NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Tempat Persembunyian Ayahku

Perahu merapat perlahan di tepi yang tertutup ilalang tinggi. Udara di sini terasa sejuk, lembap, dan sunyi—hanya suara riak air yang menyentuh bebatuan, seakan danau ini sendiri sedang menjaga rahasia yang tersimpan di dasarnya.

Li An mencoba berdiri, namun tubuhnya terhuyung. Wajahnya semakin pucat, keringat dingin menetes deras di dahinya. Lengan yang tertusuk anak panah kini bengkak dan berwarna kebiruan di sekeliling lukanya.

"Racun itu menyebar," bisik Shen Ying sambil memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Li An. "Aku bisa menahannya sementara waktu dengan ramuan, tapi penawarnya hanya ada di tempat tertentu, atau... kita harus menemukan petunjuk lain secepatnya."

"Aku tidak apa-apa..." Li An tersenyum tipis, meski matanya mulai sayu. "Jangan buang waktu untukku. Cari apa yang dicari ayahmu."

Ling Yue menggeleng, meremas tangannya yang terasa semakin dingin. "Kita tidak berpisah. Kita cari bersama."

Mereka menyusuri tepian danau di balik rimbunan pohon pinus, bergerak senyap. Di kejauhan, terlihat jelas barisan kemah-kemah milik pasukan Wei Yan—berkibar bendera hitam bergambar elang, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang diperkirakan Mo Yu.

"Mereka sudah menguasai seluruh tepian," bisik Mo Yu sambil mengintai dari balik batang pohon. "Setiap jalur masuk dijaga ketat. Sepertinya mereka sudah mencari di sini berhari-hari namun belum menemukan apa yang diinginkan."

Ling Yue menatap ke arah permukaan danau yang tenang, membiarkan ingatannya melayang ke masa kecil yang samar-samar. Ia teringat suara ayahnya, lembut namun sedih, saat menceritakan tentang tempat yang ia cintai lebih dari mana pun.

"Di Danau Awan, air dan langit bersatu, Ling Yue. Di sanalah kebenaran bersembunyi, menunggu orang yang berani melihatnya bukan hanya dengan mata, tapi dengan hati."

Ia menoleh ke arah sisi lain danau, di mana sebuah bukit batu menjulang, sebagian permukaannya tertutup bayangan tebing yang menjorok ke air.

"Di sana," tunjuknya pelan. "Ayahku pernah bercerita tentang gua di balik tirai air. Tidak terlihat dari daratan, hanya bisa didatangi dengan perahu saat permukaan air sedang surut."

"Air sedang surut sekarang," kata Shen Ying menatap permukaan danau. "Tapi jalurnya tepat di hadapan pengawasan mereka."

"Kita lewati bagian paling gelap, di bawah bayangan tebing," putus Li An, suaranya masih lemah namun tegas. "Mo Yu, kau yang memandu perahu. Shen Ying, jaga dari belakang. Ling Yue... tetap di dekatku."

Mereka kembali ke perahu, menyusuri pinggiran danau perlahan, menjaga agar tidak menimbulkan riak yang mencurigakan. Jantung Ling Yue berdebar kencang setiap kali melihat bayangan prajurit musuh lewat di tepian, namun mereka beruntung—kabut tipis mulai turun, menyamarkan perahu kecil mereka dari pandangan.

Saat mendekati tebing batu, suara gemuruh air terjun kecil terdengar semakin jelas. Di balik tirai air yang tipis itu, terlihat celah gelap yang nyaris tak terlihat—mulut sebuah gua.

Mo Yu mengarahkan perahu masuk perlahan. Air menetes membasahi bahu mereka, lalu suasana berubah menjadi gelap dan hening.

"Ini dia..." bisik Ling Yue.

Mereka mendarat di lantai batu yang datar, diterangi cahaya remang yang masuk dari celah di atas. Gua itu tidak besar, namun kering dan terlindungi. Di bagian terdalam, sesuatu berdiri tegak di tengah ruangan—sebuah peti kayu tua yang diukir dengan motif bunga teratai, persis sama dengan yang ada di jendela kamar masa kecilnya.

Ling Yue melangkah mendekat, tangan gemetar menyentuh permukaannya. Bau kayu tua dan aroma akar wangi yang dikenalnya tercium samar.

"Ini peti ayahku..." suaranya tercekat.

Tidak ada gembok, hanya seutas tali sutra yang sudah rapuh mengikat penutupnya. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya tersusun rapi tumpukan surat, peta tua, dan sebuah bungkusan kain yang terikat erat.

Ia mengambil surat yang paling atas, ditulis dengan tinta yang masih terlihat jelas, dengan tulisan tangan yang ia kenal seumur hidupnya:

"Untuk putriku, Ling Yue, jika suatu hari kau membaca ini..."

Air mata menetes membasahi kertas itu. Ia menarik napas dalam, lalu mulai membaca pelan:

"Jika kau sampai di sini, berarti bahaya sudah mendekat, dan berarti aku tidak lagi di sisimu. Jangan menangis untukku, Ling Yue. Aku pergi bukan karena takut, tapi karena ingin melindungimu, melindungi kebenaran yang tidak boleh dikubur bersama aku.

Yang dituduhkan kepadaku—pengkhianatan, bekerja sama dengan musuh—semuanya fitnah. Aku menemukan bukti bahwa pejabat tinggi di istana, bersama beberapa panglima, merencanakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar pemberontakan. Mereka menginginkan kekuasaan mutlak, tanpa peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan.

Aku berniat melaporkan semuanya kepada Kaisar, tapi mereka lebih dulu bergerak. Mereka mengancam akan membunuhmu dan ibumu jika aku tidak mengaku. Aku memilih menyelamatkan kalian, menyembunyikan diri, dan menyimpan bukti ini sampai tiba waktunya orang yang tepat menemukannya.

Lihatlah di bawah lapisan peta itu. Di sana tersimpan nama-nama mereka, surat-surat rahasia, dan perintah tertulis yang menjadi bukti tak terbantahkan. Namun ingat, putriku: musuh kita bukan hanya orang-orang yang memegang pedang. Ada juga yang menyembunyikan wajah di balik topeng kesetiaan.

Kepada keluarga Li... aku memohon maaf sekaligus berharap. Jika keturunanku bertemu dengan keturunan mereka, semoga persahabatan lama yang dikhianati itu bisa ditebus dengan kebenaran. Jangan biarkan kebencian mewaris dari generasi ke generasi. Cintailah, lindungilah, dan berjuanglah bersama.

Hiduplah dengan berani, Ling Yue. Kebenaran mungkin terlambat, tapi ia tidak akan pernah gagal.

Ling Yue menutup surat itu, tangannya gemetar hebat. Selama ini ia merasa sendirian, merasa dibuang—ternyata ayahnya selalu menjaganya, bahkan dari jauh, bahkan dengan nyawanya sendiri.

Ia mengangkat peta tua di dasar peti. Di bawahnya tersimpan tumpukan dokumen rahasia yang terikat tali merah—nama-nama pejabat tinggi, termasuk nama Wei Yan, dan... nama seseorang yang bahkan tidak pernah ia duga.

"Kaisar..." bisik Li An pelan, wajahnya pucat bukan karena luka, melainkan karena terkejut. "Ada tanda tangan Pangeran Yu, paman Kaisar, sebagai pemimpin rencana ini."

"Jadi Wei Yan hanya pelaksana..." gumam Mo Yu, matanya menyipit tajam. "Dalang sesungguhnya ada di istana sendiri."

Belum sempat mereka mencerna semuanya, suara derap langkah kaki terdengar dari arah mulut gua—bukan satu atau dua, melainkan puluhan.

"Kami ketemu!" teriak suara di luar, penuh kemenangan. "Mereka ada di dalam!"

"Kepung mereka! Jangan biarkan satu pun lolos!" suara berikutnya, berat dan penuh ancaman—Wei Yan.

Ling Yue meremas dokumen itu erat, menatap Li An. "Mereka sudah mengepung kita."

Li An menarik pedangnya, meski tubuhnya terhuyung. Shen Ying dan Mo Yu pun berdiri di depan pintu gua, siap menghadang.

"Kita tidak bisa lewat jalan masuk," kata Shen Ying, menoleh ke belakang. "Ada jalan lain?"

Ling Yue menatap ke arah dinding belakang gua, di mana cahaya samar menembus celah batu yang tersembunyi di balik tirai tanaman kering.

"Ada," ucapnya tegas. "Ayahku membuatnya sebagai jalan pelarian. Tapi jalannya sempit dan terjal."

"Pimpinlah," kata Li An, berdiri di sampingnya, meski kakinya gemetar. "Kita pergi dari sini, lalu kita buktikan semuanya."

Namun saat mereka melangkah, suara Wei Yan terdengar tepat di depan mulut gua, jernih dan mengancam:

"Serahkan gadis itu dan dokumen itu, dan aku akan membiarkan kalian hidup. Jika tidak... gua ini akan menjadi makam terakhir kalian semua."

Ling Yue menatap dokumen di tangannya, lalu ke arah Li An yang perlahan kehilangan kekuatan. Ia tahu—pilihan ini bukan lagi tentang hidup atau mati. Ini tentang siapa yang akan menentukan akhir cerita ini.

Ia menarik napas dalam, lalu melangkah maju.

"Ling Yue, jangan!" cegah Li An.

"Kita tidak bisa lari terus," jawabnya pelan namun tegas. "Dan aku tidak akan membiarkanmu berkorban sendirian."

Ia berjalan ke arah mulut gua, menghadap cahaya yang memancar dari luar, di mana puluhan pedang terhunus menanti.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!