda—qi-nya mengalir sedikit lebih lancar, seolah suasana hatinya yang lebih ringan turut memengaruhi kelancaran aliran energi di dalam tubuhnya.
"Kau tersenyum," komentar suara di dalam dirinya, nada geli tidak bisa disembunyikan. "Sudah lama aku tidak merasakan itu dari wadah manapun yang pernah kutemui."
"Aku tidak tersenyum," bantah Chu Feng cepat, meski ia tahu itu bohong.
"Terserah kau saja, Pangeran Ketujuh."
Chu Feng mengabaikan komentar itu, kembali fokus mengalirkan qi-nya menyusuri meridian kedua—sesuatu yang menurut kitab-kitab dasar biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi kultivator pemula, tapi entah karena warisan yang bersemayam di tulang belakangnya, prosesnya terasa jauh lebih cepat dari yang seharusnya.
"Kemajuanmu cukup mengejutkan," suara itu berkata lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Meridian keduamu hampir terbuka penuh, padahal baru dua minggu sejak kita bertemu. Biasanya butuh waktu jauh lebih lama, bahkan bagi mereka yang berbakat."
"Apa itu karena warisanmu?"
"Sebagian. Tapi sebagian besar karena kau sendiri—cara kau fokus, cara kau mengendalikan emosi meski di bawah tekanan. Fondasi jiwa yang kuat mempercepat segalanya dalam kultivasi, lebih dari yang disadari kebanyakan orang."
Chu Feng membuka mata sejenak, menatap batu kultivasi di tangannya yang kini bercahaya jauh lebih terang dari malam pertama ia berhasil membangkitkannya.
"Kalau begitu," gumamnya, kembali menutup mata, "aku akan terus fokus. Festival tinggal dua minggu lagi."
Namun tidak semua orang di istana menyambut baik perkembangan diam-diam Chu Feng.
Beberapa hari kemudian, ketika ia sedang berlatih dasar-dasar teknik tombak di sudut terpencil lapangan latihan—jauh dari tempat saudara-saudaranya biasa berlatih dengan pengawal dan guru pribadi masing-masing—seseorang mengamatinya dari kejauhan tanpa ia sadari.
Seorang pria berjubah abu-abu, salah satu dari sekian banyak pengikut Chu Yan, berdiri di balik pilar batu, matanya menyipit mengamati gerakan Chu Feng yang meski masih kaku, mulai menunjukkan dasar yang jauh lebih baik dari yang seharusnya dimiliki seorang pangeran "tanpa bakat".
Pria itu kemudian berbalik pergi, tergesa menuju paviliun Chu Yan, tanpa Chu Feng sadari sama sekali—terlalu fokus pada latihannya sendiri untuk memperhatikan sekitar.
Di paviliun putra keenam, laporan singkat itu diterima dengan alis terangkat.
"Adik Ketujuh berlatih tombak?" Chu Yan menyeringai tipis, meletakkan cangkir arak yang sedang ia nikmati. "Menarik. Selama ini kukira dia benar-benar hanya menghabiskan waktu membaca buku-buku tua di perpustakaan."
"Apakah perlu diselidiki lebih jauh, Yang Mulia?" tanya pengikutnya.
Chu Yan terdiam sejenak, mempertimbangkan. Festival Penentuan tinggal beberapa minggu lagi, dan meski ia tidak menganggap Chu Feng sebagai ancaman serius, insting seorang jenius kultivasi mengingatkannya bahwa terlalu meremehkan sesuatu—sekecil apa pun itu—bisa menjadi kesalahan fatal.
"Awasi saja untuk sekarang," katanya akhirnya. "Kalau dia benar-benar berkembang jadi ancaman, aku ingin tahu lebih dulu sebelum yang lain."
Di sisi lain istana, tanpa menyadari bahwa dirinya kini berada dalam pengawasan diam-diam salah satu saudaranya, Chu Feng terus berlatih hingga matahari terbenam—tekadnya menguat setiap hari, bukan hanya demi Festival Penentuan yang semakin dekat, tapi demi jawaban-jawaban yang menantinya jauh di luar tembok Kerajaan Chu.