Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: EKSPERIMEN DIAM DIAM
Tiga hari setelah kejadian sopir angkot itu, Bang Tua masih belum bisa sepenuhnya menenangkan pikirannya. Dia jadi lebih sering melamun di tengah mengajar, sampai beberapa kali harus diingatkan mahasiswanya sendiri karena berhenti bicara di tengah kalimat, membuat salah satu mahasiswanya sempat berbisik ke teman sebangkunya, "Pak Sahat kesambet apa ya, dari kemarin kayak orang mikirin mantan". Kalau saja mahasiswa itu tahu betapa dekatnya tebakannya dengan kenyataan, meski tentu saja bukan soal mantan, melainkan soal sesuatu yang jauh lebih aneh dari sekadar urusan asmara.
Malam harinya pun dia sulit tidur, pikirannya terus berputar pada satu pertanyaan besar yang tidak berani dia jawab sendirian. Beberapa kali dia sempat mencoba menghibur diri dengan lelucon lelucon kecil ala dirinya sendiri, "kalau ternyata aku beneran punya kekuatan magic, mestinya aku pakai buat bikin promotorku setuju sama disertasiku tanpa revisi lagi", pikirnya sambil terkekeh sendirian di kamar kos yang sepi, meski tawa itu cepat menghilang begitu dia teringat lagi betapa seriusnya konsekuensi yang sudah terjadi selama ini.
Setelah bergulat dengan keraguannya sendiri selama beberapa hari, akhirnya dia memutuskan satu hal, dia harus mencoba membuktikannya sendiri, dengan cara yang terkendali, supaya tidak ada risiko besar kalau ternyata dugaannya benar, dan supaya dia bisa yakin sepenuhnya kalau ternyata dugaannya salah. Dia bahkan sempat menuliskan semacam "protokol eksperimen" kecil di buku catatannya, lengkap dengan poin poin seperti layaknya dia menyusun metodologi penelitian, sesuatu yang membuatnya sendiri geli setengah mati begitu menyadari betapa dia berusaha mengilmiahkan sesuatu yang jelas jelas di luar nalar ilmiah.
Kesempatan itu datang pada suatu sore, saat dia sedang menunggu gilirannya di sebuah apotek dekat kampus untuk membeli obat sakit kepala yang belakangan sering menyerangnya, mungkin efek dari kurang tidur dan terlalu banyak berpikir, atau mungkin efek dari terlalu sering menahan tawa sendirian gara gara lelucon lelucon konyol yang terus muncul di kepalanya sebagai mekanisme pertahanan diri. Di depannya, ada seorang ibu tua yang terlihat kebingungan, memegang secarik resep dokter sambil berulang kali menanyakan hal yang sama kepada petugas apotek, tampaknya kesulitan memahami penjelasan soal obat yang harus dibelinya.
Petugas apotek, seorang pemuda yang terlihat baru bekerja, mulai kehilangan kesabaran, menjawab dengan nada ketus dan terburu buru, membuat si ibu tua semakin bingung dan gugup. Situasi itu, meski jauh lebih kecil dibanding kejadian kejadian sebelumnya, tetap membuat dada Bang Tua terasa tidak nyaman melihatnya, sekaligus diam diam dia berkomentar dalam hati, "anak muda ini kayaknya perlu ikut kelas kesabaran, atau minimal nonton video ceramah tentang menghormati orang tua deh".
Ini kesempatan yang tepat, pikirnya. Masalah kecil, dampak yang mudah diukur, dan yang paling penting, tidak menyangkut keselamatan siapa pun secara langsung, semacam uji coba skala kecil sebelum berani melangkah ke sesuatu yang lebih besar, mirip filosofi yang dulu diajarkan dosennya soal pilot study sebelum penelitian besar.
Sambil berpura pura sibuk melihat lihat rak obat di dekatnya, tangannya mengambil sekotak vitamin C yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan, sekadar alasan untuk berlama lama di tempat itu tanpa terlihat mencurigakan, Bang Tua menggumamkan kalimat pelan, sengaja, dengan penuh kesadaran penuh kali ini, bukan lagi spontan seperti biasanya. "Semoga aja petugas itu, entah kenapa, tiba tiba sadar dan mulai menjelaskan pelan pelan ke ibu itu, dengan sabar."
Dia menahan napas setelah mengucapkannya, jantungnya berdebar kencang menunggu apa yang akan terjadi, merasa sedikit konyol juga karena berdiri di tengah apotek sambil menggumam sendirian seperti orang yang sedang komat kamit membaca mantra, bahkan sempat berpikir, "kalau ada yang liat aku sekarang, mungkin mereka kira aku lagi ngomong sama vitamin C ini".
Beberapa detik berlalu, tidak terjadi apa apa. Petugas apotek itu masih menjawab dengan nada yang sama ketusnya. Bang Tua nyaris menghela napas lega, setengah berharap dugaannya memang salah, setengah lagi entah kenapa merasa sedikit kecewa, perasaan campur aduk yang aneh, seperti anak kecil yang menunggu keajaiban tapi juga takut kalau keajaiban itu benar benar terjadi.
Tapi kemudian, tiba tiba saja, seorang apoteker senior yang sebelumnya sibuk di ruang belakang keluar, entah kenapa memutuskan untuk turun tangan sendiri menangani si ibu tua, menggantikan petugas muda yang terlihat kewalahan tadi. Apoteker itu menjelaskan dengan sabar, pelan, bahkan sempat menuliskan jadwal minum obat dalam huruf besar besar di secarik kertas supaya mudah dibaca si ibu tua.
Bang Tua berdiri mematung di tempatnya, matanya tidak berkedip menyaksikan kejadian itu, kotak vitamin C di tangannya sampai sampai hampir jatuh saking dia lupa sedang memegang apa. Ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini bukan sekadar kebetulan yang terjadi setelah gerutuan spontan yang tidak dia rencanakan. Kali ini dia sengaja, sadar, mengucapkan sesuatu dengan harapan tertentu, dan hasilnya persis seperti yang dia harapkan, meski caranya, lewat munculnya apoteker senior itu, sama sekali tidak dia bayangkan sebelumnya.
Tangannya sedikit gemetar saat akhirnya gilirannya tiba untuk membeli obat, ditambah vitamin C yang sebenarnya tidak dia rencanakan untuk dibeli tapi akhirnya tetap dia bayar juga karena sudah terlanjur dipegang lama, sesuatu yang membuatnya nyaris tertawa getir di kasir, "yah, mumpung udah punya kekuatan magic, kenapa nggak sekalian magic in dompetku biar nggak jebol beli vitamin yang nggak perlu". Dia berjalan keluar apotek dengan langkah yang terasa berbeda, seperti berjalan di atas awan yang tidak stabil, antara takjub dan takut yang bercampur jadi satu perasaan yang sulit dia namai.
Sepanjang jalan pulang, dia sempat mampir sebentar ke taman kecil dekat kosnya, tempat biasa anak anak bermain sore hari, hanya untuk duduk sejenak di bangku taman yang catnya sudah mengelupas, mencoba menenangkan pikirannya yang masih berputar putar. Dilihatnya beberapa anak kecil sedang bermain layangan, tertawa riang tanpa beban, dan entah kenapa pemandangan sederhana itu membuatnya merenung, membandingkan betapa polosnya dunia anak anak itu dengan betapa rumitnya apa yang baru saja dia temukan tentang dirinya sendiri.
Dia sempat mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, menuliskan beberapa kata singkat sebagai pengingat, "eksperimen apotek berhasil, perlu dicoba lagi dengan variabel berbeda", gaya penulisan yang terdengar sangat ilmiah untuk sesuatu yang jelas jelas di luar nalar ilmiah, sebelum akhirnya dia sendiri terkekeh membaca ulang catatannya sendiri, "dengar dengar aku ini, kayak lagi nulis proposal penelitian buat sihir, mana ada reviewer jurnal yang bakal percaya beginian".
Menjelang magrib, dia beranjak dari bangku taman itu, berjalan pulang dengan langkah yang lebih tenang dari saat dia baru keluar apotek tadi, meski pikirannya masih penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang belum terjawab. Dia tahu, malam itu akan jadi malam yang panjang, penuh dengan perenungan yang mungkin baru akan benar benar dia pahami esok hari, atau bahkan mungkin tidak akan pernah benar benar dia pahami sepenuhnya.